Dikusi BIKINI Bahas Revisi UU KPK

Suasana Bincang Kita Hari Ini (BIKINI) bertempat di lorong Hukum, MP/Richard Suasana Bincang Kita Hari Ini (BIKINI) bertempat di lorong Hukum, MP/Richard

STOPPRESS MP, UNPAR – Diskusi BIKINI (Bincang Kita Hari Ini) kembali diadakan dengan mengkaji mengenai pasal-pasal yang disinyalir melemahkan peran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu (21/10). Sejumlah pasal itu yakni pasal 4 tentang usia KPK 12 tahun, pasal 13 tentang tidak menangani kasus di bawah 50 milliar rupiah, dan tentang tidak berwenang melakukan penuntutan.

“Revisi mengenai Undang-undang KPK tetap diperlukan namun harus terkesan menguatkan bukan melemahkan pihak KPK sebagai komisi pemberantasan korupsi,” ungkap  Frans Xaverius  (Hukum 2012) selaku Direktur Jenderal Kajian dan Aksi Strategis saat ditemui seusai diskusi.

 Frans juga menyimpulkan bahwa KPK seharusnya tidak dibatasi oleh umur, disebabkan KPK harus memberantas korupsi dalam arti memberatas sampai habis. Namun menurutnya, adanya ketentuan nominal minimal 50 milliar rupiah karena KPK tidak dapat membereskan kasus korupsi di bawah nominal itu. Hal itu juga dianggapnya dapat menguntungkan kepentingan-kepentingan pihak tertentu untuk melakukan korupsi secara terus menerus. Disamping itu, pasal lain seperti penuntutan  dianggap perlu, tetapi diharapkan tetap ada sinergi antara pihak polri, kejaksaan, dan KPK untuk memberantas korupsi. “Dari pada melimpahkan wewenang ke 1 pihak saja yang seharusnya dapat dilakukan bersama-sama,” ucapnya.

Selain itu, Ninohoya (Hukum 2013) pun menyatakan keberatannya terhadap pasal 4. “Lalu setelah 12 tahun, siapa yang akan menangani kasus korupsi? Meskipun adanya kepolisian dan kejaksaan, apa bisa dijamin kredibilitasnya?” ucapnya. “Sedangkan banyak pejabat-pejabat kepolisian yang terseret kasus korupsi begitu juga kejaksaan,” tambahnya.

Terkait kehadiran diskusi, Bernie Natanegara (Manajemen 2013) yang turut hadir dalam acara itu pun turut mengapresiasi. “Acara ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa mengenai situasi yang terjadi di Indonesia dan belajar untuk peduli terhadap fenomena fenomena yang ada,” ucapnya.

Richard Santosa/ Vincent Fabian

Related posts

*

*

Top