Kampus Bebas Asap Rokok Atau Bebas Manusia Perokok ?

Larangan Perokok - Ilustrasi : Abdullah Adnan Larangan Perokok - Ilustrasi : Abdullah Adnan

Oleh: Stefanus Dominggus

Wacana kampus bebas asap rokok  akhir-akhir ini menjadi isu hangat sekaligus fakta nasional. Jika kita ketik tulisan “kampus bebas rokok” di mbah Googleakan munculkan pembahasan yang pelik nan dilematis di antara para perokok, orang yang tidak merokok dan pembuat atau perpanjangan tangan aturan itu serta penonton yang juga menikmati  romantisasi drama ini.

Larangan Perokok - Ilustrasi : Abdullah Adnan

Menjadi menarik sebab fenomena merokok bukan lagi menjadi urusan pribadi si perokok, tapi menjadi urusan kultural, moral, etika, sosial, gaya hidup, hingga intrik politik yang mengerucut dengan dikeluarkanya Undang-undang  atau Peraturan daerah.  Terlepas dari kepelikan ini, ada baiknya jika kita sebagai warga kampus, terlebih orang muda mampu melihat peristiwa ini sebagai suatu tantangan untuk mau berpikir kritis dan tentunya dibarengi dengan logika berpikir yang sehat dan solutif, sebab mau tidak mau femomena ini merupakan kajian yang sederhana sekaligus rumit serta sangat dekat dengan keseharian kita.

 

Pandangan umum

Dilihat dari sisi medik, telah menjadi produk massal bahwa merokok itu jelas-jelas berbahaya dan pada sebatang rokok mengandung berbagai macam zat yang dapat mengakibatkan kerusakan sistem pada jaringan tubuh. Pandangan ini tentunya sangat diamini oleh masyarakat, terlebih proses untuk menunjukan akibat dari rokok ini telah melewati penelitian yang panjang dan akurat.  Akan tetapi mengapa pandangan umum ini sedemikian mudah untuk dipatahkan ketika sudah berbaur dengan realitas. Upaya untuk membuat perokok jera dirasa sia-sia. Alih-alih mengurangi, faktanya tembakau justru menjadi ‘sarana’ paling luwes untuk dijadikan komoditi. Tentunya saya tidak pada porsi untuk memberikan alasan filosofis mengapa dan kenapa itu bisa terjadi, akan tetapi yang menarik buat saya adalah ketika anak muda berbicara kebebasan dan hak individu yang semakin kebablasan. 

Merokok ataupun tidak merokok adalah pilihan. Pilhan  atas kebebasan untuk memilih dan secara sadar rasio kebebasan kita sudah menimbang akan segala resiko yang mungkin dan akan terjadi pada individu yang berani mengapresiasikan kebebasannya. Menjadi masalah ketika kebebasan individu satu bertemu dengan kebebasan individu lainya, juga kebebasan kelompok satu bertemu dengan kebebasan lainya. Justru yang menjadi kegelisahan kita  adalah ketika adanya demarkasi dari kelompok tidak merokok dan mereduksi kebebasan menjadi tuntutan. Di saat itu pula segala bentuk ‘intimidasi’  menjelma menjadi kekuatan yang semakin mengurung kebebasan sesama individu.

Oke lah,  alasan klasik selalu memutar kata bonum Commune , atau demi kebaikan rakyat banyak atau demi kesejahteraan bersama. Logika ini sangat saya tentang, sebab Bonum Commune bukan berarti tidak melihat atau bahkan mematikan Bonum pada Minoritas. Jika yang Commune menutup mata pada minoritas ini sama saja sikap “sporadic”.  Mengapa tidak melihat Bonum pada minoritas yang saya pikir ada kebijaksanaan lain yang mungkin tidak terpikirkan.  Pada titik ini, para perokok ‘disudutkan’ dan ada semacam narasi besar yang semakin me-label-kan para perokok sebagai komoditi yang harus ‘dibersihkan’ lebih kasar saya katakan ; ‘diberangus’. Pertanyaan saya adalah sedemikian jijik dan jorok kah para perokok dihadapan mu ? sedemikian salah dan berdosanya kah kami merokok dihadapan mu?  Pertanyaan saya selanjutnya adalah, siapa yang sesungguhnya sedang “mengintimidasi” ? dan siapa yang sedang tertawa dengan bebasnya di belakang ini semua?

Perlukah Solusi ?

