[Kolom Parahyangan] LKM Dan Penyakit Slacktivism Yang Tidak Kunjung Sembuh

Mahasiswa dalam Politik/ Ilustrasi: Abdullah Adnan Al-rasyid Mahasiswa dalam Politik/ Ilustrasi: Abdullah Adnan Al-rasyid

Sekitar setahun yang lalu, saya ingat Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) pernah mengadakan kampanye bertajuk ‘Ke Kampus Jalan Kaki’. Selama beberapa waktu, kampus dipenuhi oleh tempelan poster dengan ajakan berjalan kaki ke kampus berikut orang-orang berkaus hitam dengan tulisan serupa di kaosnya. Saya ingat juga saat itu laman LINE saya sempat dipenuhi oleh propaganda yang disebar dalam bentuk poster maupun infografis.

Meski secara eksplisit tidak ditunjukkan kepada siapa kampanye itu dituju, namun besar dugaan saya kampanye itu ditujukan bagi mahasiswa yang ngekos—semoga begitu adanya. Namun, jika tidak keterlaluan betul kalau LKM menyuruh orang-orang seperti saya yang rumah dan kampusnya berjarak 16 km untuk naik angkot atau jalan kaki—dan memang saat itu kampus sedang ribut mengenai isu kekurangan lahan parkir.

Bagi saya kampanye tersebut sebetulnya adalah kampanye yang cukup membantu, sebab sebagai seseorang yang menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam untuk sampai ke kampus, rasanya kesal juga ketika saat tiba di kampus, segera berhadapan dengan kesulitan mencari parkir sebab beberapa orang yang ngekos dekat kampus malas untuk berjalan dan menggunakan kendaraan pribadi mereka.

Akan tetapi kampanye ini kemudian mati dalam hitungan waktu. Tidak berlanjut lagi, hingga sekarang. Kesulitan menjadi parkir masih menjadi isu hingga sekarang. Teman-teman saya yang menggunakan mobil masih harus berangkat ke kampus empat jam lebih awal hanya agar bisa mendapatkan parkir. Namun sepertinya isu ini sudah dianggap basi oleh LKM lantaran LKM mengangkat isu baru lagi, yakni masalah penyediaan Kawasan Tanpa Rokok.

Seperti tahun sebelumnya, kampanye yang diberi nama Selfless ini mengandalkan propaganda melalui edaran poster di tempat-tempat strategis kampus serta media sosial. Mungkin satu hal yang baru adalah didirikannya booth petisi di beberapa lokasi seperti pohon Hukum dan jembatan FISIP. Petisi ini konon ditujukan kepada rektorat untuk mengadakan smoking area dan mewujudkan area.

Pernah saya iseng bertanya pada salah satu anggota LKM yang menjaga booth Rumah Aspirasi Selfless di jembatan FISIP. Ketika saya bertanya tentang apakah kampanye ini akan dilanjutkan pada periode kepengurusan selanjutnya atau tidak, saya cukup kecewa ketika jawabannya adalah, “Keputusan tersebut diserahkan pada kepengurusan selanjutnya”. Dengan kata lain, jika tahun depan LKM punya ketertarikan terhadap isu lain, kampanye ini bisa jadi tidak akan diteruskan lagi.

Lah, lalu untuk apa ada kampanye? Bukankah sebuah kampanye dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu? Tanpa bermaksud bersikap pesimis, katakanlah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) tidak mampu diwujudkan pada periode ini. Lalu pada periode selanjutnya kampus punya isu baru lagi. Akan dikemanakan kampanye ini?

LKM membuat saya teringat pada sebuah karakter bernama Scott di sketsa Saturday Night Live baru-baru ini. Karakter yang dimainkan oleh Louis C.K ini merupakan perwujudan dari slacktivism—sebuah bentuk ‘baru’ aktivisme dimana para aktivis beraksi melalui kampanye media sosial. Perkara aksi mereka dapat menyelesaikan masalah atau tidak, bodo amat.

Yang penting para aktivis slacktivism merasa mereka telah melakukan sesuatu cukup dengan mengirimkan tweet dengan hashtag propaganda tertentu atau dalam kasus ini, membuat akun LINE@ dan mengirimkan pesan propaganda yang disertai poster dengan desain menarik.

Mungkin LKM tidak bisa sepenuhnya dikatakan slacktivist—inisiatif membuat petisi tentu saja sebuah gerakan yang berani dan patut diapresiasi—namun kecenderungan LKM untuk membuat kampanye yang tidak tuntas bisa disamakan dengan sikap para slacktivist tadi. Kampanye LKM terlihat seperti sebuah gimmick agar mereka bisa bilang pada mahasiswa: “Nih, kita sudah melaksanakan tugas kami untuk mewujudkan aspirasi kalian!”

Pertanyaannya, lantas untuk apa kampanye ini diadakan kalau pada akhirnya ada kemungkinan kalau ia tidak akan dituntaskan? Ini pertanyaan yang cukup mengganggu di benak saya sejak saya mendengar jawaban di booth Rumah Aspirasi Selfless beberapa bulan lalu. Apakah kampanye-kampanye ini berjuang untuk mahasiswa? Saya kurang tahu, karena sepanjang penglihatan saya belum ada dampak yang bisa saya rasakan secara langsung. Apakah kampanye ini berjuang untuk LPJ untuk diserahkan pada BKA nanti? Nah, kalau yang ini bisa jadi jawabannya betul.

