Wawancara MP: Lebih Dekat Bersama Dekat

Penampilan Dekat dalam acara FON 2016 yang dilaksanakan di Teras Cikapundung/dok. Arya Mahakurnia Penampilan Dekat dalam acara FON 2016 yang dilaksanakan di Teras Cikapundung/dok. Arya Mahakurnia

WAWANCARA MP, UNPAR – Dekat adalah grup musik yang terdiri dari Kamga, Tata, dan Chevrina. Pada tahun 2014, mereka merilis Lahir Kembali, sebuah entitas pendek (EP) untuk memperkenalkan identitas baru mereka. Sebelumnya, mereka dikenal lebih luas sebagai kwartet vokal bernama Tangga. Di bulan Maret lalu, mereka baru saja merilis EP kedua, Meranggas.

Pada Sabtu (30/4) lalu, MP berkesempatan untuk mewawancarai Dekat seusai tampil pada acara Festival of Nations, di Teras Cikapundung, Bandung. Pada wawancara ini, Dekat berbicara mengenai EP terbaru mereka, independensi dan industri musik. Berikut petikan wawancaranya.

Mengapa ganti konsep dan genre?

Chevrina (C): Simple -nya kita memutuskan untuk membuat band baru, dan 3 kepala ini ketemunya di genre ini dan di konsep ini.

Apa beda EP pertama, Lahir Kembali dengan EP kedua, Meranggas?

Kamga (K): Bedanya, EP pertama musiknya lebih rock, yang kedua musiknya lebih joget. Secara penulisan lagu masih sama, gaya tulisannya, liriknya. Mungkin mood tahunnya yang beda, 2014 kita lagi marah-marah, tahun 2016 kita mau senang-senang aja. Selain itu kita juga merilis album fisik setelah 2 tahun. Kita menggabungkan Meranggas dan Dekat Kembali, jadi keseluruhan ada 10 lagu.

Ada referensi khusus untuk EP kedua?

K & C: Major Lazer, dan M.I.A. Arah musiknya ke sana.

Apa yang membedakan merilis album secara independen dan bersama label arus utama?

K: Independensi. Kita tidak mungkin buat album kayak gini kalau kita di label, atau kecuali ada label gila baru yang mau merilis album kita.

Independensinya bebas, tapi masalah uang yang sangat tidak bebas. Kita sering stres memikirkan uang. Tapi senangnya, ketika naik panggung kayak tadi, semua terbayar. Kita cuma mau liat orang senang aja. Kebebasan bermusiknya paling signifikan

Apakah ada alasan lain? Misalnya kemudahan dalam merilis?

Tata (T): Itu malah susah. Alasan awal karena kita mau bebas dulu. Di jalur indie justru lebih susah, terutama masalah uang. Setelah terjun di indie, kita baru merasakan masalahnya anak indie. Sialnya masalah tersebut adalah akar, kita mau ngapain aja perlu uang. Tapi kebebasan bermusiknya yang membayar semua itu.

Bagaimana cara Dekat menghadapi masalah tersebut?

K: Kita juga bingung, hingga stres dan marah-marah. Kita bertiga bukan businessman, kita ga ada otak bisnis sama sekali. Yang kita pikirkan adalah kalau setiap kita manggung banyak yang senang, seharusnya makin banyak tawaran manggung. Dan semakin banyak tawaran manggung, berarti makin banyak uang. Hanya itu yang kita pikirkan. Kita tidak berpikir untuk buat ini itu, kita hanya berusaha untuk tampik sebaik mungkin, buat penonton dan yang hire kita senang. Biar mereka yang menyebarkan nama kita kemana-mana.

Dengan kemajuan teknologi dan internet, menurut kalian bagaimana masa depan industri musik terutama di Indonesia?

C: Dari sistem penjualan atau penyebarannya, sekarang katanya memasuki era digital dan mempengaruhi rilisan fisik. Kita bikin rilisan fisik juga karena kita yakin, untuk beberapa orang yang ortodoks, suka pegang sesuatu, pasti tetap pilih CD.

K: Tentang perkembangan industri, kemarin sempat baca bahwa televisi dan radio adalah program yang berusaha memprogram kita untuk mendengarkan sesuatu, melihat sesuatu, menjadi sesuatu, dan itu menjauhkan kita dari realita, Ketika kita masuk zaman internet, banyak yang berontak. Kita tidak akan bikin Dekat kalau misal kita tidak cari referensi musik di internet. Kalau gua cuma ngikutin apa yang gua suka, gua bakal dengerin lagu penyanyi kulit hitam aja sampai sekarang.

Tanpa internet, kita tidak tahu bagaimana cara rilis album sendiri, tidak tahu bagaimana musiknya anak-anak Bandung gila tadi. Semua bisa terjadi sekarang ini karena kita sudah muak dengan apa yang disodorkan ke kita.

Dunianya memang sudah berubah, dan label tidak tahu harus berbuat apa karena digital adalah dunia yang sangat baru dan mereka sama bodohnya kayak kita. Semua punya kesempatan untuk sukses dan “kolamnya” semakin besar, semakin mengerikan. Tapi ketika lo orang kreatif dan mau bermusik atau mau berkarya yang lain, sekarang adalah saat yang paling tepat untuk memulai.

 

ZICO SITORUS, AXEL GUMILAR

Related posts

2 Comments

    • MP said:

      bukan, dulu group musik ini namanya “Tangga” dari Jakarta.

*

*

Top