Kumpulan Cerpen Klab Menulis Volume 1

Ketika Hujan Berhenti

Oleh: Yuniar

Dia menendang-nendang dua selimut yang melapisinya sepanjang malam. Melirik perlahan ke arah jam dinding di atas jendela kayu yang masih tertutup. Dia bangkit sambil mengusap-usap matanya untuk memastikan jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Dengan semangat dia keluar kamar dan ribut menuruni tangga.

Bibinya yang sedang memasak bubur kacang hijau menoleh, “Indra udah bangun?” tanyanya heran. “Coba dari kemaren-kemaren kamu bangun sepagi ini.”

Dia mendekati meja makan dan duduk di salah satu kursinya.

“Keluar rumah atuh, ini kan hari terakhir kamu di sini. Sekalian nyapa tetangga-tetangga,” kata bibinya lagi.

“Emang saya mau keluar rumah, pengen jalan-jalan. Akhirnya cuaca terang juga,” sahutnya melihat keluar jendela.

“Padahal dari awal kamu ke sini kan Neng Isa pengen ngajak kamu keliling-keliling, sekarang mah Neng Isa-nya juga udah di Bandung.”

“Yee gimana sih, cuaca udah bagus malah pergi. Siapa sih Neng Isa?”

“Tetangga, udah kayak anak bibi sendiri. Setiap pagi dia teh ke sini ngajak kamu jalan-jalan, tapi kamunya selalu masih tidur. Padahal dia pengen ketemu sama kamu, penasaran katanya sama Indra.”

“Sejak saya ke sini seharian hujan terus, norak banget kan jalan-jalan lagi becek pake payung.”

“Ah, da hujannya juga nggak deras, kamu belum tahu aja di sini mah emang bagus pemandangannya kalau gerimis. Rugi kamu nggak sempet liat.”

“Bibi belum tahu aja kalau dingin tuh enaknya tidur. Saya nggak ngerasa rugi tuh.”

“Yaa atuh sayang Neng Isanya sekarang udah di Bandung. Dia teh kan SMA-nya di kota, kalau liburan aja ke sini, sama kayak kamu.”

“Ya bedalah Bi, saya ke sini kan karna penyokin mobil baru papa dengan masa hukuman satu minggu, bukan karna liburan. Ke Bali tuh baru disebut liburan. Gara-gara ke sini saya jadi nggak ikut ke Bali sama temen-temen di sekolah.”

“Makanya jadi anak jangan hiperaktif,” kata seseorang yang kemudian duduk di dekatnya.

“Paman tahu kan, di Jakarta tuh biasa anak muda main balap-balapan. Nabrak dikit sih cuma efek samping.”

“Banyak kok mainan yang asik tapi safety,” balas pamannya.

“Oh iya Ndra, kamu bantu-bantu bibi aja di kebon?” ajak bibinya semangat sambil mematikan kompor.

“Hah? Aduh maaf Bi, saya nggak biasa kerja-kerja gitu, mending saya jalan-jalan sendiri.”

Bibinya menghela napas dengan tegas lalu menuangkan bubur kacang hijau ke dalam dua mangkuk.

“Kok cuma dua?” tanya Indra.

“Aduh maaf Ndra, bibi nggak biasa masak sarapan buat kamu, mending kamu bikin sendiri aja ya,” balas bibinya.

Indra sedikit kaget mendengarnya. “Oke, masakan bibi juga nggak enak-enak amat kok, saya mau cari sendiri aja di luar,” ketusnya meninggalkan meja makan. Sebelum membuka pintu rumah, dia kembali menghampiri meja makan. “Paman, saya nggak dikasih uang sepeser pun sama papa waktu dianter ke sini.”

Pamannya mengeluarkan dompet dari saku dan memberinya Rp50.000 dengan tatapan tajam dari bibi. Indra segera keluar rumah dan duduk di warung sebrang. Setelah menghabiskan lontong dan beberapa gorengan, dia melangkah santai melewati jalanan bebatuan yang belum kenal aspal dengan jeans panjang dan kepalan tangan masuk ke jaket putih bertuliskan CANADA.

Dia melihat sebuah rumah biru muda yang terpisah 3-4 rumah dari tempat dia berdiri. Seorang gadis keluar dari pintu rumah itu. Indra tersenyum dan memperlambat langkahnya. Gadis berbaju merah muda dengan rok putih itu berjalan menuju pagar kayunya dengan anggun. Rambut pendek kritingnya terkibas memperlihatkan cerah wajahnya. Indra bahkan menghentikan langkahnya untuk melihat lebih detail gerak-gerik gadis itu. Rasa menyesal yang dalam mulai muncul karena dia belum mandi sejak kemarin. Dia hanya bisa sedikit merapikan rambutnya kemudian meneruskan langkah tidak jauh di belakang gadis itu.

Indra mengangguk sambil tersenyum ke setiap orang yang dia lihat, karena gadis itu juga melakukannya. Saat gadis itu berhenti dan hampir menoleh, Indra spontan mencabuti rumput-rumput liar di depan rumah seseorang-entah-siapa. Saat gadis itu berhenti lagi, Indra bersyukur ada kucing yang lewat di sampingnya dan segera mengelus-elus kucing itu. Padahal gadis itu berhenti hanya untuk memandangi kebun anggrek ungu di halaman rumah seseorang. Saat gadis itu belok ke kanan atau ke kiri, Indra akan segera mempercepat langkahnya dan berdiri di persimpangan jalan sambil terus mengawasi gadis itu.

Mereka berjalan semakin ke atas. Indra setia mengikutinya dengan senyum yang tak lepas melihat langkah-langkah manja gadis itu. Sepertinya Indra tahu ke mana tujuan gadis itu sekarang. Dia mulai melihat karpet hijau yang sangat luas. Sejauh mata memandang, hanya hijaunya daun teh.

“Indra? Dari jauh bibi pikir salah orang, ternyata bener kamu.”

“Eh, Bibi. Lagi ngapain, Bi?” tanya Indra sungkan.

“Lagi kerjalah, masa lagi jalan-jalan,” jawab bibinya sambil menggendong bakul besar dari tenunan bambu di punggungnya.

“Mmm…yang tadi pagi…maaf.”

Bibinya terdiam memandang Indra cukup lama kemudian tersenyum. “Bibi juga minta maaf ya.”

“Mau metik di mana, Bi?”

“Agak jauh ke bawah, tuh yang ada dua pohon tinggi,” kata bibinya sambil menunjuk.

Indra melihat jelas di dekat dua pohon tinggi ada gadis itu sedang memetik daun teh bersama beberapa pemetik teh lainnya.

“Biar saya aja yang metik Bi,” kata Indra cepat sambil membantu bibinya melepaskan bakul di punggungnya.

“Eh, kamu yakin, Ndra?”

“Iya.”

“Emang kamu tahu apa yang harus dipetik?”

“Pucuknya kan? Nih di bakul bibi juga ada banyak contohnya. Boleh ya?”

“Ati-ati, sebelum tengah hari harus udah naik, soalnya nanti berkabut. Kalau gitu bibi metik yang di sekitar sini aja.”

Indra tersenyum dan segera turun melewati jalan setapak di antara sentuhan lembut daun teh. Dengan teliti dia memetik pucuk pohon setinggi perutnya itu. Sambil sesekali melirik ke arah gadis itu.

Indra tertawa kecil. Dia hanya bermaksud menikmati waktunya bersama gadis itu. Dia tidak sengaja menyadari bahwa memetik teh dalam udara sebersih dan suasana sesemangat ini sangat menyenangkan dan menenangkan.

Menjelang siang hari beberapa pemetik teh di sekitar Indra mengingatkan untuk berhenti dan segera ke atas. Indra menunggu gadis itu selesai baru dia mengikutinya ke atas.

“Nunggu makan siang di sini atau mau di rumah?” tanya bibinya.

“Nggak usah Bi, saya mau nerusin jalan-jalan aja,” jawab Indra setelah melihat gadis itu melangkah pergi.

“Ya udah, makasih ya, Ndra.”

“Oke,” serunya sambil mengangguk dan tersenyum ke beberapa pemetik teh di situ.

Dia bergegas memotret gadis itu dalam matanya. Tidak mau kehilangan gadis itu dalam pandangannya. Dia ikut menghentikan langkah saat gadis itu masuk ke rumah seseorang. Dari dua rumah sebelum rumah yang didatangi gadis itu, keluar seorang kakek yang menegok ke kanan dan ke kiri. Kemudian kakek itu melambaikan tangan pada Indra. Dengan ketar-ketir Indra menghampirinya, takut ketahuan mengikuti seorang gadis di desa itu.

Indra mengangguk sambil tersenyum memandang kakek itu.

“Eh, kamu bukan orang sini ya?” tanya kakek itu memerhatikan Indra.

“Iya Kek, saya keponakan Paman Adi sama Bibi Mina di…” jawab Indra terpotong karena lupa alamat rumah paman dan bibinya. “Paman Adi kerja di Bandung kalau Bibi Mina kerja di perkebunan teh, ngg…” sambungnya bingung mau mengatakan apa lagi.

“Kamu anaknya Doni atau Fina?”

“Saya anaknya Pak Doni Kek, kalau anaknya Bibi Fina masih kecil. Kakek kenal ya?”

“Eeeh atuh kebetulan, saya Adnan, saya kenal baik sama almarhum kakek kamu. Dulu kakek kamu sama saya sekolah di Bandung. Terus…oh iya jadi lupa, saya teh mau mindahin lemari dari kamar saya ke kamar cucu, tapi anak saya udah berangkat tadi pagi, kamu bisa?”

Sekilas Indra melihat rumah yang didatangi gadis itu masih tenang. “Bisa Kek.”

Tidak lama Indra memindahkan lemari dan membantu membersihkan kamar Kakek Adnan, tapi kisah-menyambung-sejarah yang diceritakan Kakek Adnan membuat Indra masih duduk manis sampai lewat tengah hari. Indra berhasil menolak ajakan makan siang dengan alasan akan bertemu temannya siang ini. Kakek Adnan pun memberinya sebungkus kripik singkong. Setelah solat dzuhur, Indra pamit pulang.

“Titip salam buat keluarga, makasih ya,” katanya.

Indra mengganguk lalu menengok ke arah rumah yang didatangi gadis itu. “Kek, kalau rumah yang nggak ada pagernya itu, kakek tahu?”

“Tahu atuh Ndra, masa tetangga sendiri nggak tahu. Itu rumah Mang Ucup, tapi jam segini mah pasti udah sibuk di Bakso Mang Ucup. Kenapa?”

“Oh pantes temen saya tuh mau ke Bakso Mang Ucup tapi nyuruh saya ke rumah itu dulu,” jawab Indra asal. “Kalau Bakso Mang Ucup tuh di mana ya, Kek?”

“Biar Dika anter aja, ya? Jalannya belok-belok soalnya.”

“Oh boleh-boleh. Makasih banyak Kek, kripiknya juga.”

Indra jalan ditemani cucu kakek, bocah yang membawa-bawa mobil mainan di tangannya.

“Suka mobil-mobilan, Dik?”

“Suka pisaaaan,” jawab Dika bersemangat sampai memonyongkan bibirnya.

Indra tertawa melihatnya. “Nanti saya kirim mobil-mobilan punya saya deh. Ada mobil polisi, pemadam kebakaran, taksi, mobil sport, ah banyak pokoknya. Mau nggak?”

“Mauuu!” serunya bahagia.

“Kalau kamu udah gede, dateng ke rumah saya di Jakarta, nanti saya ajarin nge-drift.”

Ngedrip teh apa A`?”

“Pokoknya bikin mobil cekit-cekit, bikin belokan tajem kayak jalan lurus kalau kamu nyetir.”

Dika mengangguk-angguk senang.

Sampai di depan Bakso Mang Ucup Dika pamit pulang. Dengan hati-hati Indra menengok ke dalam. Matanya mencari gadis berbaju merah muda di beberapa meja dan kursi panjang yang cukup penuh itu. Ada! Betapa bersemangatnya Indra melihat gadis itu duduk di salah satu ujung kursi. Dia segera memesan bakso dan duduk  membelakangi gadis itu. Sesekali dia menoleh melihat punggung gadis itu. Jantungnya berdetak kencang menyadari sedekat ini dengannya.

Dia mulai menyantap baksonya yang ternyata luar biasa lezat itu. Dengan cepat dia menghabiskan satu mangkok dan memesan satu mangkok lagi. Gadis itu masih duduk di belakangnya saat Indra menghabiskan mangkok kedua. Kali ini Indra berniat mengajaknya berkenalan. Dia sedang menyusun dan memutar-mutar kata di kepalanya.

Dia agak kaget saat melirik seorang pemuda yang tiba-tiba duduk sangat dekat dengan gadis itu. Belum sempat Indra kecewa, ternyata gadis itu beranjak pergi. Indra menghela napas lega dan kembali mengikuti ke mana gadis itu pergi.

Mereka berjalan melewati sungai kecil yang jernih. Indra mengintip dari balik batu besar, gadis itu membasuh wajahnya dengan air sungai yang sangat dingin. Indra melakukannya juga dan merasakan segarnya air sungai itu di wajahnya. Kemudian dia merendam kakinya mengikuti apa yang dilakukan gadis itu. Rasa lelah di kakinya seakan hanyut bersama air sungai yang mengalir.

