Idealkah INAP? Pertanyaan Untuk Hati Nurani

Dari diskusi sosial yang diadakan oleh LKM dengan tema INAP (Inisiasi dan Adaptasi) : “Masih Relevankah dengan Perkembangan Zaman?”, didapatkan tiga pandangan penting. Pandangan yang pertama dikatakan oleh Andrew Sinaga, Presiden Mahasiswa Unpar. Menurutnya INAP masih relevan dan konsep keras yang digambarkan Said, panggilan akrab Andrew Sinaga, sebagai INAP yang memberikan ‘efek kaget’. Selain Said dapat dikatakan hampir seluruh peserta diskusi setuju dalam pandangan ini.

Pandangan lain yang mungkin dapat diusung ialah pandangan bahwa INAP tidak diperlukan selama kekerasan masih mendominasi dalam prosesnya. Terutama kehadiran divisi tata tertib, komisi disiplin, swasta, dan mungkin bentuk lain yang sejenis masih mendominasi dalam runtutan acara INAP. Menurut pandangan lain pun menyebutkan bahwa tidak diperlukannya acara INAP yang didominasi dengan kekerasan dan hanya memberikan pengalaman OSPEK di SMA-nya yang menerapkan konsep keras tersebut.

Pandangan lain yang disampaikan juga berasal dari Risvan (Mahasiswa Teknik Informatika 2009) bahwa INAP seharusnya memberikan tempat yang seimbang antara konsep keras dan lembut. Dimana hal ini dimaksudkan dengan tidak adanya data yang valid mengenai persentase mahasiswa baru mana yang terdidik dengan konsep keras dan mahasiswa mana yang terdidik dengan konsep lembut.

Bahan diskusi semakin menghangat ketika saya sedikit menyeletuk bahwa INAP seharusnya memanusiakan manusia secara utuh dan menjunjung tinggi norma hak asasi manusia yang telah diterapkan saat ini. “Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa pada zaman orde baru sistem pengenalan lingkungan kampus baru diterapkan dalam sebuah peraturan dan hal ini masih bertahan hingga saat ini, meskipun sudah memasuki tahapan reformasi. Apa hasilnya sekarang tetap saja menggambarkan negara Indonesia yang diliputi koruptor tidak berubah sama sekali dan pengenalan kampus serta hal sejenis masih dilakukan.”

Said menanyakan kembali kepada saya apa yang dimaksud dengan sistem INAP yang ideal untuk Unpar. Saya hanya menjawab bahwa tidak ada sistem INAP yang ideal, yang ada sistem INAP yang lebih baik dan saya rasa sistem INAP saat ini terdapat kesalahan-kesalahan yang mesti diperbaki termasuk sistem keras yang kita gunakan. “Kita harus mencari pemecahan untuk hal tersebut, karena selama ini saya dan kawan-kawan tidak bisa menemukan jawabannya,” tambahnya.

Jaya, Teknik Kimia 2009, selaku moderator pun memberikan pertanyaan lain dalam diskusi ini yakni apakah Tatib, Komisi Disiplin, dan hal apapun yang sejenis masih dibutuhkan dalam INAP. Ada yang menjawab bahwa Tatib, Komisi Disiplin, Swasta tidak perlu ada karena hanya mengurangi esensi dari INAP sebagai pengenalan itu sendiri. Beberapa mahasiswa pun menanggapi bahwa Tatib, Komisi Disiplin itu perlu karena mahasiswa perlu dikenalkan prilaku disiplin dan prilaku menaati peraturan. “Dalam menentukan kepanitiaan itu diperlukan seleksi yang ketat agar dalam acara INAP panitia tidak kecolongan terhadap pihak yang hanya mengutamakan balas dendam,” ujar salah satu peserta diskusi tersebut.

Saya pun ikut menanggapi hal ini. Saya berpendapat dalam diskusi itu bahwa dalam INAP jangan kita menggemborkan hanya satu sisi saja yakni, punishment. Saat mahasiswa baru melakukan kesalahan, mahasiswa tersebut akan diberikan hukuman dengan menerima sangsi yang keras dari Tatib dan terkadang hal ini terjadi secara berlebihan. Namun hal ini tidak diimbangi dengan pemberian reward yang meriah pula saat mahasiswa baru melakukan suatu prestasi. Padahal dalam sistem yang ada dalam kehidupan kita harus berimbang antara keduanya.

Beberapa mahasiswa beranggapan bahwa kejadian yang saya harapkan akan sulit terwujud. Menurut mereka pemberian reward dapat diberikan secara tidak langsung dan tidak perlu ditampakkan. Namun Jaya beranggapan bahwa kejadian itu ternyata bisa diwujudkan di INAP jurusannya. Pemberian reward dan punishment dapat diberikan secara berimbang dalam INAP jurusannya.

Diskusi ini pun diakhiri dengan beberapa kesimpulan dari tiap mahasiswa berupa pertanyaan apakah INAP masih relevan atau tidak dan bagaimana INAP yang ideal. Beberapa masih teguh bahwa INAP tidak relevan jika masih menggunakan konsep keras. Sementara mahasiswa lain mengganggap INAP masih relevan dan INAP yang ideal menurut mereka masih harus mengutamakan konsep keras. Bahkan seorang mahasiswa menganggap konsep keras mesti dilakukan untuk meminimalisasi pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan.

Saya berpendapat bahwa INAP mungkin masih bisa relevan, saya 100% setuju dengan INAP gabungan dan 100% tidak setuju dengan INAP Jurusan.  Namun jika ditanya adakah sistem INAP yang ideal, maka saya hanya bisa menjawab tidak ada sistem yang ideal namun kita bisa membuat sistem yang lebih baik dan saya rasa INAP jurusan yang sekarang masih terdapat kesalahan yang mesti kita perbaiki. Saya hanya bisa mengajak kepada seluruh peserta diskusi, teman-teman mahasiswa yang lain cobalah kita kembali ke hati nurani kita dan bertanya mana yang lebih baik dan mana yang seharusnya tidak dilakukan dalam INAP?

(Noorhan Firdaus Pambudi, 2009610179)

Related posts

*

*

Top