Kumpulan Cerpen Klab Menulis Volume 2

Tiga Hari yang Lalu, Sekarang, dan Nanti

By: Dhenny

“Lyn, mau ga lo ngisi kekosongan di hati gua?” aku bertanya pelan pada Sherlyn.

“Mau minum?” tanya Sherlyn membuyarkan lamunanku.

Tiga hari yang lalu, aku mengungkapkan isi hatiku padanya. Ia bersuara, namun yang aku dapati hanya kata-kata yang tak menjawab tanyaku. Entah karena aku yang lemot atau memang dia yang tak bisa menguraikan perasaannya saat itu.

“Hmm..Kemarin itu lo udah nolak gue ya, lyn?” tanyaku dengan sedikit cengengesan.

Sherlyn terdiam sejenak, lalu ia mulai membuka mulut.

“Jadi gini, ric. Lo mungkin belum gitu kenal siapa gue. Gue juga belum mengenal siapa lo. Ya belum lama juga kan? “

“Mungkin…lebih baik kalo kita temenan dulu..”, katanya melanjutkan.

Seperti tahu apa yang sedang aku rasakan, Sherlyn kembali memberi penjelasan.

“Gue juga ga tau apa yang akan terjadi dimasa depan. Mungkin aja, nanti gue bisa jadi pacar lo. Mungkin aja gue jodoh lo. Kalo sekarang sih, mungkin gue masih belum ada feel. Mungkin belum waktunya.” jelasnya yang kemudian diam.

Sherlyn menundukkan kepalanya, dan membisu sesaat.

“Terus selama ini lo pernah ngeh?” kembali aku bertanya.

“Ngeh apa? Ngeh kalo selama ini lo care sama gue?”

Aku hanya sedikit mengangguk, tak berani menatap ke arah sherlyn.

“Setahu gue, dulu lo suka sama Nancy”

“Itu yang gue ga pengen. Lo nganggepnya kalo itu masih berlaku. Padahal uda ga lagi.”

“Oo..gitu. Perlahan gue mulai ngerasa sih”

Aku kembali diam.

“Kok diem? katanya ada banyak yang mau ditanyain?”

Tiga hari yang lalu juga, aku bilang padanya kalau ada banyak hal yang ingin aku tanyakan. Dan aku harap di saat itu, aku bisa mendapatkan kepastian atas semua spekulasi yang telah tersusun selama ini. Aku belum mendapatkan kata yang pas untuk pertanyaan itu.

“Ric..kenapa lo suka sama gue?” Tiba-tiba malah dia yang bertanya.

“Lo itu beda.”

“Beda apa?”

“Ga bisa diungkapkan dengan kata-kata. Gue ngerasa cocok sama lo. Lo juga baek…”

Aku kehabisan konotasi dan mencoba jujur, mengatakan yang sebenernya.

“ But honestly, I have no reason. Menurut gue, menyayangi orang yang gue sayangi itu..ga butuh alesan.” Jelasku dengan diakhiri sedikit senyum.

“Sorry kalo ga memberikan jawaban yang tepat buat lo” aku melanjutkan.

“Enggak. Gue ngerti kok..”

“Kali ini gue yang mau nanya.” Ada sedikit jeda disana. Kalimat itu seperti memang harus ada jeda. Aku tak mampu mengucapkannya secara utuh. “Tentang Billy.”

Billy seangkatan denganku dan Sherlyn. Dia juga satu universitas dengan kami. Bedanya, dia beda jurusan. Sebelumnya aku tak pernah mengenal dia, sampai aku memergoki mereka makan siang, hanya berdua. Saat aku melihat mereka berdua seperti itu, aku sedikit ragu. Aku pun bertanya pada diriku sendiri. Apa yang mesti dilakuin?

Dan akhirnya aku memutuskan buat gabung, makan siang satu meja bersama mereka. Sejak itu aku terus mengumpulkan bukti untuk menyusun suatu premis. Gawatnya, premisku menunjukkan positif.

“Sebentar…gue mau nanya sama lo. Apa aja yang lo tahu tentang Billy?” Sherlyn balik bertanya. Wajahnya heran menunjukkan kalau dia sangat ingin tahu.

“Lo deket sama dia. Dan kedekatan seperti itu…lebih dari sekedar temen.”

“O.k. Bener. Gue deket sama Billy.” jawabnya pelan. Ia kembali melanjutkan jawabannya, “Dan kalo orang ngeliatnya dari luar, mungkin iya sih keliatan nya lebih dari temen. Well, dulu iya. Gue suka sama dia.”.

“Bentar..maksud lo?” Kali ini sepertinya aku bisa membuktikan kalau heran bisa menular.

“Kemaren. Di malem ulang tahun gue, gue nunggu. Nunggu dia ngubungin gue. Siangnya, dia bilang ketiduran. O.k! Tapi bisa kan dia ngelakuin hal yang lebih dari sms?!” Wajahnya mulai memerah, dan matanya nanar.

“Dan sekarang gue hanya nganggep dia…temen.”

Dari sana, aku mencoba mengerti apa yang sedang ia hadapi, apa yang ia rasakan.

“Maafin gue ya..ric” pintanya dengan tampang yang memelas.

“Ga ada yang perlu di maafin. Lo punya hak kok buat memilih yang terbaik.” aku membalas dengan tampang sok tegarku.

“Gua mau nanya satu hal lagi.”

“Satu atau dua? Dua atau tiga? hayo..” Ia menggodaku. Aku seperti anak kecil yang mau balon warna biru, tapi masih juga ditawari dengan pilihan warna lainnya. Hey, please stop it! I’m not child anymore.

Aku kembali diam. Tak peduli sedikit pun lelucon yang ia lontarkan. Aku menyandarkan diri di sofa. Pandangan mata tertuju pada langit-langit ruang keluarga itu. Sebenarnya aku sudah tahu apa yang ingin kubicarakan. Tentang apa yang pernah dibicarakan Vita. Dan aku takut hal itu akan membuat tali persahabatan mereka renggang.

“Napa? Berat ya ngomongnya?”

“Engga sih. Ga jadi deh.”

“Ga, ga pa pa. Ngomongin aja.”

“Lo pernah ngomongin sesuatu ga ke Vita?” aku kembali menundukkan kepala, melihat pada satu sisi saja.

“Banyak..hmm..yang mana ya?”

“Kalo harus milih lo lebih milih mana? Milih ngikutin kata hati? Atau milih karena kasihan?” jelasku menirukan intonasi Vita, serupa pada saat ia menceritakan hal itu padaku.

“Hmm..bentar. Gue ga nangkep. Maksudnya?” Ia mengernyitkan dahinya.

“Lo pernah berpikir buat mengasihani gue?” Skak.

Untuk kesekian kalinya, Sherlyn terdiam. Mata yang sudah berkaca-kaca itu tampak tak dapat lagi menampung air mata yang telah membendung.

“Pas itu gue lagi bikin keputusan.” jelasnya, dengan satu titik air mulai membasahi pipinya.

“Gini ric, lo orangnya baek banget. Pas valentine, di saat yang biasanya gua cuma dapet coklat dari bokap dan kakak gua, lo ngasi coklat bentuk hati dan ngukir “happy valentine sherlyn” di atasnya. Buat gua..” Suaranya ditegar-tegarkan seperti menghalau kenangan akan kenyataan pahit yang kembali mencuat.

