IREC Symposium Ajak Mahasiswa Hilangkan Stigma Negatif LGBT

Para pembicara diskusi di IREC Symposium. MP/Tanya Lee Para pembicara diskusi di IREC Symposium. MP/Tanya Lee

STOPPRESS MP, UNPAR – Pada Senin sore (26/10) lalu di ruang 3302 gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), International Relations English Club (IREC) melaksanakan suatu wadah diskusi informal yang dinamakan IREC Symposium. Acara tersebut mengambil tema LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender) dengan judul “LGBT Rights: Should #LOVEWINS (?)”. Tema ini dipilih karena banyaknya stereotipe negatif bagi kaum LGBT yang disebabkan oleh media massa.

“Media massa perlu didekonstruksi agar berbagai stereotipe negatif di masyarakat hilang,” ujar Elisabeth A.S. Dewi, dosen jurusan Hubungan Internasional yang menjadi pembicara dalam acara tersebut. Berbagai stereotipe negatif di media tersebut berakibat buruk bagi kaum LGBT, seperti mendapat banyak diskriminasi dari masyarakat. “Masih banyak orang yang merasa terganggu dengan kehadiran kami, tak jarang mereka juga menganggap bahwa kami adalah virus di masyarakat,” ujar Samuel Rio Pasaribu, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional 2012 yang juga menjadi pembicara.

Elisabeth sebagai pakar isu-isu gender serta Samuel yakin bahwa dekonstruksi memang diperlukan untuk mengubah stereotipe negatif yang ada di masyarakat. Salah satunya adalah masih banyak yang menganggap bahwa LGBT adalah suatu penyakit, padahal LGBT bukan penyakit karena hal ini tidak ada obatnya dan tentunya tidak menular. “Status LGBT tidak mengubah kemampuan mereka sebagai manusia,” ujar Elisabeth.

IREC Symposium adalah suatu bentuk diskusi grup informal yang membahas mengenai topik-topik internasional dengan berbagai metode-metode yang berbeda, seperti talkshow, games, dan roleplay. Acara ini yang dilaksanakan dua bulan sekali ini diadakan oleh IREC, salah satu organisasi yang ada di Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HMPSIHI).

TANYA LEE | ZICO SITORUS

Related posts

*

*

Top