Front Persatuan Rakyat dan Mahasiswa Anti Militerisme Tuntut Usut Tuntas Kasus Pelanggaran HAM di Papua

Aksi Front Persatuan Rakyat Dan Mahasiswa Anti Militerisme Menuntut Penyeleseaian Kejahatan Kemanusaan Deiyai dan Militerisme di Papua. Dok/ MP Aksi Front Persatuan Rakyat Dan Mahasiswa Anti Militerisme Menuntut Penyeleseaian Kejahatan Kemanusaan Deiyai dan Militerisme di Papua. Dok/ MP

STOPPRESS MP, UNPAR-Pada hari Rabu (9/8), Front Persatuan Rakyat dan Mahasiswa Anti Militerisme menggelar turun ke jalan dan menggelar aksi di Jalan Merdeka Bandung, di sekitar area Bandung Indah Plaza (BIP). Mereka menuntut untuk mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, khususnya yang baru saja terjadi di Kampung Oneibo, Tigi Selatan Deiyai.

“Kami ingin Pemerintah dan kepolisian di Indonesia ini segera melakukan pengusutan secara tuntas kasus pelanggaran HAM yang dilakukan aparat kepada rakyat sipil (red. Papua), dan segera mengadili pelaku-pelaku penembakan,” ujar William Robert (23) selaku Humas dari massa aksi tersebut.

Ia menagih janji Tito Karnavian yang akan mengusut tuntas pelanggaran HAM dari tahun 2000 silam hingga sekarang ditambah kasus terbaru di Deiyai.

“Kami turun ke jalan melakukan aksi ini atas dasar kemanusiaan dan pelanggaran HAM yang terjadi di Papua,” ujar William. Ia juga mengatakan bahwa aksi kali ini dikhususkan untuk kejadian yang baru saja terjadi, penembakan kepada rakyat sipil pada tanggal 1 Agustus 2017 lalu yang mengakibatkan 5 korban luka parah dan 1 meninggal (red. Yulius Pigai).

Selain itu, hadir juga Nanang Kosim yang bersolidaritas untuk rakyat Papua, yang mengatakan bahwa ada kekerasan dan penindasan pada rakyat Papua. “Rakyat tidak bersenjata tapi ditembak membabi buta oleh Brigade Mobil (Brimob). Padahal Brimob itu kan pasukan elit polisi, fungsinya itu hanya jika ada masalah-masalah besar,” ujarnya.

Selain itu, ia pun menjelaskan bahwa menggunakan Brimob untuk warga biasa yang memprotes perusahaan (PT. Dewa Kresna) yang tidak mau menolong warga Deiyai yang tenggelam di kali Oneibo berada di luar porsi Brimob.

Pada mulanya, aksi tersebut akan digelar di Polrestabes Bandung. Menurut William ,tuntuntan yang disuarakan aksi bukan ditujukan kepada pemerintah, melainkan lebih kepada kepolisian karena kekerasan yang terjadi (red. penembakan warga sipil) dilakukan oleh aparat.

“Brimob adalah pelaku kejahatan yang terjadi 1 Agustus lalu,” jelasnya. Namun karena terdapat permasalahan izin, aksi dialihkan ke jalan Merdeka, tepatnya di depan Bandung Indah Plaza.

Penembakan Brimob kepada rakyat sipil di kampung Oneibo, Tigi Selatan, Deiyai terjadi pada tanggal 1 Agustus 2017. Peristiwa itu terjadi akibat pihak Perusahaan di bidang konstruksi PT. Dewa Kresna yang sedang mengerjakan jembatan di kali Oneibo menolak untuk membantu warga yang tenggelam, yang mengakibatkan kemarahan warga sekitar.

FIQIH RIZKITA

Related posts

*

*

Top