Maria: Saya Hanya Membantu WR 3 dan MPM dalam Menjalankan Survey Kepuasan Mahasiswa

STOPPRES MP, UNPAR – Survei mengenai kepuasan mahasiswa (http://surveikepuasanmahasiswaunpar.com) yang telah dimulai sejak beberapa pekan ini mengenai tingkat kepuasan mahasiswa unpar memang diprakarsai oleh WR 3 yang memerintahkan MPM dalam rangka menjalankan penelitian tentang tingkat kepuasaan mahasiswa dalam keberlangsungan institusi Unpar.

Ketika ditemui MP (23/11)  untuk dikonfirmasi tentang kuesioner kepuasan mahasiswa Unpar. Maria Marty Marietta Malau (Manajamen – 2007) mengatakan dia memang sedang membuat skripsi mengenai tingkat kepuasaan mahasiswa unpar. Namun kuesioner ini menurut Maria tetap diprakarsai oleh WR3 yang menugaskan MPM untuk menjalankan penelitian tentang kepuasan Unpar melalui pengisian kuesioner.

Maria mengatakan dalam hal pembuatan kuesioner, “Saya bukan cuma mau memetakan tingkat kepuasan mahasiswa unpar tapi juga tingkat kepuasan mahasiswa unpar dan juga pengaruhnya terhadap loyalitas di tiap jurusannya.”

Awalnya Maria meminta saran temannya, Bobby (Wakil Presiden mahasiswa Unpar) mengenai skripsi. Bobby tertarik dan mendukung. Namun Bobby mengatakan bahwa itu tidak termasuk didalam jobdesc LKM. Bobby menyarankan kepada Maria untuk meminta saran dari para Ketua Himpunan (Kahim). Maria kemudian menemui para Kahim kecuali Kahim Akuntansi.

Namun salah satu kahim, Calvari Francois Dirk Leunufna (Kahim Hukum) mengatakan “Gue tertarik dan mau bantu tapi ini juga bukan job desc himpunan, untuk aspirasi mahasiswa itu tempatnya MPM.”

Maria kemudian merasa seharusnya mengenai hal ini harusnya memang diajukan ke MPM. Ia mengatakan, “Lagipula menurut saya ini juga sesuai dengan AD/ART himpunan yang saya baca. MPM memang tempatnya menampung aspirasi mahasiswa.”

Saat MPM ditemui mereka juga tertarik namun belum terjadi kesepakatan. Barulah beberapa minggu kemudian Bagian Litbang MPM, Yunilla Nurhalim menghubungi Maria untuk membicarakannya lebih lanjut. Disaat Maria dan Yunilla bertemu, Yunilla berkata bahwa Romo Tarpin (Wakil Rektor 3) memerintahkan MPM untuk meneliti tentang tingkat kepuasan mahasiswa Unpar. “WR 3pun paham kepuasan mahasiswa itu penting untuk kelangsungan institusi Unpar”

Menurut Maria keinginan Romo Tarpin tepat dengan skripsi yang sedang dibuatnya. Padahal Romo Tarpin sama sekali tidak tahu mengenai skripsi yang sedang dijalankan Maria bahwa juga membahas mengenai tingkat kepuasan mahasiswa Unpar. Apalagi selama ini MPM belum melakukan survey bagi mahasiswa melalui penelitian ilmiah yang tepat.

“Nah saat Romo Tarpin langsung nyuruh MPM. MPM langsung memutuskan ayo dibuat kuesionernya,” tambah Maria.

Karena MPM belum paham cara meneliti. Maria merasa dia sebagai anak manajemen lebih mengerti penelitian ilmiah yang ada dasar teori dan teknisnya. Selama ini juga menurut Maria teori yang dipakai MPM masih belum sesuai dengan penelitian ilmiah. MPM dan Maria sepakat lalu kemudian bertemu dengan Romo Tarpin. Romo Tarpin berkata “Kamu dukung ilmiahnya. Kamu bantu pelaksanaannya.”

