Korea Utara, Di Antara Ketertutupan dan Keagungan Sang Pemimpin

Pemimpin Korut, Kim Jong Un (kiri) dan pejabat senior PartaI Komunis Cina, Liu Yunshan saat peringatan 70 tahun berdirinya Partai Pekerja di Pyongyang (Ibu Kota Korut), 12 Oktober 2015. Dok/ REUTERS/KCNA Pemimpin Korut, Kim Jong Un (kiri) dan pejabat senior PartaI Komunis Cina, Liu Yunshan saat peringatan 70 tahun berdirinya Partai Pekerja di Pyongyang (Ibu Kota Korut), 12 Oktober 2015. Dok/ REUTERS/KCNA

INTERNASIONAL, MP – Nuklir bukan satu-satunya ciri khas Korea Utara (Korut) yang sering menuai kontroversi. Ketertutupan dan Keagungan Presiden Korut sering kali menimbulkan berbagai pertanyaan dan kontroversi. Kedua hal ini pun mempengaruhi masyarakatnya dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam hal ekonomi, teknologi, dan budaya.

Ketertutupan Korut memang sudah menjadi hal yang turun menurun. Dari satu presiden ke presiden lainnya. Kim Il Sung, Kim Jong Il, dan bahkan Kim Jong Un pun memperlihatkan konsistensi dalam menjalan ketertutupan negara ini. Lalu bagaimana sebenarnya kehidupan di dalam negara tertutup ini?

Kim Il Sung, atau yang lebih kerap disapa dengan sebutan “The Great Leader” atau Sang Pemimpin yang Hebat ini ternyata mengambil peran penting dalam basis kehidupan masyarakat Korut. Setelah kematiannya pada tahun 1994, uniknya Kim Il Sung tetap menjabat sebagai presiden negara tersebut.

Beliau kemudian dinobatkan menjadi “Eternal President” atau Presiden Kekal Korut melalui amandemen konstitusi negara tahun 1998. Hal tersebut menobatkan Kim Il Sung sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Korut untuk selamanya. Tidak berhenti sampai di situ, sistem penanggalan di Korut pun didasarkan pada eksistensi dirinya. Pada tiga tahun hari jadi kematiannya, Korut mengadaptasi kalender baru yang disebut dengan Juche. Singkatnya, tahun kelahiran Kim Il Sung yang pada kalender Masehi ialah 1912 berubah menjadi “Juche 1” pada sistem tersebut.

Keagungan sosok pemimpin mereka pun terlihat dari hal-hal kecil lainnya, seperti nama dua jenis bunga bernama Kimilsungia dan Kimjongilia di Korut yang menyerupai nama para presiden, sebutan “The Great Leader” untuk Kim Il Sung dan “The Dear Leader” atau Pemimpin yang Dikasihi untuk Kim Jong Il dan “Outstanding Leader” atau Pemimpin dengan Kinerja yang Luar Biasa untuk Kim Jong Un , lalu penulisan nama ketiga pemimpin ini yang harus selalu bercetak tebal.

Sistem pendidikan di Korut banyak menawarkan pelajaran mengenai ideologi. Hal ini terlihat dari mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum sekolah yang menjunjung tinggi keagungan tindakan dan kehidupan ketiga pemimpin tersebut. Selain itu, anak-anak di Korut juga cenderung berpola pikir bahwa mereka memiliki musuh, yaitu Amerika Serikat (AS) si Imperialis, Jepang si Militaris, dan Korea Selatan (Korsel) si Pengkhianat.

Korut juga tidak mengizinkan penggunaan buku pelajaran yang berbahasa asing, terutama dalam bahasa Inggris dan bahasa Rusia karena dianggap berpotensi memberikan informasi berbahaya. Mirisnya, orang tua yang ingin menyekolahkan anak mereka pun diharapkan untuk menyediakan meja, kursi, uang untuk membayar penghangat dan juga bahan bangunan.

Di sisi lain, beberapa anak juga terkadang disuruh bekerja untuk pemerintah dan orang tua mereka dapat menyuap guru guna menarik anak-anak mereka dari pekerjaan tersebut ataupun dari sekolah itu sendiri. Walaupun begitu, sebenarnya tindakakn ini melanggar kebijakan resmi pendidikan di Korut.

Masih banyak masyarakat Korut yang memiliki pendapatan yang sangat minim. Penghasilan para petani dan pekerja biasa hanya berkisar 2 hingga 3 dolar AS atau 27.108 hingga 46.662 rupiah (nilai pertukaran 21 Februari 2017) per bulannya. Kemudian, masyarakat Korut juga dilarang untuk mengakses dunia maya di internet sehingga kebanyakan dari mereka tidak mengenal internet. Namun, pemerintah menyediakan jaringan serupa yang disebut intranet  dan bersifat lebih internal.

Intranet disebut juga Kwangmyong, dirilis tahun 2000 dan berisi fasilitas seperti mesin pencari, berita, surat elektronik, dan browser. Sejauh ini, Korut hanya memiliki 28 situs untuk diakses. Karena terbatasnya akses internet, penggunaan telepon genggam pun akhirnya hanya sebagai sumber cahaya ketika listrik padam.

Pada tahun 2013, listrik di Korut juga belum bisa diandalkan karena hanya ada selama beberapa jam tiap harinya di daerah-daerah tertentu. Bagi masyarakat yang berkecukupan, mereka biasanya memiliki dua televisi; satu khusus untuk menayangkan siaran propaganda politik Korut, sementara yang satu lagi untuk menonton program televisi Korsel secara ilegal.

Terkait soal teknologi, Korut juga masih tertinggal. Di era modern ini, kebanyakan rumah dan apartemen tidak menggunakan penghangat, melainkan perapian. Toilet duduk pun masih jarang ditemui. Di jalan raya, trotoar dibersihkan secara manual dengan sikat dan kain lap.

Sesuai dengan isu gender, para pria Korut diwajibkan untuk pergi bekerja walaupun tidak dibayar. Begitulah kebijakan dari Partai Kerja Korea (WPK) dan semua pria harus menaatinya terlepas dari ketidakadilan yang dihasilkan. Untuk itu, perempuan secara otomatis menjadi pihak yang harus mengurusi segala kebutuhan rumah tangga, mengingat pria yang disibukkan dengan pekerjaan.

Pria juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada anggota keluarganya yang melakukan tindakan berlawanan dengan kebijakan WPK. Salah satunya dimulai dari dirinya sendiri, yaitu untuk tetap harus bekerja, bahkan jika mereka harus mati kelaparan karena tidak dibayar. Istri tidak boleh mengurusi apa yang dilakukan suaminya di luar rumah.

Apabila suami melakukan kekerasan terhadap istri, pemerintah tidak mau mengurusi. Ketika suami atau istri didapati melakukan hal yang bertentangan dengan WPK, maka perceraian harus dilakukan. Ideologi partai politik menjadi sangat penting, lebih penting dari hubungan pribadi antara suami dan istri.

ERIANA ERIGE | TANYA LEE NATHALIA | HUFFINGTON POST | BBC NEWS | TELEGRAPH UK | THE GUARDIAN | EXPRESS UK | US NEWS

Related posts

*

*

Top