Film, Realita, Hasrat Kesenangan

Sumber: rogerebert.com Sumber: rogerebert.com

fotoOleh Januardi Husin S*

Judulnya “The Great Gatsby”, tapi semua gara-gara Daisy. Konon, Jay Gatsby (Leonardo Dicaprio), memiliki nama asli James Gatz, adalah seorang anak yang lahir dari sebuah keluarga miskin di negara bagian AS, North Dakota. Gatsby merasa sangat perihatin dengan kondisi keluarganya yang miskin, namun memiliki sebuah tekad dan angan akan kehidupan yang lebih bahagia untuk dirinya sendiri. Ia merasa berhak mendapatkan kebahagiaan karena memiliki kemampuan untuk itu. Pada usia 16 tahun memutuskan untuk pergi dari kehidupan miskin orang tuanya.

Adapun Daisy Buchanan (Carey Mulligan) adalah seorang wanita cantik jelita. Perawakannya yang mungil, putih, khas wanita ideal Eropa. Tutur katanya yang lembut cukup membuat seseorang berpikir bahwa Daisy berhak mendapatkan cinta kasih yang teramat sangat dari pria terhormat. Tak akan heran jika ada orang yang rela melakukan apa saja, menghabiskan waktu berapapun lamanya, mengorbankan siapapun, hanya untuk mendapatkan cintanya. Untuk hidup berdampingan dengan Daisy.

Tak terkecuali bagi Gatsby, yang saat perjumpaan pertamanya dengan Daisy masih menjadi seorang tentara perang AS yang miskin. Daisy menyambut baik cinta Gatsby. Namun mereka terpaksa mengubur impian tersebut karena orang tua Daisy menginginkan agar ia menikah dengan pria yang kaya dan terhormat. Saat Gatsby tengah menjalankan tugas perangnya dalam waktu yang lama, Daisy tak kuasa menunggu sang kekasih. Kendati Gatsby telah meminta untuk menunggu. Akhirnya Daisy menikah dengan seorang kaya nan terhormat, Tom Buchanan (Joel Edgerton), higga dikaruniai seorang anak. Namun Daisy tak pernah bahagia karena sang suami sering meninggalkannya untuk bercinta dengan wanita simpanan.

Keadaan seperti ini kian membuat Gatsby yakin bahwa hanya dengan harta segalanya bisa diraih. Termasuk cintanya yang tak pernah sedikitpun beralih dari Daisy. Kini, Gatsby menjelma menjadi seorang kaya raya yang begitu dihormati banyak orang. Setiap orang berlomba untuk menjadi sahabat dekatnya, mendapatkan perhatiannya. Namun Gatsby hanya inginkan Daisy. Ia tak butuh sahabat, tak butuh keluarga. Ia hanya butuh Daisy, dan berusaha untuk mengulang masa lalu dengan kekayaan yang dimilikinya.

Ini adalah sebuah film drama percintaan. Diadopsi dari novel karya F. Scott Fitzgerald, kisah ini menawarkan sesuatu yang berbeda sehingga membuatnya layak untuk kagumi. Bukan karena ceritanya yang rumit dan penuh teka-teki yang menjadi ciri khas film Eropa. Bukan pula karena aktor yang terlibat adalah mereka yang telah mendapatkan gelar Profesor di bidangnya. Tidak juga memberikan sebuah drama melankolis yang menjadi jantung kisah-kisah percintaan. Namun karena kesederhanaan cerita, yang merefleksikan kehidupan nyata.

Jika Anda senang menonton film-film Eropa, setidaknya Anda akan terbiasa dengan alur ceritanya. Paling tidak terlintas di benak Anda bahwa ini adalah pemeran protagonis, dan yang lain adalah antagonis. Begitupun dengan saya saat pertama duduk menikmati film ini. Namun hingga adegan berakhir, tak jua ditemukan titik terang tentang makna dari film ini.

Bagaimana tidak, film ini nyaris tanpa pesan moral. Tidak ada norma dan etika ideal yang ditawarkan di akhir cerita. Semua berjalan datar, apa adanya, dan melihatkan konflik yang biasa terjadi dalam sebuah rumah tangga. Namun di sini letak keindahan ceritanya.

Trailer__The_Great__412972a

Sumber: thetimes.co.uk

 

Berawal dari bertemunya kembali sepasang kekasih yang telah terpisah lima tahun, Gatsby dan Daisy. Mereka menjalin sebuah hubungan gelap, berkat bantuan seorang sahabat yang didekati Gatsby untuk tujuan itu, Nick Carraway (Tobey Maguire). Kemudian sepasang kekasih itu bersepakat untuk bersatu kembali. Gatsby bertekat untuk merebut Daisy, dan Daisy pun sudah tak tahan lagi hidup bersama Tom. Namun Gatsby tak ingin lari layaknya seorang pencuri, ia ingin merebut secara jantan dengan menjelaskan secara langsung kepada Tom bahwa Daisy tak pernah mencintainya. Mengetahui hal ini, Daisy kebingungan karena tak siap untuk menghadapi amarah Tom.