Maka dijalankanlah survey ini oleh Maria bersama MPM. Mengenai prosedur pelaksaan survey ini menurut Maria memang tidak ada kesepakatan hitam diatas putih mengenai kerjasama antara Maria – MPM & WR 3. Dalam prosesnya Marialah yang membuat pertanyaan untuk kuesioner dengan dasar teori yang dia pahami.

Maria berkata “Aku bertanggung jawab secara langsung kepada rektorat dan MPM. Prosedurnya aku membuat pertanyaan untuk dikoreksi MPM kemudian kalaupun ada yang salah maka sama aku diperbaiki lagi.”

Sebelumnya Maria bersama MPM pernah menyebarkan sample kuesioner berupa hardcopy kuesioner. Kuesioner yang tersebar pada mulanya di himpunan adalah uji coba sample kuesioner untuk mengetahui kualitasnya. Tapi banyak yang tidak mengembalikan. Romo Tarpin dan BAAK yaitu melalui Rosmaida juga diberikan kopian untuk mengoreksi kuesionernya. Menurut Rosmaida ada beberapa yang perlu dihilangkan pertanyaannya. Sedangkan Romo Tarpin juga setuju tapi minta diperjelas nilai-nilainya.

Menanggapi pendapat mahasiswa tentang banyaknya pertanyaan dan rumitnya kuesioner Maria menjawab “Pertanyaan sebanyak itu ada dasar teori yang saya pakai, bukan asal-asalan. Walaupun saya tidak menutup adanya kesalahan juga.”

Sedangkan mengenai tujuan pembuatan kuesioner, Maria berkata “Unpar benar adalah institusi pendidikan tapi bagi saya, saya melihat Unpar sebagai organisasi yang menjual jasa, jasa itu dalam bentuk pendidikan. Siapa lagi yang memahami kepuasan konsumen (red-mahasiswa unpar) dibanding mahasiswa yang mempelajari ilmu manajemen. Saya yakin pada awalnya Romo Tarpin juga tulus ingin mengukur kepuasan mahasiswa bagi keberlangsungan institusi Unpar.”

“Saya berpikir apa salahnya memuaskan mahasiswa unpar dan sebaliknya tetap ada jaminan bagi keberlangsungan unpar. Banyak yang bergantung dari Unpar bukan cuma mahasiswa, misalnya pegawai Unpar. Lagipula kalau nama unpar bagus ini juga baik untuk mahasiswa,” ujar Maria.

(Risa Efriani/Mirza Fahmi)

Related posts

3 Comments

  1. Maria Malau said:

    Hihihi,, risa sayangnya kamu motong2 beberapa kalimat aku dari wawancara kemarin ya,, jadinya terkesan akunya sok pinter dan cuman mentingin penelitian ini, bukan prioritasin keuntungan bagi mahasiswanya apa dari penelitian ini.

    Ini untuk mengklarifikasi hal-hal yang dipotong dari wawancara sama MP kemarin ?

    Menentukan pertanyaan dalam kuesioner:
    1. Merupakan hasil dari penelitian pendahuluan. Kita sebarin 25 buah ke setiap jurusan (300 buah), 5 untuk setiap angkatan untuk menggali apa aja yang tidak disukai dari unpar dan program studi masing2. Dari situ kami ambil masalah2nya untuk dijadikan pertanyaan. Tidak semua diambil, kami hanya mengambil yang dianggap krusial saja, karena jika diambil semua, hasilnya menjadi sekitar 200an pertanyaan. Jadi bukan sama sekali asal2an bikin pertanyaan, namun ada dasarnya, yaitu keluhan2 mahasiswa dari penelitian pendahuluan yang disebarkan. Hasil penelitian pendahuluan bisa aku kasih ke MP kalau kalian mau. Ada di kamarku sa. ?

