Gagasan A-logikal Paul Scholten Dalam Pemikiran Arief Sidharta

Suasana diskusi Ariefian, Rabu (18/2) lalu./Kristiana Devina Suasana diskusi Ariefian, Rabu (18/2) lalu./Kristiana Devina

STOPPRESS MP, UNPAR – Diskusi Ariefian diselenggarakan sebagai bagian dari pre-event Malam Ariefian di Coop Space Unpar pada Rabu (17/2) . Diskusi tersebut membahas mengenai Pemikiran Paul Scholten yang kemudian dikaitkan dengan pemikiran almarhum Arief Sidharta mengenai Cita Hukum Pancasila.

“Paul Scholten dalam bukunya mengungkapkan suatu gagasan yakni adanya unsur a-logikal dalam ilmu hukum,” papar Aryo Prasetya (Ilmu Hukum 2012) selaku pembicara dalam diskusi Ariefian.

Secara singkat, maksud dari unsur a-logikal adalah unsur-unsur yang ada dalam ilmu hukum yang berkaitan dengan kegiatan menyistematisasi bahan-bahan a-logikal yang terdiri dari historikal, sosiologis, dan kesadaran hukum.

Diskusi tersebut membahas mengenai pemikiran Paul Scholten yang menjelaskan tentang bahan a-logikal harus mengacu pada keadilan. “Karena keadilan merupakan makna dari hukum,” tutur Aryo. Namun dalam diskusi, Aryo menyampaikan bahwa Paul Scholten tidak menyatakan konsep keadilan yang memiliki acuan yang jelas. Ia pun menjelaskan bahwa kalau tidak ada acuan yang tepat maka hukum tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya di Indonesia.

Selain itu, pembicara lain, Edgar Pangabean (Ilmu Hukum 2012) menyampaikan bahwa gagasan Konsep Cita Hukum Pancasila oleh Arief Sidharta adalah gagasan yang tepat dengan keadaan bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika dalam mewujudkan suatu keadilan. “Kami berpendapat bahwa pemikiran Arief Sidharta mengenai Cita Hukum Pancasila tersebut mirip degan gagasan a-logikal Paul Scholten yang telah mengalami penyesuaian dengan kehidupan bangsa Indonesia yakni Bhineka Tunggal Ika,” papar Edgar.

Dalam bukunya yang berjudul Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum, Arief Sidharta mengemukakan beberapa poin mengenai Cita Hukum Pancasila. Poin tersebut antara lain adalah Ketuhanan Yang Maha Esa; Penghormatan atas martabat manusia; Wawasan Kebangsaan dan Wawasan Nusantara, Persamaan dan kelayakan; Keadilan Sosial; Moral dan budi pekerti yang luhur; dan Partisipasi dan transparansi dalam proses pengambilan putusan publik. Ketujuh poin tersebut yang kemudian dijadikan acuan bagi ilmu hukum dalam membangun struktur bahan-bahan a-logikal di Indonesia menjadi hukum positif.

Diskusi yang diselenggarakan oleh panitia Malam Ariefian tersebut merupakan seri rangkaian diskusi guna menyambut acara Malam Ariefian yang akan diselenggarakan Jumat, 19 Februari 2016. Acara Malam Ariefian tersebut merupakan bentuk apresiasi oleh mahasiswa Fakultas Hukum terkait karya dan pemikiran almarhum Arief Sidharta.

VERONICA DWI LESTARI

Related posts

*

*

Top