Long March Unpar II, 20 Mei 1998: Berangkat Jalan Kaki, Pulang Juga Jalan Kaki

Berkumpul di lapangan Gasibu dan Gedung Sate (Sumber: Arsitektur ITB)

Edisi 21 Mei 1998

Sekali lagi Mahasiswa Unpar membuktikan turun ke jalan ternyata tidak berbuntut kerusuhan.

Tanggal 20 Mei ’98 seakan-akan menjadi momok yang menakutkan masyarakat Bandung , karena diduga akan timbul kerusuhan berkaitan dengan aksi unjuk rasa mahasiswa besar-besaran. Namun sekali lagi seluruh mahasiswa Bandung menjawab bahwa aksi yang mereka lakukan benar-benar damai tanpa kerusuhan. Salah satunya adalah mahasiswa Unpar yang Rabu kemarin bergabung dengan massa mahasiswa di lapangan Gasibu dalam menggelar aksi keprihatinan.

Sebelum long march ke lapangan Gasibu, di Kampus Ciumbuleuit diadakan apel Hari Kebangkitan Nasional jam 10:00 yang kali ini diadakan oleh mahasiswa. Pemberlakuan hari libur oleh pihak rekotorat setidaknya mempengaruhi jumlah mahasiswa yang datang ke kampus, hanya sekitar puluhan orang. Selesai apel diadakan orasi dari Pembantu Rektor IV dan beberapa dosen. Lalu jam 10:20 mahasiswa Unpar yang kian bertambah mulai bergerak meninggalkan kampus dengan membentuk barisan sepanjang kurang lebih 100 meter. Long march ke Gasibu itu melewati Jl. Ciumbuleuit – Jl. Siliwangi – Jl. Dipati Ukur – Jl. Singa Perbangsa – Jl. Japati. Tampak hanya beberapa polisi saja yang mengawal long march ke Gasibu.

Sebelum long march seorang aparat keamanan dari Dandim 0618 memperingatkan satgas untuk berhati-hati dalam mengamankan rombongan mahasiswa Unpar. Karena dikhawatirkan adanya penyusupan oleh provokator baik yang berasal dari preman ataupun dari Pemuda Pancasila dan FKPPI. Tampaknya peringatan ini ditanggapi serius oleh satgas, dengan membatasi rombongan long march dengan tali tambang plastik dan memperbanyak “rantai manusia”. Lalu ketika pada saat berada di Jl. Dipati Ukur, beberapa personil satgas berusaha mencegah masuk dua oknum yang mencurigakan ke dalam rombongan.

Jam 12:45, rombongan Unpar sampai di lapangan Gasibu, namun mereka beristirahat di halaman Gedung Sate yang letaknya berseberangan. Waktu istirahat pun dimanfaatkan dengan menyerbu pedagang-pedagang makanan dan minuman yang sejak seminggu terakhir selalu dibanjiri keuntungan. Jam 14:00 perwakilan Unpar didaulat untuk unjuk suara di hadapan ribuan massa. Lalu rencananya rombongan Unpar akan bergabung dengan massa yang berkumpul di lapangan Gasibu. Namun urung dilaksanakan, karena massa di lapangan itu sudah begitu banyak. Akhirnya rombongan Unpar memilih kembali ke kampus jam 14:30 dengan long march lagi, yang kali ini melewati Jl. Juanda (Dago).

Bolak-balik long march ternyata sedikit menimbulkan prahara bagi mahasiswa Unpar. Sepanjang perjalanan, ratusan mahasiswa Unpar yang mengikuti long march menunjukkan rona wajah yang lelah. Kondisi demikian mengakibatkan barisan rombongan tidak rapi lagi, karena banyak yang duduk di jalan pertanda lelah. Teriakan reformasi dan nyanyian lagu-lagu perjuangan berganti menjadi teriakan dan siulan menggoda mahasiswa Unpar setiap kali berjumpa dengan kecantikan kaum hawa, baik yang ada di angkot, taksi, maupun mobil pribadi.

Perjalanan pulang ke kampus kali ini sama sekali tidak mendapat pengawalan aparat keamanan, namun personil-personil satgas bertindak sigap sehingga long march tidak dinodai kerusuhan kendati timbul kemacetan sana-sini. Rombongan long march sampai di kampus dengan aman jam 16:30 yang akhirnya membawa masalah baru, pegal linu di sekujur anggota tubuh. (rra)

Related posts

*

*

Top