Dua Tahun Secure Parking di UNPAR : Masalah Belum Tuntas

Kolom Parahyangan – Dua Tahun Secure Parking di UNPAR : Masalah Belum Tuntas

“Parkir dimana nih?”

“Wah Penuh Mas”

Saya selalu ingat kejadian di bulan November 2008. Mahasiswa UNPAR penasaran dengan beberapa box yang tersimpan di halaman depan kampusnya. Mereka saling bertanya-tanya, untuk apa box berwarna jingga tersebut. Ditilik dari bentuknya, box tersebut persis seperti box parkir.

Berbagai anggapan pun timbul, yang berpikir positif: UNPAR akan mengganti sistem perparkiran dengan yang lebih professional, fasilitas lebih baik, parkir gratis, terpujilah! Yang berpikir negatif: Jangan-jangan nanti bayar parkir jadi mahal. Tak lama, praduga positif dan negatif tersebut terjawab. Yang menang: tidak ada.

“Secure Parking” begitu tulisan tersebut terpampang. Semua pun mengerti, mulai detik itu sistem perparkiran akan dikelola oleh perusahaan ternama bernama Secure Parking. Perusahaan yang lahir di negeri Kanguru tersebut seringkali dijumpai di berbagai tempat, khususnya di pusat perbelanjaan mewah. Lalu kenapa tidak ada yang menang dari praduga-praduga yang timbul sebelumnya? Sistem perparkiran memang menjadi lebih professional, tapi parkir tidak gratis. Mahal? Relatif. Fasilitas lebih baik? Tidak juga. Dari situ timbul perdebatan-perdebatan lainnya. Lalu ada mahasiswa yang bertanya, “Kok tiba-tiba ada tanpa persetujuan mahasiswa sih?”

Dua tahun lalu, pihak universitas mengeluarkan kebijakan untuk mempersilakan Secure Parking agar dapat beroperasi di kampus UNPAR tanpa persetujuan mahasiswa. Tidak ada perwakilan dari mahasiswa yang diajak berdialog akan kebijakan ini. Tau-taunya, box sudah ada di gerbang, barulah kemudian pihak rektorat membuat forum bersama mahasiswa. Tapi forum tersebut tidak terlalu berarti, toh Memorandum of Understanding antara pihak UNPAR yang diwakili rektorat dan pihak Secure Parking sudah ditanda tangani. Hasilnya, forum yang dibuat jadi semacam negoisasi harga. Berapa tarif grace period, penitipan helm, dll.

Amat disayangkan. Padahal ada beberapa hal penting yang seharusnya bisa lebih diperhatikan dalam forum. Yang pertama, UNPAR memiliki masalah dalam hal perparkiran. Permasalahan paling utama adalah keterbatasan lahan. Mahasiswa ataupun dosen seringkali kesulitan untuk menyimpan kendaraan di area kampus UNPAR. Akhirnya bisa telat kuliah, atau telat mengajar. Pertanyaannya, apakah Secure Parking bakal jadi solusi untuk permasalahan itu? Jawaban saya tetap sama kendati dua tahun telah berlalu: Tidak. Buktinya? Ah, tengok saja sendiri.

Yang kedua, Secure Parking disimpan demi keamanan kendaraan yang lebih baik. Aneh, padahal ada solusi yang lebih baik yaitu menambah jumlah keamanan di lingkup kampus, lebih efektif toh? Yang ketiga lebih penting lagi, UNPAR tidak percaya akan Sumber Daya Manusianya sendiri. Saya yakin, untuk mengelola sistem perparkiran tidaklah mudah. Dibutuhkan pihak yang memiliki pemahaman yang mumpuni, sebut saja “orang yang ahlinya”. Nah, saya yakin, UNPAR memiliki SDM yang mampu untuk itu. Misalnya Program Studi Manajemen, yang melibatkan dosen dan juga mahasiswanya, pastilah mampu untuk merancang ataupun memberikan ilmunya dalam pengelolaan sistem perparkiran. Begitu juga dengan Program Studi Teknologi Informasi yang bisa berbagi ilmu dalam segi komputerisasi. Program Studi lainnya pun bisa saling membantu sesuai dengan kapasitas dan keahliannya masing-masing.