Adegan dimana perseteruan Gatsby dan Tom pun terjadi. Namun perseteruan tersebut justru dimenangkan oleh Tom yang terlihat seperti seorang terhormat. Gatsby malah menunjukan sifat arogan dengan amarah yang meledak-ledak. Daisy pun kecewa pada Gatsby, bukan keyakinan yang diperoleh, namun justru keraguan. Alhasil, kejujuran Daisy bahwa ia sangat ingin berpisah dari Tom tak kunjung terucap oleh Daisy. Pertemuan ini berakhir dengan kecelakaan yang menewaskan wanita simpanan Tom. Saat pulang penuh amarah, Daisy menyetir mobil dengan kecepatan tinggi didampingin Gatsby.

Cerita ini dikisahkan melalui sudut pandang seorang Nick Carraway, yang juga merupakan sahabat dekat Tom. Ia menjadi seorang penyaksi bagaimana kehidupan orang-orang yang berperilaku busuk. Hanya Gatsby sosok yang dipandangnya terhormat. Bertahun-tahun ia mendampingi dan menutup rahasia Tom dengan wanita simpanannya. Pada saat yang bersamaan, ia juga menjadi perantara hubungan gelap Gatsby dan Daisy. Hingga akhirnya menjadi saksi orang-orang yang hanya menginginkan kehidupan mapan, yakni Daisy.

Lihatlah betapa labilnya seorang wanita ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak pasti. Lihatlah pendirian seorang wanita goyah hanya melihat sifat asli sang kekasih dan ucapan dari sang suami, “Kau tahu aku sangat mencintaimu Daisy,” kata Tom. Lihat pula bagaimana Tom yang tak setia. Berkali-kali memiliki wanita simpanan, bahkan istri sahabatnya sendiri. Namun itu tak membuat ia rela melepaskan Daisy. Dan lihat pula betapa politisnya seorang Gatsby, yang memanfaatkan semua orang hanya untuk ambisi merebut kembali Daisy.

Apakah Tom benar-benar mencintai Daisy? Saya rasa tidak. Apakah yang disebut cinta? Sebuah ungkapan yang tidak jelas dan hanya merupakan kalimat “super ego” untuk sesuatu yang sebenarnya, yaitu hasrat kesenangan. Tom tidak rela melepas Daisy karena merasa terganggu kesenangannya jika sampai kalah oleh Gatsby. Daisy pun khawatir dengan kesenangan dan kemapanan yang telah ia peroleh dari Tom begitu tahu perangai Gatsby, terlebih lagi tahu bahwa sesungguhnya Gatsby terlibat dengan salah satu mafia. Serta lihatlah perangai asli seorang Gatsby saat emosinya meledak-ledak karena merasa terhinakan oleh Tom. Memaksa Daisy adalah tanda yang bisa kita pakai untuk melihat bahwa sesungguhnya Gatsby hanya ingin mengulang masa lalunya yang telah dihinakan oleh semua orang, karena hanya tinggal Daisy yang belum ia peroleh di dunia ini. Atau lihatlah bahwa Gatsby begitu ingin menjatuhkan Tom, hingga berlutut dan mengakui kemenangannya. Sayangnya itu tidak terjadi, hingga Gatsby menjadi kecewa berat. Bahkan di akhir cerita, Gatsby masih saja mengharapkan respon baik dari Daisy, hanya demi ambisi mengulang masa lalu.

Film ini murni mengisahkan sebuah dilematis kehidupan. Tanpa embel-embel. Atau dengan kata lain, drama percintaan dijadikan sentral dalam seluruh rangkaian cerita. Ambisi, perselingkuhan, hasrat berkuasa, keinginan untuk mapan, dan hayalan menjadi bumbu yang melingkari drama percintaan itu. Ini tentu jarang kita temui dalam film-film cinta kasih lainnya. Dimana justru hal-hal di luar itu yang malah ditonjolkan.

 

Menjembatani Realita

nlmg_main

Sumber: foxsearchlight.com

 

Film “Never Let Me Go” (2010) misalnya, yang juga dibintangi oleh Carey Mulligan, sebagai Kathy. Kendati pada dasarnya ingin menonjolkan cinta dua sejoli yang tak kunjung sampai, film tersebut justru terjebak pada rangkaian kisah yang lebih menonjol, yaitu pengembangbiakan manusia melalui metode kloning untuk donor organ. Ada banyak lagi jenis-jenis film seperti ini yang justru terjebak pada hal-hal yang moralis, seperti kesetiaan, keabadiaan, dan yang terburuk adalah happy ending. Film-film Holywood terutama banyak terjebak pada hal-hal seperti itu. film-film seperti itu menjadi buruk karena menempatkan kisah cinta bukan sebagai sentral, namun kosmos yang mengelilingi yang sentral, yaitu pesan-pesan moral dan etika ideal.

