Hanung Bramantyo dan Upaya Memanusiakan Kartini  

Cuplikan Gambar Dari Film Kartini. dok./Legacypictures

Semasa saya kecil dahulu, bagi saya Kartini adalah pahlawan Indonesia yang membosankan. Sepak terjangnya di buku sejarah saya tidak sekeren Cut Nyak Dien atau Martha Tiahahu yang berani pasang badan untuk melawan para tentara Belanda yang kejam. Namun seiring dengan bertambahnya usia dan meningkatnya kemampuan membaca saya, Kartini berubah menjadi sesosok perempuan yang sangat saya kagumi. Hal ini membuat saya bingung. Bagaimana bisa kisah tentang seorang perempuan yang sangat mengagumkan ini menjadi begitu membosankan? Barangkali karena kita cenderung mereduksi citra Kartini menjadi sebatas sesosok perempuan yang berhasil memberikan hak atas pendidikan bagi perempuan Indonesia saja. Buku-buku pelajaran Sejarah tidak pernah bercerita tentang betapa bencinya Kartini atas pengkelasan masyarakat di Jepara. Tidak pernah ada cerita tentang Roekmini dan Kardinah. Meski ia memiliki harinya sendiri, Kartini selalu dikenal sebagai sesosok putri yang sarat akan keanggunan dan tata krama. Ironisnya, kedua citra ini adalah citra yang ingin mati-matian ia hapus.

Pada film Kartini yang dirilis pada April 2017 ini, Hanung Bramantyo memutuskan untuk tidak tunduk kepada glorifikasi atas citra lembut Kartini. Alih-alih Hanung memberikan kita sisi lain dari seorang Kartini—seorang perempuan yang tidak ragu-ragu mengeluarkan pendapatnya dan memiliki mental sekeras baja. Tak hanya menyoroti Kartini dan penolakannya terhadap budaya patriarki Jawa di era feodalisme saja, dalam film ini kita juga bisa melihat sosok-sosok lain yang berpengaruh di kehidupan Kartini seperti misalnya Roekmini dan Kardinah, adik tiri sekaligus sahabat Kartini; Ngasirah dan Moeryam, kedua ibu yang membesarkan Kartini dengan dua cara yang berbeda; serta Kartono Sosrodiningrat, sang kakak yang memberikan dorongan bagi Kartini untuk berpikir kritis.

Dari awal film ini dimulai pun sutradara sudah mencoba menghadirkan suasana emosional dengan menampilkan perpisahan antara Kartini (diperankan oleh Dian Sastrowardoyo) dan Ngasirah (diperankan oleh Christine Hakim) yang diwarnai dengan airmata. Adegan selanjutnya menggambarkan Kartini yang menjalani masa pingitan di dalam kamar dengan ekspresi pasrah dan nelangsa. Selama adegan-adegan yang menggambarkan proses ‘pendidikan’ Kartini sebagai Raden Ajeng berlangsung, tidak pernah sekalipun Kartini digambarkan tersenyum atau pasrah. Semua ia jalani dengan raut wajah tertekuk atau bersungut-sungut. Saya rasa ekspresi wajah Kartini pada adegan-adegan ini adalah bentuk dari upaya Hanung untuk meruntuhkan imej Kartini yang lemah-lembut dan keibuan.

Sebagai penonton—lebih tepatnya lagi sebagai penonton perempuan—saya merasa bersimpati terhadap Kartini di sepanjang film ini. Konflik terbesar yang dialami Kartini pada film ini berasal dari kultur patriarkis yang sangat lekat pada budaya Jawa di era feodal. Kita bisa lihat pada film ini hampir semua perjuangan Kartini digagalkan oleh laki-laki, entah itu melalui pernikahan paksa ataupun menghalang-halangi Kartini untuk menerbitkan tulisannya sendiri. Meski telah seabad lamanya Kartini meninggal dunia, tapi kultur patriarkis di Indonesia masih ada dan entah kenapa situasi yang dihadapi oleh Kartini masih tetap relevan dengan kondisi perempuan Indonesia masa kini.

Yang saya kagumi dalam film ini adalah Hanung sangat konsisten dalam menghadirkan suasana Jepara pada tahun 1800an. Mayoritas dialog pada film ini menggunakan bahasa Jawa. Semua pemeran figuran diambil dari orang yang fasih berbahasa Jawa, sehingga sama sekali tidak terkesan maksa ketika ada dialog-dialog berbahasa Jawa. Bahkan aktor-aktor utamanya sekalipun sepertinya dituntut untuk mempelajari aksen medok ketika mengucapkan dialog bahasa Jawa. Scoring music juga menjadi nilai tambah pada film ini, dan berperan besar dalam membangun suasana emosional dalam adegan-adegan penting.

Secara keseluruhan, jika saya boleh memberikan penilaian subjektif, Kartini adalah film Indonesia yang sangat bagus. Meski mengusung tema feminisme yang cukup jarang ada di sinema Indonesia, akan tetapi film ini tetap berhasil meraup kesuksesan. Boleh jadi salah satu faktor kuncinya terletak pada jajaran aktris dan aktor kawakan dengan kualitas akting jempolan. Di sisi lain,  jarang ada film—atau bahkan buku sejarah—yang membahas Kartini sebagai seorang feminis. Film ini adalah sebuah upaya rekonstruksi ulang imej Kartini sebagai perempuan patuh dan lembut diri menjadi perempuan yang kritis dan cerdas—sebuah bentuk penghormatan yang seharusnya kita lakukan untuk Kartini sedari dulu.

 

* Dyaning Pangestika adalah seorang pengamat meme. Pada siang hari ia memiliki pekerjaan sampingan sebagai jurnalis di salah satu media Indonesia.