“Satu bulan sebelum paskah, lo yang beda keyakinan sama gue, ikutan puasa. Dan pas gue nanya, ‘kenapa?’ lo cuma bilang kalau lo mau berbagi atas apa yang gue rasain saat itu.” Kali ini suaranya mulai gemetaran.

“Dan tiga hari yang lalu, pas ulang tahun gue, di saat ngerayain bareng temen-temen. Katanya yang bikin pudding coklat itu, elo. Trus bikinnya ampe jam 3 pagi lagi.” Penjelasannya diakhiri dengan menarik nafas. Mungkin juga sekalian menarik ingus.

“Gue ga tega, ric. Lo baek banget ke gue, sementara gue ga bisa ngasi apa yang lo pengen. Gue jahat, ric! Gue jahat!”

Titik titik air yang menetes itu disusul dengan isak tangis yang masih bisa terdengar walaupun sudah ia coba untuk menahannya. Ini pertama kalinya aku melihat dia menangis. Aku hanya bisa diam. Terbungkam dalam keheningan. Di saat-saat seperti ini, aku tak bisa melihat seorang yang aku sayangi, menangis. Aku beranjak dari kursi, dan kembali dalam beberapa saat. aku sodorkan tissue, dan aku taruh segelas air putih di hadapannya. Aku masih diam. Sebenarnya aku kalut, cemas. Aku ingin dia tidak menangis lagi. Aku mencoba melontarkan kata-kata untuk kembali agar dia tak menangis lagi. Persetan dengan perasaanku saat ini. Aku tak peduli. Saat ini yang kuingin hanyalah dia berhenti menangis, dan kembali tersenyum. Tertawa seperti di saat dia mendengar lelucon-lelucon garingku. Entah apa saja yang aku bicarakan, kata sudah tak penting lagi. Untungnya beberapa saat kemudian, sedikit mereda.

“Mungkin ada lagi yang pengen lo tanyain ke gue?” Mukanya merah, matanya sembab, dan suaranya masih gemetaran. Sedangkan aku masih terdiam.

“Lo marah sama gue?”

“Ga.”

“Lo kecewa sama gue?”

“Iya” jawabku tegas.

“Sorry ya, ric. Gue uda jahat sama lo.” Sherlyn terus saja menyalahkan dirinya atas peristiwa ini.

“Gue mau balik, lo juga mau pegi bareng Vita kan? Lo udah ditungguin tuh.” tanyaku sembari beranjak dari kursi dan memakai jaket putih berlengan pendek.

“Ga jadi. Nyokap gua juga masih belum balik. Masih ujan, ric. Seengganya sampe redaan dikit.”

“Gua ada janji.”

“Sok sibuk lo”.

“Ada yang pengen gua kerjain” kataku dengan tampang serius yang masih belum berubah.

“Janji apa?”dia masih ngotot menahanku.

“Gua ada les piano?”

“Jam berapa?”

“Jam enem”. Tampaknya posisiku sudah mulai melemah

“Ya, jam enam. Sekarang baru jam berapa?!”

“Tapi gua mau ngurusin administrasinya, tar mbaknya balik jam lima.”

“Duduk aja dulu. Seengganya sampe ujannya redaan.” Palu diketuk, dan pernyataan itu adalah harga mati.

Karena kalah, aku duduk kembali. Jujur aku tak ingin berbohong lagi. Sudah cukup kebohongan yang pernah hadir dan aku hadirkan dalam kehidupan ini. Ingin memastikan kalau aku tidak akan pulang sebelum hujannya mereda, dia menyandera payung miniku.

“Untuk sementara payung lo gua sandera” katanya kembali sembari cengengesan dengan suara yang serak.

“Garing lo.”

Dia kembali duduk juga. Aku pergi meninggalkan dia sendiri di ruang keluarga. Pergi ke ruang depan, di mana terdapat keyboard di sana. Di atas tuts hitam putih itu, aku letakkan jemari bersama semua kerapuhan yang berhasil menggeser posisi ketegaran yang aku tunjukkan tadi. Dengan mood yang seperti ini, aku berharap jari ini dapat bergerak lincah, dan dapat memainkan suatu melodi yang baru. Aku harap moment ini tepat untuk membuat lagu baru.

Namun tampaknya hatiku menolaknya. Perasaan ini hanya bisa aku rasakan. Tak bisa tertuang dalam serangkaian nada. Di tengah segala bentuk emosi sedang bergelut, Sherlyn datang menghampiriku. Aku tak menghiraukannya. Di saat ia berdiri di belakangku, tanpa menoleh aku katakan padanya, “Tinggalin gue. Gue lagi mau sendiri.”

Di saat kehadirannya tak lagi aku rasakan ada di sekitarku, aku memutuskan untuk kabur. Aku membuka pintu selayaknya pencuri yang masuk dan keluar secara diam-diam. Pintu telah terbuka. Aku membalikkan badan. Dan telah berdiri ia di hadapanku. Tampaknya dia tak bisa lagi menahanku. Ia mengembalikan sanderaannya padaku.

“Ric, jangan pulang dulu” ia masih mencoba menahanku, kali ini dengan suara yang benar-benar meminta.

Aku tak menjawabnya, namun masih menatap dia dalam-dalam.

“Lyn, gue boleh minta sesuatu?” Aku bertanya, masih dengan menatap matanya.

“Iya.”

“Gue mau meluk lo”.

Bisa memeluknya adalah suatu kebahagiaan terbesar dalam 19 tahun hidupku. Walau harapanku mungkin telah patah, namun aku sadar kalau aku masih sayang padanya. Dan dalam keadaan apapun sayang ini sulit untuk aku hapuskan.

Aku luapkan semuanya dalam moment ini. Sedih dan bahagia yang tercampur jadi satu.

Perlahan, aku melepaskan pelukan itu. Meninggalkan Sherlyn. Tanpa kata. Tanpa pamit. Berjalan di bawah langit yang juga seakan turut berduka atas kesedihan yang aku rasakan saat itu. Payung masih dalam genggamanku, sedikit pun aku tak melebarkannya. Aku biarkan butir-butiran air itu mengguyur, membasahiku, memberiku perasaan damai untuk sesaat.

Seperti dia yang telah membuat keputusan, aku pun telah membuat satu keputusan. Walau pun mungkin bodoh, aku akan mencoba untuk tetap bertahan pada satu pilihan.

Tak ada rotan , akar pun jadi

by:  Erifson Jenando

Matahari menyengat menyilaukan mata. Bundarnya matahari seperti sebuah kuning telur yang baru keluar dari cangkangnya. Desiran bunyi ombak yang bersahut – sahutan semakin membuat pikiran ku bertanya dimana keberadaanku. “Hmm..gw ada dimana?”, tanyaku dalam hati. Sejauh mata memandang gw hanya melihat pantai yang luas ditemani matahari yang sangat menyengat. “Ayo kita bermain? “ , tiba – tiba sebuah suara halus bagaikan suling melodi indah dari surgi hampir ke telinga gw. Seketika itu juga gw berbalik dan melihat seorang cewe cantik nan rupawan bagaikan nenek gw masih muda dulu. Sekitar 3 detik lamanya gw terpana dalam kecantikan makhluk Tuhan satu ini. Dia pun memegang tangan gw, dan sambil tersenyum mengajak gw berlari – lari layaknya sepasang pengantin baru yang sedang menikmati masa honey moon di pantai. Pantai itu pun menjadi saksi kami berdua.

