[Feature] Gedung 5 yang Segera akan Menghilang

Ucapan selamat tinggal Gedung 5 oleh mahasiswa Aristektur 2013. Dok/MP Ucapan selamat tinggal Gedung 5 oleh mahasiswa Aristektur 2013. Dok/MP

 

Walaupun dikenal sebagai mahasiswa yang jarang tidur, mahasiswa Arsitektur Unpar rasanya akan selalu memiliki tubuh yang sehat. Bagaimana tidak, setidaknya seminggu dua-kali para mahasiswa arsitektur Unpar menaiki dan menuruni 3 lantai dengan tangga. Itu terjadi karena Gedung 5, pusat kegiatan akademik mahasiswa Arsitektur Unpar tidak memiliki eskalator ataupun lift.

Selain itu, sehatnya mahasiswa Aristektur Unpar juga terlihat pada hari pengumpulan tugas. Olahraga lari cepat 100 m mau tidak mau harus selalu dilakukan. Perlombaan lari itu biasanya diawali dengan bunyi “krsskk…krsskk..” yang keluar dari speaker dan ketika Bapak Danang mulai berjalan perlahan ke tengah studio dengan sombongnya. Terutama saat ia mulai menghitung mundur “10….9….8…”.

Memasuki hitungan ke 5, semua mahasiswa di dalam studio itu tiba-tiba menggila dan segera hilang kesadaran. Mereka mulai berlarian sekencang Usain Bolt atau Hector Belerin  menuju rak “sakti” milik Pak Danang. Karena jika kurang cepat apalagi tidak memasukan lembar-lembar gambar dengan tepat waktu, habislah kita, kanker stadium 3 tak terelakan lagi, atau paling parah meninggal di tempat.

Belum lagi rasa kesal ketika kita sedang fokus ngopzet, tatkala berhembus angin-angin dari sela-sela nako yang berhasil memecah keheningan yang kemudian mengacak-acak pekerjaan kita, dengan meniup lembar-lembar gambar hingga bertebaran kemana-mana. Itulah hal-hal yang paling terkenang dari sekian banyak ingatan mengenai Gedung 5.

Kenangan lain juga pernah dialami oleh Tubagus Anugerah Tri mahasiswa Arsitektur 2012 yang mengatakan bahwa Studio adalah salah satu ruang yang penuh dengan kenangan, “Pengalaman paling berkesan di Gedung 5 ketika ada acara himpunan namanya pajamars. Acaranya itu nonton bareng himpunan, di situ kita sangat merasakan studio karena acaranya banyakan dan nginep di studio,” jelasnya ketika pernah diwawancara di sekitaran Gedung 5.

Hal-hal itu akan selalu terkenang di dalam ingatan setiap orang yang pernah merasakan Gedung 5. Meskipun perlu disadari juga, semua itu tidak bisa kita rasakan lagi, kini Arsitektur Unpar telah memiliki tempat baru. Tak lama lagi juga Gedung 5 akan menghilang sepenuhnya. Hari-hari di bekas gedung fakultasku kini tak lagi riuh seperti dulu.

Gedung 5 juga penuh dengan kehangatan yang muncul dari keakraban dan interaksi manusia-manusia di dalamnya. Mulai dari mahasiswa, dosen ataupun pekarya. Namun, semenjak pindah ke gedung baru, hal itu sudah tidak terasa lagi. Hal itu dirasakan oleh Sutarto seorang pekarya yang sudah hampir 15 tahun bekerja di Gedung 5.

Ia pun mengatakan bahwa perubahan cara interaksi ini terjadi karena kegiatan pembelajaran yang terpencar. “Sekarang mahasiswa arsitektur ada yang di gedung 10 ada yang digedung 45, interaksinya udah sangat berubah” lengkapnya ketika di wawancara disela-sela pekerjaannya di gedung 45 (Gedung sementara Pusat Pembelajaran Arntz Geise (PPAG)).

Memang saat ini kegiatan pembelajaran program studi Arsitektur sangat terbagi. Ruang kelas, ruang dosen, ruang studio, maupun ruang himpunan, semuanya berada di tempat yang berbeda dan cukup berjarak. Terlebih lagi jalur sirkulasi di gedung 45 yang tak bersahabat untuk para mahasiswanya saling bertemu atau berkumpul. Hal itu mengakibatkan berkurangnya interaksi antar sesama masyarakat Arsitektur. Tidak sehangat dan seerat saat berada di Gedung 5.

Hanya Ruang kelas atau Ruang Rapatlah yang menjadi ruang kita berinteraksi. Berbeda halnya ketika kita di Gedung 5, koridor-koridor atau tangga yang memutar merupakan sirkulasi utama yang membuat kita mengenal atau setidaknya mengetahui sesama mahasiswa Arsi lainnya. Pastinya kita jadi tahu keluarga kita sendiri dan mengembangkan diri bersama-sama. Seisi ruang di Gedung 5 adalah tempat untuk kita berinteraksi. Berbeda dengan keadaan sekarang.

