“Diana: In Her Own Words” Ungkap Sisi Lain Kehidupan Putri Diana

dok./pinterest Diana Spencer, Princess of Wales 4

RESENSI , MP — Banyak anak perempuan mendambakan dirinya menjadi seorang putri suatu hari. Kehidupan para putri di dongeng memang sering digambarkan menyenangkan, elegan, bahagia, dan tentunya sempurna. Akan tetapi, ternyata apa yang mereka dengar dalam dongeng-dongeng tersebut bukanlah kehidupan yang terjadi kepada Putri Diana.

Siapa yang menyangka bahwa hidup menjadi seorang putri, terutama Putri Kerajaan Inggris, dapat membuat seseorang sangat tertekan dan merasa depresi berulang kali. Tentunya hal ini tidaklah jauh dari stereotipe yang diberikan masyarakat melalui dongeng-dongeng yang mereka dengar kepada seorang putri. Setiap putri diharapkan masyarakat untuk menjadi seseorang yang selalu elegan, selalu tangguh, selalu tersenyum, dan tentunya selalu sempurna di setiap saat.

Suatu dokumenter yang bertajuk Diana: In Her Own Words menunjukkan kepada para penontonnya bahwa kehidupan menjadi seorang putri tidaklah seperti yang selalu masyarakat bayangkan. Dokumenter ini bersumber dari perkataan-perkataan sang putri sendiri melalui suatu wawancara rahasia yang dilakukan sang putri.

Jika banyak perempuan yang ingin menjadi seorang putri Dengan baju dan perhiasannya yang mewah, Diana memiliki pendapat yang berbeda. Diana mengaku bahwa dirinya sempat meragukan proses pernikahan dirinya dengan Pangeran Charles, karena mengetahui bahwa sang pangeran memiliki hubungan dengan wanita lain bernama Camilla yang mungkin akan menjadi masalah di masa depan. Namun Diana tidak bisa mundur setelah mengatakan bahwa ia bersedia untuk istri sang pangeran saat dia dilamar.

Walaupun Diana mempunyai darah bangsawan, tentu saja akan sulit bagi kebanyakan orang untuk beradaptasi secara cepat dengan kehidupan kerajaan yang sesungguhnya. Dalam waktu sepertiini, tentunya Diana membutuhkan orang-orang disekitarnya yang berusaha untuk mendukungnya dan penuh pengertian dalam masa adaptasi tersebut. Seseorang yang tentunya muncul dalam pikiran kita adalah sang suami, Pangeran Charles. Sayangnya, dalam dokumenter yang dibuat oleh saluran National Geographic ini Diana tidak mendapat dukungan dan pengertian tersebut dari sang Pangeran.

Diana mengaku bahwa dirinya terus-menerus untuk diminta tampil hari demi hari di hadapan publik walaupun kesehatannya tidak memadai. Hal ini terlihat saat Diana hampir pingsan di suatu acara Expo 86. Akan tetapi, sang suami hanya mengatakan bahwa Diana sebaiknya pingsan di tempat yang sepi dan tidak menggubris masalah tersebut dengan serius. Hal ini berakibat fatal, dimana sang putri pingsan dan harus meninggalkan acara tersebut satu jam setelah sang putri kehilangan kesadarannya.

Tak jarang, para anggota kerajaan Inggris yang lainnya memaksa Diana untuk mengikuti berbagai acara. Jika Diana merasa tidak sehat, maka mereka akan merasa bahwa Diana adalah sebuah beban dan juga masalah. Masalah adaptasi yang dihadapi Diana pun tak heran membuatnya tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang ada. Sedihnya, bahkan sang putri tidak dilibatkan pada pengambilan keputusan kapan putra pertamanya, Pangeran Wiliam, akan dibaptis.

Selain kesehatan, hal yang sangat membuat Diana depresi pada saat itu adalah kedekatan sang suami dengan Camilla Bowles yang sekarang telah menjadi istri sang pangeran. Kedekatan keduanya telah Diana ketahui sebelum mereka menikah dan hal ini membuat Diana khawatir. Saat sang suami akan pergi tanpa Diana untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka, Diana diyakini oleh media menangis karena merindukan sang suami. Akan tetapi, fakta sebenarnya adalah Diana menangis karena Charles telah menerima hadiah dari Camilla dan tidak mengubris kecemburuan Diana kepada hadiah tersebut.

Kedekatan keduanya ini pun diyakini beralih menjadi perselingkuhan yang diketahui oleh Diana. Bahkan suatu saat akhirnya Diana memutuskan untuk berbicara dengan Camilla mengenai hal tersebut. Diana mengatakan bahwa ia mengetahui hubungan Camilla dengan suaminya, sayangnya Camilla hanya menjawab “Apa yang kau inginkan? Kau mempunyai segalanya, setiap pria mencintaimu.” Diana pun menjawab, “Aku menginginkan suamiku.”

Dengan kejadian-kejadian diatas, tak heran tentunya bahwa sang putri sering kali menangis selama ia resmi menjadi putri kerajaan Inggris. Ia pun mengaku bahwa ketika ia menikahi Pangeran Charles dirinya merasa bahwa ia bagaikan seekor domba yang sedang dibawa ke rumah pembunuhan dan sayangnya hal ini terbukti benar bagi Diana.

Perlu diingat, bahwa setiap anggota kerajaan adalah manusia biasa dengan jabatan. Mereka tidak diciptakan Tuhan dengan tambahan kemampuan untuk menjadi sempurna. Hal ini juga perlu diingat oleh para anggota keluarga kerajaan dari garis keturunan. Mereka sudah mengalami hidup penuh kesibukan dan dikelilingi awak media sepanjang hidup mereka, maka dari itu mereka sudah terbiasa. Manusia lainnya, belum tentu dapat menyesuaikan dirinya dengan situasi ini dengan cepat. Maka dari itu, setiap anggota kerajaan sudah seharusnya saling mendukung satu sama lain.

Kehidupan Diana juga menjadi pesan yang besar bagi kita, bahwa tekanan masyarakat dapat berakibat sangat buruk bagi seseorang. Diana yang awalnya tidak ingin menikahi Pangeran Charles pun merasa bahwa dirinya tidak bisa mundur lagi setelah menyutujui lamaran sang pangeran. Padahal dirinya mengetahui bahwa hidup yang akan ia tempuh akan menjadi pengalaman yang sangat buruk. Maka dari itu, lebih baik kita mendahulukan kepentingan kita terlebih dahulu dalam hal-hal personal seperti ini. Hal ini dikarenakan bahwa mereka tidak akan mengetahui pengalaman-pengalaman pahit yang kita alami dan hanya berharap kesempurnaan dari kita.s

 

TANYA LEE NATHALIA

 

 

Related posts

*

*

Top