    2. Sebelum disebarkan, diadakan forkom dengan seluruh himpunan, mpm, wakil rektor III dan BAAK. disana kami berikan dahulu draft kuesioner untuk semua himpunan, wakil rektor III dan baak. kami meminta mereka semua untuk melakukan koreksi apabila ada yang tidak perlu atau perlu ditambahkan. terakhir pengembalian hari senin ke mpm. jika tidak dikembalikan hingga senin maka dianggap tidak ada koreksi. namun menurut mpm, hingga hari senin, tidak ada himpunan yang mengembalikan draft kuesioner, sehingga dianggap menyetujui. Lalu sudah dicek oleh Wakil Rektor III dan Kepala BAAK dan sudah disetujui.

    Jadi kuesionernya bukan asal-asalan dibuat dan untuk kepentingan pribadi kan? Penelitian ini benar-benar peduli dengan pendapat semua pihak di Unpar, karena itu disebarin dulu kuesioner pendahuluan, diminta pendapat dari seluruh himpunan, diminta pendapat ke Wakil Rektor III dan Ketua BAAK.

    Kalau tidak peduli, enggak akan repot-repot ya ?

    Tujuan dari penelitian ini:
    Kenapa kepuasan mahasiswa itu penting?
    Buat mahasiswa sendiri: coba saja tanya ke diri kamu sendiri, kamu puas ga berkuliah di Unpar? mengapa puas? mengapa tidak puas?
    Kemungkinan besar jawaban kamu akan berkutat di kinerja dosen, biaya, fasilitas, dst. Itulah yang ditanyakan di penelitian ini.
    Bagaimana menurut kamu dgn kinerja dari dosen di prodi kamu? biaya kuliah kamu? dst.
    Apakah salah menanyakan hal-hal tsb?
    Apakah salah jika saya menganggap Unpar adalah sebuah penjual jasa yang seharusnya berkinerja sesuai dengan harapan konsumennya (mahasiswa)?
    Bukankah itu yang kalian (mahasiswa) butuhkan? Unpar yang berkinerja sesuai dengan harapan kalian?

    Konsumen yang tidak puas, akan bercerita di media, di keluarganya, di pergaulannya. Unpar bisa saja mati dalam kurun waktu 10-20 tahun lagi karena masyarakat/teman/keluarga kita mendengar cerita ketidakpuasan kita akan Unpar, dan memilih untuk tidak berkuliah di Unpar atau menyuruh teman/anak/saudaranya untuk tidak berkuliah di Unpar. Akibatnya bisa tidak ada lagi yang mau masuk Unpar kalau kinerjanya belum sesuai dengan apa yang diharapkan mahasiswa.

    Unpar sadar tentang hal ini, yaitu bahwa hidup-matinya berada di tangan kepuasan mahasiswa, sehingga berdasarkan hasil penelitian ini, Unpar akan bertindak agar kinerjanya dapat sesuai dengan apa yang diharapkan mahasiswanya. Salahkah jika penelitian untuk memetakan kepuasan mahasiswa akan kinerja Unpar dilakukan?

    Kuesioner banyak menggunakan Pilihan Ganda:
    Karena hasil dari penelitian harus bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, bukan hanya pendapat (ditakutkan) beberapa mahasiswa saja.
    Misalnya hasil penelitian ini mampu mengatakan: 90% responden menjawab “tidak setuju” dalam pertanyaan “biaya kuliah di Unpar sesuai dengan fasilitas akademis dan non akademis yang anda dapatkan”.
    Tidak hanya bisa bilang ke Unpar,”Pak ADA yang bilang A, ada yang bilang B”. Nanti Unpar nanya,”berapa yang bilang A? berapa yang bilang B? jangan2 cuman 1 orang yang ngomong”.

