Kolom Parahyangan : (Sekali Lagi) Menagih Cinta

Oleh : Mirza Fahmi

Kamis (17/2) kemarin Unpar kembali dipenuhi pengguna batik. Tak seperti tempo hari saat batik dipakai sebagai bentuk perayaan ‘kemenangan’ atas Negara tetangga, kemarin batik kembali terlihat apabila kita menyempatkan diri untuk mampir ke area wind-tunnel. Tempat berlangsungnya acara Lembaga Kepresidenan Mahasiswa yang sebelumnya sudah ramai dipromosikan di dunia maya, Kampanye Cinta Kampus.

Mengusung tema “Think, Act, Love: Show All Your Love By Stating Your Opinion About Our Campus”, Kampanye Cinta Kampus (KCK) mengundang sejumlah pembicara seperti Prof. B. Arief Sidharta (Guru Besar Fakultas Hukum), Romo Faby Sebastian (Dekan Filsafat), Dr. A. Koesdarminta (Ketua Yayasan Unpar pertama), dan Romo Hermanus Sudarman (Presiden Mahasiswa pertama) dengan tujuan untuk berbagi pengalaman mengenai Unpar, dan tentunya, cinta mereka akan almamater kita.

KCK sendiri bukanlah barang baru di Unpar. Pada tahun 2008 acara serupa sempat digelar (lihat Wakaji), dengan meminta mahasiswa memakai kaos putih dan berkumpul di Plaza GSG. Acara dilaksanakan didepan baliho raksasa bertuliskan “I Love Unpar”. Dan kemarin, “cinta” itu ditagih lagi.

JargonShow All Your Love By Stating Your Opinion About Our Campus” sekilas terdengar lebih bersahabat daripada ribuan mahasiswa yang berpakaian seragam putih-putih, berkerumun di GSG dan disuruh “berhenti menuntut” seperti 3 tahun yang lalu. Terbayang suatu forum diskusi yang egaliter, terbuka, dan ramai dihadiri mahasiswa. Acara pun digarap sejak jauh-jauh hari, mengundang pembicara terkemuka, membawa pesan hangat nan ceria: “Mari cintai kampus kita”.

Tapi jika kita tarik kebelakang, kemunculan KCK ini bagaikan raga tak bernyawa. Mari kita lihat statement stating your opinion”. Kepemimpinan Lembaga Kepresidenan Mahasiswa sekarang justru belum mampu menuntaskan masalah klasik perihal penampungan dan penyampaian tuntutan mahasiswa. Bisa kita tarik berbagai contoh: masalah gedung UKM, hak-hak mahasiswa yang belum jelas, dan masih banyak lagi. Forum-forum yang dibentuk masih belum mampu melepaskan diri dari aroma hirarkis “LKM -> Mahasiswa” dan jika kita sedikit Jeli “ Rektorat -> LKM -> Mahasiswa”. Tidak ada sarana jelas untuk berdialog tentang problema kemahasiswaan secara rutin dan berkala.

Sempat ada angin segar tatkala kita melihat diskusi yang digelar LKM Agustus lalu, dan papan aspirasi di sejumlah tempat. Namun, tetap tak ada keberlanjutan yang jelas. Hari-hari berikutnya, LKM tetap berada “jauh di sana”, jauh dari masalah mahasiswa, dan hanya sesekali turun jika ada masalah (masalah mahasiswa atau rektorat?), untuk kembali melakonkan peran klise sebagai “atasan mahasiswa”. KCK pun bagai hadir tiba-tiba, tak ada kaki pijakan yang menopangnya: kesetaraan dan dialog mahasiswa. Seperti ritual kosong bermake-up tebal. Sekali lagi, sekilas lebih ramah dari tahun 2008, meski tetap bagai zombie, rohnya telah pergi sejak jauh hari, tapi raganya masih kesana kemari.

Mari sedikit beralih dari sang zombie, kita akan mendapati tajuk acara yang sebenarnya umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari: Cinta Kampus. Kata “cinta” biasa kita dapati di banyak kesempatan, Cinta negeri, cinta budaya Indonesia, dan lain-lain. Hingga kita dapati implikasi memprihatinkan: sadar tidak sadar, LKM telah membelah mahasiswa dengan dua opsi: Cinta dan Tidak Cinta. Kehadiran dan partisipasi mahasiswa di acara ini, tentunya komplit dengan pakaian batik rapi, otomatis akan dicap sebagai “pernyataan cinta”, sedangkan mereka yang tidak? Merekalah yang berada di sisi lain jalan: para pembenci, kaum tidak tahu terimakasih yang patut segera angkat kaki dari kampus kita tercinta. LKM telah menciptakan oposisi biner, dikotomi Cinta/Benci, yang jika mendapat serangan kritik, akan segera melindungi dirinya dengan comfort zone kampus-isme instan: Hey, LOVE it or LEAVE it! Logika koruptif yang semakin menjauhkan dirinya dari realita mahasiswa.

Keberlangsungan acara ini pun akhirnya jauh dari angan, banyak kawan yang mengeluhkan sedikitnya pertanyaan yang dapat dikemukakan karena ketatnya rundown. Berbanding terbalik dengan promosi acara tersebut “Stating your opinions”. Acara dipuncaki dengan diresmikannya Monumen Cinta Kampus, yang menonjolkan figur Mgr.Prof.Dr.N.J.C.Geisse, OFM. atau akrab disapa Romo Geisse, pendiri Universitas Katolik Parahyangan. Pastur, yang juga seorang antropolog ini mendirikan Unpar, dengan harapan bisa menjadi “Option for The Poor”, pilihan bagi si papa. Bahwa semangat kecintaan kepada Tuhan hanya dapat diwujudkan dengan bakti kita kepada yang tak berpunya dan yang tertindas. Dan Intelegensi yang tinggi tanpa adanya hati nurani, tidak ada artinya. Justru pesan dan nilai ini yang terlewat di momen cinta kampus. Romo Geisse kembali “hadir”, justru ditengah biaya SKS yang semakin meroket, birokrasi ruwet, feodalisme dan macetnya komunikasi antar mahasiswa. Semua kerumitan ini berkumpul di satu tempat, pada satu ajakan “Cintailah kampus!”. Bagaimana pendapatmu, Romo?

Related posts

Top