Dua tahun berlalu sejak Secure Parking ada di kampus UNPAR, tapi masalah perparkiran tidak juga tuntas. Lahan sempit belum juga terselesaikan sampai sekarang, Secure Parking tidak bisa dijadikan solusi. Disebut professional pun tidak bisa. Sebut saja tulisan “No Tipping” dibelakang seragam karyawan Secure Parking, masih ada karyawan yang menerima tip. Sistem Valet Parking kendati aman tapi seringkali dikeluhkan mahasiswa. Salah satunya bensin seringkali berkurang bila kendaraannya dititipkan melalui sistem valet. Dalam suatu kesempatan, Pihak Secure Parking pernah membela diri, “Kami sulit mengatasi permasalahan tersebut, orang-orang yang dimaksudkan sulit diatur”. Lah, kalau memang tidak mampu, kenapa masih bertahan? Legowo untuk angkat kaki karena secure parking tidak mampu menyelesaikan masalah akan jauh lebih baik. Kalau sudah begitu, kampus UNPAR bisa buat sistem perparkiran sendiri.

Dipikir-pikir, saya merasa malu melihat kampus tetangga, Universitas Kristen Maranatha  yang bisa mengelola perparkirannya secara mandiri, dan yang lebih penting: Tidak dipungut biaya. Keputusan pengelolaan sistem perparkiran secara outsourcing menunjukkan pihak universitas lebih senang dengan hal-hal yang bersifat instan dalam kebijakannya, sedangkan nilai-nilai diabaikan. Pertanyaan utama saya, saat kampus disebut-sebut sebagai House of Value, kok pihak universitas tidak menunjukkan hal tersebut ya?

Mahasiswa lalu-lalang keluar masuk kampus dengan kendaraannya. Saya perhatikan kok banyak yang tidak bayar parkir. Secure Parking dihiraukan. Saya mencoba menebak-nebak isi pikiran mereka, kemungkinan besar di dalam hati mereka berkata “Sudah bayar kuliah mahal kok masih harus bayar parkir juga”. Atau mungkin mereka tidak senang dengan keberadaan Secure Parking yang belum juga dapat menyelesaikan permasalahan. Kalau mahasiswanya sudah tidak setuju, mengapa masih harus dipertahankan?

Egi Primayogha

Mahasiswa Administrasi Publik UNPAR angkatan 2007

Related posts

7 Comments

  1. Pingback: Tweets that mention Dua Tahun Secure Parking di UNPAR : Masalah Belum Tuntas -- Topsy.com

  2. risa said:

    ah payah juga secure parking.. cabut ajalah dari unpar..

  3. Dendy said:

    Dari awal SP ada kan yang jadi pertanyaan apa ini solusi yang paling tepat? Kalaupun UNPAR merasa ini solusi yang paling tepat, kenapa ga ada argumentasi soal kenapa memilih secure parking kepada mahasiswa, sekarang malah jadi runyam masalahnya. parkiran ga tertata, professional pun enggak. kenapa ga mencoba untuk menata sistem perparkiran sendiri? percuma dong punya anak IT/IKOM, bikin gedung parkir jadi gedung fakultas buat nambah kapasitas tapi kapabilitasnya ga dipake? semoga di kemudian hari mahasiswa ga cuma jadi sapi perah, yang uangnya diperas per semester dengan jumlah sedemikian mahal tapi diajak duduk bersama buat berunding soal kebijakan yang berkaitan soal kemahasiswaan pun enggak.

  4. Noah said:

    Dari semua aritikel kalian hanya ini yang ada di comment itupun hanya 2?

