[Kolom Parahyangan] Budidaya Ketakutan Dan Manufakturisasi Kepatuhan Mahasiswa

Illustrasi ketakutan. Dok/Mahasiswabicara.id/http://lpmhimmahuii.org Illustrasi ketakutan. Dok/Mahasiswabicara.id/http://lpmhimmahuii.org

Takut itu ada dua : wajar dan tidak wajar. Takut terlihat wajar jika kita berhadapan dengan bahaya. Seperti takut tertabrak, takut mati, takut digigit anjing, dan ketakutan lainnya yang hinggap di keseharian kita.

Lalu, ada pula takut yang tidak wajar. Takut yang hadir beriringan dengan keberadaan otoritas. Lantaran hal-hal yang menyangkut keberlangsungan hidup kita ada di tangan otoritas tadi. Dan juga, otoritas tersebut dapat menggoyang kita dengan sewenang-wenangnya.

Takut jenis kedua sering dirasakan masyarakat Indonesia. Sebelum reformasi, takut itu datang menyeluruh ke tiap masyarakat miskin yang lemah, miskin, dan terpinggirkan. Itu terjadi saat mereka berhadapan dengan pria-pria bertubuh tegap, berseragam cokelat atau hijau yang berniat menyingkirkan kelompok mereka.

Di dunia pendidikan terutama universitas rasa takut diadoposi karena hal serupa. Malahan ketakutan itu tidak lagi menyerang fisik melainkan alam pikir mahasiswa. Tujuannya agar meniadakan perlawanan, kritik, bahkan kegaduhan.

Semua itu dilabeli atas nama kestabilan dan kontrol. Seperti masa keemasan Indonesia mencapai kemajuan ekonomi dengan kestabilan politik, barangkali kampus menginginkan hal yang sama. Membungkam anti-tesis dari mereka yang sadar dan menuntut haknya terlebih mereka yang gelisah.

Mereka bertujuan agar kampus tidak gaduh akibat ulah mahasiswa yang menuntut haknya. Entah itu ruang komunal, parkir, bangunan yang layak, uang kuliah yang sepadan dengan fasilitas, hingga transparansi.

Suka tidak suka budidaya ketakutan itu memang dilakukan. Sekurang-kurangnya dengan menggertak bahwa mahasiswa tidak bisa mengatur mereka yang di atas. Dengan kekuasaan yang mereka miliki, mereka dapat memberikan ancaman sanksi akademis, skorsing, hingga bermain di arena anggaran kemahasiswaan. Padahal, hubungan antara mahasiswa dan pemilik otoritas seharusnya setara. Akan tetapi, mahasiswa hanya bisa mengusulkan sesuatu yang belum tentu dipertimbangkan di meja rapat para pembesar.

Namun, jika benar kampus atau universitas adalah wilayah akademis. Hubungan kampus dan mahasiswa sudah sepatutnya dialektik. Dialektik tidak berarti sekadar pertemuan dua arah ala-ala dialogis dengan win-win solution belaka.

Akan tetapi, memungkinkan hadirnya lebih dari satu kebenaran. Kebenaran yang satu tidaklah boleh mutlak lebih hebat dari yang lain. Semua jenis kebenaran patut memperoleh kesempatannya untuk dipertentangkan juga untuk dipertimbangkan.

Sekalipun tujuannya diklaim berembel-embel demi kebaikan universitas, ketakutan bukanlah jalan satu-satunya. Cara-cara seperti ancaman, pembungkaman, anti-kritik, ketertutupan tentu bertolak-belakang dengan sifat pendidikan yang transparan, terbuka, dialektis, dan mendidik.

Selanjutnya di kala ketakutan itu dibudidaya, ada juga entitas lain yang turut membantu menyuburkannya. Entah dosen yang memilih tunduk pada tuntutan atasannya dibanding menjunjung kebenaran koheren, entah juga lembaga kemahasiswaan yang memilih untuk mendiamkan hal itu. Bagi lembaga kemahasiswaan, kesan yang terlintas setiap kepengurusan terpilih dan berganti terasa seperti memandang mandor suruhan yang lama diganti dengan yang baru. Mengalihkan tanggung jawab menyuburkan budidaya itu ke kepengurusan berikutnya.

Lagipula, setelah ketakutan telah dibudidaya dengan suburnya, tibalah waktunya proses mematikan benih-benih akal budi dan pemikiran kritis. Saat ketakutan telah berhasil meredam perlawanan dan penjinakan berhasil, tibalah kepatuhan yang dinanti-nantikan oleh para pembesar di atas.

Ketika industri berbicara mengenai proses beserta dengan input dan output, kepatuhan tidaklah berbeda dari output yang dihasilkan dari input berupa ketakutan. Ketakutan membuat kompromi dari pihak universitas kepada mahasiswa di bawahnya berjalan lebih mulus.

Suatu kompromi yang mewakili birahi kepentingan materiil yang pragmatis. Mereka ingin kampus terlihat se-“elok” mungkin tidak hanya dari bangunan, tetapi dari rupa universitas di mata lapangan kerja dan orang tua yang tidak mau ambil pusing soal masa depan putra-putrinya. Tidak menutup kemungkinan juga, ada keinginan untuk menjadi “elok” di mata para pemegang modal juga korporasi-korporasi yang mungkin dapat diajak kerjasama.

Tatkala angkatan demi angkatan dan kepengurusan demi kepengurusan menganggap lumrah perihal ketakutan dan kepatuhan tersebut, kampus tidak lebih dari sekadar industri manufaktur. Ketimbang institusi pendidikan yang membebaskan pemikiran peserta didiknya, kampus telah niscaya mengotomasi proses-proses dialektis di dalamnya.

Terotomasi guna meniadakan proses yang dinamis atau sejujur-jujurnya proses-proses lambat yang selalu dihindari pejabat-pejabat kampus yang tak sabaran mengejar targetnya yang pragmatis itu. Makna itu juga yang kini bagi orang-orang idealis dikesankan sebagai utopis oleh orang-orang lain yang telah melepaskan idealismenya.

Akhirnya, apa yang diucapkan mengenai ketakutan dan kepatuhan tadi barangkali tidak lebih dari suara orang yang berseru-seru di padang gurun. Ini bukan berarti mahasiswa harus membangkang. Hanya saja, ketimbang takut saya memilih untuk hormat dan ketimbang patuh, melakukan apa yang harus dilakukan dengan dasar kebenaran yang koheren.

Bukankah akan lebih menarik jika kita melakukan sesuatu yang berlandaskan kebenaran yang koheren.Lagi pula bukankah hanya ada dua jawaban di dunia? Bila ya katakanlah iya, bila tidak katakanlah tidak.

 

*Tulisan ini juga telah dimuat di mahasiswabicara.id pada 5 Maret 2017 dengan judul

Budidaya Ketakutan Dan Manufakturisasi Kepatuhan Mahasiswa” dengan sedikit tambahan dari penulis.

Identitas penulis dapat dilihat pada sumber tulisan yang telah disediakan.

Related posts

*

*

Top