Tanpa sadar gadis itu sudah pergi. Indra memakai sendalnya dengan tergesa-gesa, mengambil kresek hitam yang berisi kripik singkong, dan pergi mencari gadis itu. Dia menoleh ke segala arah mencari-cari sosok gadis itu. Dia mulai panik dan berjalan lebih cepat. Saat menoleh ke belakang, dia melihat lagi punggung gadis itu. Semangat Indra muncul lagi walau hanya sesaat. Kali ini gadis itu tertunduk lesu dan berjalan lambat. Indra segera menyusulnya dan berhenti sejenak di persimpangan jalan. Dia melihat seorang kakek sedang berjalan pelan sambil memanggul dagangannya. Badannya hitam keriput, kurus, dan berkeringat. Dia memastikan gadis itu masih berjalan lambat tidak jauh di depannya dan memutuskan untuk menghampiri kakek itu.

“Permisi Mang,” sapa Indra pada kakek itu.

Mangga Den,” jawab kakek itu menurunkan dagangannya.

Indra melihat dagangan kakek itu yang hanya terdiri dari dua celengan besar berbentuk ayam dan stroberi.

“Cuma tinggal dua celengan ya?”

“Bukan, emang cuma jualan dua, segini juga nggak laku-laku Den.”

“Berapa satunya?”

“7500-an, ini mah bikin sendiri Den, jadi nggak terlalu rapi.”

Indra merinding mendengar perkataan kakek itu. Menyaksikan kerja kerasnya untuk uang segitu.

“Ah, bagus-bagus gini kok dibilang nggak rapi, ini harusnya sih satunya 25.000-an. Saya beli dua-duanya deh, tapi saya cuma punya 40.000, 10.000 sisanya pake kripik singkong aja ya? Boleh ya?”

Kakek itu agak heran mendengar kata-kata Indra, tapi dia membungkus celengan-celengan itu masing-masing dengan dua kresek hitam besar. Indra memberikan semua uang yang tersisa di sakunya termasuk kripik singkongnya.

“Mang, mampir deh ke Bakso Mang Ucup, enaak banget baksonya, murah lagi. Terus makan yang banyak Mang, oke?”

“Den, tapi ini uangnya asa kebanyakan?”

“Enggak Mang, itu pas kok,” sahutnya lalu pergi membawa dua celengan besar di tangan kanan dan kirinya.

“Eh, Den, Den,” panggil kakek itu.

Indra menoleh, “kenapa Mang?”

“Makasih ya Den. Nuhun.”

Indra mengangguk sambil tersenyum. Dia berjalan agak cepat berharap masih bisa bertemu gadis itu. Hari semakin gelap dan dingin. Dia akhirnya menyadari sedang melewati jalan yang sama dengan tadi pagi. Ini jalan pulang. Sedikit banyak dia ingat beberapa belokannya termasuk orang-orang yang tersenyum padanya pagi tadi.

Lalu dia melihat gadis itu lagi. Semangatnya bangkit ratusan kali lipat. Kali ini dia yakin bisa berkenalan dengannya.

Indra melihat kebun anggrek ungu yang tadi pagi dan baru saja dipandangi lagi gadis itu. Dia memberanikan diri masuk dan mengetuk pintu rumah pemilik kebun anggrek ungu itu. Keluarlah seorang wanita dari balik pintu.

“Sore, saya Indra, keponakan Paman Adi dan Bibi Mina. Maaf saya ganggu. Ngg… uang saya udah habis, dan cuma punya dua celengan ini, tapi saya mau ngelakuin apa aja yang Teteh minta supaya saya bisa dapet satu tangkai bunga anggrek ungu itu.”

Wanita itu tertawa melihatnya. “Saya Nita,” sahutnya menjabat tangan Indra. “Kamu suka anggrek?”

“Temen saya suka.”

“Oh, ambil aja Ndra. Nggak usah bayar segala, berapa tangkai juga boleh. Mau saya ambilin gunting?”

“Serius Teh?” seru Indra agak kaget.

“Iya sok aja.”

“Ow, oke, makasih banyak ya Teh Nita. Saya nggak perlu gunting, saya cuma ambil satu tangkai kok,” kata Indra segera memetik setangkai anggrek ungu dengan hati-hati. “Saya bener-bener terima kasih buat ini.”

“Iya-iya, salam buat Teh Mina sama A’ Adi yah.”

Indra mengangguk dan berlari mengejar gadis itu. Kali ini sudah semakin dekat, tapi dia ragu. Pikirannya masih mengaudisi kata apa yang harus dia ucapkan. Sampai akhirnya gadis itu membuka pagar rumahnya.

“Hei!” teriak Indra akhirnya.

Gadis itu menoleh ke arahnya. Dengan gugup Indra mendekatinya. Dia menaruh perlahan celengan-celengan di tangannya tanpa melepas anggrek ungu dari genggamannya. Dia memerhatikan dengan baik wajah gadis itu.

“Gue Indra, ponakannya Bibi Mina sama Paman Adi. Gue sekolah di SMA swasta Jakarta, gue 17 tahun, gue pengen punya tempat modifikasi mobil terbaik beberapa tahun lagi, dan gue cinta sama lu.”

Gadis itu terkejut kemudian tersenyum, “kok bisa cinta sama gue?”

Beberapa saat Indra melamun mendengar suara lembutnya untuk pertama kali. “Sorry, seharian ini gue kebawa sama pesona lu. Gue bahagia hari ini. Tahu tempat makan yang cozy, sungai yang keren, orang-orang baik. Banyak hal penting dan berharga yang baru gue sadarin hari ini, karena lu. Gue ngerasain kebaikan hati lu, bahkan lu bisa ngajarin gue hal itu. Kalau lu bisa lihat apa yang gue lihat sekarang, lu bakal tahu secantik apa lu di mata gue,” katanya merayu sambil menawarkan anggrek ungu di tangannya.

Gadis itu hanya melihat tanpa menyentuh anggreknya. “Kenapa harus gue? Ada temen gue yang lebih baik dan lebih cantik dari gue. Tuh orangnya ada di belakang lu, kalau nggak percaya lihat aja.”

Indra menoleh dan tidak melihat siapa-siapa di belakangnya. “Lu bercanda ya? Nggak ada siapa-siapa di belakang gue.”

“Kalau lu bener-bener cinta sama gue, harusnya lu nggak noleh,” jawab gadis itu melangkah pergi.

Indra tidak mampu berkata apa-apa sampai gadis itu masuk ke rumahnya. Matanya agak panas dan jantungnya sakit. Dia masih mengenggam anggrek ungu itu dan perlahan melihat dua celengan terbungkus kresek hitam di sampingnya. Akhirnya dengan besar hati dia melangkah masuk ke rumah gadis itu dan mengetuk pintunya. Keluarlah seorang wanita.

“Saya Indra, kepon..”

“Kamu yang dari Jakarta ya? Gani,” sahutnya menjabat tangan Indra.

“Iya Teh Gani, maaf baru sempet nyapa.”

“Nggak apa-apa kok, tapi ngobrolnya lain kali aja ya, saya lagi buru-buru.”

“Oh maaf Teh, tapi kalau boleh, saya minta tolong panggilin cewe yang baru masuk. Saya belum tahu namanya, mungkin dia adenya Teh Gani.”

“Saya cuma punya satu ade Ndra, dan sekarang lagi nggak di rumah. Saya sendirian di rumah.”

“Tapi barusan banget saya lihat dia masuk rumah ini. Rambutnya pendek kriting, tingginya sedagu saya, tadi pake baju pink sama rok putih.”

“Sebentar,” kata Teh Gani masuk ke rumah. “Maksud kamu yang ini?” tanyanya menunjuk sebuah foto keluarga.

“Iya.”

Teh Gani memandang Indra sambil berkaca-kaca. “Ini ade saya Ndra, namanya Isa, tapi dia lagi di rumah sakit di Bandung. Tadi pagi bus yang dia naikin ketabrak truk. Sekarang dia masih koma. Saya ini buru-buru mau nyusul Ibu Bapak ke sana.”

“Hah?” sahut Indra dengan suaranya yang mulai bergetar. “Seharian ini saya bareng dia Teh! Banyak kok saksinya!”

“Kamu yakin? Kalau gitu kamu ikut saya ke Bandung, ajak A’ Adi sama Teh Mina.”

Indra berlari sekencang-kencangnya, meminta paman dan bibinya bergegas ke Bandung. Kepalanya lelah memutar berkali-kali tiap jengkal peristiwa yang dia lalui hari ini. Pertanyaan demi pertanyaan menekan semakin dalam sampai dia hanya mampu berdiri di balik pintu kamar seorang pasien.

Dari balik kaca kecil di pintu itu dia melihat seorang gadis yang tertidur dengan selang-selang di tangannya, gadis yang sama dengan gadis yang seharian terpotret dalam matanya. Dia menangis.

Please lu bangun. Gue janji bakal lebih hormat sama papa mama, paman bibi, semua orang. Gue janji bakal bersyukur dengan apa yang gue punya dan gue janji nggak akan ragu untuk nggak noleh ke belakang…”

Aku B

Oleh: Eunike Gloria

Tidak pernah kusadari bahwa menjadi seorang diriku bisa menjadi sangat menyenangkan tapi sekaligus mengenaskan. Menyenangkan karena aku dianugerahi bentuk yang sangat bagus sehingga banyak yang memujiku. Menyenangkan juga karena aku bisa mengamati ‘makhluk-makhluk malam’ melakukan segala aktifitasnya tanpa mereka sadari. Mengenaskan juga karena terkadang aku terpaksa melihat ‘makhluk-makhluk malam’ itu melakukan sesuatu yang jahat seperti yang kulihat saat ini. Aku pernah melihat sekelompok orang sedang merencanakan aksi untuk mengebom sebuah sekolah. Aku juga pernah melihat seorang lelaki sekarat di tempat pembuangan sampah karena OD.  Dan saat ini, di dalam mobil mewah dengan atap terbuka, aku terpaksa melihat seorang pria sedang menjamah-jamah tubuh seorang wanita yang menurutku bukan wanita baik-baik. Di saat yang sama inilah juga aku melihat istri dari pria itu sedang menyelimuti anaknya yang baru berumur 4 tahun sambil menangis.  Sungguh mengerikan. Apakah ‘makhluk-makhluk malam’ itu tidak menyadari bahwa perbuatannya itu sangat mengecewakan Penciptanya? yang… yah, tentu saja Penciptaku juga. Aku mungkin tidak bisa memberikan suaraku terhadap perbuatan mereka, tapi aku adalah saksi bisu dari perbuatan mereka. Aku… Aaaahhh… Sudahlah. Ingin sekali rasanya meledak dan menghancurkan mereka semua. Biarlah aku tidak hidup lagi, asal semua kejahatan itu bisa musnah.

“Tuhan, terima kasih buat matahari. Terima kasih buat awan dan langit. Terima kasih buat bulan dan bintang. Terima kasih buat ayah dan ibu. Terima kasih untuk kasih-Mu. Amin,”

Mendengar suara mungil itu, aku langsung mengalihkan pandanganku. Seorang anak kecil berumur 4 tahun sedang berdoa di pinggir jendela kamarnya yang ia biarkan terbuka sambil memeluk bonekanya. Dia berterima kasih pada Pencipta karena telah menciptakanku?? Wow.. Selama 100 tahun aku mengamati makhluk-makhluk ini, belum pernah kudapati seseorang yang berterima kasih pada Pencipta karena telah menciptakanku. Mereka hanya sering berkata :

“Bagus ya sinarnya..”
“Aku ingin pergi ke sana..”
“Kenapa bentuknya selalu berubah-ubah?? Keren ya..”

Aaahh.. Tenang sekali hatiku mendengar doa anak itu. Pencipta pasti mendengarnya dan tersenyum senang. Tunggu dulu.. Bukankah anak itu adalah anak dari pria mesum itu? Kurang ajar!!! Bocah kecil, buat apa berterima kasih pada Pencipta karena telah memberi seorang ayah yang begitu bejat? Ibumu lebih layak kau doakan dibanding ayahmu!! Kau pasti ikut menangis bila melihat ibumu menangis karena perbuatan ayahmu. Sial!!! Bocah kecil, jika aku sepertimu, aku memilih tidak punya ayah. Huh!!

Aku mengalihkan pandanganku lagi setelah si bocah menutup tirai jendelanya. Di teras rumah itu, ayah si bocah alias pria mesum itu tadi pulang dalam keadaan mabuk. Istrinya membukakannya pintu dan mengajaknya ke dalam. Fiuuuhhh.. Aku tidak tahu apa kelanjutannya. Penglihatanku terbatas oleh dinding rumah yang tidak bisa kutembus. Tapi aku yakin, Pencipta pasti melihatnya.

Di daerah yang jaraknya 80 km dari rumah itu, aku melihat sekelompok anak-anak remaja berumur sekitar 18-an, sedang bersenda gurau di sekeliling api unggun sambil bermain gitar. Yah, lumayanlah. Sebagai penghibur setelah melihat kejadian yang menjengkelkanku. Aku tersenyum senang melihat mereka memainkan gitar dan bernyanyi dengan sangat indah. Kalo aku bisa menari di tengah-tengah mereka, pasti sudah kulakukan itu. Aku juga tersenyum haru, saat seorang gadis berkata :

“Teman-teman, persahabatan kita ini tidak akan pernah putus. Aku ingin kita sama-sama berjanji, bahwa kita akan selalu bersama. Biar bulan dan bintang akan menjadi saksi kita,”

Kata-kata itu sangat indah. Persahabatan. Yah, sesuatu yang seharusnya bersifat kekal. Karena sahabat yang baik lebih dari seorang saudara. Mereka pun mengangguk dan bergandengan teman sambil tetap bernyanyi. Sungguh indah.

