[Kolom Feminisme] Feminisme dan Perlawanan Kekerasan terhadap Perempuan

2014 International Day For The Elimination Of Violance Against Women And Girls Art Exhibition. DoK/ http://acaf.org.au/ 2014 International Day For The Elimination Of Violance Against Women And Girls Art Exhibition. DoK/ http://acaf.org.au/

Tindakan-tindakan kekerasan sudah menyebar ke berbagai aspek kehidupan manusia dan bisa terjadi kepada berbagai kalangan, terutama perempuan. Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya ditemui di dalam dunia nyata, tetapi hal ini juga sudah sering sekali terjadi di dunia maya. Tindakan kekerasan yang dilakukan memang tidak bisa menyakiti secara fisik, akan tetapi dapat menimbulkan efek psikologis korbannya, seperti tekanan, rasa malu, dan lainnya.

Hal ini terjadi kepada Ghadeer Ahmed. Pada tahun 2009, Ghadeer yang pada saat itu masih berusia 18 tahun mengirim video kepada kekasihnya yang menampilkan Ghadeer sedang menari dengan baju yang tidak terlalu tertutup. Mirisnya, tiga tahun kemudian video tersebut beredar di media YouTube dan ternyata diunduh oleh sang mantan kekasih sebagai bentuk balas dendam. Bagi masyarakat Mesir, video tersebut tidak dapat diterima dan tidak sesuai dengan budaya mereka, dimana perempuan diharapkan untuk menutupi tubuhnya, berlaku sederhana, dan sopan.

Walaupun Ghadeer sudah menjadi aktivis hak-hak perempuan, Ghadeer tetap saja merasa tekanan yang sangat berat, ia merasa khawatir mengenai siapa saja yang akan melihatnya dan mengkritik tindakannya tersebut. Ghadeer pun mengambil langkah berani dengan men-post video tersebut di akun Facebok-nya. Ia merasa bahwa masyarakat harus menghargai tubuh perempuan dan bukan menggunakannya sebagai alat untuk memperalat para perempuan.

Kejadian yang menimpa Ghadeer ini bukanlah sesuatu yang tidak biasa.  Kasus-kasus kekerasan seperti ini dikategorikan sebagai Revenge Porn yang digunakan untuk memaksa perempuan untuk melakukan sesuatu, meminta uang, dan dapat berlanjut ke kekerasan seksual. Dampak yang ditimbulkan dari diunduhnya foto/video seorang perempuan yang telanjang maupun memakai pakaian yang terbuka bisa berbeda-beda tergantung dari budaya setempat.

Dalam budaya Barat, dampak yang biasanya ditimbulkan adalah rasa malu tapi dalam budaya Timur terutama Arab, hal ini dapat mengantarkan sang korban kepada kematian. Dalam dua sampai tiga tahun ke belakang pun, setidaknya terdapat 50 kasus yang berhubungan dengan revenge porn ini. Jumlah ini tidaklah mencerminkan angka yang sebenarnya, karena banyak sekali perempuan yang merasa malu dan tertekan untuk melaporkan hal ini. Foto-foto yang beredar pun terkadang tidaklah mengandung unsur pornografi, seperti hanya sebuah foto dimana seorang perempuan tidak menggunakan hijabnya.

Situasi ini bisa sangat buruk di beberapa negara, seperti di Arab Saudi dimana polisi mendapatkan ratusan panggilan dari perempuan yang melaporkan dirinya di ancam (blackmail). Di Pakistan, diperhitungkan ada setidaknya 900 perempuan per tahun yang menghubungi salah satu LSM yang menangani isu ini.

Tindakan ancaman itu bisa saja membahayakan keselamatan keluarga sang perempuan. Seorang perempuan dari Tunisia bernama Amal menyatakan bahwa ia pernah difoto telanjang oleh teman ayahnya setelah menerima kekerasan seksual. Hal ini berujung pada pemerasan uang, kekerasan seksual yang terus berlanjut selama berbulan-bulan, bahkan mengancam untuk memperkosa adik Amal. Akhirnya, Amal pun membunuh orang yang mengancamnya ini sehingga dia harus ditahan dipenjara selama 25 tahun.