Bam! Bam! Bam!! Tiba – tiba aku pun terbangun dari tidurku. Aarrrgghh ternyata gw cuma bermimpi!  “Ucccoookk! Cepat bangun!”, kudengar suara mami ku yang melengking layaknya penyanyi seriosa. Sejenak aku pun melihat kondisi tempat tidurku sudah seperti pulau yang dikelilingi lautan, karena banyak sekali air yang jenisnya tak jelas yang terurai di bantal dan celanaku. “Iya, mi sebentar!”, balasku kepada mamiku. Tetapi hasratku untuk melanjutkan tidurku tak terbantahkan lagi. Gw pun memutuskan untuk melawan komando mamiku untuk bangun. “ Bodo amat dah ! Mo dibilang malinkundang kek sebagai anak yang durhaka , mo dibilang sangkuriang kek, gw ga peduli!”, teriak gw dalam hati. Tetapi, gw ga bisa tidur lagi. Apalagi didukung kondisi badan gw yang udah lembab oleh air yang ga jelas. Aku pun akhirnya menyerah dan bergegas mandi. “ Ah, nanti di kelas kuliah Pak Broto, gw juga bisa tidur siang sebagai pembalasan dendam tidurku, hehehe “ canda gw dalam hati sambil tersenyum.

Sesampai di parkiran mobil rumah, gw bertemu dengan mami ku. “Ucok, nanti malam jangan kemana- mana . Jaga rumah! “ Perintah mami ku setengah memaksa. Mami ku adalah orang yang cukup cerewet. Tapi, dia sangat sayang ke gw. Dia ga mo anak semata wayangnya ini masuk dalam lubang pergaulan bebas. Sejak kami ditinggal oleh papi 10 tahun lalu, dia menjadi orang yang tegar dan berkarakter single fighter. Anehnya dia selalu bilang begini ke gw , “ Ucok, kamu adalah anak mami yang paling ganteng.” . Yaiyalah, secara gw anak satu-satunya dan cowo satu-satunya hehehe. Aku pun langsung mendaratkan bibirku ke pipi mami ku sambil mengumbar senyum. Dia tidak tahu kalau anaknya baru dapat pencerahan dari mimpi tadi malam. Gw pun langsung masuk ke dalam mobil kesayangan gw.

“Hayo sekarang mo maen billiard  ato mo ke game online nih jadwal kita?”, tiba-tiba suara yang ga asing lagi dan bahkan jujur sedikit bosen denger suaranya, datang dari jok belakang. Ya dia adalah Zaky. Dia sahabat gw dari masa TK dulu.Kita sudah sering maen bersama. Bahkan, tidur bersama dalam satu ranjang. Tapi jangan tanyakan apa yang kami lakukan hehe. Zaky adalah anak Pak Taufik, supir kesayangan keluarga gw yang udah berkerja sejak gw lahir. Perawakan Zaky kurus, minimalis, dan mirip dengan salah satu keajaiban dunia yang ada di kota Paris . Berbanding terbalik dengan gw yang diibaratkan seperti gentong air, sangat mirip dengan keajaiban dunia yang ada di negri Cina . Bahkan , ketika kami berjalan berdua, sering terlihat dari jauh kami berdua seperti angka 10, Zaky seperti angka 1,gw seperti 0.

“Kayanya , hari ini enakan maen billiard aja, Zak! Gw lagi males kuliah ni.” Kataku menimpali ajakannya. “Hahaha, sejak kapan lo semangat kuliah? Perasaan lo kuliah juga cuma buat tidur siang atao ga nongkrong di kantin.” Balas Zaky dengan nada mengejek. Kami pun tertawa bersama. Dan pedal gas mobil gw sudah tak sabar lagi gw injak secepatnya. Mobil gw pun melaju kencang tanpa menghindarkan polisi tidur di ujung jalan. Ga tau gw semangat karena akan main billiard ato gara – gara efek domino dari mimpi gw tadi. Entahlah :D.

Pukul 7 malam tepat gw dan Zaky pulang dan sampai ke rumah. Kami tertawa terbahak- bahak mengingat kejadian fatal tadi dengan mematahkan stick billiard yang dilakukan si amatir Zaky. Kami pun berpisah di pintu depan , karena Zaky harus pulang ke rumahnya yang memang tak jauh dari rumah gw.  “Ucook, coba kau kesini! “, teriak mami ku seperti teriakan pemimpin upacara bendera ketika 17-an dari dalam rumah.

Gw pun bergegas untuk mencari sumber suara tersebut. “Ucok ini pembantu kita yang baru.Kamu tau kan ga mungkin mami menyuruh Pa Taufik terus untuk membereskan rumah kita, sedangkan mami harus mengurus tender setiap hari kerja.”, kata mamiku mengumbar fakta. “Hah??” , seketika itu gw kaget melihat wajah pembantu itu. Wajahnya ayu. Rupanya bak pemeran film Ada Apa dengan Cinta. Dan lebih parah lagi, dia adalah orang yang gw temui ketika mimpi luar biasa malam tadi. Gw rasa bumi berhenti berputar ketika kedua mata kami bertemu dalam beberapa detik. “Nama saya Tukiyem”, kata dia sambil memperkenalkan diri. Suaranya yang sangat merdu dan sedikit serak-serak banjir sangat sama dengan suara wanita dalam mimpi tadi.

“Saya, Ucok! Tapi panggil gw Michael aja. “ balas gw sambil memperkenalkan diri yang sering jadi andalan gw ketika berkenaln dengan cewe-cewe kampus atau di mall. Sekarang pikiran gw melayang. Seketika itu juga gw membayangkan baju kampung khas tukang jamu yang tukiyem kenakan berubah menjadi gaun putih. Dan gw berdampingan di sampingnya memakai jas putih, dengan sekeliling kami dipenuhi oleh pesta perkawinan di suatu kebun. “Oh indahnyaa..”, harapku dalam hati dengan muka sumringah.

Keesokan harinya gw mulai PDKT dengan Tukiyem. Tapi walaupun gw bodoh dan berstatus mahasiswa yang hampir DO pada semester lalu, tapi gw masih punya sedikit nalar yang nyangkut. Kalau misalkan gw ngedeketin dia, mau dikemanakan wajah gw nanti, secara dia adalah pembantu, sedangkan gw adalah orang anak keluarga yang terpandang. “Tapi tak apa-apalah! Ketika logika dan cinta tak bisa disatukan lagi. Cinta emang buta! Apa salahnya mendekati dan mencoba . Kalau gw coba, maka mungkin saja gw gagal. Akan tetapi, apabila gw ga pernah mencoba, sudah pasti gw gagal! “, kataku dengan setengah suara yang kata-katanya seperti pidato rektor kampusku ketika masa ospek dulu.

