KRISIS MAHASISWA INDONESIA

“Pak, kenapa sih kita masih harus pusing-pusing mikirin Indonesia mau jadi apa? Toh kalau misalnya Indonesia bubar kan kita tinggal pindah ke negara lain?”seorang mahasiswa Indonesia di sebuah kelas mata kuliah Kewarganegaraan, Juni 2008

Peran Mahasiswa Indonesia sekarang ini sedang dalam taraf yang bisa dibilang cukup membingungkan, penuh dengan pertanyaan serta keragu-raguan. Setelah arus reformasi 1998 bergulir, mahasiswa yang menjadi salah satu simpul perubahan besar bangsa ini mencoba menemukan lagi bentuknya. Tentunya sebuah format yang peran serta fungsinya memang sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini.

Tahun 2008 ini hadir dengan sederet momentum peringatan yang cukup penting bagi bangsa Indonesia: 100 tahun Kebangkitan Nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda dan 10 tahun Reformasi. Namun yang datang kemudian bukanlah selebrasi yang mewah-meriah-membahana menghinggapi bangsa ini, akan tetapi sebuah kenyataan pahit yang menghampar di depan: Krisis.

Sudah tidak ada lagi pihak yang bisa lagi mengelak: Krisis benar-benar terjadi! Kita semua dikagetkan oleh meroketnya harga-harga terutama minyak dunia. Analis memperkirakan $ 200 per barel adalah angka yang mungkin dicapai. Lebih dari 50 negara di dunia mengalami lonjakan tingkat inflasi di atas satu digit termasuk Indonesia. Namun dalam sekejapan mata semua berubah drastis. Di awali oleh apa yang dikenal sebagai krisis sub prime morgage, harga-harga berjatuhan. Minyak jatuh hingga menembus angka di bawah $ 50 per barel. Kontraksi dan resesi ekonomi melanda hampir seluruh pusat kapitalisme dan tentu daerah-daerah pinggirannya. Semua panik, pasar finansial bergejolak jatuh, para pemimpin berkumpul merunding sambil merinding, dan mereka kaum penjual tenaga memandang lesu masa depannya yang memang tak pernah terang. Ekonomi yang mengangkangi politik terjungkal deras, saatnya yang politik kembali ke muka!

Jalannya sungguh tak mudah! Di negeri kita sendiri, perpolitikan terus saja berpusat pada kepentingan elit untuk mendapatkan kekuasaan semata. Pelembagaan politik dan reformasi birokrasi terus diabaikan. Partai-partai yang bermunculan untuk Pemilu 2009 pun lebih berbau kendaraan politik daripada sebuah perangkat demokrasi. Pendidikan politik mati! Maka hasilnya pun jelas: himpunan massa yang lebih dominan bahkan menelan habis kemenjadian (existence) warga negara. Kekisruhan pilkada di berbagai tempat kami kira cukup menjelaskan bahwa kekuasaan di negara ini tidak disandingkan dengan kebijakan, dan bagi massa yang dominan itu kekerasan sudah menjadi bahasa utama ketika memperjuangkan kepentinganya.

Mahasiswa adalah salah satu katalisator bagi perubahan bangsa. Berdiam diri tentunya bukanlah pilihan. Sayangnya dalam proses mencari bentuk setelah Reformasi 1998, mahasiswa pada akhirnya terhimpit pada dua masalah kecil yang dibesar-besarkan, pada dirinya sendiri, yaitu apatisme dan banalitas aksi. Kutipan pembuka dalam tulisan ini kami kira cukup menggambarkan tentang kondisi apatis mahasiswa Indonesia saat ini. Sistem pendidikan di kampus-kampus di alam demokrasi lebih berorientasi pada kepentingan pasar dan mengutamakan transaksi ilmu pengetahuan (teks) semata serta mengabaikan transaksi nilai (yang politik). Depolitisasi kampus gaya ‘demokrasi ‘ yang positivistik macam ini membuat kondisi apatis menjadi semakin sahih. Keberpihakan adalah kesia-sian jika bukan dosa. Ketiadaan atau kerancuan nilai-nilai (yang politik) akan mencerabut (disembeded) mahasiswa dari akar masyarakatnya. Kampus harus direbut kembali untuk terus di isi, diuji dan dimaknai dalam nilai-nilai dan semangat baru. Jika kampus tak juga beranjak berubah, jangan berani berharap seorang ‘Obama’ dapat lahir dari kampus semacam itu.

Bertolak dari apatisme mahasiswa tadi, dapat kita temui juga kelompok mahasiswa yang tetap mencurahkan perhatianya pada kondisi bangsa. Namun banyak dari aksi yang mereka lakukan akhirnya terjebak pada banalitas. Mereka lebih bersifat reaktif daripada responsif. Lebih bersifat massa yang marah dari pada warga negara yang sadar. Lalu terjerumus pada heroisme-heroisme dangkal yang meniadakan pemahaman mendalam. Dalam demokrasi kita dituntut untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan akan bentuk perjuangan yang lebih kreatif, berimajinasi dan tidak monoton apalagi mengutamakan kekerasan. Suatu bentuk yang lebih apresiatif bagi masyarakat sekarang walau tidak pula berarti menurunkan bobot spririt dan daya dobraknya. Sebuah tesis terkenal dari Marx bahwa “bukan saatnya lagi untuk meneliti dunia, akan tetapi saatnya untuk mengubah dunia” seringkali digunakan sebagai pembenaran banyak kawan-kawan. Jika saja Marx masih hidup tidak salah juga ketika kita menyeletukinya: “Bisakah kita secara benar mengubahnya, bila kita tidak cukup memahaminya?

