Ketika Demokrasi Hanyalah Jargon

Poster H-1 Pemilu PM Unpar. dok KPUPM Poster H-1 Pemilu PM Unpar. dok KPUPM

Saya menulis ini tidak memiliki niat untuk menyerang atau menjatuhkan salah satu calon tetapi ini hanya sekedar pengamatan kritis saya terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar saya dan merupakan sesuatu yang sangat subjektif. Saya adalah mahasiswa Unpar biasa yang bisa dibilang aktif dalam kegiatan kemahasiswaan di Unpar. Saya juga berani berkata bahwa saya bukan seorang apatis yang tidak mengetahui berita dan kondisi yang terjadi di Unpar.

Sudah beberapa minggu ini timeline LINE saya dipenuhi oleh banyak kampanye baik itu pemilihan calon ketua himpunan ataupun calon presiden mahasiswa (presma). Kadang jujur saya muak melihat kampanye-kampanye ini yang terlalu memenuhi timeline. Saya heran kenapa waktu kampanye ketua himpunan dan calon presiden ini dilakukan dalam waktu bersamaan yang justru menurut saya membuat bingung mana yang akan difokuskan.

Pada akhirnya saya lebih memilih mengikuti perkembangan calon ketua himpunan sehingga mengenai calon presma saya tidak terlalu mengikuti. Tetapi akhir-akhir ini banyak berita buruk yang sering saya dengar dari teman-teman saya mengenai capresma. Mulai dari cara timses salah satu capresma mendekati mahasiswa dengan cara yang menurut saya terlalu berlebihan sampai berita di LINE yang menuduh plagiarisme terhadap calon nomor 2. Saya tidak tahu mengenai kebenaran apakah tuduhan ini benar atau tidak tetapi yang penting adalah bahwa posting seperti ini menyakiti reputasi dan citra Unpar di luar.

Selain itu saya juga melihat posting seorang senior Hubungan Internasional (HI) saya yang ‘curhat’ mengenai posting plagiarisme terhadap calon nomor 2 dan juga mengenai bagaimana temannya yang mengejek dia karena menganggap dia tidak mendukung salah satu calon. Meskipun menurut saya dia tidak seharusnya memasukkan masalah pribadi dalam posting-nya tersebut, tetapi ini menurut saya sangat mencerminkan politik capresma yang sedang terjadi di lingkungan HI sebagai asal dari salah satu Cawapresma.

Sentimen bahwa saya sebagai anak HI harus mendukung calon dari jurusan saya sangat terlihat di lingkungan sekitar saya. Bahkan apabila diamati dari posting-an senior HI saya itu bisa dilihat bagaimana timses dari salah satu calon yang cenderung terlalu berlebihan sampai harus memastikan secara pribadi posisi mendukung atau tidak. Ini juga saya lihat dari beberapa teman saya yang didekati oleh salah satu timses calon tersebut.

Meskipun saya tahu kalau ini memang salah satu strategi dari calon tersebut dalam mendapatkan suara tetapi menurut saya ini cara yang cenderung berlebihan dan memberikan kesan bahwa salah satu calon ini begitu ambisius dalam menginginkan posisi paling prestisius di Unpar ini. Tetapi kembali lagi mungkin beberapa orang menganggap hal seperti ini adalah sesuatu yang wajar dan sah-sah saja untuk dilakukan.

Tetapi menurut saya hal seperti ini tidak perlu dilakukan. Politik kita mahasiswa haruslah berbeda dengan apa yang ada di kalangan elitis pemerintah sana. Idealisme sebagai salah satu kemewahan kita seharusnya masih tercermin dalam aksi kita diatas pragmatisme dalam memenangkan lomba kekuasaan ini.

Bukankah calon-calon ini berkata bahwa mereka ingin membawa perubahan? Bukankah mereka ingin membawa Unpar menjadi lebih baik? Kalau itu memang benar maka menurut saya proses juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan dalam menunjukan kredibilitas dan kualitas calon-calon ini. Pesan saya bagi calon-calon petinggi ini adalah hauslah kalian akan perubahan bukan kekuasaan.

 

Tentang penulis:

Ari Budi Santosa

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Hubungan Internasional 2014

*

*

Top