Aku pun berlari menuju dapur. “Tukiyem apa sarapan sudah selesai? Mau dibantu ga?”, Tanya gw dengan sikap setengah jual mahal, setengah bermurah hati. Langkahku berhenti ketika gw melihat Zaky teman sepermainan gw, teman tidur kadang-kadang sekaligus sahabat gw, sedang memegang tangan Tukiyem. “Ups, Zaky?”, kataku pelan. Badanku lemas. Pikiranku kacau balau. Sedangkan tangan ku reflesk mengepal seperti ingin menonjok. “Eh, Ucok! Sini , cok. Kebetulan sekali, gw mo ngasih ini nih ke Tukiyem. Lo jadi saksi ya hehehe.” , kata Zaky seraya tersenyum. Gw melihat sebuah cincin , ya memang kalau gw teliti lagi cincin itu memang harganya tidak lebih dari seratus ribu rupiah, tapi justru cincin itu membuat hati gw hancur berkeping-keping menjadi seratus ribu keping.

“Oh, ya? “, balas gw pendek. Tangan gw terus mengepal dan sekarang darah gw terus mengalir cepat dan menumpuk di ubun-ubun. “Makasih ya! “ Balas Tukiyem kepada Zaky sambil menerima cincin tersebut dengan wajah gembira seperti menerima hadiah mobil dalam kuis super deal 2 milyar. “Ucok, kita pasangan yang cocok kan? “, tanya Zaky kepada gw. Tapi gw ga ngebales pertanyaan Zaky. Gw takut yang keluar dari mulut gw malah kata binatang anjing, babi, atau teman-temannya atau malah nama kotoran di kloset. “ Mau kamu menikah dengan saya, Yem?” , tanya Zaky kepada Tukiyem dengan muka pengen (mupeng). Emosi gw udah ada di ujung tanduk. Yang lebih parahnya lagi, kenapa si Zaky harus mengajak nikah dan memberikan cincin pernikahan kepada Tukiyem yang menjadi impian gw di dapur yang luasnya hanya sebesar 2 x 3 meter. Sedangkan , kalau gw ada di posisi Zaky, gw bakal melamar Tukiyem menikah di tempat super romantik di Paris atau Hawaii.

“Iya, mas saya mau.” , jawab Tukiyem dengan wajah tersipu malu dan kemerah-merahan. ”Aaaarrrgghh! “ , teriakku seketika itu menggaung dalam rumah. Bahkan gw rasa teriakan gw bisa menyaingi lengkingan rocker Candil serius band. Emosiku sudah tidak bisa ditahan. Tangan gw pun tanpa disadari dan tidak bisa gw rem lagi sehingga mendarat di pelipis kanan wajah Zaky. Zaky terjungakal tak sadarkan diri. Darah segar keluar dari hidung dan pelipisnya. “Aaacchh..!”teriak Tukiyem spontan dan air mata pun keluar dari matanya. “Ada apa! Ada apa!? ”, tiba-tiba Pak Taufik, ayah Zaky, datang dengan cepat dan sigap layaknya seorang polisi menemukan bandar ganja yang terkepung. Gak pake lama Pa Taufik pun membawa cepat anaknya ke rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit, gw menyendiri dan merasa bersalah. “Apa yang telah gw lakukan? “, tanya gw dalam hati. “Sahabat gw , telah gw tonjok cuma gara-gara wanita.” , sesal dalam hati tak terbantahkan lagi. Menit berganti menit. Jam berganti jam. Akhirnya dokter yang menangani Zaky telah keluar. “Bagaimanan anak saya pak?” , tanya Pak Taufik dengan penuh kecemasan. “Anak bapak tidak papa. Luka nya sudah kami jahit, dan nanti sore dia sudah boleh pulang. Tapi biarkan dia sekarang sedang beristirahat.”. Jawab Pa Dokter. “Alhamdulilah.” , balas Pa taufik dengan nada kelegaan. Seketika itu Pa Taufik mendekati gw. Gw merasa sangat bersalah dan gw spontan mencium tangan beliau sebagai reaksi maaf, tapi Pa Taufik menarik tangannya dan tersenyum, “Ga papa, Cok. Ga usah sampai begitu, yang terpenting Zaky ga apa-apan , kan?” kata Pa Taufik yang menyegarkan jiwa. Pak Taufik memang bapak yang sangat baik dan pengertian , dan dia tidak mau gw jadi merasa bersalah terus dan nantinya bisa berdampak frustasi bagi gw.

Gw pun bercerita panjang lebar tentang apa sebenarnya yang terjadi. Mulai dari mimpi aneh dan basah sampai aksi olahraga tinju di dapur. Pak Taufik pun menimpali ketika gw selesai bercerita, “Zaky itu sudah dijodohkan dengan Tukiyem sudah lama sekali. Kalau tidak salah sejak mereka SD ketika kami pulang kampung lebaran dulu di Magelang. Mereka berdua sangat jarang ketemu, malah bisa dihitung jari, karena Zaky di kota, sedangkan Tukiyem di desa. Nah, sekarang mereka berdua sudah dewasa, dan sudah sepantasnya mereka sudah memikirkan masa depan mereka untuk masuk jenjang pernikahan. Apalagi, Tukiyem kan ayu, toh. Jadi, Zaky pasti ga mo keduluan ama orang lain hahahah..”, tawa Pa Taufik yang membuat suasana ruang UGD yang tadinya hening menjadi menggaung. Sedangkan gw masih gak percaya akan fenomena perjodohan yang terjadi seperti kisah Siti Nurbaya jaman dahulu. Ternyata jaman modern sekarang masih ada perjodohan. Tetapi, gw pun tahu sekarang apa semua masalahnya.

Kami pun masuk ke dalam ruangan tempat Zaky. Ternyata Zaky tidak sedang istirahat. Dan gw sangat terkejut, ketika gw datang dia tersenyum kepada gw. “Alo, cok! Thanks ya sekarang gw punya tanda luka jahit di pelipis gw, jadi sekarang ga takut lagi di minta duit ama preman pasar, soalnya ada tanda ini sekarang hehehe..”, canda Zaky kepada gw. Gw pun tak tahan lagi menahan tangis dan segera memeluk dia. “Sori banget y, Zak!” , pintaku sambil memeluk dia. “ Iya, gw maafin kok. Udah-udah gw ga nahan nih dipeluk ama lo lama-lama, bisa remuk tulang gw semua hehehe..”, balas Zaky. Kami pun semua tertawa.  Gw pun menyalami sahabatku ini. “Selamat ya Zak! Semoga lo langgeng ampe tua.” , kataku sambil mengulurkan tangan  layaknya sebagai simbolisasi fair play dalam pertarungan kita berdua mendapatkan Tukiyem. Dan gw pun menyalami Tukiyem, “Selamat ya, Yem! Kalo lo senang, gw juga bakal senang”, kata gw kepadanya tanpa kusadari kata gw barusan seperti kata kata pujangga syair Rinto Harahap. Dia pun membalas senyum senang kepada gw.

Tiba-tiba , dering HP gw berbunyi. Ternyata dari mami gw. “ Cok, lagi dimana! Setengah jam lagi mami kedatangan tamu. Namanya Putri. Anaknya teman arisan mami. Dia seumuran dengan mu, dan dia baru aja pulang kuliah dari Australia. Berhubungan mami dan teman mami ini lagi sibuk, coba kau yang jemput di bandara, cok. Psssttt..Dia lagi single loh , cok. Mami dukung deh kalo kalian cocok hehehe…” , cerita mamiku dalam telpon. Seketika itu harapan gw kembali ada. Muka gw bersinar lagi. Gw pun pamit kepada kepada Zaky, Pak Taufik, dan Tukiyem yang menjadi telah menjadi keluarga baru. Gw pun mengedipkan mata kepada Zaky pertanda kalau gw baru baru dapat mangsa wanita baru. Dia pun ikut memberikan jempol nya kepada gw tanda mendukung.

