[Kolom Feminisme] Sudah Saatnya Tokoh Perempuan Punya Stereotip Baru

Arthur Aardvark. Dok/outofcontextarthur.tumblr.com Arthur Aardvark. Dok/outofcontextarthur.tumblr.com

Seorang perempuan berambut pirang bergelombang melenggak-lenggok di dalam sebuah diskotek. Ia mengenakan pakaian inim dan melemparkan tatapan menggoda pada tokoh protagonis. Sang tokoh protagonis lelaki menatapnya dengan penuh hasrat. Delapan adegan kemudian, mereka bercumbu di dalam sebuah kamar hotel. Setelah bercumbu, belakangan perempuan ini akan diculik, atau mati, sehingga karakter protagonis laki-laki tersebut bisa mengalami perkembangan karakter.

Anda pasti familiar dengan adegan seperti ini. Mungkin kita tidak pernah mengingat siapa nama perempuan tersebut. Tapi kita akan selalu mengingat perempuan itu sebagai perempuan seksi yang menjadi pacar si tokoh protagonis lelaki. Titik. Satu-satunya kaitan signifikan antara perempuan tersebut dengan plot adalah bagaimana kematiannya dapat menjadi momen turning point bagi para karakter pria.

Anda ingin contoh yang lebih lokal? Baik, mari jangan berkaca pada Holywood. Dalam sinema Indonesia, karakter perempuan dalam sinetron atau film mendapatkan penggambaran yang lebih hambar. Mereka dipandang secara hitam putih—karakter perempuan protagonis pastilah digambarkan sebagai seorang perempuan penyabar, rajin beribadah (lebih bagus lagi jika ia berkerudung), bermental nrimo, sederhana, dan tidak pernah mengumpat. Karakter perempuan antagonis selalu digambarkan sebagai perempuan pembenci, jauh dari agama, penggoda—pokoknya ia menjadi perwujudan yang sempurna dari kata ‘negatif’.

Sebuah riset berjudul “It’s a Man’s (Celluloid) World,” yang dikeluarkan oleh The Center for the Study of Women in Television and Film pada tahun 2014 mengungkapkan bahwa industri perfilman mengalami krisis bias gender yang parah ketika disinggung mengenai representasi perempuan dalam layar kaca.

Studi menunjukkan hanya 12% dari keseluruhan film yang rilis pada tahun 2014 memiliki karakter perempuan sebagai tokoh protagonisnya. Di sisi lain, 75% film di tahun yang sama memiliki laki-laki sebagai tokoh protagonisnya. Belum lagi ketika kita membicarakan porsi dialog perempuan dalam film. Hanya 30% film yang memberikan dialog signifikan terhadap karakter perempuannya.

Belum lagi jika kita membicarakan mengenai perempuan dan representasi kultur ras dan etnis dalam film. Di Hollywood, 74% karakter perempuan terdiri dari ras Kaukasia. Sementara 11% sisanya terdiri dari ras Negro, 4% sisanya adalah Latina, 4% sisanya berasal dari Asia, 3% dari ras campuran, dan sebagainya.

Karakter-karakter perempuan yang berasal dari ras selain kulit putih kerap digambarkan dengan stereotip ras yang berlebihan (jika tidak ingin dibilang rasis). Misalnya saja, perempuan Negro digambarkan sebagai perempuan lancang yang tidak tahu sopan santun, perempuan Latina selalu ditampilkan sebagai perempuan seksi, perempuan Asia digambarkan sebagai gadis polos yang mengundang ‘hasrat’, dan sebagainya.  

Pertanyaannya, apakah perempuan tidak pantas mendapatkan representasi yang layak dalam film?

Beberapa film seperti Spy, Ghostbusters (2016), dan Mad Max: The Furious Road sudah mendobrak stigma tersebut. Dalam Spy misalnya, protagonis tidak saja direpresentasikan oleh seorang perempuan, tapi juga seorang perempuan dengan berat badan berlebih—yang kerap kali dipandang sebagai sesuatu yang tidak cantik di antara penggemar film Hollywood.

Namun film itu tidak hanya memfokuskan jalan cerita pada penampilan perempuan tersebut, tapi juga pada talentanya sebagai seorang mata-mata yang baik. Dalam film Mad Max, Furiosa, sang tokoh utama film tersebut, tidak hanya digambarkan sebagai karakter yang kuat dan cerdas, tapi ia juga tidak pernah sekalipun digambarkan sebagai objek seksual. Hal serupa juga terjadi dalam reboot film Ghostbusters yang akan rilis pada tahun 2016 ini.

Tentu, masih ada pencelaan terhadap karakter-karakter diatas. Susan Cooper dalam film Spy dicela karena dianggap ‘kurang realistis’, sebab dunia tidak siap menerima perempuan berbadan besar yang pandai berkelahi. Furiosa dicela karena terlalu sanggar dan tidak terlihat ‘indah’. Kristen Wiig, Mellisa McCarthy, Kate McKinnon, dan Leslie Jones dianggap telah merusak esensi utama dari franchise Ghostbusters karena film tersebut memutuskan untuk tidak memotret mereka sebagai obye seksual.

Sudah saatnya kita menerima kenyataan bahwa perempuan berada di layar kaca bukan semata-mata untuk menjadi pemanis layar. Bukan hanya agar mereka mati supaya tokoh laki-laki berkembang. Perempuan bukanlah sebuah cangkang kosong. Jika laki-laki bisa terlihat cerdas di layar kaca, mengapa perempuan tidak? Jika laki-laki bisa digambarkan menjadi sebuah tokoh kompleks yang dicintai oleh penontonnya, mengapa perempuan tidak bisa mendapatkan kesempatan yang sama?

Ya, perempuan pantas mendapatkan representasi yang layak di layar kaca. Jika kita ingin berangkat dari stereotip, maka perempuan butuh stereotip baru. Berikanlah publik perempuan yang kuat, mandiri, independen, dan kompleks. Berikanlah publik karakter perempuan yang dapat dicintai tanpa harus dipersepsi sebagai objek yang bisa dicumbu. Berikanlah publik karakter perempuan yang sesungguhnya. Sudah saatnya perempuan punya stereotip baru.

Referensi:

Casey Cipriani, Indiewire, 10 Februari 2015, “Sorry, Ladies: Study on Women in Film and Television Confirms The Worst”, http://www.indiewire.com/2015/02/sorry-ladies-study-on-women-in-film-and-television-confirms-the-worst-65220/

 

* Dyaning Pangestika adalah seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Hubungan Internasional di Unpar, Bandung. Jika tidak sedang menjadi mahasiswa dan staf Litbang Media Parahyangan, ia menghabiskan waktu luangnya dengan membaca The Onion dan dan mengamati meme di internet.

Related posts

*

*

Top