Apakah pemberian tempat khusus untuk merokok bagi para perokok adalah jalan tengah yang tepat dan solutif untuk menggambarkan kepelikan yang sedang terjadi? Saya mencoba melukiskannya seperti ini: Ketika saya ingin merokok, maka saya harus pergi untuk mencari tempat khusus untuk merokok. (Saya membayangkan tempat itu ada disudut ruangan atau mungkin dekat/dibawah pohon) ketika saya sampai di tempat itu, kemudian saya mengambil sebatang rokok dan membakarnya. Saya hisap perlahan dan sesekali saya melihat lingkungan disekitar. Dari sudut pandang perokok : Saya melihat orang yang memiliki aktivitas yang sama seperti saya, menikmati sebatang rokok dan bercengkrama bersama. Dari sudut pandang di luar kami: orang-orang menatap kami dengan rasa “puas” bahwa kemudian kebebasan mereka untuk menghirup udara segar kemudian terpenuhi, sambil memandang kami dan berkata dalam hati “mampus sajalah kau orang-orang malang, yang sedang menggali lubang kuburnya sendiri” . setiap  asap rokok yang kau hisap semakin mengurangi jumlah umurmu (tentunya ini hanya imajinasi subjektif penulis).

Yang mesti kita kritisi adalah ; apakah para perokok perlu mendapat tempat khusus merokok? Kalau sampai  terjadi; malang sekali nasib kalian. Sebab para perokok akan dilihat sebagai orang-orang pesakitan yang segera harus “disembuhkan” atau bahkan “dilenyapkan” .  tentunya bahasa saya terlalu hiperbolis, akan tetapi jika hal itu yang memang akan terjadi , tentunya itu hanya “akal-akalan” yang semakin memperlancar serangan terhadap para perokok.  Coba dipikirkan kembali kawan, apakah perlu tempat atau ruang khusus untuk mengumpulkan kalian para perokok ? coba kita tarik jauh-jauh kepentingan emosional kita. Yang sedang kita hadapi bukan perkara adanya solusi, melainkan permainan kesadaran serta kepentingan berbagai pihak yang dengan sangat luas menjadikan kita sekedar komoditi yang perlu dipermainkan oleh mereka (entah siapa orangnya,silahkan dijawab didalam hati pembaca). Dan sekali lagi ini bukan perkara merokok itu salah atau tidak, sebab banyak sekali argument yang proposional mengenai itu.

Mungkin pembaca menerka bahwa saya tentu mendukung para perokok, tentu itu menjadi kebebasan saudara. saya lebih mengkritisi logika berpikir kita yang terlajur dibentuk oleh opini publik, yang lewat media secara tidak sadar telah menanamkan virus yang sama dan akut yakni common sense atau pandangan umum. Kita terjebak pada pandangan umum dan menganggap itu sebagai benar. Bukan berarti saya juga menolak deklarasi kampus bebas asap rokok, bahkan saya setuju jika ditambah embel-embel ; kampus bebas rokok dan narkoba serta bebas dari sampah.

Tapi kita membutuhkan solusi! Menjadi pertanyaan saya adalah solusi yang seperti apa yang kemudian menjadi urgen untuk diterapkan pada kasus ini.  Jika kampus mengidealkan lingkungan belajar yang sehat, bersih serta mahasiswanya dapat merepresentasikan dirinya sebagai manusia yang berintelektual ; menjadi pertanyaan kita bersama bahwa kemudian apakah pelarangan merokok adalah jawaban yang tepat? apakah cara pihak kampus memperlakukan mahasiswanya juga sudah tepat? Apakah mahasiswanya juga sudah menunjukan sebagaimana ia seharusnya bereksistensi?

Jika memang pada akhirnya pihak kampus menerapkan system ini , Point yang tidak kalah penting adalah bagaiama metode yang digunakan oleh pihak-pihak yang terkait dalam menerapkan system yang telah dibuatnya. Apakah secara revolutif atau secara evolutif ? secara revolutif mengandaikan bahwa system ini kemudian secara memborbardir memaksakan kehendak untuk secara cepat dan tepat dilaksankan. Peraturan dibuat, dan sudah tidak ada lagi segala jenis toleransi dengan kata lain ada “kediktatoran” kekuasaan yang mengandaikan kita hanyalah objek yang akan selalu manut terhadap yang berkuasa.(walaupun kita bisa balik bertanya; sebenarnya di kampus siapa yang berkuasa?).  menjadi pelik ketika kita menyadari bahwa di dalam lingkup kampus ternyata tidak terdiri dari mahasiswa saja, melainkan ada para dosen,karyawan,tamu hilir mudik. Pertanyaan selanjutnya sejauh mana otoritas yang berkepntingan itu menujukan konsistensi dalam memberikan sanksi terhadap orang-orang yang melanggar dari semua kalangan.

