Keuntungan Gerakan Feminisme Bagi Pria

Feminisme Feminisme

Gerakan feminisme sering kali hanya dinilai memberikan manfaat bagi kaum wanita. Hal ini ditunjukkan dengan aksi-aksi yang bersifat dogmatis dan agresif hingga melahirkan istilah ‘Feminazi’. Akan tetapi, apa yang tidak banyak diketahui adalah gerakan ini juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan tentu saja, kaum pria.

Kaum pria sering kali dilabeli sebagai ‘pekerja’, di mana mereka harus merelakan waktu dan tenaganya untuk menafkahi keluarganya.  Hal ini menjadikan pria seakan-akan tidak memiliki kebebasan dalam hidupnya sendiri.  Sehingga muncul suatu pemikiran bahwa pria yang bebas adalah dia yang bisa menentukan apa yang ingin dia lakukan. Hal ini juga bahwa pria yang bebas berhak memilih apakah dia ingin bekerja di lapangan atau berada di rumah bersama keluarganya.

Hal tersebut akan terus berlanjut jika wanita masih bergantung pada pria. Melepas ketergantungan wanita terhadap pria adalah salah satu agenda yang terkandung di dalam gerakan feminisme. Hal ini terbukti sukses,  di Denmark, salah satu negara yang berada di peringkat 10 teratas kesetaraan gender, jumlah wanita yang berkarir semakin meningkat dan berkontribusi terhadap perekonomian rumah tangga hingga 38%. Hal ini cukup membuktikan bahwa wanita dapat menopang perekonomian rumah tangga selagi pria berada dirumah menghabiskan waktu bersama anak. Fakta tersebut juga menjadikan Denmark negara terbahagia dunia dan menjadi model bagi negara-negara lainnya.

Perlu ditekankan juga bahwa dengan mendukung para wanita untuk bekerja dan mendapatkan gaji yang setara dengan kaum lelaki akan meringankan beban kaum pria. Hal ini berarti pria tidak perlu lagi membiayai keluarganya 100%, karena perempuan dapat berkontribusi dalam membayar biaya-biaya tersebut. Kemungkinannya juga besar bahwa tingkat kehidupan yang dialami sang keluarga akan meningkat karena jumlah pendapatan yang ada pun akan meningkat.

Selain itu, gerakan feminisme pun terbukti tidak hanya memperjuangkan hak para wanita saja. Contohnya sering kali kasus pemerkosaan hanya dianggap serius jika menyangkut perempuan. Kasus pemerkosaan yang menyangkut lelaki sebagai sang korban pun sering kali tidak dianggap bahkan dianggap tidak mungkin terjadi. Salah satu kelompok feminis yang berada di Amerika Serikat (AS), Feminist Majority Foundation dan Ms. Magazine melakukan kampanye ‘Rape is Rape’ yang memasukan pria ke dalam korban kekerasan seksual. Setelah mengirim 160.000 email ke Federal Bureau Intelligence (FBI), agensi tersebut kini memasukan pria ke dalam definisi korban kekerasan seksual yang terjadi di AS.

Contoh yang kedua adalah isu cuti kelahiran. Cuti kelahiran merupakan salah satu agenda utama yang ada di dalam gerakan feminisme. Cuti ini tidak hanya  bermanfaat untuk wanita, tetapi juga untuk pria. Hal tersebut memberikan manfaat bagi ibu, ayah, dan anak. Riset menunjukkan bahwa ayah yang merawat anaknya dalam bulan-bulan awal kelahiran memiliki dampak positif yang berkesinambungan. Dengan cuti kelahiran yang diambil para pria, waktu yang dihabiskan untuk anak mereka semakin banyak dan anak semakin berkembang ketika ada sosok ayah yang merawat dan berperan langsung dalam mengasuh anak.

Dari beberapa manfaat tersebut kini terbukti bahwa gerakan feminisme tidak selamanya bersifat agresif dan ekstrimis. Gerakan ini juga dapat diperjuangkan oleh pria dan membawa manfaat juga bagi pria. Sehingga seharusnya para pria pun tidak lagi harus menentang ide feminisme secara keseluruhan, melainkan mereka harus mendukungnya karena manfaat yang diberikan kepada kaum pria tersebut.

Tentang Penulis

Miftahul Choir, mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2016

Related posts

*

*

Top