“Tak ada rotan , akar pun jadi. Tak ada Tukiyem, Putri pun jadi!”, teriak gw dalam hati  semangat ketika masuk ke dalam mobil. “Lets Rock n’ Roll!!! Yeah!” teriakku ketika mobil meninggalkan rumah sakit menuju bandara. 😀

HIDUP BUKANLAH  RODA BERPUTAR MELAINKAN ANAK TANGGA

By: Monica

Duduk di beranda kamar hotel pribadi yang terkenal  ditemani  teh hijau hangat, awan berwarna putih, langit berwarna biru, serta cuaca yang cerah di pagi hari. Ketinggian cukup membuat mata ini mampu melihat keadaan sekitar. Pemandangan yang paling disukai adalah melihat ke bawah kemudian menyegarkan otak dan mendongak ke atas.

“Ting tong..ting tong”. Suara yang mengawali pecahnya perenungan  pada pagi itu. Tubuh yang tetap santai rebah di atas kursi santai yang aku suka. Dari langkah kakinya sudah ku pastikan, dia adalah orang yang gesit dan cermat yang telah ku kenal dalam waktu beberapa satu tahun ini. Tidak mudah melatihnya menjadi seorang sekretaris yang handal karena pada awalnya dia hanya seorang anak SMA yang baru lulus sekolah.

“Pagi, pak.” Sapa gadis manis itu.

“ Hei, selamat pagi nona cantik.” Balas ku supaya menghangatkan suasana.

“Hari ini  jam sepuluh bapak bertemu klien dari PT. Surya Dermawan. Kemudian dilanjutkan jam dua belas makan siang dengan Japan Foundation. Jam dua bapak harus tiba di Hotel Agung karena Bapak harus menghadiri seminar dan bapak menjadi pembicara utamanya. Sisanya bapak membereskan folder dan ruang kerja di kantor yang berantakan.” Seperti biasa nina menjalankan perannya dengan sangat professional.

“hahhahah..hari ini luar biasa. Kamu ambil sarapan di meja dan jangan lupa bacakan Koran untuk saya.” Jawab bos yang suka seenaknya

Kembali memejamkan mata sebentar, menarik nafas dan bergerak mandi. Dengan kesiapan yang tinggi dan gairah di pagi hari, ini waktunya beraksi kepada dunia. Melangkahkan kaki ke mobil dan siap mengahdapi porsi tantangan hari ini amatir, medium, expert semua mendatangkan kemajuan. Mental siap fisik pun siap.

eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

Jamuan makan siang yang sangat memberi kesan. Orang-orang Jepang yang sangat brillian dan adat istiadat pemberian salam yang luar biasa. Makna pembungkukan  yang sangat dalam menghantarkan pikiran pada malamku di ruang ber-AC.

“Pak Axel, jadwal sudah selesai. Apakah bapak mau mengerjakan tugas-tugas kuliah anda?” Tanya nina yang mukanya selalu keliatan segar.

“oh ya, terimakasih nina kamu mengingatkan saya. Nina besok saya minta rekaman seminar saya. Lebih baik hari ini kamu beristirahat.”

“oh ya pak, jangan lupa minum vitamin bapak.”

“Terimakasih nina, beristirahatlah malam ini.”

“baik pak.”

Hah aku lupa dengan tugas kuliah ku. Status yang ku punya sekarang lebih banyak sehingga peranan yang dituntut dari padaku sangat lah menumpuk. Tetap aku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Hari-hari ku dibuat luar biasa olehNya. Penulis Skenario terhebat dalam hidupku.

Setelah  membereskan  ruangan kerja ku, bergegas ke rengguh handphone yang berada jauh di meja seberang dan menelpon sahabatku.

“Hei bocah berlian, posisi?” sapa suara diseberang sana.

“markas besar, merpati.  Eb, besok aku ke rumahmu ya. Didesak sekali.” Jawab ku santai.

“hahahha..seperti kebiasaan kau berlian, berada di tambang lupa dunia luar. Janga lupa besok  sekitar jam sepuluh. Aku tunggu, sekarang aku juga lagi di suasana genting.” Febry sahabat setiaku dari SMP.

Berutungnya hari ini aku bebas dari kerjaan berat ku. Pagi yang indah, segera ku berlari menuju rumah temanku febry. Seperti biasa pagar rumahya segera membuka tanpa menunggu pembukanya. Seperti rumah sendiri segera aku menempatkan diri pada posisi yang pas untk tugas akhirku, dengan pemandangan menghadap ke tamannya yang indah dan luas. Febry tinggal sendiri dikarenakan kedua orang tuanya yang hebat menjalankan bisnis dan mengadakan banyak kegiatan sosial. Keluarga yang luar biasa menurut ku. Semenjak kejadian yang membawa ku kepada kemakmuran dan terobosan baru, orang tua ku dan orang tuanya  saling bekerja sama. Dia adalah anak kedua dan aku anak pertama. Kakaknya sudah memiliki keluarga dan punya bisnis yang luar biasa dan adekku memutuskan untuk

“Berlian, indahnya dirimu di pagi hari.” Sapa da yang tiba-tiba datang.

“Eb, jangan ganggu aku dulu karena aku butuh sebuah inspirasi, warna apa yang harus ku tumpahkan dalam kanvas ini.” Jawabku serius

“ oke sarapan ada di bawah”

Depanku ada kanvas dan pemandangan taman yang luas. Samping ku cat dengan berbagai macam warna dan beberapa kuas. Apa yang harus ku perbuat. Entahlah. Duduk, berdiri jalan sedikit, memegang besi balkon, jalan lagi.

“ Axel, makan siang sudah siap.” Sahabatku yang setia, datang dan memanggil.

Tanpa menjawab diapun sudah tau kalau aku lebih serius dan focus dari sebelumnya. Tak lama kemudian aku mendapatkan sebuah ide. Berdiri  di depan kanvas dan meneteskan cat warna di atas kanvas yang aku tidurkan posisinya. Keluarlah splash dengan warna-warna aku campurkan sesuai  dengan warna alam. Selesai di sore hari tepatnya ketika warna awan berwarna oranye. Dan judul lukisan ku ku beri nama NATURAL.

“WAKTUNYA MAKAAAN…”teriak ku bahagia dengan sadar tak ada satupun orang di ruangan dan aku tidak peduli. Selesai makan segera aku pulang.

eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

Akhirnya setelah melewati perjalanan Jakarta di pagi hari, ku parkirkan mobil ini di area pakir Kampus Ekuator. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit, lebih baik sebelum masuk kelas aku duduk di taman.

“ Eh, si vino  udah lama gak eksis di kampus katanya perusahaan bapaknya collapse

“Oh ya, pantesan dia udah gak sering datang ke party lagi.”