    Jumlah responden pun dihitung berdasarkan rumus ilmiah. Jadi bukan sekadar, di jurusan A – 50 responden deh soalnya banyak. Di jurusan B – 10 aja cukup. Tapi memang ada rumus statistiknya. Silahkan MP kalau ingin tahu perhitungan statistiknya saya bersedia memberikannya ?

    Setiap halaman pertanyaan selalu disediakan comment box yang mampu menampung ribuan character, jadi tetap ada kesempatan bagi responden untuk memberikan komentar di luar yang sudah ada di pilihan ganda. karena memang kami yakin tidak mungkin semua aspek di Unpar sudah tersaring melalui PG yang disajikan.

    Terdapat 2 skala Pilihan Ganda:
    1. Skala kepentingan: ini untuk mengetahui aspek mana yang menurut mahasiswa penting agar Unpar memprioritaskan perbaikan pada aspek-aspek yang dianggap penting bagi mahasiswa.
    Misalnya Unpar fokus dalam renovasi keindahan toilet, tapi bagi mahasiswa estetika toilet tidaklah penting, jadi penelitian ini bisa merekomendasikan apa yang dianggap penting bagi mahasiswa sehingga dapat difokuskan kesana.

    2. Skala kinerja: ini untuk melihat apakah menurut mahasiswa kinerja aspek di Unpar sudah baik atau belum?
    Misalnya mahasiswa bilang kinerja dosen buruk, ruang kelas sempit, FRS susah dll. Itu dilihat hasil penelitian per jurusannya dan diambil tindakan kalau memang dikatakan buruk oleh mahasiswa.

    Skala kepentingan dan kinerja tsb akan dipetakan dalam grafik IPA Analysis. Silahkan MP melakukan googling IPA Analysis itu apa, karena akan sangat panjang jika dijelaskan disini. Kemarin juga sudah saya tunjukkan ke Risa. ?

    Kutipan yang salah, seingat saya, saya tidak pernah bilang gini sa:
    “Saya yakin pada awalnya Romo Tarpin juga tulus ingin mengukur kepuasan mahasiswa bagi keberlangsungan institusi Unpar”

    Kayanya yang ini juga dipotong dari kalimat awalnya atau akhirnya. Seingat saya, saya bilang, “Romo paham Unpar harus memuaskan mahasiswanya demi keberlangsungan Institusi Unpar.“

    Kalau ada kata “pada awalnya” kesannya sekarang udah ga lagi dong? Hahaha. Padahal saya yakin beliau masih perduli dengan kepuasan mahasiswa akan kinerja Unpar.

    Untung bagi kita sebagai mahasiswa karena kinerja Unpar akan disesuaikan dengan harapan kita agar kita puas, dan untung di Unpar karena kita akan merekomendasikan Unpar kepada orang sekitar kita

    Apakah salah niat baik untuk meningkatkan kinerja Unpar ini? ?

    Sekian komentar dari saya mengenai artikel yang banyak dipotong ini hehehehe. Jika ada kritik dan saran, kami sangat terbuka. Kemarin aku bilang gitu kan sa? Karena tidak ada manusia/proyek atau apapun yang sempurna. Dengan banyaknya kritik, mungkin di penelitian berikutnya bisa jadi lebih baik bukan? Terimakasih untuk semua perhatian pembaca atas penelitian ini.

    Jika Anda mengenal saya, saya yakin Anda dibuat bingung dengan Imej yang terbentuk dari kalimat-kalimat saya di artikel yang dibuat MP di atas. Setau saya, saya tidak pernah berlaku terkesan sok pintar dan tidak peduli kepentingan mahasiswa dan lebih mementingkan kepentingan Unpar.

    Jangan selalu percaya dengan pemberitaan apapun. Jika ingin mendapat jawaban tanpa potongan-potongan, silahkan menghubungi saya langsung di 0817-230-87-81. Dengan senang hati saya datangi Anda dan jelaskan secara langsung. Penelitian ini murni untuk menyamakan kinerja Unpar dengan harapan Anda (mahasiswa). Sekian, terimakasih.?

