Magis dan Sakralnya Parahyangan Heritage II

Megahnya Gereja Santo Petrus dan Penampilsan PSM Unpar Megahnya Gereja Santo Petrus dan Penampilsan PSM Unpar

Fitur, MP – Mereka berteriak, tetapi tidak memekikkan telinga melainkan membuat mata semakin fokus dan membuat kita bergerak lebih maju lagi untuk melihat dua baris anak muda berdiri di depan dengan tuksedo hitam dan gaun putih bernuansa emas. Tampak Ivan Yohan, seorang pria berbadan tegak berdiri menghadap mereka. Ivan berkomunikasi dengan para anak muda tersebut dengan mengayunkan tongkat kecil di tangan kanannya, memberikan sinyal-sinyal yang mengarahkan nyanyian untuk mengalun dengan indah.

Malam itu bertepatan pada akhir bulan Agustus, sorotan lampu  tertuju kepada mereka, Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UNPAR. Gereja Santo Petrus dipilih menjadi tempat mereka mengadakan pagelaraannya kali ini. Tempat yang sakral bagi kaum Kristiani itu sangat mendukung suasana konser tahunan yang digelar PSM tahun ini, dimana dinding-dindingnya, dan ketinggian bangunan yang melebihi skala manusia membuat suasana menjadi magis, ditambah lagi dengan harmonisasi suara yang dinyanyikan membuat setiap orang yang menyaksikan mengalami pengalaman yang luar biasa.

Paduan suara melantunkan empat belas lagu dengan nada dan emosi yang bervariasi. Konser dibagi menjadi dua babak disisipkan istirahat seperempat jam diantaranya. Pada babak pertama, paduan suara menyanyikan delapan lagu ciptaan komponis UNPAR dan enam lagu pada babak kedua merupakan karya-karya dari mancanegara dengan mencerminkan kembali ‘ragam bahasa’ yang menjadi sub-tema dengan mengangkat lagu dari berbagai bahasa; Latin, Indonesia, Jerman, Inggris, dan Italia.

Ivan Yohan sang konduktor memilih Nihil Sum, Pacem dan Ave Maria sebagai lagu pembuka konser. Ketiga lagu tersebut sengaja dipersatukan karena jenis lagunya yang sakral dan berbahasa Latin. Setelah lagu sakral, konser mulai berangkat ke lagu non-sakral dimana liriknya dikutip dari berbagai puisi.

Parahyangan Heritage II dipilih menjadi tajuk konser tahun ini. Ivan menjelaskan, nama itu digunakan dengan alasan lagu-lagu karya anggota paduan suara Unpar diikutsertakan dalam program konser. “Lagu-lagu ini merupakan warisan budaya dari pihak PSM Unpar untuk memperkaya perbendaharaan karya paduan suara dari komponis Indonesia bagi pencinta musik paduan suara baik di dalam maupun di luar negeri,” Ujarnya

Leonardo Dreams of His Flying Machine karya komponis Amerika Eric Whitacre menjadi lagu penutup pada konser malam itu dimana menurut Ivan lagu tersebut yang paling menantang untuk dilatih. Durasi lagu yang cukup lama sehingga membutuhkan energi yang stabil dari awal hingga akhir lagu. Selain itu, tuntutan teknik menyanyi sangat tinggi dimana banyak nada-nada tinggi yang harus dinyanyikan. Aditya Imansyah (Hubungan Internasional, 2016) , salah satu personel paduan suara mengatakan lagu penutup ini menjadi lagu yang paling berkesan karena penyanyi berusaha mewujudkan suara-suara unik seperti suara angin dan mesin pesawat.

Konser ditutup dengan padamnya lampu sorot dan tepukan tangan yang riuh dari penonton. Para teman, saudara dan keluarga berbondong keluar dari gedung untuk memberikan pelukan dan seikat bunga segar kepada para personel paduan suara.

Menelisik Arti Musik

Mata penonton dalam kegelapan menggambarkan rasa kagum karena suara-suara indah yang dihasilkan oleh PSM Unpar. Tetapi sebenarnya hal ini sangat disayangkan, penonton melewatkan satu elemen besar yang terkadang luput dari perhatian mereka. Penonton menikmati nada tetapi tidak memahami lirik apalagi mengerti arti jiwa dari lagu terutama banyak lagu dengan lirik bahasa asing dan dikutip dari berbagai puisi. Selain suara, lirik dan arti lagu merupakan salah satu hal menarik. Seperti salah satu lagu yang mereka bawakan yaitu Der Erlkönig, lagu yang berasal dan menggunakan bahasa Jerman.

Lagu tersebut menceritakan sang ayah yang membawa buah hatinya ke kota untuk pengobatan medis. Dalam perjalanan pulang, si kecil melihat sosok makhluk misterius yang dikenal sebagai dewa kematian, atau biasa disebut Erlkönig. “Anakku, datanglah kemari, pergi bersamaku!“ ajakan makhluk misterius itu yang membuat si kecil ketakutan dan berusaha meyakinkan ayahnya apa yang ia dengar. Sang ayah yang tak percaya, menenangkan sang buah hati yang panik mengaku ia melihat Erlkönig.

Sesampai dirumah, sang ayah hanya terdiam dan tertegun. Mendapati buah hatinya sudah kaku dan dingin diatas tempat tidur. Aditya Imansyah menjelaskan lagu tersebut diakhiri dengan suara besar berteriak yang menggambarkan emosi sang ayah berteriak, mendapati anaknya tidak bernyawa di pelukannya.

 

RANESSA NAINGGOLAN

Related posts

*

*

Top