Selintas aku mendengar percakapan kedua perempuan yang bersama dengan aku di taman. Vino salah seorang temang yang baik hati, pintar dan juga religius. Hubungan kami tidak terlalu dekat, tapi yang aku tau dia supel dan suka menolong teman-temannya yang lain. Percakapan kedua orang tersebut membuat aku menjadi penasaran dan bertanya dalam hati. Ketika pikiran sedang terfokus terhadap Vino, parfume seseorang yang ku kenal lewat begitu saja di hidungku. Memecahkan konsentrasi yang mendalam. Ya, betul, itu parfume Lisa. Wanita yang dinamis, energic, dan aku suka.

Jam hampir menunjukkan pukul setengah delapan dan segera ku gerakkan badan menuju kelas. Saatnya mengumpulka tugas. Semoga dosen menyukai gambar ku. Gambar teman-teman ku sangat dahsyat dan luar biasa seperti seorang maestro.” AXEL..!” kudengar suara yang memanggil ku segera aku maju ke depan.

“Gambar apa ini?” Tanya dosen

“Saya menyebutnya NATURAL” jawabku

“karya yang sangat inovatif saya sangat menyukainya pencampuran warna yang sangat nyata dan dinamis. Konsep splash sangat mengagumkan. Untuk karyamu saya beri nilai Sembilan.”

“makasih pak.” Hampir-hampir aku tak percaya.

Selepas kelas itu, aku keluar untuk mencari minum dan ku putuskan untuk melangkahkan kakiku menuju mal yang berseberangan dengan pom bensin dekat kampusku. Ketika ku berjalan di mal tersebut tatapan ku terpaku oleh salah satu pemndangan yang tidak terduga oleh ku. Kenapa hari ini semua hal yang tak terduga terjadi, entahlah. Ku dekati  sesuatu yang menarik perhatian mata ku. Dan benar saja Vino, ya itu Vino, sedang mengangkat piring-piring kotor dari sebuah meja di sebuah restoran keluarga. Ku putuskan untuk memesan makanan di  tempat itu. Seorang pelayan datang menghampiriku dan tepat itu adalah vino, alasan ku untuk makan di tempat itu. Ku melihat wajah yang santai dan senyum yang lebar. Wajahnya agak sedikit berubah  hampir aku tak mengenalnya.

“Vino?” tanyaku.

“hai  ex, apa yang mau kamu pesan?”tanyanya

“saya minta teh hijau dan lasagna. Apa yang sedang kamu lakukan disini?”

“oke saya ulangi teh hijau dan lasagna. Aku hanya menjalankan hidupku.”

“apa yang terjadi dengan perusahaan ayahmu?” aku lebih suka langsung pada intinya.

“panjang jika di ceritakan tapi hanya dengan satu kata pasti kamu mengerti, kata itu adalah bangkrut.” Terlihat wajahnya hampir menghilangkan senyumannya.

Setelah pulang dari tempat itu aku kembali teringat dengan masa lalu ku yang kelam dan masalah yang dihadapi vino menjadi pikiranku terus menerus. Siapa lagi kalau bukan Febry yang aku hubungi untuk menenangkan pikiran ini dan berdiskusi mengenai hal ini. Kami berdua kemudian memutuskan untuk berbicara dengan Vino.

eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

Hari sabtu yang bercuaca cerah sangat menenagkan hati. Aku dan febry duduk tenang di taman kota. Setelah kami berolahraga kami segera meluncurkan mobil kesukaan febry menuju salah satu café di kawasan  Suropati. Sambil menunggu vino, pembicaraan kami membawa kami pada masa lalu ku.

“Xel, kasus in mengingatkan gw kembali dua puluh tahun yang lalu. Bagaimana lw harus berjuang bangkit dari keterpurukan. lw ingat dulu saat dua SMA kita berjualan es mambo untuk mencari dana acara di SMA. Lw terlalu bersemangat dan selalu puny ide.” Febry mengingatkanku.

“Ya, ya, gw masih inget kata-kata gw dulu. Beli satu dapet satu dan pemaksaan terhadap adik kelas kita.hahhahaha…” aku tertawa geli saat mengingat hal itu.

“Ya, dasar lw kalau uang aja punya banyak cara. Gw juga inget dulu, waktu gw main ke rumah lw, temen-temen lw semuanya bermain bulutangkis, sedangkan lw menunggu giliran. Gw liat muka lw jadinya pengen nangis waktu itu..hahahhhaha..” ejek febry.

“Gila lw boy, sampe inget kesitu. Ya dulu gw sengsara banget. Sampe mau ikut seminar aja gw jual computer gw yang butut itu. Lumayanlah, di mulai dari mimpi gw yang luar biasa bisa berdiri di seminar-seminar sebgai motivator,  jadinya lebih nyata sekarang boy.”

“itu dia xel, si vino” tunjuk si Febry.

Saat itu gaya dandanan vino seperti yang ku kenal dahulu. Rapi, gagah, bersih, dan tentunya terlihat seperti dia pria berkelas. Tapi kenyataan menyatakan bahwa keadaannya sedang sulit. Hal yang sama seperti ku dulu.

“Udah lama nunggu ya?” Tanya vino dengan senyumnya yang khas

“Gak juga.” Jawab Febry

“soalnya gw naik angkot, jadi agak sulit kalau cepat-cepat.” Penjelsan Vino membuat kami berdua saling memandang dan tertegun sebentar. Febry orang yang tahu celah masuk, langsung mengambil kesempatan itu.

“lw naik angkot? Emang mobil lw yang itu masuk bengkel?” kalimat Febry yang suka memancing-mancing.

“Ow ya lw belum tau feb, bokap gw bangkrut. Oh ya gw baru inget gw cerita sama si Axel doank waktu itu.” Vino tidak ragu mengcapkan.

“sejak kapan? Kok kita baru tahu sekarang?” Axel lebih penasaran.

“Itu dia xel, gw harus pintar-pintar menyembunyikan kondisi ini karena gw gengsi, takut kalau pada ngejauhin gw. Gw bertahan sampai tiga bulan saja selanjutnya gw nyerah, pelan-pelan gw gak terlalu beredar. Paling kampus,rumah,tempat kerja. Yah main sekali-kali. Ada yang ngejauh ada yang masih deket sama gw juga. Sekitar delapan bulan bokap gw bangkrut. Masalahnya berlibet, pokoknya akhirnya bokap gw kehilangan sejumlah nilai uang dan ternyata utang sulit diatasi, biasa ulah anak buah. Tapi bokap tetap tenang dan dia sekarang lagi menata dari awal lagi dengan bantuan teman-temannya.” Terang Vino.

Mendengar cerita panjang Vino, kemudian kami bertiga segera terdiam. Menikmati kopi hangat sambil memandang ke langit luar.

“Ya sekarang yang gw lakukan adalah sulit berleha-leha. Kerja keras untuk bangun sesuatu yang sudah hancur. Ini merupakan peristiwa yang luar biasa dalam kehidupan gw. Mungkin gw harus banyak belajar. Emang bener roda itu berputar ” Lanjut Vino.

