Kepala K3 : Sistem Valet Bukannya Dihilangkan, Tetapi Memang Sejak Awal Tidak Ada Dalam Kesepakatan

Sistem parkir baru vendor terpilih, EZ Parking. Sistem kini dilengkapi dengan palang otomatis dan mesin pengambilan tiket. Dok /MP Sistem parkir baru vendor terpilih, EZ Parking. Sistem kini dilengkapi dengan palang otomatis dan mesin pengambilan tiket. Dok /MP

STOPPRESS MP, UNPAR – Dalam diskusi “Sore Bersama” (SOBERS) yang diadakan oleh LKM Unpar pada Selasa (07/02), Ignasius Susanto selaku Kepala K3 mengatakan bahwa sistem valet tidak dihilangkan tetapi dari awal memang tidak ada (dalam kesepakatan/MOU). Hal tersebut disampaikan berkaitan dengan dihilangkannya sistem valet dalam EZ Parking.

(Baca juga : Tidak Ada Dalam MOU, Valet Parking Illegal?)

“Bukannya dihilangkan tetapi memang sejak awal tidak ada dalam kesepakatan antara Unpar dengan vendor parkir,” kata Ignasius Susanto selaku Kepala Kebersihan, Keamanan dan Ketertiban (K3). Santo menambahkan bahwa sejak Unpar masih bekerjasama dengan vendor lama yaitu Secure Parking, sistem valet tidak dicantumkan dalam perjanjian.

(Baca juga : Sebelum Dikelola Staff Lapangan, Valet Sempat Dikelola Perusahaan Legong)

Roni Sugiarto selaku Kepala Biro Umum dan Teknik (BUT) pun menyampaikan tanggapan serupa, “Kami semata-mata melihat bahwa faktor kemanan menjadi faktor paling penting dari semuanya. Kenapa valet dianggap buruk, karena hal tersebut tidak ada di dalam kontrak perjanjian dengan vendor.”

(Baca juga : Simpang Siur Aturan Titip Kunci)

Roni menyampaikan bahwa faktor keamanan menjadi salah satu alasan sistem valet dihilangkan. “Sistem kelola parkir yang lama cukup rawan akan keamanannya dan dirasa akibat paling buruknya adalah barang-barang di dalam mobil dapat hilang karena mobil tersebut tidak terkunci,” ujarnya dalam diskusi SOBERS yang diselenggarakan pada Selasa (7/2) lalu.

(Baca juga : Uang Titip Kunci (Valet) Sempat Digunakan Untuk Tutupi Kekurangan Penghasilan Karyawan)

Terkait sistem valet yang dihilangkan, beberapa mahasiswa menyayangkan hal tersebut. Pasalnya, sistem valet justru menjadi solusi bagi mahasiswa terkait terbatasnya lahan parkir di Unpar.

“Logikanya sistem valet ada sebelumnya karena kapasitas parkiran tidak cukup bagi mahasiswa. Hal tersebut justru menjadi solusi bagi kami terkait terbatasnya lahan parkir karena Unpar tidak menambah lahan parkir baru,” ujar salah satu mahasiswa peserta diskusi tersebut.

Beberapa mahasiswa juga menyampaikan bahwa selama ini penggunaan sistem valet sangat membantu. Selama ini mahasiswa Unpar pengguna kendaraan mobil cenderung memakai jasa valet di area Student Parking (STUPA) dan beberapa area di sekitar kampus Unpar.

Meskipun demikian, Rudi Sucipto selaku Cark Park Manager saat ditemui Oktober 2016 lalu mengatakan bahwa kesepakatan pengelolaan titip kunci tertuang dalam Local Operational Procedure (LOP) periode 2011. LOP itu dibuat bersama kepala Biro Sarana dan Prasarana (BSP) dan diketahui juga oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya yang waktu itu menjabat.

“Nih ada (red. poin 1.6 dalam LOP) memungut uang titip kunci sesuai yang telah ditentukan. Dulu, bersama Bawono (red. mantan Ketua BSP), titip kunci digodok lama dan dituangkan ke dalam LOP,” ucapnya. Terkait LOP itu, Rudi mengaku LOP itu masih digunakan hingga sekarang.

Sejak diberlakukan pada Februari 2017, adanya pergantian vendor parkir juga turut mengganti beberapa kebijakan dalam sistem parkir lama. Dihilangkannya sistem valet menjadi salah satu persoalan yang dikeluhkan mahasiswa. Pergantian vendor parkir juga menjadi latar belakang Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) menyelenggarakan SOBERS untuk menjawab beberapa persoalan yang berkaitan dengan sistem parkir yang baru.

(Baca juga : Sistem Parkir Diganti, LKM Adakan Diskusi SOBERS)

GALING GANESWORO | VERONICA DWI LESTARI

Related posts

*

*

Top