Fasis

Suatu hari di akherat ketika masa penghukuman belum tiba, para penghuni akherat duduk menunggu keputusan sang kuasa. Hari itu, Benito Mussolini kembali menjumpai kawan-kawannya, Adolf Hitler dan Fransisco Franco yang tengah asyik menyeruput kopi.“Hei Adolf,” serunya setengah berbisik.”

“Bagaimana menurutmu kawan?” Mussolini memalingkan mata.

“Ah Benito, rencanamu sungguh indah dan baru saja kubujuk Franco, ia antusias sekali,” Hitler tersenyum sambil merapikan kumisnya dari serpihan biji kopi yang menyangkut.

“Tampaknya kita butuh lebih banyak aliansi, Adolf!” Mussolini berkata sambil memutar-mutar kepala celingukan.

“Bagaimana dengan Hirohito, dia toh satu poros dengan kita dulu,” Hitler menukas.

“Yah, tapi ia pemuja matahari. Tuhan tak akan memberi ampun pada penyembah berhala seperti dia,”

“Untunglah kita seorang Fasis,” Hitler berkata setengah berseru.

“Bagaimana dengan itu, si Ketua Mao? Aku dengar ia jago strategi,” Franco bertanya.

“Komunis! lebih buruk lagi dari penyembah matahari!” dengus Mussolini.

“Jadi kita coret juga Stalin dari daftar!,” ujar Franco. Hitler mengangguk tanda setuju.

“Hei aku tahu! itu yang baru masuk kemarin! dari asia tenggara!” Franco berseru girang.

“Siapa? Newin Chidchob? dia belum masuk akhirat!” Hitler menyanggah.

“Bukan! Soeharto! dia tampaknya Fasis juga!”

“Yeah, the smiling fascist, dia bisa kita ajak!” Mussolini senang.

Mereka bersepakat untuk mengundang tokoh-tokoh lain untuk bergabung dalam barisan mereka. Mereka berencana menuntut pada Tuhan agar mengembalikan mereka kembali ke dunia.

Beberapa waktu kemudian mereka datang menemui Tuhan dan mengutarakan keinginan mereka untuk kembali. Tuhan tampak sedang baik hati kala itu. Ia memenuhi permintaan mereka dengan satu syarat : rakyat mereka merindukan kehadiran mereka kembali, karena suara rakyat adalah suara Tuhan.

Mussolini, Hitler dan Franco duduk di meja kopi yang sama, mereka pun menggerutu.

“Seharusnya kita bertanya padanya, apa yang ia lakukan selama memerintah!” Mussolini berkata sebal.

“Yah, tampaknya kita harus belajar dari dia,” Hitler berkata getir.

Keputusan Tuhan menyakitkan mereka. Hanya Soeharto yang di perbolehkan kembali ke dunia.

Budi Yoga Soebandi

Related posts

*

*

Top