“TIDAAAAAAAKKKKK!!!!!!”

Hah?! Suara apa itu? Keras sekali bunyinya. Aku pun langsung mencari sumber suara itu. Siapa yang berteriak itu? Aku terus mencoba mencari dan akhirnya aku menemukan seorang wanita di atas balkon rumah. Ia menangis tersedu-sedu dan seorang lelaki tampan di belakangnya memeluknya.

“Jangan sentuh aku!!!!!” teriak wanita itu.
Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan tapi sepertinya sesuat yang buruk sudah terjadi.
“Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar tidak sadar diri. Maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab,” kata pria itu lembut. Di dalam hati aku berharap, ia melakukan apa yang dikatakannya. Tidak ada kata yang terucap, hanya tangisan dan penyesalan. Yah… Tugasku di tempat ini sudah hampir selesai, sebentar lagi sahabatku akan menggantikanku. Sebenarnya belum selesai, hanya berpindah posisi saja. Tapi menyenangkan sekali mengamati makhluk-makhluk itu. Dan saatnya, aku mengamati mereka yang ada di belahan dunia yang lain. Pencipta, aku ingin tahu kisah mereka selanjutnya. Kuatkan aku, agar aku tetap mampu memancarkan sinar yang telah Engkau berikan padaku.

—————————————————————————————————————-

5 tahun kemudian…..

Sudah 5 tahun sejak aku tidak pernah mengamati makhluk di daerah itu lagi. Yah.. Aku sibuk dengan banyak hal. Terutama orbitku yang agak kacau ini. Untung, Pencipta masih memberiku kesempatan untuk tetap bertugas, jadi aku sangat bersemangat mengamati mereka lagi setelah sekian lama.

Aku mengalihkan pandanganku pada rumah sebuah keluarga dengan kepalanya yang sangat menjengkelkan. Aku penasaran, apakah dia masih sering bermain wanita di atas mobilnya. Tunggu… Bocah itu sudah agak lebih besar, dan orang yang digandengnya adalah….

“Ayah, terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan. Besok pagi kita pergi ke gereja kan?” Tanya bocah itu yang sekaligus menjawab pertanyaanku.

Gereja? Pria itu pergi ke gereja? Sudah bertobat ya.. Lalu aku melihat sang istri meyambut mereka dari luar dan memeluk mereka. Bahagia sekali rasanya. Aku penasaran apa yang telah terjadi. Tapi aku harus bertanya pada siapa?

“Mungkin kau harus bertanya pada-Ku”

Sebuah suara yang sangat kukenal. Dan itu adalah…

“Pencipta?” tanyaku dengan suara yang agak bodoh.

“Waktu 5 tahun, cukup membuatmu penasaran kan?” Tanya Pencipta setengah bergurau.

“Ya.. Aku heran kenapa bisa seperti itu?” tanyaku lagi masih dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu.

“Kau tahu? Selama 5 tahun bocah kecil itu berdoa untuk orang tuanya. Dan selama 5 tahun itu juga, sang istri mendoakan dan belajar mengampuni suaminya. Bukankah itu indah?” Pencipta mengatakannya sambil tersenyum hangat penuh kasih.

“Tentu saja. Tapi kenapa bisa? Sulit sekali untuk melakukan itu..” tanyaku lagi terhera-heran.

“Aku yang merancang mereka, Aku yang memberikan penolong bagi mereka, dan Aku yang melembutkan hati mereka untuk dapat saling mengasihi,” kataNya lagi dengan penuh wibawa.

Aku selalu mengagumi Pencipta. Setiap kata-kataNya penuh kasih dan kuasa.

“Tapi jangan salah, Aku juga memberikan mereka kehendak bebas. Kau lihat sekelompok remaja yang pernah kau lihat 5 tahun lalu itu. Janji yang mereka ucapkan tidak terbukti sampai sekarang. Mereka saling menjatuhkan dan tidak ada kasih sama sekali,”

Aku pun melihat sekelompok anak remaja itu. Yah.. Mereka tidak sekompak dulu lagi. Mereka sedang bertengkar di luar sebuah klub malam. Bahkan salah satu dari mereka membawa senjata. Aku ngeri melihatnya.

“Pencipta, kenapa Kau biarkan itu terjadi?” tanyaku lagi sambil ikut bersedih melihat kehancuran di antara mereka.

“Aku tidak membiarkan mereka. Aku telah mencoba menegur mereka lewat orang tua mereka, lewat setiap kejadian yang mereka alami. Tapi mereka memilih untuk seperti itu. Mereka punya kehendak bebas. Aku sedih melihat mereka saling menghancurkan. Padahal, Aku memiliki rencana yang luar biasa untuk mereka,”

Aku mengangguk-angguk mengerti. Yah.. makhluk-makhluk malam itu memang makhluk yang sangat kompleks. Tapi aku mengerti mengapa Pencipta sangat mengasihi mereka. Meskipun memang tidak masuk akal. Tapi itulah kasih yang sejati. Tidak pernah masuk akal.

“Pencipta, bagaimana dengan kedua pasangan itu?” tanyaku lagi setelah mengingat bahwa 5 tahun yang lalu, aku juga melihat kedua pasangan yang ada di balkon rumah itu.

“Sepertinya, kau harus melihat sendiri,” kataNya tersenyum dan pergi kembali ke tahtaNya.

Hmmm.. Aku melihat balkon rumah itu lagi. Masih sama. Tidak ada yang berubah. Aku melihat seorang wanita sedang menggendong dan menyusui anaknya.

“Sayang, aku mencintaimu. Sebaiknya kita masuk, angin malam tidak baik untuk anak kita,”

Kata seorang pria yang tiba-tiba datang dari dalam rumah, memeluk wanita itu, dan menggiringnya masuk. Aku tersenyum. Akhir yang bahagia untuk saat ini karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Segala sesuatu memang tidak ada yang bisa menebak. Hanya Pencipta yang tahu dan Ia tahu yang terbaik untuk makhluk-makhluk ciptaanNya itu. Aku memalingkan wajahku dan siap untuk menceritakan kisah lain yang Pencipta telah siapkan. O ya, namaku, B.. Bulan

Rasa

Oleh: Biyan Resti Ananta

Manis! Kuemut cokelat didalam mulutku ini, kurasakan rasa manis dan aroma cokelat yang muncul dari batangan cokelat tersebut hingga ke dalam saripatinya kuselami rasa nikmat ini dan terus kutularkan rasa manis yang begitu menyenangkan ini ke semua penjuru mulutku yang telah merasakan tidak enaknya suatu rasa dari suatu cairan yang dapat digunakan untuk menyalakan suatu kendaraan bermotor. Ya, baru saja aku merasakan tidak enaknya rasa bensin yang aneh itu ketika memancing bensin naik ke karburator setelah mobil yang kutumpangi ini mogok kehabisan bensin. Aku dan seorang temanku bernama Maya yang tak lain adalah pemilik mobil yang kutumpangi ini akan mendatangi suatu punkrawk show dimana salah satu band yang tampil disana merupakan band dari seseorang yang dulu kucintai. Namun siapa sangka perjalanan ini tidak semulus kukira. Untungnya diriku tidak hanya sekali ini menangani mobil yang mogok. Ketika bersama mantanku dulu, aku cukup sering mengalami hal-hal seperti ini, mogok karena kehabisan bensin atau ban rusak kemudian aku bermandikan keringat karena harus membantunya mengganti ban yang tiba-tiba robek dan mengeluarkan ruji-ruji besi yang sedikit mengerikan. Walaupun hanya membuka baut-baut saja nampaknya sudah cukup membuatku berkeringat, maklum aku adalah anak yang lemah kerjanya hanya pulang pergi berkegiatan akademis dan kemudian ketika tiba di kamar, langsung bermain game online. Makanya bagiku membantu melepaskan ban dari kap mobil merupakan hal yang menarik. Dan semakin kuingat lagi ternyata banyak sekali hal baru yang kulakukan ketika bersamanya, seperti menjelajah hutan lindung, bersepeda, hingga memasak. Banyak sekali yang ia kenalkan padaku yang hanya gemar mengurung diri di rumah. Sambil mengingat-ngingat masa lalu itu, nampaknya aku terkadang mengeluarkan tawa-tawa kecil dan senyum-senyum yang cukup aneh dilihat oleh Maya.

Waktu berjalan sangat lambat, satu jam rasanya seperti setahun. Kemacetan dan lampu lalulintas terasa begitu membosankan. Diperempatan jalan yang kesekiankalinya mobil kami dipaksa berhenti oleh lampu lalu lintas yang berwarna merah. Lagi-lagi kulihat pemandangan yang sedikit tidak kusuka. Kulihat mereka yang tanpa keraguan terus berjuang bertahan hidup, tanpa bukti mereka tak berdosa, jika tirai itu tidak ada mereka bisa bebas, tanpa harapan mereka hidup, sungguh tragedi, tak akan ada keajaiban yang mereka tunggu, mereka gantung pendidikan mereka, dan kini mereka jatuh, tanpa harapan tempat itu, tak ada yang mempedulikan mereka, jangankan orang lain, aku sendiri masih kesulitan untuk membantu mereka semua. ‘I saw those kid fall on the street

‘Heee?’, Maya kaget.

‘Ohh, ga, ini anak-anak jalanan ini, kasihan ya, eh, loh, emang gue ngelantur apa lagi?’

‘Tyaa… kamu…’, Maya tidak meneruskan menjawab dan ia menjalankan kembali mobilnya.

Aku yang dulu mungkin tidak akan pernah berpikir demikian, aku hidup di keluarga yang mapan dan bergaul dengan teman-teman yang rata-rata adalah mereka yang kurang bisa memanfaatkan waktu untuk hal lebih berguna. Kasarnya, aku pikir semua bisa diselesaikan dengan sejumlah uang. Kemudian aku sedikit berubah karena lagi-lagi mantanku yang satu ini, ia tergabung di salah satu LSM yang ada dan ia seringkali mengajakku untuk melihat dunia nyata, karena aku sudah terlalu lama hidup di dunia maya yang semuanya serba lancar.

Waktu terus berjalan. Nampaknya kami sudah tiba di tempat tujuan kami. Setelah memarkirkan mobil, kami berjalan kearah suara instrument berasal. Dinginnya malam ternyata sedikit menusuk kulitku melalui sela-sela kaosku dan beberapa robekan dari jeans favoritku. Paling tidak dingin yang kurasakan tidak separah yang Maya rasakan, karena nampaknya ia sedikit salah kostum, mengenakan celana sependek itu padahal sudah tahu akan datang ke acara outdoor. Untungnya ia menggunakan jaket jeans yang membungkus pakaian minim yang ia kenakan di dalam jaketnya itu. Beginilah mayoritas anak perempuan, kami kuat menahan derita seperti ini demi mendapat perhatian orang sekitar. Tak bisa dipungkiri lagi, akupun termasuk tipe anak perempuan yang tidak mau kehilangan fans kami, dan karena itulah kami selalu berusaha tampil menarik dan bertameng tembok gengsi. Tapi untuk malam ini aku hanya berpenampilan seadanya saja tidak seperti Maya.

What’s wrong with most people today? The downfall of humanity

Where money rule and fuck us all. This world’s a fake I cannot lie’

Terdengar suara dengan lirik yang tidak asing lagi bagiku, band yang  ingin kulihat ternyata sudah mulai. Wajar saja, dari poster yang kulihat acara sudah dimulai dari jam 8, dan sekarang sudah memasuki jam 12 malam. Mau bagaimana lagi, kami sudah berjuang menghadapi gangguan dan hambatan untuk mencapai tempat ini.  Aku segera memburu Maya dan menariknya, karena ia berjalan sangat lambat.

‘Ayo cepet ih dasar keong!’, ucapku tak sabar.

‘Santailah, by the way, kita jalan kemana nih?’, Maya bingung, dengan nafas memburu.

‘Ini jalan pintas, kita lurus terus, kemudian kita tinggal melewati rintangan sedikit’, aku terus berjalan cepat. Dan sampailah kami di rintangan yang kumaksud. Sebuah saluran drainase dengan lebar kira-kira satu depa. Tanpa pikir panjang, aku segera melompatinya. Namun Maya tidak menyusulku, memang lebarnya tidak seberapa. Tapi bagi kami, kaum wanita yang… tidak usah dijelaskan lagi mungkin kalian semua mengerti maksudku,  sebut saja manja atau mungkin sedikit malas, yang tiap pelajaran olahragapun tidak pernah kami ikuti, saluran selebar satu depa-pun nampaknya berat sekali untuk dilompati. Maya hanya terdiam bingung, ragu-ragu, mungkin jantungnya berdebar cepat karena sebelumnya sudah cukup lelah berjalan cepat. Akupun sedikit bingung, kukira Maya cukup berani untuk  melewati rintangan seperti ini.

‘May, lu uda baca Sang Pemimpi kan? Adrea Hirata bilang, kalau mau tahu tenaga dari optimisme, tenaga dari ekstrapolasi kurva yang menanjak, tenaga dari mimpi-mimpi!’

