[Kolom Parahyangan] Kala Agama dan Negara Menindas-Mendusta

Ilustrasi Agama dan Negara. Dok/pinterest

Aku juga masih teringat kala itu, menemani sang Profesor hadir sebagai seorang narasumber di salah satu seminar terbuka berjudul ‘Dekadensi Sistem’.

Saat itu, ada seorang mahasiswa, entah anak FISIP, atau Hukum, atau Filsafat.
“Profesor, saya mau bertanya.”

“Oh, silakan.”

“Kenapa sih banyak sekali penyelewengan yang mengatasnamakan agama, apapun itu agama dan bentuknya?”

Sang Profesor menggaruk kepalanya sambil berpikir sejenak, sebelum mengambil mikrofon yang disediakan.

“Saudara, sebelum saya jawab itu, saya mau tanya. Saudara tahu apa itu sistem?”

“Tahu, Prof.”

“Tahukah anda tujuan dari sistem itu?”

“Tergantung sistem apa dulu yang dimaksudkan, Prof.”

“Itu dulu, pertama. Bagus.” Ia berdeham sejenak sebelum meneruskan.

“Kira – kira baik dan benar, ga, tujuan dari suatu sistem, apapun itulah, secara ideal?”

“Kadang keduanya, kadang baik saja, kadang benar saja.”

“Very well.. Lalu, realitanya seperti apa?”

“Terlalu banyak penyelewengan.” Ada sebersit amarah keluar dari nadanya. Kelihatannya penanya kita ini seorang aktivis. Atau malah… seorang anarkis. Menarik. Aku terus menulis sembari mendengarkan.

“Oya? Seperti apa?”

“Kepolisian, menyelewengkan pelayanan surat penting. Birokrasi, sama saja dosanya. Masyarakat, banyak penyakitnya yang tidak diduga.” Jawabannya mendapat persetujuan nyaris 98% peserta seminar.

“Nahh.. Sama halnya dengan agama, saudara.”

“Kok bisa, Prof?”

“..Emang Tuhan suruh anda bikin agama?” Canda sang profesor sembari membetulkan monocle-nya.

“Eh, eh, sebentar. Prof, anda…”

“Tidak. Saya tidak ber-agama. Saya ber-Tuhan.” Terdengar derak tulang dari leher sang profesor yang ia gerakkan sedikit. Welp, pandangan mata sang profesor menajam, lalu melunak lagi. Salah ini mahasiswa. Sang profesor sangat sensitif kalau sudah bicara soal perbandingan keabsolutan ajaran.

“Tuhan yang saya sembah aja ga menuntut dibuat agama, kok.” Candanya lagi.

“Kamu kalo bicara agama, jangan diadu aspek keabsolutan ajarannya. Berantem mulu kamu nanti sama penganut agama lain, yang kamu adu aspek ultima-nya. Makanya ni negara kagak beres – beres masalahnya, agama mulu. Mundur dah kita ke Eropa zaman Dark Age.” Ia berdeham lagi.

“Oke, kembali ke pertanyaanmu deh. Saya tanya gini, ingat penyelewengan sistem yang tadi kamu sebutkan?”

“I-iya, prof.” Wew, keliatannya dia masih cukup ketakutan.

“Nah, sekarang pertanyaannya, kok bisa sih terjadi penyelewengan?”

“Emm… Karena… keserakahan? Keinginan dominasi?”

“Itu dia!” Ia bersorak dengan gembira, berdiri, dan menulis dengan huruf besar di papan tulis yang disediakan, SUPERIORITAS.

“Saya tidak tahu kamu baca kitab apa – itu dengan asumsi kamu baca beneran ngerti ato baca doang, atau malah ga baca – tapi dari yang saya baca, kita manusia ditugaskan untuk menaklukkan bumi ini dan segala isinya, dan mengusahakannya, alias mengurus bumi ini. Dengan mindset ini, memang sudah kodrat kita sebagai manusia untuk menguasai bumi ini dari nenek moyang kita, dan tugas kita jugalah untuk mewariskannya pada anak – anak kita.”

Si mahasiswa manggut – manggut.

“Di sinilah muncul masalahnya. Di bumi ini kan, ada ikan, sapi, binatang lainnya, tumbuhan juga yang menjadi hak kelola atau kuasa kita. Nah. Muncullah pemikiran, ‘berarti sesama kita juga bisa kita kuasai dong, baik langsung maupun tak langsung. Di sinilah juga mulai muncul sistem – sistem yang banyak dikemas pake kertas kado asik padahal isinya racun. Dan secara tidak langsung ini sudah terjadi selama ribuan tahun.”

