Hak Buruh Nike di Indonesia Belum Terpenuhi

STOPPRESS – Buruh Nike di Indonesia harus berani untuk berbicara demi terwujudnya keadilan atas hak mereka. Selama ini hak mereka belum terpenuhi sebagaimana mestinya.

Hal itu disampaikan oleh Jim Keady, seorang mantan atlit sepakbola Universitas St. John Amerika Serikat (AS) dan juga ketua organisasi Team Sweat, Senin (7/02) di ruang 3501 Gedung FISIP Unpar dalam kuliah umum “Behind The Swoosh : Sweatshop and Social Justice”.

“Dibalik sepatu yang kita pakai itu, ada kondisi realita yang masih memprihatinkan,” kata Jim. Ia menambahkan, Nike melakukan banyak kecurangan dalam hal pemenuhan hak buruh. Aktivitas industri yang seharusnya bisa menghidupi rakyat kecil malah menjadi perbudakan manusia.

“Seorang buruh diberi upah Rp.1.243.000 per bulan. Tak sebanding dengan biaya kehidupan sehari-hari,” tambah Jim sembari menunjukan perhitungan kebutuhan sehari-hari seperti biaya makan, transportasi, sewa listrik, dan lain-lainnya. “NIKE adalah perusahaan terbesar. Jika kita bisa mengubah perusahaan besar dan pemimpin industri tersebut, maka industri-industri lain akan mengikuti,” tambah Jim.

Jim Keady kemudian mengajak mengampanyekan nasib buruh melalui situs www.teamsweat.org atau dengan mengirim email kepada Mr.Parker email : mark.parker@nike.com untuk membuat suatu perubahan.

Team Sweat adalah sebuah organisasi yang mengkampanyekan perlawanan atas perlakuan sejumlah industri terhadap pekerja buruhnya. Ia mengampanyekan nasib buruh Nike Indonesia yang diperlakukan tidak adil oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Ia pernah menolak tawaran kontrak sponsor dari Nike karena mengetahui bagaimana nasib para buruh yang bekerja untuk perusahaan itu.

Acara ini terlaksana atas kerjasama Team Sweat dengan Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan (PUSIK) Parahyangan, Kelompok Studi Kebijakan Publik (KSKP), Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional (KSMPMI), dan Media Parahyangan.

(Yusti & Zhira)

Related posts

Top