Entah bagaimana, kuucapkan kutipan tersebut, mungkin karena kurasa cocok dengan situasinya. Aku hanya menatap mata Maya yang juga menatapku mataku, berharap ada kelanjutan dari kata-kataku yang dapat membuatnya semangat. Lalu Maya berbalik badan dan berjalan pelan lagi ke arah berlawanan. Kini ia membelakangiku, mungkin terlalu berat baginya untuk menghadapi rintangan ini.

‘AAAAAAAAAA!!!’,

Tiba-tiba Maya berteriak dan dengan segera ia berlari kencang dan untuk sesaat nampaknya waktu berhenti, aku takjub melihat sosok Maya yang melayang diudara seperti Michael Jordan yang melakukan air walk, dengan mukanya yang terlihat jelas sekali kecemasannya. Lalu dengan sigap aku meraih Maya yang mendarat dengan sedikit tidak stabil dan membantunya menenangkan diri. Setelah tersenyum puas seperti di iklan-iklan rokok, Maya segera menarikku tanpa berkata apa-apa kearah orang-orang yang bergumul, ber-moshing ria.

Kami sudah tiba di stage kecil ini, sang drummer menghatam keras crash dan china hingga standnya terjatuh penonton terkesima dahsyat namun panitia nampaknya sedikit sedih karena alatnya nampak akan rusak. Mas bassist,  membuka bajunya dan melempar ke arah penonton layaknya band besar dan berharap penonton mengambilnya dan tergila-gila namun ternyata kaos berkeringat itu tidak ada yang mengambil dan beberapa penonton tertawa. Dan nampaknya penonton sudah cukup bingung melihat si gitaris meletakan gitarnya di atas monitor dan tiba-tiba ia loncat harimau dengan jejeran stand mic dan monitor sebagai rintangannya. Semua hal aneh tersebut dilakukan dengan backsound noise dari sisa-sisa lagu. Melihat penonton tertawa, ia beraksi semakin menjadi-jadi, meliuk-liuk seperti ikan lele terlempar ke darat. Dengan singlet putih berkilauan keringat bergelombang-gelombang. Rambut gondrongnya dilambai-lambaikan, Demikian berulang kali. Mulutnya monyong-monyong ke sana kemari sesuai pengucapan untuk menarik massa. Lalu sebagai penutup ia membungkuk, menepuk-nepuk dada, mengibas-ngibaskan tanganya, berlutut, menengadah ke langit sambil membekap kedua tangannya di dada, dan berlari-lari kecil. Aku dan Maya tertegun menyaksikan pemandangan aneh itu, penonton cekikikan dan tak berhenti tersenyum sampai akhirnya lampu dimatikan. Rupanya penampilannya sudah selesai, kami terlambat.

Rupanya dalam hati ini, aku merasa sia-sia datang kemari, setelah yang kulalui dijalan hingga menyemangati Maya, dan ternyata kurasakan juga rindu yang meledak-ledak bergejolak didalam batin namun tak dapat kusalurkan karena masih ada rasa takut untuk menyapanya langsung. Beragam pertanyaan hanya bisa kutanyakan didalam hati, bagaimana yah cara menyapanya, bagaimana kalau ternyata ia tidak mengubrisku, bagaimana kalau ia sudah memiliki pacar baru, apakah aku sudah tampil cukup oke, dan beragam pertanyaan yang sebenarnya lebih sia-sia lagi karena hanya dipendam. Dan detik itu juga. Nampaknya Maya merasakan hal yang aneh.  Jelas sekali, walau hanya sedetik. Lalu ia bertanya bertanya, ‘Rindukah rupanya?’ Pipiku mendadak memerah. Kalimat itu tepat sasaran.

‘Itu lu yang ngomong! Bukan gue!’, aku masih bertahan. Maya terus menggodaku. Hingga diriku kacau karena melawan harga diriku sendiri untuk tidak jujur dan terperangkap dalam kepongahan. Sangkalan dan sangkalan terus kubanjiri hingga kurasakan penderitaan sebagai bayarannya.

‘Lelaki mana sih yang beruntung sekali mendapatkan berlian seperti kamu yang menjadi idola satu kampus hingga kampus lain, karena banyak sekali kisah cinta para lelaki yang berusaha mendapatkanmu malah menjadi kisah cinta yang paling menyedihkan. Cinta yang patah berkeping-keping karena selingkuh dan pengkhianatankah yang paling menyakitkan? Bukan. Cinta yang dipaksa putus karena perbedaan status, harta benda, dan agamakah yang paling menyesakan? Masih bukan. Cinta yang menjadi dingin karena penyakit, penganiayaan, dan kebosanankah yang paling menyiksa? Tidak. Atau cinta yang terpisah samudra, lembah dan gunung-gemunung yang paling pilu? Sama sekali tidak. Bagaimanapun pedih dilalui kedua sejoli dalam empat keadaan itu mereka masih dapat saling mencinta atau saling membenci. Namun, yang paling memilukan adalah cinta yang tak peduli. Kau begitu tidak pedulinya terhadap lelaki yang mendekatimu. Jangan buat aku lebih penasaran lagi, yang mana telah mendapatkan hatimu?’, Maya terus menekanku dengan kutipan dari Andrea Hirata yang merupakan favoritnya.

Aku menyerah, untuk menjawab pertanyaan Maya, sekaligus menjawab rasa gundah gulana didalam hati ini. Kuberanikan diri untuk terus melangkah ke depan, menghadapi segala rasa dalam hati yang terus berkecamuk ini. Semakin dekat dengannya kurasakan kaki ini memberat. Hawa disekitarku serasa menusuk dan menggelapkan penglihatanku. Sekitar terasa gelap, yang terihat hanya dia, dia, dia, dia dan dia membalikan badan, sadar akan kehadiranku! Tak bisa mundur lagi, dan kuucapkan ‘Hai, Resti’. Kini kegelapan itu sudah menjadi cahaya putih yang bersih, hingga menghapus semua yang ada disekitar, yang ada hanya aku dan dia saja.

Sepucuk Surat Terakhir

Oleh: Salita Romarin

-untuk Lisa

Rio hanya termenung memandang ke luar jendela kamarnya. Di luar hujan turun dengan sangat derasnya. Alex, anaknya, masih tertidur dengan pulas di ranjang bayinya, tak jauh dari tempat Rio duduk. Sudah tiga hari semenjak kelahiran Alex saat itu. Rio hanya melamun dan terkadang menangis sesekali. Wajahnya kusut, matanya berkantung hitam. Sudah 3 hari pula ia tidak tidur. Ia hanya makan sesekali, itupun kalau si Mbok memaksanya dengan menyebut-nyebut nama istrinya. Ya, istri Rio. Wanita yang telah ia nikahi selama 3 tahun itu kini telah tiada. Wanita yang begitu anggun dan berparas cantik, setidaknya bagi Rio begitu. Rambutnya yang berwarna coklat gelap dan ikal, kulitnya yang kuning langsat, matanya yang lembut menyiratkan aura seorang wanita dewasa, tak lupa juga candanya yang selalu bisa membuat Rio tertawa. Rio begitu mencintai wanita itu. Shinta telah pergi untuk selamanya dari Rio, tanpa sepatah kata pun ketika melahirkan Alex.

Rio membenci Alex karena itu. Sekalipun ia tidak pernah menolehkan wajahnya pada bayi mungil itu. Sekalipun ia juga tak pernah menyentuh bayi itu. Hanya Mbok Nina saja yang mengurusnya. Rio tidak pernah peduli apabila Alex menangis. Bahkan seringkali ia membentaknya karena kesal. Bagi Rio Alexlah penyebab kematian Shinta. Padahal Alex tidak tahu, ia tidak pernah tahu mengapa ayahnya bersikap seperti itu. Kulitnya yang masih merah menunjukkan kepolosannya.

Tiba-tiba lamunan Rio terusik. “Tuan, Tuan harus makan dulu.” Sahut Mbok Nina.

“Tidak perlu. Saya tidak lapar, Mbok…” Jawab Rio dengan nada lemah.

“Tapi Tuan, Nyonya pasti tidak suka kalau Tuan seperti ini terus. Saya juga jadi khawatir.” Mbok Nina menyodorkan sepiring nasi dan ikan kepada Rio. Mbok Nina yang sudah berumur 40 tahun itu menyiratkan kekhawatirannya di wajahnya. Baginya, Rio sudah seperti anak sendiri. Semenjak Rio SMP, Mbok Nina sudah mengurusnya. Sampai Rio menikah, Mbok Ninalah satu-satunya pembantu di rumah Rio yang Rio percaya untuk bekerja di rumahnya yang baru.

“Baiklah,Mbok.” Rio menerima piring itu dengan lemas.

Hujan di luar tak kunjung berhenti. Angin bertiup kencang mengiringi hujan itu. Di luar terlihat anak kecil yang lari hujan-hujanan diikuti ibunya yang kerepotan mengejar anak itu sambil membawa payung. Anak itu terlihat sangat senang menikmati tetesan-tetesan hujan walau angin berhembus. Akhirnya ibu dari anak kecil itu berhasil menangkap anaknya dan menggandengnya seraya memayungi mereka berdua. Rio memperhatikan itu. Hatinya miris melihat hal tersebut. Membayangkan itu Shinta yang sedang berjalan di luar sana. Kemudian ia teringat percakapannya dengan Shinta setahun yang lalu.

Mas, aku ingin sekali kita punya anak. Kita kan sudah menunggu 2 tahun untuk membenahi rumah ini. Sekarang rumah kita sudah indah dan bagus kan?

Iya, tentu saja boleh. Aku juga saangaat mengharapkan rumah kita nanti akan diramaikan oleh tawa-tawa kecil anak kita nanti. Tentu kebahagiaan kita akan lengkap.” Jawab Rio sambil membelai rambut Shinta.

Bullshit! Pikir Rio. Tuhan telah tega merenggut engkau, istriku…dan meninggalkanku bersama pembawa bencana ini! Rio kembali terdiam. Hatinya begitu sakit. Seperti ada yang mengiris-ngiris perasaannya. Ia sangat ingin setidaknya dapat mengucap satu kata perpisahan untuk istrinya. Tapi sepertinya kesempatan itu telah menjadi mustahil sama sekali.

Rio kemudian mengambil fotonya bersama istrinya ketika mereka bertamasya ke Bali. Ia memandangi foto itu. Ia kembali teringat istrinya yang sangat menikmati permainan pasir. Mereka membuat sebuah kastil yang besar. Lalu mereka berfoto di sebelah kastil pasir yang mereka buat. Rio menitikkan air matanya. Betapa ia merindukan istrinya itu.

Tiba-tiba saja guntur menyambar dengan kerasnya. Membangunkan Alex yang sedang tertidur pulas. Alex menangis, menjerit begitu keras karena takut.

“Anjing! Diam kau, bedebah kecil!!” bentak Rio.

Alex malah semakin keras tangisannya. Rio semakin marah mendengar itu. Didekatinya ranjang Alex.

“Aku benci kau! Ya, kalau istriku tidak harus melahirkan dirimu, ia tidak akan perlu pergi! Bodoh! Dengarkan aku! Hentikan tangisanmu itu!!!” Rio marah tak terkendali. Mbok Nina segera memburu masuk ke kamar.

“Tuan, cukup, Tuan… Jangan sakiti Tuan Alex…” katanya sambil berlinang air mata. Berlutut di kaki Rio.

“Diam! Aku harus melenyapkan dia!” Rio mulai mencengkram tubuh Alex. Bayi itu menangis semakin keras. Tiba-tiba saja sebuah amplop berwarna biru terjatuh dari sisi tubuh Alex. Rio melihat amplop itu dan mengambilnya.

Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang mengirim surat itu. Dibukanya perlahan dengan nafas masih tersengal-sengal. Dilihatnya tulisan tangan yang sangat ia kenal. Ia membaca surat itu perlahan.

Rio sayang..

Maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang hal ini. Aku tahu hidupku tidak akan lama lagi. Tapi aku hanya terlalu takut untuk memberitahukan langsung padamu. Aku takut kamu malah mengurungkan niatmu untuk mengisi rumah kita dengan tawa anak-anak kita… Ya, sejak awal dokter memperingatkanku. Aku punya kelainan jantung dan tidak akan kuat melahirkan seorang anak. Tapi aku bersikeras. Maafkan aku yang bodoh ini, tapi aku tahu hatimu akan kuat. Aku tahu kamu bisa menjalani kehidupan ini tanpaku nanti. Karena kamu lelaki pilhanku. Janganlah membenci anak kita, karena ia tidak bersalah, tapi akulah yang salah. Ku teringat betapa semangatnya dirimu menghias kamar bayi, betapa rajinnya dirimu mencari buku panduan menjadi orangtua yang baik, dan betapa bersemangatnya kamu saat memikirkan nama untuk anak kita. Itu selalu dapat membuatku tersenyum dan mengingatkanku betapa kau sangat menginginkan anak ini. Aku sangat bahagia mengetahui itu. Maka saat ini aku ingin kau jadi kuat. Aku ingin kau bisa selalu ikhlas. Ikhlaskanlah kepergianku… Terima kasih atas 3 tahun yang indah ini. Ini adalah tahun-tahun yang paling indah dalam hidupku. Kuharap bahasa sederhanaku dapat membuatmu mengerti sepenuhnya. Aku akan selalu hidup dalam hatimu dan dalam jiwa anak kita. Aku selalu mencintaimu.

With Love,

Shinta.