“Wuahahahhahahha..salah boy. Yang namanya hidup itu bukan seperti roda. Kalau lw berpikir dan orang yang berpihak hidup seperti roda lw salah boy. Salah sebesar-besarnya. Contohnya temen kita ini,   hidup dia gak seperti roda boy. Kesulitan yang lw alami belum ada apa-apanya di banding temen kita ini. Dia butuh berpuluh-puluh tahun untuk bangkit. Kalau gw mah emang dari kecil udah nyaman. Cuma orang tua gw yang bikin hidup gw gak nyaman hahahha….mereka selalu bilang itu adalah punya mereka dan gw belum punya apa-apa hahhaha…” kenang Febry sambil menunjuk kearah ku.

“Oh ya?” Tanya Vino kurang yakin.

“ya no, gw dulu hidup pas-pasan. Gak seperti yang lw lihat , karena kondisi keluarga gw, gw jadi minder dan pelajaran di SMA dulu gw  bagus tapi gak bisa jadi yang terbaik. Setelah gw melakukan hal gila, gw  mulai deh kerjaan gw. Gw mesti ke bandung waktu itu beli barang murah yang bagus-bagus, kemudian gw jual lebih mahal di Jakarta. sepatu, baju, tas, ember, buku, accessories, dan apapun yang bisa gw jual. Temen-temen gw sampe kabur kalau gw udah dating. Hahahhahha.. karena mereka tau gw bakal mengadakan tawar menawar hahahhahaha…” kenangku sambil tertawa,

“gila lw boy cerita lw..gw kira lw emang dari orang berada. Sekarang lw punya saham dimana-mana di undang dimana-mana. Itu hal yang luar biasa menurut gw.” Kagum Vino.

“Nah oleh sebab itu vin, waktu gw tahu keadaan lw membuat gw inget lagi kehidupan gw. Vin, gw akan kasih lw modal. Lw buat apa yang lw suka.” Tawaran yang gw kasih.

“Tapi gw gak yakin, gw gak ada pengalaman. Lw tahu dulu gw suka hura-hura. Gw takut gak bisa boy.” Vino pesimis.

“gw tahu lw bisa vin. Gw yakin lw bisa Cuma lw nya harus mengorbankan beberapa hobi lw aja. Gw yakin pasti lw bisa. Ini Cuma masalh waktu. Inget boy, lw bukan ada di roda tapi lw ada di anak tangga. Kegagalan perusahaan bokap lw ini merupakan stagnasi dalam kehidupan, lw harus naik anak tangga selanjutnya. Lw bisa lari atau jalan. Itu Cuma masalah waktu. Gw yakin pasti lw bisa.” Si Bijaksana Febry yang aku kenal.

“Ya bener, usaha lw pasti gak sia-sia. Gw contohnya.” Axel meyakinkan Vino.

“okelah kalau begitu.” Vino menyetujui

Setelah terjadi kesepakatan itu kami melanjutkan perbincangan yang lebih ringan. Hal yang menyenangkan bila kita berada untuk orang-orang yang sedang membutuhkan keberadaan kita. Aku tahu semenjak kehiduan ku itu awal kesuksesan ku, aku tahu bahwa aku harus ada juga untuk orang lain. Tapi setidaknya ilmu anak tangga itu sudah dibagikan lagi. Selanjutnya kita ikuti perkembangannya.

eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

Dua tahun sejak pertemuan itu, vino kembali kepada kami. Vino mengalami kegagalan untuk kesekian kalianya. Total kegagalan yang dialami mencapai lima kali dengan peminjaman modal dari kami. Dia mulai putus asa dan kelelahan. Kami membujuk dia untuk kembali bangkit. Namun kegagalan yang terakhit ini benar-benar membuat dia sangat terpukul di karenakan di  jatuh kedalam lobang yang sama. Uangnya kembali dilarikan ke luar negri. Keadaannya benar-benar terpuruk. Keberuntungannya adalah dia lulus kuliah dengan nilai terbaik. Dia kerja di salah satu percetakan di daerah pramuka.

Aku dan Febry terus membujuk dia untuk membuka usaha yang baru. Karena menjadi seorang pergawai buat kami bukan keahliaan dia. Enam bulan kami terus membujuk dia, satu tahun kami terus membujuk dia dan kemudian di bulan yang kedua setelah satu tahun berlalu, dia mengiyakan kami. Sangat menyenangkan dan puas mendengarkan kalimat yang dia ucapkan. Ia memutuskan untuk membuka Advertising Agency dan dia juga membuka design kaos.

Perlahan-lahan bisnisnya maju dan berhasil mendapat pesanan dari beberapa bagian Negara. Dia sangat berhati-hati kali ini. Kami terus mendorongnya  sampai akhirnya Vino dapat memperluas binisnya dan dia berhasil memperluas prodknya sampai di Negara Paman Sam.

Kami bertiga sangat bangga dan kami menjadi diberikan nobel kepada Presiden kami sebagai Eunteurpreneurship termuda. Bukan hanya itu melainkan kami menjadi motivator termuda untuk anak-anak muda yang lain.

Tidak seperti pagi yang biasa, pagi ini hujan mengguyur deras dan balkon kamar hotel sangat basah. Dari belakang pintu kaca aku merebahkan diri sambil menikmati tetesan air yang bervolume besar. Bosan dengan pemandangan itu aku keluar kamar hotel ku menuju spa room. Sebelum menuju spa room aku berada di ruang tengah  hotel tersebut, duduk di sofa yang telah di sediakan. Aku memeperhatikan orang-orang yang lalu lalang dan naik turun. Seketika itu juga aku melihat ada salah satu pegawai pria yang menuju ke atas membawa titipan barang untuk seorang tamu hotel. Pegawai itu sudah berada di anak tangga bagian atas. Namun surat dari pemberi barang tersebut jatuh di bagian tengah anak tangga tersebut. Kemudian pegawai tersebut meninggalkan barang di atas meja, kemudian berlari mendapatkan surat yang jatuh itu kemudian dengan tenang dia menuju ke atas.

Setelah melihat kejadian itu aku masuk ke spa room. Setelah selesai menikmati hasil spa, aku kembali ke kamar hotel pribadi ku. Jam di kamar hotel ku menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Aku kembali merebahkan diri di bangku santai ku sambil memandang air hujan yang pelan-pelan menghilang.

Sambil menikmati teh  hijau hangat, aku teringat dengan peristiwa pegawai hotel itu. Hidup yang telah kujalani sama seperti hal yang dialami oleh pegawai tersebut. Kegagalan ku seperti barang  jatuh tersebut yang  harus ku ambil. Berlari dan berjalan itu adalah masalah waktu. Dalam proses tersebut terjadi sebuah evaluasi dari proses kehidupan yang aku jalani. Aku bersyukur kepada Tuhan Yang MahaEsa karena Dia menciptakan aku dengan warna-warni kehidupan.

Hujan mereda dan pelangi menambah indahnya hari itu. Dengan posisi yang tinggi kita bisa melihat secara keseluruhan. Itulah pemandangan yang sangat saya sukai saat melihat kebawah, membantu apa yang bisa kita berikan bantuan dan sadar asal kita. Setelah kita melihat ke bawah, pemandangan di atas sangat menyegarkan dan memberikan tenaga. Bersyukur dan kembali melanjutkan tujuan hidup ini dengan melaui berbagai macam tantangan yang di hadapi.

