Kita, Budak Yang Tidak Sadar Sedang Diperbudak

23 Agustus diperingati sebagai hari internasional untuk mengenang perdagangan budak dan penghapusannya. Sejarah yang panjang akan perdagangan budak di Haiti akhirnya berakhir pada 23 Agustus 1791 setelah masyarakat Haiti melakukan perlawanan. Untuk itulah setiap 23 Agustus dunia memperingati hari itu.

Sejarah telah tercatat, namun perbudakan tidak bisa hilang begitu saja. Menurut laman freetheslaves.net, sekitar sepuluh juta orang di dunia masih diperbudak. Angka yang besar, sangat besar bahkan. Namun apakah perbudakan adalah sesuatu yang jauh dari kita? Atau justru kita adalah budak itu sendiri?

Menurut definisi, perbudakan adalah keadaan saat seseorang menguasai atau memiliki orang lain. Di era ini, mungkin keadaan seperti ini dirasakan dalam bentuk lain.

We Are Social, perusahaan media asal Inggris, menyatakan bahwa 130 juta orang di Indonesia adalah pengguna aktif media sosial dengan jumlah penetrasi 49%. Bahkan Indonesia menduduki peringkat ketiga, di bawah FIlipina dan Brazil. Dari penelitian yang dilakukan awal 2018 itu juga disebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit per hari untuk mengakses media sosial. Apakah Anda salah satu dari 130 juta orang tersebut? Saya yakin iya.

Media sosial sendiri adalah wadah untuk manusia saling berkomunikasi. Di zaman yang serba cepat ini, informasi pun ingin kita dapatkan dengan cepat, salah satunya dengan media sosial. Tapi apakah peran media sosial hanya sampai di situ? Kini media sosial telah menjelma menjadi wajah, wajah bagi penggunanya. Tidak jarang media sosial digunakan sebagai sumber data diri, bahkan menjadi hal yang pertama kita cari ketika ingin mengetahui lebih tentang orang lain.

Wajah itu lah yang membuat kita sangat menjaga apa yang kita unggah ke media sosial. Tentu Anda pernah kebingungan saat ingin mengupload foto yang mana di instagram. Atau rajin mengunggah insta story ketika Anda sedang menonton konser. Mungkin Anda juga pernah menghapus kembali tulisan Anda di twitter karena setelah dipikirkan, hal itu tidak menggambarkan diri Anda. Tahukah bahwa sebagian besar followers Anda tidak peduli?

Atau Anda juga pernah memeriksa sudah berapa jumlah like pada foto di instagram, atau jumlah view di insta story. Mungkin beberapa kali Anda memeriksa jumlah share pada post Anda di line dan berharap post tersebut viral. Tahukah Anda bahwa sebagian besar followers Anda tidak peduli?

Eksistensi di media sosial begitu penting bagi masyarakat zaman kini. Pengguna media sosial berlomba-lomba mengunggah apa yang ingin mereka tampilkan ke khalayak umum. Media sosial telah menjadi panggung, bahkan terkadang menjadi panggung sandiwara. Tidak jarang kehidupan di media sosial sangat bertolak belakang dengan kehidupan asli. 

Hidup di tengah hingar bingar, berpakaian modis, dan makan di restoran mewah. Namun sehari-hari tinggal di kamar kost 3×3 meter, mengenakan kaus kepanitiaan bekas acara, dan makan nasi bungkus dua belas ribuan, tidak lupa kerupuk dan sambalnya. 

Nongkrong cantik dengan teman di kafe hits, saling memberi kejutan ketika temannya ulang tahun, dan berfoto ria dan diedit manis agar bisa segera diunggah ke media sosial. Namun sehari-hari hanya sendiri, mengerjakan tugas di student center kampus sambil menguping segerombolan orang yang bercerita ria di meja sebelah.

Hidup kita seakan sebegitu bergantung dengan media sosial, menjadi bentuk eksistensi bagi kita yang krisis identitas.

Selain itu, akhir-akhir ini sering terdengar istilah “puasa media sosial”. Hal ini dilakukan dengan menutup atau menonaktifkan akun media sosial selama beberapa saat. Fenomena ini mengindikasi bahwa media sosial sudah menjadi racun yang secara tidak sadar menggerogoti jiwa kita dengan perlahan, sehingga perlu untuk sejenak bagi kita meninggalkan hal tersebut.

Bangun tidur, buka media sosial. Buang air besar, buka media sosial. Makan, buka media sosial. Antre, buka media sosial. Bahkan saat kelas pun kita masih tidak tahan untuk tidak membuka media sosial. Sering terdengar istilah “media sosial mendekatkan yang jauh, tapi menjauhkan yang dekat”, begitu ironi.

Media sosial menjadi sesuatu yang pelik. Penggunaan yang tidak terkontrol menimbulkan pro-kontra mengenai media sosial. Jadi, kita yang menguasai media sosial atau media sosial yang menguasai kita? Sepertinya perbudakan memang tidak jauh dari kita, bahkan budak itu adalah kita sendiri. Diperbudak oleh media sosial. 

GALLUS PRESIDEN