Seketika Rio terduduk lemas membaca surat itu. Tangannya gemetaran menyadari setiap isinya yang tak pernah ia duga. Ia merasa sangat sedih sekaligus bersalah. Air matanya jatuh begitu deras seperti hujan di luar. Ia menangis tanpa suara, tertunduk lesu. Membayangkan Shinta di benaknya, membayangkan ia sedang memeluk wanita itu erat. Lalu ia menyadari bahwa suara tangis Alex sudah berhenti. Segera didekapnya bayi itu. Mengecup keningnya. Menyadari betapa lucu dan tampannya bayi itu. Matanya yang mirip ibunya, sementara hidungnya yang mirip dengan Rio. Rio tersenyum. Ia baru menyadari karunia Tuhan yang telah dititipkan untuknya begitu indah.

“Maafin Ayah…” Peluk Rio sambil tak henti-hentinya mengecup kening Alex.

“Ayah janji nggak akan jahat sama kamu lagi…”

Mbok Nina ikut terharu melihat kejadian itu. Dan tak lama kemudian hujan pun berhenti. Ada angin lembut yang membuka jendela yang memang tidak dikunci, membelai Rio dengan lembutnya seolah Shinta kini tersenyum padanya.

“Ya sayangku, aku akan menjaga anak kita..” bisik Rio dalam hati sambil tersenyum.

Belum Ada Judul

Oleh: Mirza Fahmi

Tidak banyak hal yang bisa kukatakan tentang Ibuku, dan aku tak pernah sekalipun coba menerka. Sewaktu kecil, Di rumah yang hanya diisi kami berdua praktis Ibu jarang berbicara tentang dirinya sendiri. Kalaupun ada yang masih sanggup diserap ingatan kecilku, adalah tentang dongeng-dongengnya

Ya, jika kau bertanya tentang apa yang bisa kuingat dari Ibu, adalah tentang dongeng yang tak habis-habisnya. Berbeda dengan Ibu-ibu lain yang menjinakkan keliaran anaknya dengan sentilan kuping atau cubitan tangan, Ibuku selalu memakai dongeng. Jika aku malas bangun, segera akan kudengar kisah si rusa yang tak sadar kalau tempat yang ditidurinya adalah punggung buaya. Belum lagi kisah kera yang pipis sembarangan. Yang paling kuingat adalah Kebun Binatang yang dihuni satwa dengan berbagai macam Phobia, aku Ingat berulang kali aku ketiduran, sampai Ibu akhirnya membahas Ular – binatang favoritku saat itu-  yang takut akan gelap.

Dongeng Ibu seperti tidak pernah kehabisan energi untuk menyenangkanku, hingga suatu saat aku sempat berpikir untuk berbuat nakal dengan sengaja, agar dongeng itu bisa kudengar lagi. Tak jarang cara ini berhasil. Kuakui aku sudah semakin mahir menebak polanya. Tidak ada omelan, teriakan atau apapun dari arah pintu. Pertama, Ibu akan diam, melihat kearahku sambil tersenyum, lalu mengisyaratkan agar aku duduk di sampingnya. Dongeng akan segera dimulai.

Seperti kubilang tadi, kami hanya tinggal berdua. Sehingga dengan kondisi rumah yang lapang, tak jarang aku bermain di ruang tamu, terutama di hari-hari hujan. Ibu yang memang jarang melarang membolehkan saja asal “ Jangan sampai bikin berantakan..”.

Namun suatu saat aku tak sengaja memecahkan pigura foto kesayangan ibu karena terlalu asik dengan bolaku. Aku tahu betul pigura itu adalah benda yang paling ia perhatikan dari seluruh barang-barang ruang tamu. Tiap pagi, benda itulah yang selalu ia bersihkan terlebih dahulu.

Aku tahu Ibu sudah sejak awal mengawasi dari balik lemari piring. Dengan gugup aku berusaha membereskan sisa-sisa pigura itu, berisi foto besar yang tertutup pechan kaca., aku mendongak dan melihat muka Ibu yang muram menyaksikan pecahan kecil kaca pigura. “ Maaf..”

“ Tidak apa-apa..sini duduk dulu..”

Tangan luwesnya menyuruhku kembali duduk disampingnya, meski kupandang kenakalan ini layak diganjar lebih dari sekedar dongeng. “ Maaf..” Kataku lagi seakan cukup untuk memperbaiki pigura yang sudah berceceran, didalam hati aku mengutuk bola kempes sumber semua ini. Perkataan Ibu setelahnya, kurasa, tak pernah aku duga :

Pada suatu zaman, ada sebutir debu yang selalu dibawa angin kesana kemari. Ia tak pernah tahu asalnya dari mana dan kemana ia akan menuju. Sepanjang hari, Debu melintasi gunung, lembah, dan lautan tanpa henti. Pada awalnya, ia begitu menikmati kesehariannya. Pemandangan yang selalu berganti, musim berubah di berbagai tempat yang dikunjungi, dan tabiat orang-orang di sana sini. Semua ia lihat dengan senang hati dari atas, kemanapun angin bertiup membawanya.

Namun suatu hari, ia merasa jenuh dengan rutinitas tanpa hentinya. Sering ia melihat dari ketinggian rumah-rumah manusia, gubuk hangat, dan manusia yang bergembira didalamnya. Ia iri. Ia ingin juga merasakan hal yang sama. Menetap di satu tempat. Merasakan sesuatu yang disebut rumah. Perjalanannya dirasa sudah cukup.

Aku merasa aneh mendengarnya, selain karena cerita yang jauh berbeda dengan biasanya. Ibu tak pernah sekalipun melihat kearahku ketika bercerita. Ia melihat pagar kami, yang memang bisanya dibiarkan terbuka sedikit, “ Agar gampang keluar masuk “ Jelas Ibu tiap kali ditanya tetangga-tetangga. Meski yang keluar-masuk disana Cuma kami berdua.

Tarikan nafas Ibu menandakan ia tak ingin disela, dan aku membunuh keinginanku untuk bertanya saat itu juga.

Ia lalu memberanikan diri bertanya kepada angin, tentang suatu hal yang telah lama ingin ia lakukan.

“ Hei angin, sampai kapan kita akan seperti ini? terus terbang tak kenal arah?

Angin lama tak menjawab, debu paham betul sifat kawan satu-satunya ini. Ia lambat berpikir. Dan debu harus sabar menunggu agak alam sampai angin menjawab dengan suara beratnya, “Aku tak tahu…”

Debu sudah tahu sebelumnya apa jawaban si angin, meski didalam hati ia terus mengharapkan jawaban yang berbeda. Debu memutuskan tidak bertanya-tanya lebih jauh lagi. Dan Pemandangan manusia, rumah, dan aktivitas mereka mulai cukup mengganggu kesehariannya kini.

Hingga ketika rutinitas debu mengharuskannya melihat lagi tempat-tempat indah – yang ia sadari besok pagi tak akan dilihatnya lagi -. Debu Berteriak “Hey Angin, Aku sudah bosan! “ Debu kali ini sudah muak.

Angin berhenti sejenak, menatap temannya yang baru kali itu berbicara keras kepadanya. “Aku sudah bosan ikut-ikut perjalananmu lagi, sekarang aku ingin tempat tinggal, aku berhak untuk itu…” Kata debu dengan suara naik turun ditelan bunyi laju angin. Angin hanya diam, dia seperti biasa, lambat menjelaskan pikirannya kedalam ucapan. Setelah jeda yang cukup lama ia pun hanya mengeluarkan 3 patah kata,  „ Aku Tak Tahu..”

Debu marah, namun kali ini tanpa teriakan, ia tahu angin tidak salah. Angin hanya membawa debu, bukan keinginan angin untuk menerbangkan debu kesana kemari tanpa henti. Debu yang putus asa, tak berkata sepatah katapun lagi, memilih terus melihat tempat indah dibawah sana, tahu kalau saat ia membuka matanya esok hari, tempat itu pasti telah berganti. Dan terus egitu sampai ia tak akan peduli apapun lagi.

-*-*-*-

Itu adalah tidur terlama debu selama ini.

Debu menyangka, ketika ia terbangun nanti matahari sudah tinggi di atas kepala. Lalu angin akan menyapanya dengan suara berat yang itu itu lagi. Namun hari ini didapatinya berbeda. Tempatnya berada bukan punggung angin yang selama ini ditungganginya. Pemandangan dari tempatnya pun bukan gunung seperti 2 minggu yang lalu, bukan lautan yang dilihatnya selama sebulan penuh tahun lalu, bukan pula kota besar siang kemarin. Tempat itu gelap, asing untuknya.

“ Angin, kau dimana ? Aku dimana ? “

Tidak ada jawaban. Debu melihat sekelilingnya, tempat itu hampir tidak dimasuki cahaya, dan selalu panas. Setiap saat terdengar suara desisan yang tidak ia ketahui asalnya. Debu ketakutan.

Ibu menenggak sedikit air, menyapa sebentar ke Bi Neni, Tukang cuci kami yang baru datang, memberikan instruksi sesaat. Lalu melanjutkan ceritanya, mungkin setelah dilihatnya aku yang masih duduk sbar menunggu lanjutan cerita…

Angin masih terus ia panggil setiap beberapa jam sekali. Tetap, tidak ada jawaban.

Debu berusaha lebih jauh lagi mempelajari keadaan sekelilingnya. Ia menyeret tubuhnya yang sejak tadi ia takut gerakkan. Pelan-pelan ia menyusuri tempatnya berada, mengikuti alur yang semakin menurun. Debu belum pernah bergerak dengan kemampuannya sendiri, dan ia baru sadar kalau selama ini angin begitu berarti baginya. Tubuhnya terasa berat. Butuh waktu untuk terbiasa, pikirnya.

Debu mulai menyadari hal-hal lain dari sekelilingnya, suasana lembabnya, desian yang muncul terus menerus, dan jerat-jerat aneh yang menutupi jalan. Meski begitu, ia tetap berjalan dan berjalan. Sampai menemukan secercah cahaya tepat didepannya. Merasa sudah akan mengetahui dimana ia sekarang, debu bergegas mempercepat langkahnya. Cahaya itu lama kelamaan mulai memperlihatkan bentuknya. Suatu pemandangan, meski berbeda dengan yang selama ini debu lihat. Pemandangan itu diam.

Debu mulai menyadari situasi di sekelilingnya, ia telah menetap di satu tempat.

Ibu mengambil jeda sejenak di sela ceritanya yang paling panjang selama ini, kemudian segera melanjutkan lagi, dengan intonasi nada seperti semula. Lembut dan tidak terburu-buru.

Hari demi hari kini Debu lewati untuk semakin mengenali tempatnya kini. Ia seringkali harus mengikuti kemanapun tempatnya pergi. Ya, seperti angin, tempatnya berada sekarang juga sering bepergian. Meski debu tetap tenang begitu mengetahui pemandangan yang sama tetap bisa ia saksikan begitu malam datang.

-*-*-*

Mengenai tempatnya kini, debu sudah cukup memahami. Ketia hari masih gelap, ia sudah harus bergegas mencari tempat sembunyi. Sebab, tak lama akan ada air yang masuk menyerbu ke dalam tempatnya. Ini terjadi 5- 6 kali dalam sehari. Pada awalnya, debu masih tak kunjung terbiasa dengan serbuan air-air itu, meski lama kelamaan, hal itu sudah dipandanganya sebagai rutinitas yang menyenangkan.

Debu sudah tak pernah memanggil-manggil angin lagi. Ia toh merasa angin kini sudah berada di tempat yang jauh, memanggil tak ada gunanya lagi. Lagipula, Debu mulai menyenangi tempatnya berada sekarang, meski dingin dan agak berisik, namun setiap hari ia bisa mengamati berbagai macam orang tanpa perlu takut suatu hari telah berpindah tempat lagi. Ia sudah lama merindukan ini, suatu tempat yang pasti. Ia bosan akan perjalanan.

Hingga satu hari, Debu terbangun oleh suara yang sudah lama dikenalnya, “ Hei Debu…!! “ Debu terkejut, awalnya marah karena sudah begitu lama angin baru menyambut panggilannya. “ darimana saja kau ? “ “ Aku disini terus kok..” Debu tak begitu mengerti maksud angin, yang jelas ia hanya ingin mengabarkan tempat barunya ini.

“ Ini tempat baruku, angin, kau tak perlu lagi membawaku..”

Angin mengangguk sesaat, meski ia tahu ada kabar buruk yang harus dikabarkannya kepada debu segera. “ Kau harus pergi debu…Mari ikut lagi denganku..”

Alngkah terkejutnya debu, ia tak pernah meyakna jawaban si angin. “ Apa maksudmu ?“

“ Kau tidak akan aman disana, kau harus ikut denganku..”

Debu benar-benar tidak paham, tempatnya yang sudah lama ianantikan, sudah lama ia pelajari. Dan kini ia syukuri setiap hari. “Tidaakkk! “

“Debu…”

“Tidak! Pergi kau! “

Debu marah dan membentak angin untuk pertama kalinya, membentak kawan baiknya selama ini. Ia tak mengerti sama sekali. Memang tempa ini belum ia paham betul, terkadang debu terganggu oleh suara berisik yang terus terdenga, juga kerumunan orang yang selalu melewatinya. Namun, ini tempat tinggalnya, mengapa angin tidak paham itu ?

