Kamisan Bandung Kampanyekan Pelanggaran HAM Lewat Seni

Diskusi mengenai Pelanggaran HAM yang terjadi di Papua pada acara September hitam yang dilaksanakan di Taman Cikapayang, Sabtu (26/10). MP/ Kristiana Devina. Diskusi mengenai Pelanggaran HAM yang terjadi di Papua pada acara September hitam yang dilaksanakan di Taman Cikapayang, Sabtu (26/10). MP/ Kristiana Devina.

BANDUNG,MP – Kamisan Bandung bersama Komunitas Perpustakaan Jalanan kembali mengadakan acara September Hitam. Acara yang bertajuk “Parade September Hitam : Seni Menolak Lupa” diadakan pada Sabtu (26/9) di Taman Cikapayang.Acara tersebut adalah bentuk kampanye bagi para korban malapetaka anti-kemanusiaan yang belum memperoleh kejelasan hingga saat ini.

“Di acara ini kita mau menyampaikan melalui seni karena lebih universal. Tujuannya agar orang-orang awam bisa mendengar dan peduli atau apapun sehingga bisa sampai ke telinga mereka,” ucap Rudiansyah (25) yang biasa disapa Eeng selaku penaggung jawab acara yang ditemui pada saat acara berlangsung di Taman Cikapayang.

Menurut keterangan panitia, beberapa pertunjukkan seni yang ditampilkan yaitu musikalisasi puisi, pantomime oleh Wanggihoed, teatrikal, dan sejumlah pertunjukkan musik. Eeng pun berharap bahwa melalui seni, orang-orang dapat diingatkan terutama yang belum tahu menauhu agar bisa lebih peduli. “Dalam artian bukan membuka luka lama, melainkan kita menekankan lagi negara ini sedang tidak baik-baik saja,” ucapnya.

Hal senada juga dituturkan Ledin Mandasek selaku penanggung jawab Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Menurutnya, banyak pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) disembunyikan dan belum tuntas juga pelakunya belum diadili. Ia pun berharap agar publik melihat persoalan kemanusian di Papua. “Kehidupan di Papua terancam. Saya harap pemerintah mengurangi militernya dan membuka ruang demokrasi untuk berpendapat serta peliputan jurnalis yang lebih jernih ketimbang memihak pemodal mereka,” ucapnya.

Selain itu, Dwiki Adythia (Mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum Bandung 2015) menyatakan dukungannya terhadap acara tersebut. “Saya lihat ya menarik banget makanya saya berpartisipasi. Dengan tahu sejarah yang sebenarnya, orang-orang bisa menumbuhkan nasionalismenya,” ucapnya.

Selain pertunjukkan seni, panitia juga membuka diskusi singkat terkait pelanggaran HAM. Acara tersebut diisi oleh Perpustakaan Jalanan, Rakapare, Front Api, Lingkar Sastra ITB,Aliansi Mahasiswa Papua.

VINCENT FABIAN THOMAS

Related posts

*

*

Top