Sebenarnya, di gedung sementara ini juga telah tersedia beberapa ruang komunal, tapi tentu tak bisa menggantikan rasa nyamanya Ruang Himpunan (Ruhim) Gedung 5, pergola merah, Samruh (Samping Ruhim), selasar SAA, Student Center (SC) Arsi, ataupun dak beton. Ruang komunal itu kurang memadai, khususnya bagi mahasiswa Arsitektur. Terlebih lagi karena ruang-ruang itu secara sadar atau tidak, sengaja ataupun tidak sengaja telah menjadi Territorial Space Mahasiswa Teknik Sipil.

Hal itu juga dikarenakan di penghujung tahun 2016 ketika Gedung 5 masih dapat digunakan (hanya Ruang Himpunan saja), mahasiswa arsitektur lebih memilih untuk berkumpul di Gedung 5. Karena keberadaan ruang komunal di gedung baru masih dirasa kurang memenuhi kebutuhan mahasiswa, seperti minimnya colokan listrik.

“Tapi itukan hal teknis ya. Kalo bicara soal perasaan dan kenyamanan, anak-anak Arsi ya ngumpulnya di sini, di ruhim Gedung 5. Emang udah gak bisa dilepasin. Susah pindah lah pokoknya,” ujar Salah satu Mahasiswa Arsitektur 2011, Boni Ramadhan.

Dipaksakan berbagi pun bukan hal yang mudah. Budaya yang berbeda, permainan yang berbeda, dan aktivitas masing-masing pun berbeda. Intervensi antara satu sama lain tak terelakan lagi. Untuk membuat acara yang direncakan seperti rapat besar atau pertemuan himpunan mungkin bisa berbagi, tetapi untuk kehidupan sehari-hari, sepertinya lebih nyaman menginvasi Jalan Menjangan. Sayembara Ruhim dan ruang komunal baru pun hanya sekedar ide.

Tak ada cara lain, mahasiswa Arsitektur perlu menciptakan dan diberikan ruang alternatif, untuk menampung obrolan-obrolan dari mahasiswa Arsitektur yang katanya kreatif ini. Setidaknya dengan adanya ruang, kita dapat berbagi pengalaman dengan sesama mahasiswa Arsitektur. Baik kakak maupun adik angkatan mengenai skripsi, matkul pilihan, studio, sayembara, ataupun berdebat mengenai pendapat para Calon Gubernur Jakarta perihal penataan kampung kota. Yang terpenting adalah adanya ruang untuk berinteraksi.

Mungkin hal ini terjadi karena kita sedang menempati gedung “sementara”. Tapi meski sementara, tak sepatutnya menyiksa. Kini Gedung 5 tengah dihabisi secara perlahan, atapnya di rubuhkan, jendelanya dikuliti, lantainya mulai digali, dan sekelilingnya telah dipagari. Tak hanya itu, plaza yang konon bertitel plaza Teknik itu tidak lebih dari sekadar lautan puing dan besi bekas.

Tatkala beberapa batu yang satu tidak lagi terletak di atas batu yang lain, pemandangan di sana tak lebih dari mesin besar berwarna kuning dengan tangan penghancurnya yang mempreteteli batu-batu yang konon pengganti tempat kegiatan Arsitektur Unpar yang konon dulunya bertempat di pabrik biskuit.

Proses Pembangunan PPAG, Puing-puing berserakan di depan Gedung 5 yang berhadapan langsung dengan Gedung 4 yang baru dirubuhkan. Dok/MP

Proses Pembangunan PPAG, Puing-puing berserakan di depan Gedung 5 yang berhadapan langsung dengan Gedung 4 yang baru dirubuhkan. Dok/MP

Kita mahasiswa tak boleh lagi merasakan hangatnya Gedung 5. Hanya melihat dari kejauhan dan berkata, “Dulu kita studio di situ,” sambil menunjuk ruang kosong di Gedung 5 dari Gedung 45 dengan sedikit membayangkan gedung yang akan dibangun nanti.

Ketua Himpunan Program Studi Arsitektur, Thirafi Nur Miraj memiliki harapan untuk gedung baru nantinya, agar rancangan yang ada sesuai dengan kebutuhan, sesuai dengan aktivitas dan kegiatan yang ada didalamnya. Kegiatan yang berhubungan dengan akademik, maupun kegiatan kemahasiswaan. “Terutama kebutuhan dasar kemahasiswaan kaya berkumpul, rapat, ataupun mengerjakan tugas di kampus,” jelas Thirafi.

Untuk itu, dalam perencanaannya, seharusnya pihak perancang (red. PPAG) lebih bekerja sama dengan para penghuninya (red. Mahasiswa dan pihak Fakultas), untuk dapat mengetahui kebutuhan apa saja yang dimiliki dan ruang-ruang apa saja yang harus diciptakan disana. Semoga segala kekurangan yang ada pada gedung 45 tidak akan terulang pada gedung baru nantinya. Dan tentunya membuat Fakultas teknik menjadi lebih baik lagi kedepannya.

Gedung PPAG tahap 1 sementara digunakan untuk kelas dan ruang dosen Fakultas Teknik. Dok/MP

Gedung PPAG tahap 1 sementara digunakan untuk kelas dan ruang dosen Fakultas Teknik. Dok/MP

Related posts

*

*

Top