Angin pun terkejut, debu belum pernah semarah itu. Ketika ia terjebak di angin puyuh laut teduh dan hampir menjatuhkan debu pun, debu hanya meringis tanpa mengeluh sekalipun. Angin masih berusaha menjelaskannya lagi, meski sia sia saja berpikir ia bisa mengubah intonasi bicaranya “Ini bukan tempat yang baik debu, mari ikut lagi dengan..

“ Pergi kau, aku tahu kau hanya iri…”

Debu melihat ke sekelilingnya, ke suara yang selalu didengarnya, tempat yang sekarang tidak akan pernah ditinggalkannya. “ Aku tidak akan pergi. Aku berjanji.”

Hari-hari Debu kembali berjalan seperti biasa. Walau kini ia mulai menyadari perubahan pada tubuhnya, kini ia merasa tubuhnya menjadi semakin berat. Bahkan berjalan pun mulai susah dilakukan. Tetap tubuhnya tidak bisa mengalihkan perhatian dan ketertarikan Debu dengan dunia barunya. Semakin sadarlah ia sekarang kalau tempat tinggalnya  begitu penting untuk banyak orang, banyak yang datang hanya untuk menangis terisak-isak bercerita tentang masalah-masalah mereka. Tak lama, mereka akan pergi sambil mengucap terimakasih berulang kali. Dan saat itu juga Debu semakin bangga, ia senang disana.

Sekian hari berlalu, Debu mulai merasakan tubuhnya semakin sulit untuk digerakkan. Tempat favoritnya, tempat ia biasa melihat pemandangan setiap malam, kini semakin sukar ia datangi. Hari itu biasa saja, pagi-pagi ia harus bergegas sebab air akan segera memasuki tempatnya, lalu pemandangan akan segera berganti dengan kerumunan orang yang satu persatu maju tepat ke depan Debu sambil sesengukan.

“ Pak, saya gatau lagi mesti gimana..”

“ Sabar ya..”

Ya, biasa saja. Debu tahu ia tidak akan pernah rela beranjak dari tempatnya kini. Seketika itu juga hatinya menyadari. Kalau diluar keinginannya terkadang dunia bergerak melawan arahnya, meski tetap ia tak bisa menjelaskan pengulangan berkali-kali dari satu cerita yang sama. Debu meratap.

“ Debu Ini saatnya..kau harus cepat pergi…” Menundukkan sedikit kepalanya, Debu melihat angin, memandangnya dengan muka cemas, “Ayo“ Seru Angin yang mengumpulkan segenap kekuatannya agar kalimatnya bisa keluar dengan sempurna. Aku tak boleh gagap untuk sekarang, Pikirnya

Debu mulai menyadari betul kondisi tubuhnya. Tubuhnya kini, berbeda dengan pertama kali tiba, sudah membengkak, hampir menutupi tempatnya berada. “ Ada apa ini ? Jelaskan padaku Angin ! “.

“ Kau sudah terlalu lama berada di sana..”

“Memang kenapa ? “

Debu bertanya-tanya kenapa ia baru menyadarinya, ketika ia sudah menyukai tempatnya sekarang. “Tidak angin ! “

Berbarengan dengan bantahannya, debu dikagetkan oleh benda yang tiba-tiba memasuki tempatnya, bagaikan tombak yang besar menyodok kedalam, berusaha menggapainya.

Kulihat Ibu benar-benar tidak seperti biasanya, ia sudah tidak mempedulikan lagi Bi Neni yang menunggu saat untuk pamit di pintu dapur. Ia terus bercerita, dengan tatap muka tak kunjung lepas ke depan.

Debu sekuat tenaga menghindari tombak besar yang berusaha menggapainya, ia tak percaya, kenapa? “Hei Angin, kenapa ini ? “

“Kau sudah menganggu ketenangan hidup tempatmu, debu..Itulah yang terjadi jika ada yang mengusik mereka, kau akan dibuang…Kau sekedar gangguan saja dimata mereka…”

Debu terhuyung, rasa-rasanya tak sekalipun ia pernah mengusik tempat barunya, tempat yang dirindukannya selama ini. Hingga akhirnya dia menyadari maksud air-air yang selama ini disalurkan ke dalam tempatnya, mungkinkah untuk menyingkirkannya ?

Desakan tombak itu semakin ganas. Debu tetap berusaha menggerakkan badan, seiring jarak antara dia dengan pengusirnya semakin dekat. Angin terus memanggil “Ayo Debu…Sebelum terlambat !! “

Hari itu, biasa saja. Matahari bersinar menembus tempat debu, debu yang sudah lama menginginkan tempat bernaung. Debu yang bangga dengan tempat barunya. Yang sudah bosan bepergian dengan angin. Debu yang memutuskan, “Hei Angin, aku tidak akan pergi..”

“Tempat ini tidak akan mungkin pernah menginginkanku pergi, ia pun pasti lama kelamaan..lama kelamaan”

Angin melihatnya bagai dalam gerak lambat, Debu yang menerobos semakin dalam, semakin dalam, hingga akhirnya hilang dari pandangan. Mengingatkannya pada kapal-kapal yang nekat menerobos badai kencang, yang selalu ia tertawakan bersama kawannya. Yang kini melakukan hal yang sama.

Lalu hilanglah ia. Disusul oleh suara aneh, dan desakan kerumunan orang mengerubungi tempatnya. Angin menatap dengan ujung matanya, seakan ia ingin menghentikan perjalanannya juga, ia tak bisa. Sebelum jauh benar, ia masih sempat mendengar Debu yang menggali-dan menggali semakin dalam, suara berdebam mengerikan dan riuh rendah kerumunan, sebelum sunyi.

Angin

“Siapa itu tadi angin? “

“Kawan lama, yang sudah memutuskan sesuatu..dan..”

Angin menggantungkan kalimatnya dan melihat penanya kecilnya, debu yang akan mengikutinya lagi hingga tiba di tempat yang dijanjikan untuknya.

Ibu mengakhiri ceritanya persis seperti saat memulainya, lalu diam. menoleh kearah Bi Neni yang tak sengaja ikut mendengar cerita Ibu, “Besok aja itu Nen..”

“Oh Baik Bu, kalau gitu saya pulang..” Bi Neni yang bergegas keluar, masih tersentak raut mukanya setelah disadarkan dari cerita Ibu. Seperti aku, dia tak paham cerita kali ini.

“ Hei, Bu ! Bagaimana akhir ceritanya?  Debu dan angin ? “

Ibu tak menjawab, dengan teliti ia memungut pigura yang tadi kupecahkan, berjalan kearah pagar lalu menutup Pagar yang dibiarkan terbuka tadi oleh Bi Neni, kali ini dengan rapat. Ia menghampiriku, “Kau mau makan apa siang ini ? “ Ia nampak kelelahan.

-*-*-*-

Tidak banyak lagi yang bisa kujelaskan tentang Ibuku. Selain Ia pergi dengan tenang, kalau kau ingin tahu, alasan medis dan detil lainnya sempat dijelaskan dengan istilah-istilah yang terlampau sukar untukku perhatikan.

Jika kini kau bertanya tentang Ibuku, hanya itulah yang sanggup kujelaskan. Cerita terakhinya tak sempat kutanya-tanya lagi, dan kuharap kau sendiri yang bisa menjelaskan.

Kuharap kau paham maksud tulisanku ini, sehingga tak sia-sia kuingat-ingat lagi sekian banyak cerita lama. Liburanmu yang Ibu jelaskan dengan detail, diakhiri janji kalau suatu saat aku pun akan diajak serta. Pagar rumahku yang ia biarkan terbuka, berharap kalau-kalau kau akan datang, suatu saat. Dan kuharap kau paham orang seperti apa Ibu, Debumu itu. Aku harap kau paham, Ayah

Anakmu

Belum Ada Judul

Oleh: Martina Agatha

Sabtu, 7 Maret 2009. Pk. 10.00

Apa yang terlintas di pikiranmu, ketika bangun di pagi hari dan dirimu sendiri merasa sangat ‘kosong’. Seperti ada sebuah lubang menganga di tubuhmu. Semakin membesar dan akhirnya menelan dirimu sendiri. Aku membayangkan bagaimana rasanya. Takut ? Mungkin saja. Tapi ternyata tidak begitu, aku bangun, tidak merasakan apa-apa, tidak tahu apa-apa. Bukan takut, tapi ‘kosong’.

Aku hanya berdiri diam memandangi salah satu sisi dinding kamarku yang penuh dengan tempelan notes dan foto-foto. Aku berbalik dan melihat sekeliling, sebuah tempat tidur, tumpukan notebooks di pojok, kamera Polaroid di atas meja, kecuali sisi itu semua dinding berwarna putih. Tapi semua hal itu meyakinkan diriku sendiri bahwa ruangan ini memang kamarku. Jangan bertanya kenapa aku menempelkan notes dan juga foto-foto itu. Aku sendiri juga tidak tahu, tapi rasanya hal itu sudah menjadi kebiasaan yang terus berulang tanpa dirimu sendiri menyadari bahwa telah melakukannya.

Pk. 11.25

Pagi ini, dengan paksa Prana menyeretku keluar dari kamar. Dia sahabat laki-lakiku sejak SD. Hari ini kami ada janji pergi keluar. Dia begitu kesal ketika masuk dan melihatku masih berdiri di depan dinding.

“Gue aja yang nyetir. Gila, kalo nggak gue samperin, sampe malem nanti juga kayaknya masih loe tongkrongin tu tembok!” seru Prana ketika aku masuk mobil. Mukanya sudah berkerut, jelek sekali pikirku. Tapi itu yang dari dulu aku suka dari Prana, dia begitu ekspresif.

“Sorry gue sama sekali nggak inget hari ini ada janji sama loe.”

“Jangan ngomong kayak gitu dengan muka tanpa ekspresi. Maafnya keliatan nggak tulus tau!” katanya. Sudah kukatakan, aku juga tidak tahu perasaan apa yang bisa kuekspresikan.

“Tulus, kok. Muka Gue yang kayak gini udah nggak bisa diapa-apain.”

“Ah, gara-gara loe, kita nanti terlambat. Pertandingannya mulai jam 12 tahu! Kemaren kan udah janjian!”

“Kapan? Gue sama sekali nggak inget,” kataku.

“Udahlah. Percuma! Yang penting sekarang kita udah berangkat!”

“Pran, bisa berhenti sebentar nggak ? Gue mau kasih lihat sesuatu.”

“Apaan?”

Kami menepi untuk berhenti. Lalu aku menyodorkan foto-foto dan notes yang kubawa dari rumah.

“Sesuatu tuh ini? Cuma foto ama notes doang?! Sumpah, Gemma! Penting banget!”

“Jangan marah dulu. Lihat tulisan di balik foto tanggal 5!” Itu fotoku yang diambil dari ruang tamu. Prana membalik foto itu, dia juga terkejut. Aku sudah baca tulisan di balik foto itu.

5 Maret. Pk.23.38. Pembunuhan. Trash bag itu dibuang ke tempat pembuangan sampah dekat Saparua. Aku melihat potongan tangan yang tercecer lalu dimasukkan kembali. Mayatnya dipotong-potong.’

“Gue sama sekali nggak inget kalau gue pernah nulis yang kayak gitu.”

“Kok bisa?”

“Ada dua kemungkinan. Pertama, yang nulis itu bukan gue. Kedua, yang nulis memang gue dan nggak inget. Mungkin waktu itu gue shock banget. Ada orang yang memang kehilangan ingatan gara-gara kejadian traumatis,” kataku.

“Kalau bukan loe yang nulis, terus siapa?”

“Nggak tahu.” Aku melirik Prana, sekilas ia terlihat lega.

“Loe denger beritanya, Pran? Pembunuhan dengan korban dimutilasi?”       tanyaku lagi.

“Gue juga nggak tahu. Nggak pernah denger.”

“Hari ini tanggal berapa, Pran?”

“Tanggal 7 Maret. Emangnya kenapa?”

“Tanggal 7? Serius?! Ini tanggal 7?! Tanggal 7, Pran?!” tanyaku padanya. Aku begitu kaget ketika dia menyebutkan tanggal 7.

“Apaan sih, nggak usah pake diulang!” serunya.

“Waktu gue bangun gue pikir sekarang tanggal 4. Terus ternyata gue nemu foto tanggal 5 ini. Di tembok juga banyak notes tanggal 4. Jadi gue yakin ini bukan tanggal 4 atau 5. Gue pikir sekarang tanggal 6. Bingo! sekarang tanggal 7! Kok bisa?!”

“Mana gue tahu!”

“Terus apa yang gue lakuin tanggal 6?” tanyaku.

“Mmm…Kemaren lo main ke rumah gue dari siang ampe malem. Maen PS nggak berhenti-berhenti, nyokap loe sampe telefon ke rumah, kalo nggak gue anterin mungkin sampe subuh loe di rumah gue. Makanya pikiran loe agak kurang sehat pagi ini.”

“Tau nggak? Biasanya kalau sebelum orang ngomong, dia melirik ke kanan atas, artinya bohong. Waktu bohong, tanpa sadar orang itu melirik ke kanan atas karena pada waktu itu otak kiri lagi bekerja lebih keras biar dapet sebuah alasan yang logis.”

“Emang gue ngelirik ke kanan atas tadi?! Maksud loe bilang itu? Gue bohong?”

“Nggak ada maksud kok. Siapa bilang loe ngelakuin itu.”

Tadi jelas-jelas Prana emang ngelakuin hal itu, kok. Itu sudah jadi kebiasaan yang terus berulang tanpa dirimu sendiri menyadari bahwa telah melakukannya.