Tentu pertanyaannya kenapa banyak film-film percintaan terjebak seperti itu? Jawabannya tidak lain adalah karena memandang lebih penting menonjolkan pesan daripada realita. “The Great Gatsby” adalah sebuah realita. Dimana harapan tak harus menjadi kenyataan. Bahwa masa lalu, seperti apapun usaha kita, tak bisa terulang. Bahwa sifat dasar seorang manusia adalah hasrat kesenangan, dan ketika kesenangan tak kunjung di depan mata, maka yang muncul adalah pelampiasan. Ketika pelampiasan tak memuaskan, yang terjadi adalah penipisan mekanisme pertahanan diri, mengakibatkan emosi tak mampu dibendung kemudian menyebabkan seseorang menjadi histeris.

2014-02-20-02

Sumber: ayearinthecage.blogspot.com

 

Penulis teringat salah satu adegan dalam film “Adaption” (2002), yang dibintangi oleh Nicolas Cage, berperan sebagai dua orang saudara kembar Charlie dan Donald Kaufman. Suatu ketika Charlie ingin menulis kisah seorang wartawan, namun terkendala kisah hidup si wartawan karena tidak memiliki sesuatu hal yang menarik. Ia pun datang pada Robert McKee (Brian Cox), seorang motivator menulis dan mengeluhkan masalahnya.

“Bagaimana jika menulis cerita yang tidak banyak sesuatu terjadi? Tidak memiliki pengalaman yang luar biasa. Lebih merupakan refleksi terhadap kehidupan nyata,” kata Charlie.

“Tidak ada yang terjadi di dunia nyata? Apa kau gila? …. setiap hari orang mengambil keputusan sadar untuk menghancurkan orang lain. Untuk menemukan cinta, untuk kehilangan cinta. Orang lain menghianati teman baiknya untuk seorang wanita,” McKee menjawab penuh amarah.

Itulah mengapa, sesederhana apapun film yang mengisahkan suatu realita, masih lebih baik daripada film yang menawarkan suatu ide namun bersumber pada khayalan semata. Hanya demi mencapai sesuatu yang disebut moralitas ideal. Seburuk apapun realita, ia bisa menjadi sebuah pelajaran berharga bagi yang hidup. Itu menjadi susah ditemukan dalam film karena film ternyata telah digunakan oleh orang-orang yang bekuasa untuk menyebarkan hegemoni khayalan. Sebuah realita yang tidak benar-benar terjadi di masyarakat. Sebuah khayalan pada akhirnya akan menjadi alat untuk mengusai.

Kembali pada film “Adaption”, Donald pernah berkata pada Charlie Kaufman, bahwa mausia itu apa yang dicintainya. Bukan apa yang mencintainya. Ini sebuah realita. Mencintai adalah hasrat. Hasrat adalah dasar dari sifat dan tingkah laku seseorang yang bersinggungan dengan lingkungannya.

“The Great Gatsby” adalah film langka. Bagaimana dengan film Anda?

 

*penulis adalah mahasiswa semester 10 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakata. Demisioner redaktur buletin SLiLiT Lembaga Pers Mahasiswa ARENA, UIN Sunan Kalijaga.

Related posts

One Comment;

  1. Orson Welles said:

    Wow ini resensi/kritik film paling rumit (baca:tidak jelas) yang pernah saya baca. Saya bahkan enggan membahas penilaian anda soal The Great Gatsby. Saya lebih tertarik untuk bertanya, apa maksud anda dengan film yang dipusatnya memiliki moralitas ideal? Dan kenapa itu anda cap negatif? Seperti apa menurut anda, film yang bebas dari suatu pusat, suatu ideal, film yang murni bebas-nilai? Seperti apa sih film dengan cinta sebagai sentral – alih-alih hanya sebagai aksesoris?

    Dan apa maksud dari “..sesederhana apapun film yang mengisahkan suatu realita, masih lebih baik daripada film yang menawarkan suatu ide namun bersumber pada khayalan semata”. Jadi daripada The Wizard of Oz, Harry Potter, Lord Of The Rings trilogy, Star Wars, Spirited Away, dll masih lebih baik jika kita nonton “Kecil-kecil Jadi Manten”? Sebusuk apapun production values, script, direction, editing, lighting, performance dari film2 level tinja, asalkan bersumber dari realita maka ia dijamin lulus standar anda?

*

*

Top