    • bys said:

      kepada Yth
      adinda Maria yang baik, perkenalkan saya alumni Unpar NRP 3392092. saya pembaca setia media parahyangan. saya tidak merasa tulisan berjudul, Maria: Saya Hanya Membantu WR 3 dan MPM dalam Menjalankan Survey Kepuasan Mahasiswa – di media parahyangan 24/11/11 memojokan adinda. saya senang mendengar ada seorang mahasiswa, seperti adinda yang sangat perduli terhadap almamater kita, unika parahyangan. itu yang saya tangkap dari tulisan tersebut.
      namun saya agak mengernyitkan dahi saya bahwa survey tersebut dilakukan dengan melibatkan pihak-pihak yang dapat berpotensi membuat survei tesebut menjadi bias. katakanlah para pejabat di rektorat. mereka adalah pihak yang memiliki kepentingan untuk menjaga citra unpar sehingga ada potensi mereka berkeinginan mendapatkan hasil survey yang sesuai keinginan mereka. suatu survey biasanya untuk mendapatkan hasil yang baik harus lah dilakukan secara bebas nilai (kepentingan). menjadi pertanyaan jika adinda melibatkan diri pada suatu penelitian dengan pihak yang memiliki kepentingan yang dapat mempengaruhi hasil penelitian. dan bagi saya tampaknya kekhawatiran inilah yang lebih tercermin dari angle berita media parahyangan. tapi itu penafsiran saya dan tentunya bersifat subyektif. suatu survey atau pooling bisa menjadi suatu metode untuk mendapatkan pandangan, aspirasi atau opini kelompok tertentu atas pandangan tertentu. namun ia juga dapat digunakan sebagai suatu upaya melegitimasi suatu kepentingan (seolah-olah sah secara akademik atau metodologis). sebuah survey atau pooling bisa menjadi pisau bermata dua, dia bisa untuk menangkap atau menggambarkan opini publik (describing public opinion) tetapi juga membentuk opini publik (opinion makers). adinda sebagai calon sarjana dengan masa depan gemilang haruslah berhati-hati (prudential). saya sebagai salah satu alumni mengharapkan tumbuhnya suatu kesadaran kritis di mahasiswa, dimana kita boleh saja mencintai sesuatu namun cinta kita tidak boleh buta (atau bahkan membabi buta). saya sangat mencintai almamater kita seperti halnya saya mencintai bangsa ini, tetapi tidak akan pernah menghalangi saya untuk mengkritisinya dan bahkan mungkin kadang mengecamnya.
      pesan saya untuk adinda maria adalah tetap kritis dan terus semangat dalam berkarya.

      salam hangat saya

      Budi yoga Soebandi

      Alumni Unika Parahyangan
      saat ini bekerja sebagai Komisioner Komisi Informasi Republik Indonesia

  2. Redaksi MP said:

    Kepada Saudari Maria,

    Kami sangat menghargai tanggapan dan klarifikasinya untuk berita Stoppress! “Survei Kepuasan Mahasiswa”. Dan dengan begitu telah mempergunakan hak jawab anda dalam satu pemberitaan. Ini amat dibutuhkan guna menjamin keberlangsungan kehidupan yang demokratis dan terbuka, khususnya di kampus UNPAR tercinta.

    Mohon maaf, kami tidak dapat memuat baris terakhir dari komentar anda, karena lebih bersifat personal thdp penulis berita, namun pesan anda tsb telah kami sampaikan kepada yang bersangkutan, dan komentar2 anda lainnya tidak kami rubah sama sekali.

    Jika Saudari Maria ingin melihat hasil rekaman wawancaranya, atau berdiskusi lebih lanjut mengenai berita ini, dapat hubungi mediaparahyangan@gmail.com atau datang ke sekretariat Media Parahyangan. Terimakasih.

    -Redaksi

*

*

Top