Apatisme dan banalitas menempatkan mahasiswa pada kondisi yang serba salah. Seakan-akan tidak bisa tidak harus jatuh pada salah satunya. Di saat bersamaan perkembangan-perkembangan keadaan apakah itu politik, ekonomi, sosial , budaya dan lainnya terasa benar semakin mencemaskan. Pertumbuhan ekonomi terakhir boleh jadi masih menunjukan positif di atas 6 % (November 08) namun suasana krisis begitu membayangi bagai awan mendung nan buram kelabu di atas langit Jakarta yang rawan banjir. Menjadi pertanyaan kemudian apakah bangsa ini atau malah mahasiswa Indonesia yang sedang berada di tengah krisis?

Ketika kita membicarakan tentang mahasiswa kita tidak bisa mengacuhkan akan sifat kesementaraan yang dimilikinya. Status mahasiswa yang diperoleh seseorang tidak akan bisa berlangsung selamanya. Kita bisa melihat ini sebagai kelemahan mahasiswa sebagai kelompok penekan. Sebaliknya ini juga menjadi kelebihan tersendiri. Dengan sifat kesementaraan ini, seorang mahasiswa dihadapkan kesadaran akan batas yang dimilikinya, bahwa mereka sebenarnya juga tak lebih dari warga negara yang mempunyai privileges menggunakan baju mahasiswa. Tak terlalu berlebihan jika dapat lebih jernih dalam tuntutanya akan kebenaran.

Lalu apa yang dapat kita lakukan di tengah himpitan apatisme dan banalitas aksi, sifat sementara serta tuduhan kerapkali ditunggangi? Jawabannya sungguh tidaklah mudah. Namun satu hal yang perlu diingat bahwa mahasiswa Indonesia tidak boleh tercerabut dari hakikatnya sebagai Intelektual muda, warga negara serta bagian dari masyarakat (yang membedakanya dari kekuasaan). Itulah posisi mahasiswa . Dengan tidak diingkarinya ketiganya tersebut maka peran mahasiswa dalam situasi krisis ini pun semakin jelas. Seorang cendekiawan Indonesia (Alm.) Soedjatmoko dalam buku Cendekiawan dan Politik (1983) membahas secara baik akan sumbangan yang dapat diberikan: Perombakan pada pencerapan bangsanya terhadap permasalahan yang dihadapi, merombak kemampuan bangsa untuk itu, untuk memberikan jawab terhadap masalah-masalah baru, dalam merombak syarat-syarat yang akan digunakan untuk menetapkan besar dan macamnya bea yang harus dibayar di dalam perjuangan politik, dalam merumuskan persoalan di sekitar kekuatan-kekuatan politik dan menentukan anak tangga kekuatan politiknya sendiri, merombak kriteria pemimpin serta merombak syarat-syarat evaluasi perbuatan pemimpin.

Dari sini kita bisa mengatakan bahwa masih banyak sekali peran mahasiswa yang bisa dipenuhi daripada sekedar terjebak pada apatisme dan banalitas. Masalah pendidikan politik kepada warga negara yang lain sebenarnya bukan murni tugas dari partai politik, pemerintah maupun media saja. Mahasiswa harus berperan serta dalam pendidikan tersebut. Dalam perjuangan nilai yang diembannya, mahasiswa tidak bisa hanya terpaku pada satu cara saja. Keluwesan-keluwesan berupa ktreatifitas, imajinasi serta melihat lebih dalam akan kondisi masyarakat pun diperlukan di sini. Selain itu, mahasiswa pun diharapkan bisa mendorong perjuangan baikdi tingkat komunal maupun inter-komunal. Jadi tidak hanya menyatukan banyak organisasi dalam satu komando, melainkan malah mendorong (encourage) agar lebih banyak terbentuk alat-alat perjuangan yang lebih sesuai dengan kondisi sosio-kultural masing-masing elemen sosial. Dan yang terakhir melalui jalan dialog, suatu strategi diskursus mengupayakan menggagas suatu platform bersama, suatu cita-cita bersama untuk menyatukan gagasan dan perjuangan dari berbagai macam elemen kekuatan sosial yang ada.

Pada akhirnya, jika kita mahasiswa Indonesia dapat memenuhi mandat kediriannya, maka dengan hati yang lebih yakin kita pun dapat menjawab tanggapan dari seorang mahasiswa Indonesia pada sebuah kelas mata kuliah Kewarganegaraa di atas. Seperti yang dikatakan Albert Camus: “Saya ingin dapat mencintai negeri saya dan tetap mencintai keadilan. Karena tidak tiap orang bisa pindah ke negara lain”.

– MEDIA PARAHYANGAN

Related posts

*

*

Top