“Masa sih!? Saya tidak merasa dikuasai!” Positif. Anak ini seorang anarkis. Semakin menarik. …Individualis kah?….atau Kolektivisme.. Atau malah Sosialisme.. Pah, peduli amat.

“Yakin?..” Sebuah seringai membingkai wajahnya saat ia menuruni tangga podium dan duduk di tangga ke 17 dari 30. Podiumnya memang sangat tinggi, setidaknya ia sejajar dengan ‘eye level’ mereka.

“Sekarang saya tanya. Tau gak sih, anda, pemerintah anda ngapain pake uang pajak yang mereka rampas dari anda, yang kalo sampe anda ga bayar kena denda yang gedenya sialan gak ketulungan?”

“Engga, Prof.”

“Saya tanya lagi nih. Rakyat Amerika nih, setelah zamannya Kennedy, tau gak sih mereka pemerintah mereka ngapain pake uang pajak mereka?”

“Perang. Perang. Sekutu. Dominion. Kematian. Emas. Minyak.” Celetuk saya, menjawab sang mahasiswa.

“Tepat sekali. Terimakasih, Adolf.” Ia meneguk sedikit air yang disediakan panitia sebelum meneruskan.

“Bahkan dengan adanya protes skala massive di seluruh USA setelah tahu kondisi Vietnam dan tentara mereka di sana… Tetep aja tuh gak kapok para Kaukas mancung sialan itu ngirimin pasukan ke mana – mana, maaf ya buat yang mancung hidungnya secara genetik.” Hal itu mengundang tawa seisi seminar sebelum kembali kondusif.

“Ah, yang bener?..”

“Sebelumnya, ke mana mereka!? Korea! Ke mana lagi!? Semenanjung Indochina! Cari medan lagi!? Benua Afrika tuh! Tau tau nongol dah di Amerika Latin sama Afganistan! Eh, tiba – tiba muncul di Jazirah Arab atas nama WMD! Padalah kaga ada sebiji pun tuh misil antar benua!” Suaranya meninggi seiring jawaban yang keluar. Akupun hanya bisa mengeluarkan napas singkat. Review sejarah lagi dah.

“..Sekarang saya tanya lagi. Bisa ga tuh para demonstran yang teriak – teriak meyakinkan mereka untuk tobat?”

“Eh..engga?” Ia menjawab dengan sedikit ketakutan tercium.

“Tepat sekali.” Sang profesor menarik napas. “Untung bener jawabnya.” Tawa kembali keluar.

“Mark Twain pernah bilang ‘If voting changes everything, they wouldn’t let us do it.’ Artinya apa? Mereka sengaja izinkan voting karena tahu itu tidak akan merubah apa – apa! Setidak – tidaknya tidak sampai mereka yang tidak menginginkan perubahan itu dienyahkan! Saya yakin kamu lebih tahu siapa mereka yang saya maksud. Salah satu bentuk superioritas adalah pemaksaan kehendak dimana kamu tidak berdaya untuk melakukan sesuatu, atau kalaupun kamu mampu dan bisa melakukan sesuatu, itu tidak akan merubah apa – apa.”

Sang mahasiswa terus mencatat dari tadi seperti kerasukan, sambil mengelap keringat dingin yang mengucur keluar. “Nah, sekarang saya tanya. Pelaku penyelewengan itu sendiri siapa, sih?”

“Umm… Pelaku…. Orang internal sistem itu sendiri?”

“Bagus. Nah, kenapa?”

“..Rasa sekarah? Keinginan yang berlebih? Superioritas?”

“Tepat sekali. Dosa – dosa lama umat manusia dari zaman dulu. Kalau kata orang, harta, tahta, dan wanita, buat laki – laki mah.” Hal ini mengundang tawa dari para peserta wanita.

“..Lo kate yang wanita kaga ada dosanya???..” Ruang auditorium meledak dengan tawa seluruh peserta dan narasumber lainnya, dan sekali ruangan kembali tenang, sang profesor kembali meneruskan.

“Larkin pernah berkata,’manusia menginginkan keinginan manusia lainnya.’, yang kita kenal dengan istilah ‘Humans desire the desires of others’. Kalau ingin saja sih tidak masalah. Problemnya, adalah saat keinginan ini manifestasi jadi tindakan. Celakanya, seringkali memakan korban, dan jarang sekali korbannya sedikit. Walaupun korbannya sedikit secara angka, mentalnya gimana?..”

Ia mengusap matanya sejenak. “Perlu contoh?”

Sang mahasiswa mengangguk saja.