Kritik saya untuk LKM (ini kalau saya boleh mengkritik ya, apalah saya ini cuma rakyat doang, mahasiswan tahun akhir pula), mbok ya kalau mau bikin sesuatu itu dituntaskan. Mau itu kampanye parkir, atau kampanye KTR. Kenapa harus tunggu kepengurusan tahun depan untuk menentukan nasib dari kampanye yang kalian buat sendiri? Dan kalaupun kendalanya adalah regulasi yang mengharuskan kampanye ini dihentikan jika kepengurusan tahun depan menginginkan begitu, kenapa tidak buat saja aksi kolektif bersama dengan mahasiswa? Dengan pesan yang bagus ditambah lagi kemampuan LKM untuk bikin poster publikasi yang menarik, pastilah banyak mahasiswa yang mau bergabung.

Atau kalau tidak mau repot-repot mengurusi suatu isu, ada baiknya LKM coba bikin kampanye yang mudah selesai dalam waktu kepengurusan setahun. Carilah isu sepele yang mudah diurusi. Apa kek, meningkatkan jumlah pengonsumsi alkohol di kampus misalnya. Pasti beres tuh dalam sebulan. Atau apapun lah, kalian kan kreatif. Supaya mahasiswa bawel seperti saya tidak ngurusin kampanye kalian dan lupa kalau kalian bahkan sedang mengampanyekan sesuatu.

Tapi kalau kalian memang serius ingin melakukan sesuatu untuk kampus, ya cobalah berkonsentrasi untuk menuntaskan isu yang memang kalian cemaskan. Orang-orang berharap pada kampanye kalian. Jika tidak, untuk apa kalian punya adders LINE@ yang bejibun atau orang mengantri untuk menandatangani petisi.

Yah, semoga LKM segera sembuh dari penyakit slacktivism-nya.

 

Tentang penulis:

Dyaning Pangestika, Mahasiswa Hubungan Internasional 2013

Related posts

2 Comments

  1. Angga said:

    Dengar-dengar yg kampanye “ke kampus jalan kaki” itu ditujukan untuk rektorat sebagai bentuk protes lahan parkir yg makin sempit. Tapi parameter keberhasilan seperti apa kita mahasiswa gakpernah tau dan aing yakin hampir semua mahasiswa sepakat bahwa itu ditujukan untuk mahasiswa, bukan rektorat. Dan seingat aing salah satu bentuk kampanye bikin kaos gitu diposting di sosmed laiknya mau jualan baju. Hasilnya? Nihil. Yg kesepet? Mahasiswa.

    Yg tahun ini pun kelanjutannya gimana aing gatau setelah pengambilan petisi (yg katanya mau dikasihin ke rektorat) hasilnya gimana? Teuing.
    Kenapa tidak merangkul mahasiswa untuk aksi yang lebih “nyata”, langsung kumpulkan massa bikin aksi di depan rektorat dan bikin pernyataan sikap. Tuntutan lebih jelas karena menarik perhatian saat itu juga.

    Merokok itu hak, tidak menghirup asap rokok juga hak. Kalau mau melarang siapkan dong fasilitas pembantu bagi orang-orang yg mau berhenti, layanan konseling salah satu nya, bukan melarang langsung, itu otoriter! Rektorat tidak memberikan ruang demokrasi pada mahasiswa, bukankah mahasiswa juga merupakan salah satu pemangku kepentingan di kampus? Sediakanlah ruang untuk merokok, dulu di taman gantung sekarang udah gak ada. Ada hak perokok yg hilang tidak terakomodir kampus.

    Aing pernah ngobrol sama salah satu anak LKM periode ini nanya “berani gak kalau bikin aksi ya misal orasi lah menuntut langsung?”

    Jawabannya, “aing takut euy nama aing nanti ngaruh ke nilai”.

    Ya ampun :(
    Nilai itu gimana kamu dan dosen kamu, bukan diatur rektorat!

  2. civitas non-lembaga said:

    menurut saya, baik tidaknya sebuah kepengurusan dan pekerja-pekerjanya akhirnya bergantung pada kharisma dan kepentingan pemimpin teratasnya. Dalam hal ini saya tidak melihat presiden mahasiswa menciptakan semangat yang berarti bagi anggotanya, maupun lembaga lainnya sehingga program kerja yang dilakukan tidak memiliki sifat kepemilikan dari pekerjanya maupun masyarakat unpar.

    Kepengurusan sekarang hanya mencoba untuk mengimbangi kepengurusan tahun lalu tanpa menemukan karakter dan tujuan kepengurusannya sendiri. Tendensi untuk menduplikasi ini terlihat jelas sejak awal kampanye dimana terjadi dugaan plagiarisme, tidak adanya euphoria terhadap program kerja yang dibuat, upaya mendongkrak kinerja dengan melakukan reshuffle yang sebenarnya tidak jelas dan tidak menunjukkan kemajuan apapun dalam lembaga setelah 4 bulan berlalu, serta situasi politik kampus yang sangat surut, sampai-sampai fenomena banyaknya calon tunggal termasuk capresma dianggap lumrah oleh masyarakat unpar. Menurut saya, kehambaran ini sudah dapat diprediksi sejak awal dan tinggal menunggu waktu bagi lembaga kepresidenan untuk runtuh.

*

*

Top