Konser Tunggal Bon Iver Berhasil Hipnotis Penonton

Suasana panggung konser Bon-Iver. Dok.  acltv.com Suasana panggung konser Bon-Iver. Dok. acltv.com

Penonton dibuat terhipnotis oleh band Indie folk asal Amerika, Bon Iver, dalam konser tunggal mereka yang diselenggarakan di Singapura pada Jumat, 26 Februari 2016.

Konser tunggal Bon Iver di Singapura merupakan salah satu bagian dari rangkaian tur Asia 2016 yang dilakukan oleh band yang dibentuk sejak 2007 lalu. Singapura sendiri menjadi negara ketiga yang dikunjungi Bon Iver setelah Korea Selatan dan Taiwan. Konser band yang dibentuk oleh musikus asal Wisconsin, Justin Vernon ini diselenggarakan di sebuah gedung teater di Singapura yaitu The Star Theatre. Dalam konser tunggalnya kali ini, Bon Iver berhasil membuat  5000 orang penonton menikmati aksi panggung mereka.

Pada awalnya, penonton dibuat khawatir karena pertunjukan yang seharusnya dimulai pada pukul 8 malam tidak kunjung berlangsung. Namun, setelah kurang lebih setengah jam menunggu, suasana teater yang gelap dan sunyi tiba-tiba dikagetkan dengan hadirnya suara vocoder yang tumpang tindih seperti saat seorang anak kecil mencoba memainkan piano untuk pertama kalinya. Akan tetapi, bukan anak kecil melainkan seorang prialah yangmemainkan instrumen tersebut. Panggung yang masih gelap gulita seketika berubah sedikit demi sedikit ketika sebuah lampu sorot berwarna biru mulai menyala dan mengungkap sosok itu. Justin Vernon dengan pakaian kasualnya berupa kaos, celana jeans, dan dilengkapi dengan sebuah topi mulai terlihat di atas panggung.

Setelah beberapa menit memainkan vocoder tanpa suara vokal, seketika penonton dibuat bergidik merinding ketika ia mulai bernyanyi. “I’m up in the woods, I’m down on my mind…”. Paduan vocoder, effect  vocal, synthesizer, dan loop machine berhasil mengemas lagu “Woods” yang biasanya membuat kantuk dan terkesan membosankan ketika didengarkan, berubah 180 derajat. Penampilan Justin didukung oleh udara dingin teater yang menusuk tubuh serta sorot lampu yang membuat mata penonton hanya fokus kepada dirinya. Suasana itu juga  berhasil memaksa dan mencengkram perasaan hadirin untuk mau tidak mau terusik dan tergugah takjub.

Setelah lagu pembuka berakhir dan kembali menyisakan gelap dan sunyi di dalam teater, penonton yang tidak kuasa menahan diri, mulai menunjukan apresiasinya dengan menepukan tangan mereka. Tidak lama setelah teater mulai kembali hening, anggota band yang lain mulai memasuki panggung. Dalam pertunjukan tersebut, Bon Iver diiringi berbagai instrumen musik seperti gitar elektrik, gitar klasik, bass, saxophone, dua buah drum, keyboard,synthesizer, loop machine, vocoder, effects pedals, effect vocal, dan lain-lain. Mereka juga berkolaborasi dengan The Staves yaitu trio folk rock asal Inggris yang memadukan suara mereka sebagai salah satu instrumen pertunjukan dalam konser tersebut.

Suara vokal Jessica, Camilla, dan Emily berhasil menimbulkan kesan magis yang sangat kental dbalam lagu-lagu Bon Iver. Paduan suara mereka mengingatkan kita akan suara-suara alam yang hanya bisa kita dengarkan ketika kita sedang berada di tengah hutan yang jauh dan sepi dari simpang siur kegiatan di perkotaan. Kehadiran The Stavelah barangkali yang menurut saya membuat konser Bon Iver malam itu terasa sangat istimewa dan menghadirkan sensasi yang tidak akan kita dapatkan dari rekaman lagu-lagu Bon Iver yang biasa kita dengar di media elektronik.

