Masih Ingatkah Kau Mei 15 Tahun Yang Lalu?

Bulan Mei 15 tahun yang lalu ditandai dengan tumbangnya sebuah rezim bernama Orde Baru berganti dengan era reformasi. Momentumnya adalah mundurnya pemimpin Orde Baru sekaligus ‘bapak pembangunan’ H.M Soeharto dari tampuk kepemimpinan, tepat tanggal 21 mei 1998. Era reformasi pun bergulir dengan janji demokrasinya. Demokrasi yang terus diperjuangkan rakyat Indonesia setelah dibungkam oleh doktrin dan intrik politik yang bersembunyi di balik Pancasila dan UUD 1945 selama 3 dekade lamanya. Semua rakyat Indonesia sudah tahu, lupakan sementara Amien Rais atau Emil Salim, mahasiswa dengan bantuan rakyat berada di garda depan turun ke jalan dan meneriakan reformasi dengan lantang. Sambil menghadapi pentungan dan tak jarang: laras panjang.

Pergerakan mahasiswa 1998 memang sudah tak asing lagi. Media massa telah banyak mengulas tentang pergerakan mahasiswa ini. Bahkan pergerakan ini sering disandingkan dengan peristiwa sumpah pemuda 1928 dan gerakan mahasiswa 1966. Ketiga peristiwa tersebut memang menjadi bukti bahwa pemuda yang diwakili mahasiswa tidak hanya mampu bersatu mewakili sebuah kegelisahan bangsa tapi juga dapat menjadi martir untuk meruntuhkan sebuah rezim. Tidak tanggung-tanggung, Peristiwa di Jakarta dan Yogyakarta bulan Mei 1998 mencatatkan korban jiwa di kalangan mahasiswa. Peristiwa Trisakti di Jakarta mencatatkan empat nyawa mahasiswa melayang terkoyak peluru dalam sebuah demonstrasi mahasiswa. Di Yogyakarta, seorang mahasiswa bernama Moses Gatotkaca pun mati teraniaya oleh aparat. Demi cita-cita demokrasi yang terus dikumandangkan, mahasiswa Indonesia bersatu padu turun ke jalan dan menyuarakan reformasi dengan lantang. Bagaimana dengan kampus Unpar 15 tahun lalu?

Stigma kampus Unpar sebagai kampus yang eksklusif dan apatis memang melekat sejak dulu. Ketika mahasiswa di Bandung- seperti ITB, Unpad, Unpas, IKIP, dsb- mulai gencar menyuarakan keprihatinan dan menuntut reformasi sejak pra sidang Umum MPR awal Maret 1998, Unpar seakan masih terlelap dalam tidurnya. Pejabat rektorat Unpar saat itu pun terkesan cari aman. Kegiatan politik praktis di kampus sempat dilarang karena dianggap berisiko tinggi pada goodwill penguasa.

Ialah Henry Ismail (mahasiswa jurusan Fisika) dan Ferdinandus (mahasiswa fakultas Filsafat yang di-drop out) yang mengawali pergerakan mahasiswa di Unpar. Tepat saat dimulainya sidang umum MPR pada 1 maret 1998, keduanya menggelar aksi mogok makan di kampus. Aksi mogok makan ini rupanya menjadi stimulus bagi mahasiswa Unpar untuk memperjuangkan reformasi bersama Universitas lain di Bandung.

Pihak rektorat pun berupaya mewadahi aspirasi mahasiswa Unpar yang mulai tergerak memperjuangkan demokrasi. Rektorat tak ingin kejadian serupa mogok makan tersebut terulang kembali. 12 maret 1998, diadakan mimbar bebas yang disertai syarat dari pihak rektorat: harus dihadiri warga asli unpar dan dilarang mengundang pers.

17 maret 1998, mahasiswa mulai menggelar demonstrasi pertamanya. Bahkan beberapa dosen turut mendukung dengan cara meliburkan perkuliahan. 5 mei 1998, mahasiswa unpar kembali melakukan demonstrasi di kampus ciumbuleuit. Kali ini mahasiswa bentrok dengan pasukan huru hara brimob yang telah membuat barikade di depan kampus. Peristiwa ini menyebabkan beberapa mahasiswa luka memar. Pihak rektorat maupun dosen terus berupaya bernegosiasi dengan pihak aparat untuk menarik pasukannya, meski tidak digubris.

Perjuangan reformasi juga tidak hanya dilakukan dengan demonstrasi. Forum-forum mahasiswa seperti diskusi panel juga dilakukan. Unpar juga melakukan aksi simpati atas kematian Moses dan Tragedi Trisakti dengan dikibarkannya bendera setengah tiang. Puncaknya adalah long march yang dilakukan pada 14 mei 1998 dari kampus ciumbuleuit ke gedung DPRD Jawa Barat bergabung dengan seluruh mahasiswa se-bandung untuk menyatakan tuntutan yang sama: reformasi.

Kini setelah 15 tahun berselang. Ciri mahasiswa Unpar sebagai kampus yang eksklusif dan apatis kembali melekat. Mahasiswa seakan lupa atau dibuat lupa tentang sejarahnya. Sejarah yang mencatat keterlibatan mahasiswa Unpar di pesta demokrasi 1998. Sejarah yang mencatat bahwa mahasiswa Unpar pernah turun ke jalan untuk demonstrasi menyuarakan kegelisahan, memperjuangkan demokrasi demi terwujudnya reformasi. Sejarah yang mencatat pihak rektorat mendukung aksi mahasiswa ketika harus berhadapan dengan aparat.

Sejarah keterlibatan mahasiswa Unpar ini seakan terhapus dari ingatan kita. Mahasiwa Unpar kini tenggelam dalam doktrin-doktrin yang mengancam apabila mahasiswa turun ke jalan akan di-drop out atau dikenakan sanksi. Doktrin-doktrin yang entah datangnya darimana yang berpotensi memberangus sikap kritis mahasiswa. Sikap kritis yang justru merupakan alasan mengapa kita bisa hidup nyaman seperti sekarang dalam era reformasi.

Masih ingatkah kau Mei 15 tahun yang lalu?

Saat mahasiswa Unpar berseru, “Berikan kepalamu! Berikan untuk negeri ini. Berikan darah keringatmu! Berikan untuk negeri ini. Kacaukan langit kerakusan! Kacaukan penindasan! Hapuskan semua ragu untuk mencintai kekerasan.”

Untuk memperingati 15 tahun reformasi yang tepat jatuh tanggal 21 Mei 2013 ini, Media Parahyangan ingin menyegarkan ingatan mahasiswa Unpar dengan mem-posting kembali berita-berita seputar pergerakan mahasiswa Unpar dalam perjuangan reformasi bulan Maret – Mei 1998. Sebuah dokumentasi yang diharapkan dapat menjadi perenungan kembali bagi mahasiswa dan siapapun yang membaca tentang pentingnya menumbuhkan sikap kritis terhadap sesuatu yang dianggap telah bobrok dan nilai yang selayaknya patut diperjuangkan. Sehingga tidak perlu lagi ada mahasiswa yang malu-malu dan takut melawan, jika ia mengenal sejarahnya sendiri.

-Redaksi Media Parahyangan

*

*

Top