“Israel pada zaman penjajahan Roma merupakan salah satu contoh penyelewengan agama yang merugikan secara sosial dan finansial. Kehidupan masyarakat Yahudi yang tinggal pada masa Julius Caesar berkuasa di Roma boleh dibilang cukup memprihatinkan, walaupun tidak sedih – sedih amat. Kasusnya begini secara simpel. Kamu, kalo sekali berbuat dosa pada zaman itu, harus mengorbankan seekor binatang tertentu. Bisa kambing lah, burung lah, domba lah, lembu lah, whatever, tergantung dosanya.” Ia mengangkat bahunya dengan enteng sebelum meneruskan.

“Kamu pergi tuh ke tempat ibadah. Si imam, yang punya kualifikasi untuk menilai kualitas binatang korban kamu, bilang, ini binatang tidak layak. Ia bilang kalo kamu harus beli binatangnya di etalase-nya si X di rumah ibadat. Nah, dia jual tuh, rada mahal. Ternyata, ketauanlah kalau si imam dan si tukang jualannya sudah kong kali kong. Dan itu tidak terjadi hanya oleh seorang imam, tapi seluruh institusi. Yaa, alias…kalo se-institusi itu ada 500-an imam, yaa semuanya nyemplung juga dah.”

“Riba dong!..” Ia berseru, membuat panik rekan – rekan sebelahnya, takut menarik perhatian.

“Kalau itu istilah yang kamu pilih, okelah. Da emang cocok, mau gimana.”

“Mau contoh lagi? Kali ini, yang rada ekstrim, heh heh heh.” Senyum sang profesor yang aneh membuat beberapa peserta bergidik. Mereka – mereka yang berpengalaman seminar dengan narasumber sang profesor paham arti senyuman itu.

“Kita mundur sedikit, sekitar 11 sampai 12 abad, di rentang abad ke 5 sampai ke abad 17, di Eropa, tepatnya. Gereja, lebih tepatnya Gereja Katolik Roma, memegang kekuasaan di dataran Eropa secara ketat dengan tangan besi secara tidak langsung.”

“Maksudnya tidak langsung bagaimana, Prof?” Seorang mahasiswi angkat tangan.

“Jurusan apa kamu?” Tanya sang profesor.

“Sejarah Zaman Medieval, Prof.”

“Lagi ambil mata kuliah apa?”

“Sejarah Politik Dari Masa Ke Masa.”

“Syarat pengangkatan seorang raja pada zaman medieval di Eropa apa?”

“Harus berhasil membuktikan lineage, atau bloodline, kemampuan, dan…” Si mahasiswi terdiam.

“Tepat sekali.” Sang profesor menggeleng. “Ia butuh approval dari Gereja Katolik Roma, yang akan memberikan persetujuan lewat Uskup Agung, atau Archbishop region itu untuk mengokohkan takhtanya. Secara tidak langsung, kalau sang calon raja tidak sesuai dengan selera Vatikan…ya, out lah dia. Simple.”

Ia berjalan di sekitar podium. “Itu bicara politik. Sekarang ke ranah HAM-nya. Ada yang tahu apa yang spesial tentang tahun 1999, atau 2000? Berarti…sekitar 30 tahun yang lalu?”

Seorang mahasiswa yang duduk di atrium Sejarah mengangkat tangan. “Permintaan maaf Paus Yohanes Paus ke-2 kepada dunia?”

“Tepat sekali. Nah, kenapa?”

“Sepanjang zaman kegelapan sampai setidaknya… zaman Reanissance, di Eropa, Gereja Katolik Roma melakukan banyak sekali pelanggaran HAM. Perang Salib atas nama pengklaiman Yerusalem. Inkuisisi di berbagai negara. Malleus Maleficarum yang menelan korban perempuan sampai 5 juta lebih, yang sejarah harusnya lebih paham ini. Dan Conquistador juga, kalau kalian menganggap pembiaran adalah dosa juga. Itu lembaran sejarah yang amat hitam yang tercatat. Kaga tau tah kalo masih ada lagi. Pasti banyak sih.” Ia menarik napas sambil mengangkat bahu.

“..Nah, apa it menjawab, nak?”

“Sudah, Prof. Terimakasih.” Ia mengangguk.

“Jadi ingat, semuanya, no human being is illegal.” Ia pun menjatuhkan mic yang ia pegang, diiringi tawa. ———————————————————————————–

‘You protested that the government is not fair? Come hither and listen. I have this thing called chaos to share. What’s that?… I’ll tell you something, sahn. You know what’s good about chaos?.. It’s fair. To everyone. ‘

‘Anhaltend’ Adolf

Circa 20 September 2023

 

Tentang Penulis:

*Habib Blitzkrieg

Related posts

*

*

Top