“Ya, udah. Pikiran loe bener-bener lagi nggak waras. Gue anter pulang deh.”

“Siapa bilang pulang. Gue mau ke tempat itu.”

“Mungkin waktu nulis itu loe lagi iseng kali, makanya sampe nggak inget! Udah kita balik aja!”

“Justru kalo gue nggak ke sana, gue kan nggak tahu gue main-main atau bukan. Cuma sekali seumur hidup, mau coba?” kataku.

“Jadi kamu mau apa? Bertindak atas nama keadilan?” tanyanya dan aku hanya balas memandangnya. Apa yang kamu maksud dengan keadilan?

Pk. 12.28. TKP.

Entah apa yang kupikirkan, entah kenapa aku begitu tertarik kalau aku memang terlibat sesuatu yang besar seperti menjadi saksi pembunuhan. Tidak tahu kenapa, bukan rasanya juga bukan karena keadilan, tapi sesuatu yang akan mengubah hidupku yang seperti ini. Aku seperti menemukan sesuatu yang bisa menutup lubang itu. Meski aku pun tidak tahu apa itu

Sepanjang jalan kami hanya berdiam diri. Aku tidak tahu ada apa dengan Prana. Dia benar-benar tidak mau ikut-ikutan dalam masalah ini. Tapi aku kenal bagaimana dirinya, justru kalau ada orang yang bisa memperjuangkan sebuah keadilan, mungkin dia memang orangnya. Banyak konsep seperti, berkorban demi orang lain di kepalanya. Itu naif. Tapi sekarang dia malah mati-matian bilang kalau tulisan di foto itu cuma keisenganku saja.

“Masih di pasangin police line. Berarti bener kan ini tempatnya. Berarti gue emang bener liat mayatnya dibuang di sini,” kataku. Aku mengeluarkan kamera polaroidku dan mengambil gambar.

Police line buat kejadian lain kali. Lagian jauh banget, ngapain loe ke sini malem-malem? Kebon binatangnya juga udah tutup! Terus mau ngapain ke sini?” tanyanya.

“Cari petunjuk mungkin, ambil gambar, tanya orang atau keliling tempat ini, siapa tahu gue inget sesuatu,” kataku sambil mengangkat bahu. Tapi jujur saja tahu bahwa tulisan foto  itu bukan karangan saja sudah membuatku senang.

“Udah lah, lagian apa yang mau dicari tuh. Semuanya sampah. Lagian jangan ngerusak TKP. Ge, kita pulang aja!”

Dengan sengaja aku pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakannya. Lagi pula aku tidak akan dengan cerobohnya merusak TKP kok. Cuma berputar dan berusaha mengingat. Kami berkeliling untuk mencari petunjuk yang kami sendiri pun tidak tahu. Kemudian datang seorang gadis, kira-kira umurnya 17 tahun, dia datang membawa karangan bunga. Ia letakkan di tanah, lalu jongkok, memejamkan mata dan berdoa. Prana mengajakku untuk menghampiri gadis itu, dia bilang sepertinya ia mengenal gadis itu.

“Nayana? Ah, bener! Loe Nayana! Ini gue, Prana!” kata Prana. Gadis itu memandang wajah Prana, mengerinyitkan dahinya. Lalu beberapa detik kemudian wajahnya berubah mirip seperti tokoh kartun dengan bola lampu yang tiba-tiba menyala di atas kepalanya.

“Prana! Udah lama banget nggak ketemu. Apa kabar?” tanya gadis itu.

“Baik, Nay! Oh, kenalin ini temen gue, Gemma.” Lalu aku menjabat tangan gadis itu.

“Kenalan loe, Pran?” tanyaku.

“Dia anak temen nyokap gue. Kita udah kenal lama,” jawab Prana.

“Nay, ngapain loe ke sini?” tanya Prana pada Nayana.

“Lagi ngedoain temen gue.”

“Yang jadi korban itu temen loe?” tanyaku.

“Temen sekelas gue. Namanya Krisna. Nggak kenal deket sih. Tapi gue nggak nyangka dia harus mati kayak gini. Kalian sendiri ngapain di sini?” tanya Nayana.

“Kayaknya mendingan gue jelasin di mobil, deh. Sekalian gue anter loe pulang aja. Gimana? Nggak apa-apa kan? Lagian udah lama banget nggak ketemu,” tanya Prana.

Akhirnya Nayana setuju untuk kami antar pulang.

“Ok, sekarang cerita kenapa kalian juga ada di sana!” katanya.

“Soalnya, gue rasa gue ngeliat langsung waktu mayatnya dibuang,” kataku.

“Itu juga belum tentu bener, kan. Udah nggak usah ngomong yang macem-macem,” seru Prana.

“Gue serius,” kataku. Lalu aku menyodorkan foto itu pada Nayana lalu ia membacanya.

“Jadi loe liat siapa pelakunya?” tanya Nayana.

“Sayangnya, nggak. Gue sama sekali nggak inget apa-apa.”

“Kok bisa? Coba inget-inget lagi deh. Siapa tahu kasus ini bisa cepet selesai,” kata Nayana.

“Percuma. Gue udah keliling. Sama sekali nggak ketemu apa-apa. Nggak ngaruh apa-apa,” sahutku.

“Kayaknya cuma ke tempat ini aja nggak cukup. Kita reka ulang aja kejadian tanggal 5. Biar loe inget,” kata Nayana.

“Percuma. Dia nggak akan inget. Lagian kayaknya repot deh, Nay!” kata Prana.

“Kalo repot, gue mau bantu kok, Pran! Lagian yang jadi korban kan temen gue, masa gue biarin aja!”

“Nggak boleh! Nay, loe nggak usah ikut, deh!” kata Prana.

“Udah, Nay! Turutin aja. Lagian Prana juga nggak mau ikut-ikutan. Iya kan, Pran?” tanyaku.

“Pokoknya, Nayana nggak boleh ikut. Lagian loe seenaknya banget sih, Ge! Loe yang liat, kok gue sama Nayana yang dibawa-bawa!” seru Prana. Kalau dia bersikeras seperti ini cuma ada satu cara. Aku melemparkan pandangan pada Nayana.

Please banget! Gue mau bantu temen gue. Kalau ada apa-apa biar gue yang nanggung. Please!” kata Nayana dengan pandangan memohon. Gadis itu benar-benar mengerti isyaratku tadi.

“Terserah deh! Ya udah, kita balik ke rumah loe, Ge! Bukan buat loe, Ge! Gue di sini bantuin Nayana sama temennya,” kata Prana. Tuh kan! Membujuk Prana sih perkara mudah. Aku mengambil notesku dan menuliskan semua yang terjadi hari ini juga bertemu dengan Nayana. Nah, sekarang siapa yang bertindak atas nama keadilan?

Pk. 14.00. Rumah.

“Silahkan, masuk. Nyokap sama Bokap gue lagi  pergi,” kataku mempersilahkan Nayana.

“Terima kasih.”

“Langsung ke kamar gue aja!”

“Maaf ngerepotin,”katanya.

Dengan sedikit sungkan dia masuk ke kamarku. Lalu perhatiannya langsung terpusat di dinding itu.

“Itu kebiasaanku. Aku juga tidak mengerti kenapa aku melakukannya. Maaf, boleh aku mengambil gambarmu?” tanyaku. Dia mengerutkan dahinya, aku mengangkat bahuku lalu dia mengangguk. Aku mengambil kamera Polaroid dan mengambil gambarnya. Lalu setelah fotonya jadi aku menulis tanggal, namanya di bagian bawah foto yang berwarna putih. Setelah itu notes yang tadi di mobil kutulis langsung kutempelkan di sana.

“Jadi loe dapet foto itu di dinding ini, Ge?” tanya Nayana.

“Bukan.”

“Jadi di mana?”

“Keselip di buku gue. Kalau nggak salah, gue buru-buru nyiapin buku kuliah gue. Waktu itu gue pikir sekarang tanggal 4, soalnya notes terakhir gue tanggal 3. Begitu lihat foto itu, gue baru sadar kalau ini bukan tanggal 4. Jadi gue akhirnya berpikir hari ini tanggal 6. Ternyata sekarang tanggal 7. Lagian gue nggak tahu notes gue tanggal segitu di mana.”

“Tuh kan, dia aja nggak inget. Percuma deh. Mendingan kita pulang, Nay,” sahut Prana.

“Nggak mau! Oh ya, Ge kapan loe mulai nulis sama nempelin notes di dinding?” tanya Nayana.

“Nggak tahu. Padahal gue sama sekali tidak ingat pernah nulis notes ini. Tapi mau gimana lagi begitu loe bangun dan semuanya sudah jadi kayak gini. Penuh notes dengan coretan tangan gue. Berarti gue memang yang nulis. Yang namanya kebiasaan kan bukan kayak memori biasa yang diingat oleh otak,” kataku.

“Memangnya bisa. Gue sama sekali nggak ngerti,” kata Nayana.

“Loe bisa naik sepeda?” tanyaku.

“Iya. Memang kenapa?”

“Udah berapa lama loe nggak naik sepeda?”

“Mungkin sekitar 6 atau 7 tahun. Pokoknya sudah lama sekali.”

“Tapi kalau gue nyuruh loe naik sepeda lagi, apa masih bisa?” tanyaku lagi

“Mungkin masih bisa.”

“Nah itu cara kerjanya. Kebiasaan akan diingat seperti itu oleh otakmu, bukan dalam bentuk informasi biasanya yang bisa hilang.”

“Oh, begitu!”

Lalu dia berkeliling dan melihat buku-bukuku.

“Kamu mahasiswa kedokteran, ya?”

“Mau jadi dokter apa?” tanya

“Forensik. Tapi aku juga berminat pada neurosains.”

“Kalau Prana? Mahasiswa kedokteran juga? Habis terakhir kita ketemu waktu kamu SMP.”

“Bukan, aku sih mahasiswa ekonomi, kami nggak satu kampus. Kita temen sejak kecil, kok.”

Lagi-lagi kami mencari petunjuk yang sama sekali kami tidak tahu seperti apa itu. Kami sudah membaca berulang-ulang notes-notes yang tertempel di kamarku. Aneh, aku ingat tanggal-tanggal ini tapi aku tidak pernah ingat kalau aku menulis notes ini, lagi pula ada beberapa notes yang aku sendiri tidak sadar kapan aku melakukan hal yang semacam itu.       Aku juga menemukan banyak notes dengan tanggal 4 Maret. Sumpah! Memangnya aku pernah menulis notes-notes ini ? Pertanyaan yang sama terus muncul saat aku membaca satu per satu notes dan memperhatikan fotonya, sama seperti aku bangun tadi pagi dan langsung melihat dinding ini. Kami menjelajahi setiap inci kamarku.

“Laper nggak, Nay?” tanyaku, dia mengangguk malu-malu. Aku melayangkan pandanganku pada Prana.

“Iya, iya. Gue berangkat!” katanya lalu mengambil kunci mobil di meja dan bergegas pergi. Dia memang bisa diandalkan.

“Duh, maaf ngerepotin. Kalau gue yang beli gimana?” tanya Nayana sambil menawarkan diri.

“Nggak usah, loe tunggu di sini!” kata Prana.

“Maaf ngerepotin, Pran.” Kupikir mereka punya kemiripan. Sama-sama memikirkan orang lain ketimbang diri sendiri. Prana juga mau meladeniku, Nayana juga susah payah demi teman yang tidak ia kenal dekat. Naif.

“Nihil, sekarang udah jam 5 dan kita belum ketemu apa-apa,” kataku.

“Ketemu!!! Gue nemuin foto tanggal 5 lagi tapi tidak ada notesnya. Foto ulang tahun loe juga. Hampir sama dengan foto tanggal 5 yang satu lagi. Ini diambil di ruang tamu, ya?  Nih terselip juga di buku loe. Memangnya loe belum nyari di sini?” tanya Nayana.

“Belum sempat, gue cuma nemu foto itu terus Prana datang nyeret gue keluar. Boleh lihat fotonya?” Mirip, seperti foto yang diambil dua kali berturut-turut.

“Mmm…Ge, boleh numpang ke kamar mandi nggak?”

“Kamar mandinya dekat dapur. Gampang kok nemuinnya.”

Nayana keluar dari kamarku. Aku membalik foto yang baru ditemukan. Tidak ada tulisan apapun. Aku masih memandangi kedua foto itu ketika Nayana kembali.

“Lucu, deh! Semua kalender di rumah ini harus diganti! Gue baru sadar tadi waktu gue ke kamar mandi,” kata Nayana. Aku heran pada perkataannya.

“Memangnya kenapa, Nay?”

“Lihat kalender di kamar loe juga! Beli kalender 2009, dong!”

“2009?” tanyaku. Mendadak aku terkejut. Perutku rasanya tidak enak, kalau aku biarkan maka seluruh isi perutku akan menyembur keluar. Prana, kenapa dia bohong padaku? Apa yang dia tutupi? Semuanya seolah kembali tersedot masuk ke otakku.

“Bantu gue cari notes lainnya. Cari di seisi rumah!” kataku.

“Memangnya kenapa?” tanyanya.

“Udah, cari saja.”

Pk. 18.20

“Gue pulang! Ge, Nay?” Terdengar suara Prana dari arah depan. Aku dan Nayana menunggunya di ruang tengah.

