Keintiman Post-Valentine di An Intimacy Vol.6

Acara An Intimacy Vol.6 yang diselenggarakan pada Jumat (20/02) di Lou Belle Shop Bandung. /Shaquille Noorman. Acara An Intimacy Vol.6 yang diselenggarakan pada Jumat (20/02) di Lou Belle Shop Bandung. /Shaquille Noorman.

Bulan Februari memang terkenal dengan romantisnya Hari Valentine, namun ada yang tidak kalah romantis nan intim, An Intimacy Vol.6 merupakan acara musik yang digarap oleh Fast Forward Records, Komunitas Musik Fikom Unpad, Monsterstress Records dan Lou Belle Shop.

Acara ini merupakan sebuah sarana bagi para pegiat seni musik pendatang baru untuk menunjukkan apa yang selama ini mereka hasilkan dari sebuah proses kreatif dan membawanya kepada para penikmat untuk diapresiasikan secara langsung. “Jadi acara ini adalah sebuah regenerasi, dimana musik-musik baru yang ada dapat naik dan  menggantikan band-band yang sudah lama” ucap Muhammad Adli Hafidh selaku ketua acara saat dijumpai seusai acara di halaman belakang Lou Belle.

Digelar sekitar pukul 4 sore, acara ini mampu melahap lahan parkir Lou Belle Shop di daerah Setiabudi. Sedikit demi sedikit para pengendara motor dan mobil membajak lahan para pejalan kaki dan menyebabkan tempat parkir penuh sesak dengan kendaraan bermotor.

An Intimacy Vol.6 ini termasuk yang paling crowded dibandingkan beberapa volume sebelumnya, panitia pun sampai harus menutup pintu masuk karena penonton didalam sudah sangat penuh, hingga panitia merencanakan untuk menggunakan halaman belakang Lou Belle Shop untuk An Intimacy volume selanjutnya.

Venue Gigs yang memang tidak begitu luas justru memberikan kesan yang intim, membawakannya kepada setiap penonton baik kepada yang duduk-duduk manis, maupun yang berdiri. Gigs tak berpanggung yang sangat intim ini, membangun suasana yang terkesan egaliter. Penonton dapat menatap para penampil tanpa harus mendongakkan kepala, berdiri sama tinggi.

Diawali dengan penampilan Strangers, sebuah band yang menyuguhkan musik bernuansa Indie Rock, dengan influence Britpop yang lumayan kental. Para penonton khusyuk menikmati suguhan musik. Usai penampilan, sang vokalis berkata bahwa mereka akan berjumpa lagi dengan para penonton di acara lain dengan nama yang berbeda, bisa kita nantikan gebrakan selanjutnya dari mereka.

Performer selanjutnya adalah Bedchamber. Band asal Jakarta yang sedang naik daun ini mengusung genre Dream Pop dan nyerempet Shoegaze. Dengan suara vokal dan gitar yang dreamy, Bedchamber berhasil menghipnotis para penonton untuk mengikuti setiap alunan nada. “Gue emang nungguin Bedchamber sih tadi, bagus banget mainnya mereka,” ucap Azka salah seorang penonton saat dijumpai di halaman parkir Lou Belle seusai acara. Bedchamber belum lama ini merilis video klip untuk lagu berjudul Perennial milik mereka. Nuansa musik yang mereka suguhkan seperti hasil kultivasi DIIV, Wild Nothing, Slowdive, dan dicangkok kepada sebuah pohon yang bernama Bedchamber.

Usai penampilan Bedchamber, acara disela oleh break maghrib lalu dilanjutkan dengan penampilan dari Munthe, sebuah band electro pop yang menyiratkan suasana folky nan modern kepada setiap indera para penonton. Diselang dengan pembagian doorprize, penguasa panggung berikutnya adalah Heals dengan suara yang noise namun dreamy. Band muda asal Bandung ini dengan sukses menunjukkan sebuah karya seni yang berisik namun disisi lain mengawang menyayat telinga para penonton, yang pada saat itu berdesakkan namun terpuaskan.

Setelah para penonton menunggu beberapa menit, masuklah sebuah meja putih dan sebuah piano electric ke tengah ruangan. Kini giliran Frau untuk menghibur para penonton yang menunggu, lantunan lagu-lagu dari album Happy Coda seperti Something More, Water, Tarian Sari juga beberapa lagu dari album Starlit Carousel seperti I’m A sir, juga Mesin Penenun Hujan.

Rentetan nada-nada dari piano dan suara dari seorang Leilani Hermiasih atau yang dikenal Frau, memberondong setiap rasa gusar dan gelisah dari para penonton yang khidmat menikmati betapa indahnya sebuah karya seni, layaknya Kalashnikov Rifle yang dengan ganas membebaskan nyawa para prajurit di medan perang. Sesekali Frau meminum secangkir air mineral dari gelas antiknya dan melontarkan guyon kepada para penonton, tanpa disusun dan ditata suasana terbangun harmonis. Setelah Frau selesai menyiksa penonton dengan tembang-tembangnya yang menusuk, penonton nampak puas dan sebagian meninggalkan venue sebagian masih berbincang-bincang.

SHAQUILLE NOORMAN

 

 

Related posts

*

*

Top