Keterlibatan Laki-Laki dalam One Billion Rising Bandung 2016

Performance Art di acara One Billion Rising (OBR) - Kristiana Devina Performance Art di acara One Billion Rising (OBR) - Kristiana Devina

NASIONAL MP, BANDUNGOne Billion Rising, gerakan yang memperjuangkan kesetaraan gender, bukan hanya diisi dan dilaksanakan oleh wanita. Isu yang diangkat dalam One Billion Rising di Bandung tahun ini ialah “keterlibatan laki-laki”. Ketua Pelaksana acara yang diadakan 14 Februari 2016 di Taman Musik Sentrum ini bahkan adalah seorang laki-laki.

“Lelaki distereotipkan menjadi pelaku kekerasan seksual, padahal bukan perempuan saja yang rentan menjadi korban, lelakipun sama. Namun tidak terlihat ke permukaan karena masih tabu untuk diperbincangkan,” ujar Ilman ketua OBR Bandung 2016 ketika diwawancara MP di tengah acara.

Keterlibatan laki-laki menjadi satu isu yang sangat relevan dengan keadaan sosial di Indonesia yaitu masyarakat dengan budaya patriarki. “Dalam budaya patriarki maskulinitas ada di atas dan feminimitas ada di bawah. Secara tidak langsung, yang maskulin itu ‘memburu’ yang ada dibawahnya. Menciptakan keadaan ada yang mendominasi dan ada yang di dominasi” tutur Kemal selaku salah satu panitia OBR. Kemal menjelaskan bahwa itulah yang membuat kekerasan seksual ini terus berlangsung di negara Indonesia.

Pengangkatan isu “keterlibatan laki-laki” ini juga menjadi satu penegasan bahwa gerakan yang dilakukan ini bukan untuk memutar balikan keadaan antara wanita dan pria, tapi untuk memperjuangkan kesetaraan. “Dan ketika membicarakan perihal kesetaraan, tidak cukup hanya berasal dari satu sisi saja. Maka dari itu peran lelaki disini menjadi sangat penting,” jelas Ilman

One Billion Rising adalah gerakan internasional dalam menentang kekerasan seksual pada perempuan. Gerakan ini dilaksanakan di berbagai negara dan berbagai kota, salah satunya ialah Indonesia. One Billion Rising menggunakan tarian untuk melambangakan perlawanan, karena tarian merupakan symbol dari kebebasan dan control atas diri sendiri.

Dengan acara ini, yang diharapkan ialah meningkatnya awareness masyarakat tentang kekerasan seksual dan menciptakan keadaan masyarakat yang sadar akan kesetaran hak, sehingga tidak ada lagi kesenjangan. Dan juga kekerasan seksual ini bukan lagi topik yang tabu untuk diperbincangkan, sehingga angka kekerasan seksual menurun.

FIQIH RIZKITA | HILMY

 

 

 

 

Related posts

*

*

Top