“Nih makan dulu. Lanjutin carinya nanti lagi. Pokoknya pasti kita bantuin temen loe. Kasihan, dia gadis yang malang!” kata Prana.

“Iya, terima kasih,” sahut Nayana.

“Oh, temen loe itu cewek, Nay. Gue aja nggak tahu korbannya cewek ato cowok. Tapi dari namanya gue pikir dia laki-laki. Hebat loe, Pran. Tahu dari mana kalau temen Nayana itu perempuan?” tanyaku. Lalu Prana tersentak.

“Tahu dari berita!” katanya.

“Loe bilang nggak tahu berita tentang kasus ini, Pran. Lagian loe nggak pernah ngomong ke Prana kan, Nay?”

“Hah?” kata Nayana heran lalu menggeleng.

“Gue mau tanya,Pran. Buat apa loe bohong waktu gue tanya apa yang gue lakuin tanggal 6?”

“Siapa yang bohong, memang benar kok.”

Lalu aku menyodorkan foto itu padanya.

“Ini foto gue waktu gue ulang tahun.”

“Ini kan foto tanggal 5. Apa hubungannya aku bohong atau nggak tentang loe ngapain tanggal 6 Maret.”

“Ini bukan foto tanggal 5. Tapi foto tanggal 6 yang dibuat untuk tanggal 5. Kalau foto yang sebaliknya ada tulisan itu memang tanggal 5.”

“Ngaco! Dasar bocah sok tahu! Kok bisa itu foto diambil tanggal 6.”

“Lihat deh, koran yang ada di kursi ruang tamu.  Beda kan? Meski nggak terlalu kelihatan tapi jelas banget kelihatan beda foto headline. Setelah aku mencari-cari ke seluruh rumah, aku menemukan koran ini di tumpukan koran yang ada di ruang tamu. Ini koran tanggal 6. Ini koran tanggal 5. Coba  bandingin sama di foto,”kataku.

“Terus kalau memang gue bohong memangnya kenapa? Nggak ada alasan khusus, gue bohong biar lo nggak mikir macem-macem aja. Nggak masalah kan?” tanya Prana.

“Kalau semuanya udah jadi kayak gini. Kemungkinannya ada dua kan, Pran? Pertama, loe emang bareng-bareng liat hal itu bareng gue.”

Aku berhenti lalu kami bertiga sama-sama diam. Tapi Nayana memandang tajam padaku.

“Kemungkinan keduanya apa, Ge?!” serunya.

“Atau kemungkinan keduanya…” kataku sambil memandang Prana.

“Jadi Prana?” kata Nayana memotong perkataanku lalu memandang tajam pada Prana.

“Gue bukan pembunuhnya!” kata Prana.

“Kemungkinan keduanya Prana sendiri yang ngelakuin kan, Ge? Makanya loe sampe bisa lihat waktu dia ngebuang mayat temen gue! Bener kan, Ge?! Buktinya udah jelas tahu, Pran!” seru Nayana padaku.

Prana menggeleng. Namun Nayana sudah bergerak mencengkram baju Prana.

“Tunggu dulu, Nay. Memang siapa yang bilang Prana pelakunya?,” kataku. Mendengar hal itu Nayana lalu melepaskan cengkramannya.

“Terus siapa? Jangan main-main dong, Ge!” kata Nayana dengan wajah yang bingung setengah mati.

“Pelakunya Gue,” jawabku.

Prana hanya terdiam dan aku hampir tertawa meledak melihat wajah Nayana.

“Iya memang loe. Game over! Permainan gila loe cukup sampe di sini. Sekarang biarin Nayana pulang. Biar gue yang atasin semuanya,” kata Prana lalu menarik tangan Nayana.

“Tunggu, Pran! Permainan apa?!” tanya Nayana nyaris setengah berteriak sambil melepaskan tangannya dari Prana. Lalu memandang aku dan Prana bergantian.

“Gue nggak ngerti. Kalian jangan main-main deh!” Dan sekarang dia benar-benar berteriak.

“Ini memang permainan, Nona. Memang gue yang bunuh teman loe.”

“Buat apa loe bunuh Krisna. Dia kan nggak salah apa-apa sama loe! Kenapa dia yang harus loe jadiin objek buat permainan loe. Nggak masuk akal!”

“Semuanya ada alasan masuk akal kok. Demi kesenangan gue, jadi dengan sangat gue berterima kasih sama teman loe yang udah memberikan kesenangan buat gue sebesar ini.”

“Memangnya loe nggak punya kesenangan lain apa?!”

“Punya, tapi sayangnya gue nggak akan bisa inget. Semua jawabannya ada di foto itu semua dan koran tanggal 5. Buka deh semua halaman. Dan lihat artikel yang kuberi tanda dengan bulatan berwarna merah,” kataku. Nayana mengambil koran itu lalu membukanya dengan terburu-buru.

Anterograde amnesia?” tanyanya lalu menoleh pada Prana. Ia membuka koran itu dan menemukannya.

“Ketidak mampuan otak untuk meyimpan informasi baru. 5 Maret 2006 yang lalu ia kecelakaan dan luka parah di kepalanya,” sahut Prana

Aku mendekati Nayana. Dia masih tetap diam bergeming. Jelas sekali ada kemarahan dalam dirinya yang sebentar lagi akan meledak. Itu membuatku semakin senang.

“Loe tahu gimana informasi baru diproses oleh otak, Nay?” tanyaku. Lalu ia diam saja, masih dengan pandangan tajamnya kearahku.

“Baiklah. Gue kasih tahu. Sebuah informasi baru nggak akan langsung simpan dalam otak. Itulah kenapa loe nggak akan inget orang yang loe temuin sekali lewat. Informasi baru akan masuk ke bagian otak yang disebut hippocampus, letaknya di bawah medial temporal lobe setelah itu baru informasi baru itu akan masuk ke memori otak. Loe harus masukin informasi baru itu berulang-ulang, lalu hipocamfus akan membuat memori baru yang akan masuk ke dalam memori otak untuk penyimpanan jangka panjang. Hippocamfus gue rusak, ingatan jelas hanya pada tanggal 4 Maret 2006 dan sebelum-sebelumnya. Pagi ini gue inget kalau hari ini tanggal 4 Maret 2006 padahal sekarang tanggal 7 tahun 2009. Gue baru tahu dari loe kalau sekarang tahun 2009.”

“Kamu bohong, kan?” tanya Nayana.

`           “Buat apa? Gue aja baru tahu kalau gue ngebunuh hari ini. Keren kan?  Wajah teman loe aja gue nggak tahu. Seneng banget hari ini gue ketemu loe.”

“Lalu yang kalian sebut ‘permainan’? Tapi bukannya loe yang cari petunjuknya?”

“Semua gue yang buat, pembunuhan itu dan juga pencarian pentunjuk itu. Ingatan baru gue terbatas, biasanya tahan beberapa jam atau cuma sehari. Bukannya ini permainan!? Gue yang buat dan gue berusaha memecahkannya sebelum gue kehilangan ingatan baru.”

“Loe gila! Membunuh itu harus ada motif, benci, dendam yang terakumulasi. Orang macam loe mustahil kan? Loe aja nggak inget apa-apa.”

“Memang.  Tapi cuma ini cara bersenang-senang. Coba loe banyangin setiap pagi, loe bangun dan sama sekali nggak tahu apa-apa, nggak ngerasain apa-apa, nggak ingat apa-apa. Terus gue berpikir tentang sesuatu yang membekas seumur hidup meski gue nggak inget. Dosa. Rasa bersalah dengan membunuh. Dan berhasil, meski nggak ingat, gue yakin ini pertama kalinya gue sesenang ini.”

“Bohong!!” teriaknya.

“Itu bener, Nay.  Waktu tanggal 5 kemaren, nggak sengaja Gemma tahu kalau dia Anterograde amnesia dari koran ini.

“Biar gue tebak kronologisnya. Tanggal 5, gue nggak sengaja baca koran itu. Gue marah terus keluar rumah bareng loe. Gue berkali-kali tahu dan gue berkali-kali lupa. Mungkin sudah ribuan kali aku marah seperti itu. Dan akhirnya setelah pembicaraan panjang. Akhirnya gue buat rencana. Membunuh gadis itu menuliskannya di foto tanggal 5 Maret, menyelipkan foto itu di buku mata kuliah yang biasa kubawa tanggal setiap 4 Maret.  Kalau itu tidak berhasil, gue nyuruh loe bilang kalau tanggal 6 gue ulang tahun, gue tulis foto itu sebagai tanggal 5. Dari situ kita mulai. Gue nemu foto tanggal 5 itu terus kita mencari petunjuk. Terus gue nemu foto satu lagi. Gue nemu petunjuk. Gue cari semua koran itu, gue juga lihat artikel itu dan seandainya gue nggak ketemu loe gue akan sadar kalau ini tahun 2009 dari semua koran ini. Gue dapat bukti kalau memang gue amnesia juga dari notes yang kebanyakan tanggal 4. Benar?” tanyaku pada Prana. Dia mengangguk. Aku tersenyum puas. Aku bisa merasakan baru kali ini aku benar-benar bisa tahu apa yang harus kuekspresikan.

“Kalian gila! Gue bakal lapor polisi.”

“Kayaknya nggak bisa deh. Gimana kalau setelah membunuh gue ketagihan? Ingat ceritaku tentang keahlian naik sepeda. Bagaimana gue ngebunuh diingat sama otak gue, diingat oleh tubuh gue. Jadi kita coba permainan lain sekali lagi. Gue seneng banget ketemu loe dan permainan gue ini jadi lebih sempurna. Loe itu faktor x yang bikin semua kemungkinan jadi pasti. Rencanaku memang sebatas kemungkinan, tapi berhasil kan?”

Nayana lalu memandangku dengan ketakutan. Kemana keberanianmu itu, Nona? pikirku. Lalu ia memandang Prana dengan tatapan memelas seperti seseorang berharap pada pahlawan penyelamat.

“Maaf, Nay,” kata Prana.

Aku benar-benar senang. Ini yang akan merubah hidupku. Ini yang bisa menutup lubang itu.

Semua orang bisa menikmati setiap detik dalam hidupnya, mengingat dan mengingat lagi semuanya. Tertawa lagi, menangis lagi, tersenyum lagi. Apakah aku melakukannya untuk keadilan? Kurasa ya, untuk diriku sendiri. Jadi apa yang kamu maksud dengan keadilan?

Minggu, 8 Maret 2009. Pk. 08.00

Sekarang tanggal 4 Maret, berarti besok aku ulang tahun pikirku. Aku hanya berdiri diam memandangi salah satu sisi dinding kamarku yang penuh dengan tempelan notes dan foto-foto. Kali ini aku bangun di pagi hari dan sangat ‘kosong’. Seperti ada sebuah lubang memenganga di tubuhmu, semakin membesar dan akhirnya menelan dirimu sendiri. Aku membayangkan bagaimana rasanya, takut mungkin. Tapi ternyata tidak begitu, aku bangun, tidak merasakan apa-apa, tidak tahu apa-apa. Bukan takut, tapi ‘kosong’. Tapi kali ini lubangnya terasa sedikit lebih besar dan menakutkan.

Ini Hidupku ini kisahku…

Oleh: Lia

Aku tinggal di sebuah desa kecil di sebelah Selatan Amerika, di sebuah gubuk kecil yang kunamai rumah.

Rumahku tak besar namun juga tak bisa dikatakan kecil. Apalah arti sebuah rumah jika hanya aku seorang yang tinggal di dalamnya. Jangan kau tanya di mana suami dan anggota keluargaku yang lain. Perang yang dingin telah merampas mereka secara kasar dariku.

Akh… sudahlah! Aku tak ingin mengingat-ingat cerita tragis yang diceritakan berulang-ulang oleh semua orang. Toh bagiku perang tak benar-benar bisa merenggut mereka dariku, setidaknya di sini. Aku masih menyimpan semua benda-benda milik mereka dengan rapi. Aku masih mengingat dengan jelas baju kesukaan suamiku dan jaket kesayangan anakku. Aku selalu mencucinya setiap minggu,kalau-kalau suatu waktu suami atau anakku pulang dengan kaki pincangnya ataupun dengan tangan terbalut, benda-benda kesayangan itu akan menyambut mereka di sini bersama cintaku. Bayangan itulah yang selama ini membuatku sanggup melalu hari-hari sepiku.

Setiap sore setelah semua pekerjaan rumah tangga selesai kukerjakan, aku akan duduk di tengah padang rumput di depan rumahku. Ladang itu adalah saksi bisu betapa hangatnya keluarga kami sebelum perang terkutuk itu membawa mereka pergi dibalut angin dingin bulan November malam itu.

Di ladang itu juga kupancangkan sebatang salib dari pohon tua yang dulu ditanam dengan penuh kasih oleh suamiku. Kujadikan itu penanda bahwa aku tak sendirian, bahwa pasti masih akan terus ada harapan selama aku terus berharap. Seperti sore ini.. matahari yang begitu hangat menemaniku tersenyum memandang ke arah jalan dan menantikan belahan hatiku kembali. Sambil tak lupa kudendangkan sebaris lagu..

telah terlambat menanyakan sebab..

sebab tlah lelah mencari penyebab..

apa yang akan terjadi nanti..

nanti saja berpikir dan merenungi..

bagaimana semua harus dijalani..

jalani seperti hanya ada hari ini..

(Bandung,2009-01-26 )

Related posts

*

*

Top