Ketika Bon Iver memainkan lagu mereka dalam full band, konser yang didukung dengan sound dan pencahayaan yang sangat bagus tersebut, membuat penampilan band asal Amerika itu terasa seperti karya seni  yang hidup. Tata cahaya lampu sorot berubah-ubah menimbulkan kesan perasaan magis dan karakter yang berbeda-beda dari setiap lagu yang ditampilkan oleh Bon Iver malam itu.  Alunan musik yang dimainkan benar-benar terasa seperti sebuah pertunjukan seni yang menggugah jiwa dan menghipnotis penonton untuk larut ke dalamnya. Tidak hanya sebagai musisi yang sedang menampilkan karya musik, tetapi juga sebagai pendongeng yang berhasil menceritakan kisah perjalanan mereka kepada sekumpulan manusia yang terus haus dan tidak akan pernah puas dengan satu cerita saja.

Sayangnya, selama konser berlangsung, banyak juga penonton yang lebih tertarik dan sibuk mengabadikan konser tersebut dalam gadget mereka dari pada menyaksikan penampilan Bon Iver dengan khidmat. Bahkan, beberapa kali ada saja penonton yang mengambil foto Bon Iver dengan menggunakan flash yang tentunya berhasil mengganggu dan memecah fokus penonton lain yang sedang menikmati konser tersebut.

Selain album Blood Bank, Bon Iver juga memainkan berbagai lagu dari album-album debut mereka yang lain seperti “Perth”, “Holocene”, “Michicant”, “Calgary”, “Towers”, dan “Minnesota, WI” dari album Bon Iver, Bon Iver,  “Flume”, “Creature Fear”, “Blindsided”, dan “Re-stacks” dari album For Emma, Forever Ago serta single ­2014 mereka yaitu “Heavenly Father”.

883ce90d_Bon-Iver-Cover-650

(Sampul album terbaru Bon Iver yang bertitel ‘Bon Iver’. Now/Live)

Usai memainkan sejumlah lagu dalam full band, para personil Bon Iver pun turun panggung dan menyisakan Justin Vernon kembali seorang diri seperti pada saat permulaan konser. Dengan berbekal sebuah gitar klasik, Justin yang sebelumnya mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan kepada para hadirin, memainkan lagu terakhirnya yaitu “Skinny Love”. Lampu sorot kembali dibuat sederhana dan hanya memaku fokus penonton pada Justin Vernon. Lagu tersebut dimainkan dengan begitu mendalam sampai-sampai membuat perasaan penonton dibuat seakan tercabik-cabik dalam haru.

Ketika lagu tersebut usai, seluruh penonton berdiri dari tempat duduk mereka dan memberikan tepuk tangan meriah untuk penampilan Bon Iver malam itu. Beberapa penonton tetap melakukan standing applause dengan harapan Bon Iver akan kembali memainkan beberapa lagu meskipun beberapa penonton yang mulai meninggalkan teater. Setelah beberapa menit, suara tepukan penonton pun mulai membuat suasana teater kembali hening dan dingin. Tanpa diduga, tiba-tiba Justin Vernon beserta seluruh member Bon Iver dan The Staves kembali naik ke atas panggung dan memainkan lagu “Wolves” dan “For Emma” dari album For Emma, Forever Ago. Kali ini, banyak penonton yang tidak kembali duduk dan menyaksikan penampilan Bon Iver sambil berdiri serta sedikit bergoyang santai mengikuti alunan musik.

Selain itu, banyak juga penonton yang mendapatkan kursi di bagian bawah teater berdiri dan berjalan mendekati panggung agar bisa mengambil foto Bon Iver, terutama Justin Vernon dari dekat. Hal ini kembali menjadi hal lain yang sangat disayangkan karena sejak awal panitia sudah menghimbau kepada para penonton agar tidak melakukan hal-hal tersebut. Di sisi lain, seperti lagu-lagu sebelumnya, “For Emma” pun kembali berhasil membuat penonton terpana dan terhipnotis. Sayangnya, kali ini lagu tersebut benar-benar mengakhiri pertunjukan seni yang dibawakan oleh Bon Iver malam itu dan penonton pun segera meninggalkan The Star Theatre.

QUROTTA MANSYUR

Related posts

*

*

Top