Diskusi Kamisan: Memperbincangkan Identitas Dan Mahasiswa

dok/rebloggy.com dok/rebloggy.com

Oleh: Dyanning Pangestika

Jika anda bertanya arti dari identitas kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, anda akan mendapat jawaban bahwa identitas merupakan ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang. Lontarkan pertanyaan tersebut pada sekumpulan individu, maka anda akan mendapatkan jawaban yang sangat beragam. Karena ternyata, masing-masing individu memiliki definisi tersendiri untuk menggambarkan arti dari sebuah identitas.

Definisi dari identitas inilah yang menjadi topik dari Diskusi Kamisan yang digelar di Sekretariat Media Parahyangan pada Kamis (17/09) lalu. Diskusi ini dibuka dengan sebuah pertanyaan singkat dari Budi Yoga Soebandi selaku moderator diskusi. Pertanyaan tersebut adalah: apa arti dari identitas?

Secara bahasa, identitas berarti jati diri, sebuah suara menanggapi. Dalam bahasa, identitas (atau jati diri) seakan-akan menandakan bahwa kita yang benar, lalu yang lain menjadi salah. Jika ada banyak orang-orang yang menganut paham seperti ini, maka akan menciptakan golongan mayoritas dan minoritas. Kelompok mayoritas akan diisi oleh mereka yang merasa memiliki jati diri yang serupa. Kelompok minoritas adalah sisa-sisa dari sekumpulan individu yang tidak memenuhi kriteria jati diri yang ditentukan oleh kelompok mayoritas tersebut.

Oleh karena itu, sering kita jumpai teman-teman yang disesatkan oleh paham mayoritas-minoritas ini berpawai di sekitar jalan, menggunakan sorban dan mengklaim berhak mengubah negara Indonesia menjadi negara Islam hanya karena jumlah mereka lebih banyak dari teman-teman lainnya yang memiliki kepercayaan berbeda. Inilah yang terjadi jika identitas diukur menggunakan ukuran mayoritas.

Namun ada juga yang memberi sanggahan lain, bahwa identitas dan jati diri adalah dua hal yang berbeda. Jati diri merupakan label yang kita gunakan untuk mengidentifikasi diri kita sendiri, sedangkan identitas merupakan label yang diberikan oleh orang lain untuk mengidentifikasi diri kita. Sebagai contoh, andaikata A memiliki fisik yang tambun, maka orang-orang akan mengenali diri A sebagai orang yang gendut. Akan tetapi, jati diri A sebagai seseorang yang menggemari dangdut dan mendukung kapitalisme, hanyalah A yang mengetahui.

Menariknya, pendapat ini justru memberikan argumen baru. Bahwa sebetulnya, identitas dan jati diri itu dikonstruksi oleh pendapat dan opini dari lingkungan sekitar kita. Misalnya saja, A sebetulnya bukanlah seseorang yang gendut. Akan tetapi, karena lingkungan sekitarnya memberi label gendut pada A, otomatis lambat laun A akan meyakini bahwa dirinya adalah seseorang yang gendut.

Berangkat pada pemahaman bahwa identitas dan jati diri dapat dikonstruksi inilah, kita menjadi bertanya-tanya; jika dikaitkan dengan identitas kita sebagai mahasiswa, apakah betul kita telah mengakui identitas kita sebagai mahasiswa? Apa jangan-jangan kita hanya me-mahasiswa-kan diri kita saja gara-gara KTM dan KTP kita mendefinisikan identitas kita sebagai demikian?

Mungkin, mahasiswa telah mengalami krisis identitas karena definisi dari mahasiswa sendiri sudah berubah seiring pergantian masa. Dulu, istilah mahasiswa identik dengan seorang agent of change; pemberontak; orang yang melawan sistem. Namun, sekarang? Mahasiswa hanya dimaknai sebagai seorang murid. Seseorang yang mengenyam pendidikan di jurusan tertentu. Seseorang yang telah lulus SMA, dan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Menjadi mahasiswa seakan-akan tak istimewa lagi sekarang.

Akan tetapi, pilihannya terletak pada mahasiswa itu sendiri. Apakah mereka akan terus-terusan terpuruk dalam krisis identitasnya, dan menjalani hidup membungkuk-bungkuk di bangku perkuliahan? Atau bangkit dan mengkritisi, menghidupi kembali istilah ‘mahasiswa’ yang sempat ditakuti oleh para petinggi politik di era Orde Baru dulu?

Tentang Penulis:

Dyanning Pangestika.

Penulis adalah Mahasiswi Hubungan Internasional 2013. Penulis aktif sebagai staf Litbang Media Parahyangan, staf KKBM, dan AISEC

Related posts

*

*

Top