Kasus selanjutnya berasal dari Moroko, dimana seorang perempuan membakar dirinya sendiri sampai meninggal akibat para pemerkosanya mengancam untuk mengunduh foto-foto pemerkosaan itu secara online. Lalu, seorang perempuan berumur 40 tahun juga membunuh dirinya sebagai akhir dari tersebarnya video dimana dia diperkosa di desanya melalui Whatsapp.

Kejadian-kejadian seperti ini pun, memicu suatu gerakan not ashamed of my body yang meneguhkan bahwa tubuh perempuan adalah milik perempuan dan tidak seharusnya pihak-pihak lain mengambil keuntungan dari tubuh mereka.

Kekerasan terhadap perempuan memang masih sering disepelekan, terutama di Asia tengah dan Timur Tengah. Situasi ini sangatlah menyedihkan, karena daripada mencari para pelaku tindakan kekerasan kepada perempuan, para aparat yang bertanggung jawab malah lebih mementingkan pakaian apa yang dipakai oleh perempuan yang menjadi korban tersebut.

Budaya yang seperti ini membentuk suatu budaya dimana perempuan terkekang dalam menggunakan tubuhnya, mereka harus selalu mengikuti keinginan masyarakat mengenai bagaimana seharusnya perempuan berpakaian, berbicara, bertindak, dan lainnya. Jika seorang perempuan memamerkan tubuhnya sedikit, masyarakat akan menilai dia tidaklah senonoh padahal hal ini tidaklah bersifat pornografik.

Keadaan ini semakin membuat pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dapat mendapatkan apa yang mereka inginkan. Keadaannya akan berputar-putar pada siklus seperti ini:

  • Perempuan diancam oleh pelaku untuk melakukan sesuatu, seperti mengambil gambar yang lebih mengekpos tubuhnya lagi, memberikan uang, dan lainnya
  • Perempuan terpaksa melakukan hal ini karena tak ingin masyarakat menilainya sebagai perempuan tidak senonoh
  • Perempuan tidak bisa melaporkan kepada polisi, karena rasa malu, takut dinilai tidak senonoh, bahkan malah disalahkan atas situasinya

Walaupun situasi yang menyedihkan ini masih ada, sayangnya tak semua perempuan sadar bahwa hak-hak perempuan haruslah diteguhkan. Masih banyak perempuan yang meremehkan hak-hak dan kemampuan mereka. Jika bukan kita sendiri yang memperjuangkan hak-hak kita, siapa lagi yang akan melakukannnya?

Menjadi seorang feminis bukanlah sesuatu yang memalukan selama tujuannya jelas, menjadi seorang feminis bukan berarti perempuan harus menjadi kaum yang superior, menjadi seorang feminis bukan berarti menganggap kaum perempuan itu sempurna. Menjadi seorang feminis sebenarnya menyadari bahwa kita sebagai seorang perempuan mempunyai potensi yang luar biasa sama seperti kaum lelaki, kita mempunyai hak yang sama dengan mereka, dan kita juga bisa melakukan berbagai hal yang kaum lelaki bisa lakukan.

Mirisnya, para perempuan sering kali dibutakan dengan gerakan-gerakan feminis yang sifatnya tidak melihat inti dari gerakan feminis tersebut. Mereka mempermasalahkan bagaimana karakter perempuan di film-film itu mendapatkan tindakan kekerasan, bagaimana semua aktor yang ada adalah lelaki seperti dalam film Ghostbuster. Hal ini berujung pada opini para perempuan yang akhirnya mengatakan “apa sih feminism itu ga jelas”, “feminisme kok gitu banget sih”, “ngeliat kaya gini ngapain juga ada feminisme”

Penulis hanya ingin mengingatkan para perempuan untuk melihat bahwa saudari-saudari kita masih banyak menderita karena tidak bisa mendapatkan hak-hak mereka. Jika bukan kalian yang akan membantu mereka, siapa lagi?

Apakah yang kalian harapkan dari gerakan perempuan yang meragukan dirinya sendiri? Yang merasa bahwa mereka tidak pantas dan tidak mempunyai kemampuan untuk mendapatkan hak-hak yang setara?

Jawabannya yang jelas adalah gerakan ini tidak akan bisa memberikan dampak yang sangat besar dan menyeluruh di seluruh kalangan dan daerah. To All the Women Out There, Stop Restricting Yourselves and We Need to Start Believing in Ourselves.

Tentang Penulis

Tanya Lee

Hubungan Internasional 2014

Related posts

*

*

Top