    Bisakah kalian ceritakan lebih jelas tentang kebijakan unpar memperbolehkan secure parking mengelola parkiran UNPAR.
    Siapa yang berwenang memutuskan kebijakan seperti ini si cecilia? atau anak buahnya pembantu rektor yang lain? Dan dulu sebelum Secure Parking mengelola, apakah parkir gratis?

    Bagi yang baru masuk (2010) kami tidak tahu bahwa dulu (2007) Unpar tidak dikelola oleh Secure Parking sehingga kita “terima apa adanya”. Walaupun banyak dari kami yang kesal dengan biaya parkir “mall” ini. Dan banyak dari kami juga kurang tahu sistem kebijakan di Unpar, dan seberapa besar mahasiswa dapat mempengaruhinya. Jika kalian bisa memberitahu lebih jelas soal kejadian ini serta sistem kebijakan di Unpar, mungkin akan lebih banyak mahasiswa yang akan protes, khususnya mahasiswa baru (walaupun saya tidak tahu pada kejadian 2007 seberapa banyak yang protes). Kejadian ini sangat menarik, saya tidak sabar menunggu artikel-artikel lain yang berhubungan dengan ini (soal tipping?).

    -FU-

  5. FH10 said:

    Ada satu hal yang menjadi perhatian saya, yaitu soal perpustakaan, masa perpustakaan tutup jam 4? Belum selesai kuliah juga perpustakaan sudah tutup (masalah kualitas buku2nya nanti saja). Kalau kampus benar2 serius ingin membuat lingkungkan yang mendukung belajar, yah perpus tutup jam 12 malem aja! Ribet banget mahasiswakan yang jaga? Tinggal tambah shift aja! Dibayar berapa sih mahasiswa? Emang mahal bgt? Gw yakin gajinya juga ga layak mentang2 yang jaga mahasiswa. Brp sih 1rb/jam?
    Kalau memang pengen bikin universitas ini maju, gedeinlah perpus dan jamnya bukanya juga lamain! Dan ga usah norak jam 12 pake istirahat lah, kalau emang perlu banget (perintah tuhan) tinggal gantian kan yang jaga lebih dari 1 orang.
    Bukannya mau sok rajin belajar2 tetapi kampus sepertinya tidak ada usaha mendorong proses belajar mahasiswa diluar ruangan kelas. Taro bangku2 dan meja di daerah2 kosong napa? (misalnya daerah kosong antara gedung hukum dan gedung serba guna), apa susahnya taro meja dan kursi2 disitu supaya mahasiswa bisa duduk, baca buku, buka laptop untuk ngerjain tugas daripada duduk2 di koridor dan ngerokok2 ga jelas, mau gimana lagi mau belajar, taro buku, buka laptop susah karena ga ada tempat cuma ada pembatas koridor yang dijadikan tempat duduk (emang dari awal pembatas itu dirancang utk diduduki?) tambahin meja dan kursi dikit mahal bgt apa? bikinlah spy kampus benar2 tempat dimana mahasiswa bisa belajar (belajar ? kelas).
    Katanya (berdasarkan Statuta Unpar 2005) salah satu misinya “Proses pembelajaran pada tahapan tertinggi” pler! hoki aja beberapa dosen lumayan (baca:niat ngajar, saya tidak bilang bagus), dan lokasi unpar agak terisolasi (baca: stlh jam 6 angkot ga ada bangsat, jd mau ga mau belajar di kosan, ini juga bikin artikel ttg ini dong, masa angkot ga boleh beroperasi diatas jam 6 apa2an ini). Perpus kl masih sampah gt ga guna jg dibuka lebih lama, tetapi setidaknya soal memberikan kursi dan meja (yg ada payungnya) di luar menurut saya bisa dicoba, dan akan membantu memberikan tempat belajar bareng baru bagi mahasiswa2 yg pgn belajar (selama ini masa cm di rektorat, itupun lesehan, ga mau rugi banget).