Lukisan Kedamaian

By:  Nicea Gunawan

Matahari rasanya tengah bersemangat berbagi. Ini sudah kedua kalinya Widya mengganti bajunya karena basah oleh keringat. Ditambah lagi, di kelas menggambar hanya disediakan kipas angin yang putarannya tidak lagi terasa. Jendela di seluruh ruangan sudah dibuka, namun tidak berhasil mengurangi panasnya bumi saat itu. Kelas menggambar yang seharusnya sunyi senyap, kini berlangsung ricuh, mahasiswa ribut kepanasan. Widya yang tidak suka keributan jelas saja tidak dapat konsentrasi menggambar. Dengan segera dia bergegas keluar kelas, tak peduli bagaimana tanggapan si dosen. Dicarinya celah yang lebih sejuk dan tenang untuk dia dapat melanjutkan gambarnya kembali.  Namun tidak ditemukannya. Area kampus terlihat gersang, kalau pun ada pepohonan, masih pendek sekali, tidak mampu melindunginya dari sinar matahari. Huh.. kampus macam apa ini?! Keluhnya dalam hati. Dengan mencak-mencak, Widya berjalan menyusuri jembatan yang menghubungkan fakultasnya dengan parkiran motor, tepatnya di belakang kampusnya. Setahunya di sana banyak pohon rindang yang biasa digunakan untuk tempat berteduh motor-motor mahasiswa. Mungkin ada tempat di situ, pikirnya.

Benar dugaannya, suasana di sana tenang dan sejuk. Widya memilih salah satu pohon besar dan rindang lalu berteduh di bawahnya, dan melanjutkan gambarnya. Widya benar-benar menikmatinya. Semilir angin yang sejuk menambahkan rasa nyamannya. Saat tengah  mencari tambahan objek untuk digambarnya, Widya tersentak kaget melihat ada sosok kakek yang juga tengah asyik menggambar di seberangnya. Widya terus memperhatikan si kakek tersebut. Dia terlihat benar-benar menikmati apa yang tengah dilakukannya. Sesekali kening itu mengernyit, lalu menghapus beberapa bagian yang kurang pas. Rasa-rasanya belum pernah melihat dosen ini deh, ujar Widya dalam hati. Widya penasaran sekali apa gambar yang tengah dibuat oleh si kakek tersebut. Dengan takut-takut, Widya menghampiri kakek tersebut. “Halo, Kek, lagi gambar apa?” tanya Widya sambil melihat kertas gambar di tangan si kakek. Namun tidak nampak goresan pensil sedikit pun, kertas tersebut masih bersih. “Lukisan kedamaian, Nak..” jawab kakek tersebut sambil tersenyum. Mendengar jawaban kakek, Widya jadi bingung,”Mana lukisannya, Kek?” “Nanti juga kelihatan kog..” jawab si kakek kembali tersenyum. Aneh, pikir Widya. Sesegera mungkin Widya  meninggalkan kakek itu, dia mulai berpikiran yang bukan-bukan.

Dua hari berikutnya, kembali di kelas menggambar, panasnya ruang kelas kembali membawa Widya ke tempat kemarin. Hanya saja dia lupa pada pertemuannya dengan kakek itu. Memang tidak ada tempat senyaman di sini, ucapnya dalam hati. Tiba-tiba,”Maaf, Nak, punya penghapus tidak?” tanya seseorang mengagetkan Widya. Spontan Widya berdiri lalu mencari dimana sumber suara itu. Ternyata kakek itu lagi, dia masih tetap di sana, di tempat yang sama. Dengan agak gemetar Widya meminjamkan penghapusnya pada kakek itu. “Jangan takut, Nak, kakek ni bukan setan kog, kakek suka sekali menggambar di sini. Suasananya tenang. Kakek bisa lebih mengeksplor apa yang sedang kakek rasakan. Kamu mahasiswi baru ya?” tanya kakek itu. “Iya, Kek. Kelas menggambar berisik banget, aku jadi gak konsentrasi menggambar, makanya aku ke sini juga” jawab Widya sedikit tenang. Lama kelamaan mereka jadi akrab, si kakek suka menceritakan masa lalunya saat kuliah pada Widya. Hampir tiap kelas menggambar Widya tidak menggambar di kelas, tapi pergi menemui si kakek. Si kakek pun suka membagikan kiat-kiat pada Widya, sehingga Widya tidak terlalu kesulitan mengikuti kuliahnya.

Beberapa waktu kemudian, Widya tidak lagi menjumpai si kakek di tempat biasa mereka bertemu. Sayangnya, Widya lupa menanyakan siapa nama si kakek tersebut, dimana dia tinggal, bagaimana dengan keluarganya. Saking serunya mendengarkan nasihat dari si kakek. Oh, mungkin kakek sakit, pikirnya tenang.

Satu minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan, Widya mulai gelisah, kemana si kakek itu. Sampai akhirnya, Dinda, teman sekelas Widya menyampaikan pesan dari ketua jurusan untuk datang menemuinya di ruangannya.

“Ada apa ya, Pak?” tanyanya kuatir.

“Hm, begini, Widya, ada titipan untuk kamu..” jawab pak ketua jurusan sambil mengambil sebuah kotak besar yang dibungkus kertas berwarna cokelat.

“Apa ini, pak?” tanya Widya ingin tahu.

“Nanti saja bukanya di rumah, begitu pesan pengirimnya. Kamu benar-benar beruntung, Widya, yang pasti kamu satu-satunya mahasiswi yang beruntung karena bisa berkenalan dengan beliau. Dia itu pelukis terkenal, kebanggaan kampus kita. Bahkan sampai akhir hidupnya pun dia masih saja menggambar. Dan itu adalah lukisan terakhirnya yang dia berikan untuk mahasiswi tersayangnya, kamu.”

Widya semakin tidak mengerti. Siapa sebenarnya yang tengah dibicarakan oleh pak ketua jurusan ini.

“Maaf, Pak, saya gak ngerti. Maksud bapak apa ya?”

“Kamu pasti tahu kan Widjanarko Atmodjo? Pelukis kenamaan yang merupakan lulusan terbaik dari kampus kita?”

“Iya, tahu, Pak. Tapi saya cuma tahu nama dan fotonya, belum pernah ketemu langsung sama dia. Lagipula dia pasti sudah tua sekarang.”

“Akhir-akhir ini kamu pasti sering diam di halaman belakang kampus, betul ‘kan? Itu tempat favoritnya. Meskipun dia sudah tidak segagah dulu, bahkan kelewat peot, tapi hasil lukisannya selalu diminati dan ditawar dengan harga tinggi. Sayang dia sudah tiada, kanker otak menggerogoti tubuhnya.”

Widya tersentak kaget, keringat dingin mengucur deras. Apa?! yang selama ini menemaninya adalah Widjanarko Atmodjo, pelukis favoritnya! Tidak mungkin. Dengan segera Widya kembali ke rumahnya dan membuka bungkusan tersebut. Dan ternyata tampak gambar dirinya yang tengah menggambar di bawah pohon rindang di belakang kampus. Sungguh terlihat raut kedamaian dari lukisan tersebut. Widya benar-benar tidak habis pikir, air mata pun mulai menetes. Lalu ada sebuah amplop di dalamnya, yang bertuliskan untuk mahasiswiku tersayang.

Ini yang kakek sebut lukisan kedamaian.. Kamu melihatnya bukan?

-Widjanarko Atmodjo

Related posts

*

*

Top