Secara evolutif sejatinya peraturan dijalankan dengan prinsip kontinuitas. Berjalan bersamaan dengan tahapan-tahapan dan segala bentuk simulasi yang pada akhirnya mencari kesempurnaan suatu perjalanan aturan. Melalui kampanye,seminar,konsultasi,pelatihan tentang segala hal yang berhubungan dengan aturan yang ingin diterapkan. Saya melukiskannya seperti ini; pihak kampus menerapkan kampus bebas asap rokok, akan tetapi tidak menberikan alasan dan solusi mengapa kampus ini bebas asap rokok. Akan terasa beda apabila ada ada sikap proaktif dari pihak kampus terhadap bahaya merokok.  Mungkin caranya dengan diawali “kampanye halus” kampus kita bebas asap rokok dan adanya tindakan konkrit(seminar,konsultasi,pelatihan ysng mungkin berguna untuk membantu perokok untuk berhenti merokok). Dengan tidak ujug-ujug membuat keputusan sepihak , tanpa terlebih dahulu disosialisasikan dan didiskusiskan bersama. Saya percaya apa yang baik pasti akan selalu didukung oleh kami para mahasiswa.

Penutup namun bukan akhir!

Sebagai penutup dari essai panjang ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa menjadi perokok atau tidak adalah pilihan yang membuat kita tetap dipandang sama sebagai manusia. Tidak ada hukum atau apapun yang bisa mereduksi perokok sebagai manusia kelas dua atau kelas apapun dan juga berlaku sebaliknya.  Saya hanya membayangkan bagaimana saya bisa menjadi perokok yang cerdas dan berintelektual, bukan menjadi perokok yang membuat realitas kita terhadap realitas lain menjadi terganggu. Bijaklah memilih pilhan, termasuk merokok yang tahu tempat dan waktu.

Saya pribadi tegas menolak adanya tempat khusus,(namun bukan berarti meniadakan) tetapi lebih memilih “membangun” tempat sendiri pada hati dan kesadaran saya, bahwa menjadi perokok itu keren jika kita tahu bagaimana menghormati tubuh kita sendiri dan orang lain. Tahu bagaimana cara menjadi manusia yang cerdas dan perokok yang cerdas.

Manusia yang cerdas adalah “mereka yang mampu mengatakan apa yang tidak bisa dikatakan, melihat apa yang tidak bisa mereka lihat” pada tahap ini sang  perokok yang cerdas adalah mampu melihat segala konsekuensi yang akan membelenggu kebebasanya sekaligus mampu mengatakan dan berargumentasi bahwa merokok bukan sekedar perkara kesehatan, lingkungan,moral,etika, sosial,gaya hidup, melainkan ia telah menjelma menjadi puncak aktualisasi gaya hidup seseorang yang semakin menancapkan dirinya sebagai manusia. Menjadi cerdas apabila ia tahu bagaimana bereksistensi sesuai dengan esensinya! Bagi mereka yang tidak merokok, sadarlah bahwa kalian adalah bagian dari proyek besar ini.

Mana korek api saya? Saya mau membakar tembakau dan menghisapnya, tidak untuk kalian, tapi untuk kesadaran saya yang tahu bagaimana menjadi perokok yang cerdas!

Salam kretek!

 

Tentang Penulis:

Stefanus Dominggus, atau yang biasa dipanggil Minggus, lahir di Jakarta pada 12 April 1987. Tercatat sebagai mahasiswa Filsafat Unpar angkatan 2010. Kini ia aktif di Majelis Perwakilan Mahasiswa periode 2013-2014 sebagai staff komisi kemahasiswaan. Di samping kesibukannya menyuarakan aspirasi mahasiswa, ia juga sedang sibuk menggarap scoring sebuah film pendek. Penulis dapat dihubungi di alamat email stefanusminggus@rocketmail.com dan tulisan-tulisan lainnya dapat dilihat di www.kompasiana.com/mingguz

Related posts

*

*

Top