  6. ziadyafie said:

    Saya kebetulan sudah pernah berjibaku dengan rektor dan yayasan untuk masalah secure parking di Unpar. Yang bisa saya simpulkan adalah
    bahwa masalah Secure Parking ini terlalu kompleks. meliputi masalah karyawan lama dan kebijakan secure parking yang mengecwewakan mereka. Tidak ada pihak yang mau bertanggung jawab terhadap segala macam kejadian tidak menyenangkan yang dialami mahasiswa di parkiran unpar. rektor, BSP, maupun pihak Secure parking. Satpam unpar berada di posisi serba salah, karena menjadi tameng antara pihak universitas dan karyawan lama. Rektor pernah bicara bahwa dari secure parking, unpar tidak mengambil untung apapun. semua digunakan untuk mengelola tempat parkir dan gaji karyawan parkir. Berbagai macam usulan solusi dan subsudi pihak universitas terhadap parkir sudah diperjuangkan, tapi rekror sendiri tidak mendukung mahasiswanya membawa kendaraan mobil pribadi untuk kuliah. Jadi ini menjadi masalah yang buntu kemana-mana. Pihak yayasan pun sama saja.

    Jadi menurut saya, dalam melakukan pembenahan parkir di unpar butuh konsolidasi semua elemen masyarakat unpar untuk memutuskan sebuah kebijakan bersama untuk kesejahteraan bersama pula. Karena banyak jiwa yang betumpu nafkah dari parkiran unpar. Selama kita bisa bersatu untuk bermufakat, semua pasti ada jalan keluarnya.

    Berjuang terus mahasiswa unpar untuk pembenahan rumah kalian sendiri.

  7. dmoy said:

    hampir 3 tahun saya menggunakan jasa parkir unpar, terus terang aja saya sedikit kecewa dengan sistem parkirnya yg menurut saya terlalu materialistis.
    padahal menurut salah seorang petugas secure parking pernah bberapa kali terjadi kehilangan baik kendaraan roda 2 atau roda 4.
    yg saya keluhkan adalah
    bila menggunakan motor pembayaran dilakukan sebelum parkir,kebayang gmn repotnya ngerogoh” kantong celana padahal udah telat masuk kelas apalagi klo lagi ujian.. terus penitipan helm pun dikenakan biaya lagi.
    udah gitu kadang-kadang ga dapet parkiran gara2 area parkir yg kurang memadai.
    sekarang saya lbih sering mnggunakan mobil, pake mobil juga ga lebih baik malah bisa dibilang lebih buruk nasibnya..
    sangat jarang dapat parkiran d area kampus UNPAR apalagi jam 9-2 siang.
    jangankan di dalam area kampus diluar aja susah,, banyak teman2 yang mengeluhkan telat masuk kuliah cuma gara2 ga dapet parkir.
    sekarang saya terpaksa harus menggunakan jasa valet parking di area parkir fisip,untuk jasa valet ini dikenakan biaya 100rb/bulan.
    jika dihitung2 biaya yg harus dikeluarkan untuk parkir saja (4rbx20hari)+100rb = 180rb..
    setara dengan biaya spp sekolah2 umum di bandung.
    semoga curhatan saya ini dibaca oleh yang berwenang dalam mengambil kebijakan tersebut,, klo dibandingkan dengan kampus lain seperti maranatha misalnya kita sudah tertinggal jauh,sudah lahanya luas, gratis pula,, malah dibandingkan dengan itenas saja yg biaya kuliahnya relatif lebih murah dari UNPAR memiliki fasilitas parkiran yg luas dan gratis ditambah lagi memiliki lapangan untuk olahraga,, klo unpar kan ga ada lapangan olahraganya !-_-
    jangankan lapangan olahraga sama lapangan parkir fasilitas hotspot aja terbatas coverage area nya..
    ayo benahi lagi sarana dan prasarana UNPAR biar setara dengan biaya kuliah yg cukup mahal supaya ga dicap MATRE

*

*

Top