Detik-Detik yang Tersisa

Aku pikir ini sudah terlambat! Sergahku pada diri sendiri. Dia, seorang yang sangat kucintai akan pergi untuk selama-lamanya. Bukan karena menghadap sang Pencipta, bukan pula karena meninggalkanku tanpa kata. Yang kutahu, dia akan pergi, bukan untukku, bukan pula untuk perempuan-perempuan lain.

Ada satu hal yang ingin aku katakan secara khusus, kenapa aku menjadi sangat jemu dengan kehidupan ini. Setiap tutur kata orang-orang di sekitarku berubah menjadi sumpah serapah. Setiap titik-titik cinta seakan lenyap dari hati setiap orang. Diikuti lenyapnya lembar-lembar hijau pohon yang berubah menjadi coklat gersang, bahkan ada pula yang tinggal ranting kematian.

Begitu pula dengan dirinya! Yang menjadi milik dunia ini, tenggelam mengatasnamakan kebebasan. Dia telah berubah haluan tanpa perlu untuk mencetuskannya padaku untuk tahu akan hal itu. Tidak ada lagi bentuk pengungkapan yang pas selain aku sangat kecewa akan dirinya. Sangat kecewa! Terlebih lagi ketika dalam suatu pembicaraan di masa-masa akhir kuliahnya. “Fiona, maaf, kita harus berpisah, demi suatu tujuan..” ujar Sammy tegar.

“Tapi mengapa harus berakhir seperti ini? Apakah tujuanmu telah menjadi tuhan dalam dirimu? Aku tak mengerti Sam, Sungguh aku tak mengerti…”

Aku berselimutkan kegalauan, yang mungkin lebih tepat adalah kesedihan yang meletup-letup. Perlu wadah. Perlu air untuk membasuh laraku. Tapi aku lupa bahwa air pun telah langka bagi umat manusia, tanpa peduli manusia yang lurus-lurus saja maupun yang dengan keserakahannya membinasakan banyak bangsa.

Oh, Sam. Apakah aku hanya bisa termangu menerima suratan ini, dengan bahasa yang lebih ekstrim, aku telah dicampakkan. Disini idealismeku sebagai mahasiswa dipertanyakan yang tidak serta merta nrimo saja. Mungkin aku harus berontak! Mempertahankan cinta sejatiku yang akan meninggalkanku. Tapi aku sendiri bingung, apakah aku terlalu bodoh terlanjur menganggapnya sebagai tuhan sehingga aku terjebak dalam idiologisasi cintanya yang membelenggu pikiranku, rasionalitasku, dan mungkin alam sadarku. Ataukah…aku terlalu logis membiarkannya pergi dariku begitu saja. Aku tidak tahu, aku pusing, persetan apa itu cinta dan apa itu logika!

Sesaat aku hanya bisa menghidupkannya maya dalam benakku. Sam, sosok lelaki yang kukenal semenjak di bangku kuliah. Tingginya kira-kira seratus tujuh puluh lima senti dengan tubuh yang proporsional. Punya karakter pria tulen. Usianya yang lebih tua setahun dariku tidak membuat suatu kekakuan tertentu dalam hubungan kami. Bahkan, hari-hari yang kami lalui begitu indah, mewarnai indahnya masa-masa kuliah. Tepatnya, kami saling mencintai.

Dulu, kami sempat punya impian untuk hidup bersama nantinya. Sehati dalam suka dan duka. Punya rumah, mobil, dan anak-anak yang bermain di pekarangan yang hijau dan luas. Manis sekali! Namun, seiring waktu yang berputar, kehidupan seperti itu akan sukar diejawantahkan. Bukan hanya bagi kami, bahkan bagi semua orang. Perekonomian dunia melemah, krisis lingkungan menjadi-jadi, dan penyakit epidemi membabi buta yang menandakan bahwa bumi kita telah tua renta.

Aku menelan ludah. Pahit. Bau. Pikiranku melayang-layang di atas tubuhku yang mulai letih. Meski agak sulit, kucoba untuk membedakan realitas dan angan-angan. Aku ingin keluar dari rasa sakit ini. Aku tidak ingin sama sakitnya dengan para pejabat yang tidak bisa membedakan antara realitas krisis multisektor dan kenikmatan semu.

Sekarang, aku seharusnya bagaimana. Haruskah aku berlari menghampirinya, berlutut di bawah kakinya, dan mengemis-ngemis cinta yang terlanjur dicampakkan demi sebuah tujuan? Siapakah aku ini yang tidak tau malu setelah dicampakkan masih mengiba-iba tanpa logika? Atau siapakah dia, kenapa aku begitu tergila-gila akan dirinya. Sinting! Aku sudah sinting!

“Apakah aku memang tidak sejalan dengan tujuanmu, Sam?” tanyaku suatu kali. Sam enggan menjawab. “Bisakah aku berjalan beriringan dengan tujuanmu, karena aku mencintaimu.”

“Entahlah, aku tidak tahu,” ujar Sam. “Yang pasti, dunia kita sedang krisis dan perlu otak-otak, tangan-tangan, dan kaki-kaki yang peduli untuk menetapkan suatu langkah,” sahutnya dingin. Dia telah berubah, atau sedang dalam proses menuju itu.

“Lalu, menurutmu, aku tidak termasuk dalam bagian itu?” tanyaku sedikit marah. “Ada apa denganmu, apa sebenarnya yang kau cari??”

“Aku tidak tahu. Aku harus melakukan ini.” katanya tak bergeming. “Aku akan pergi. Maafkan aku, maaf…”

“Kau masih mencintaiku kan?” tuntutku. Kata maaf darinya membuatku semakin linglung. “Katakan padaku kau masih mencintaiku.” Pipiku semakin basah, aku tak sanggup. Sementara ia menghilang dari pandanganku. Mungkin untuk selamanya.

Semenjak hari perpisahan itu, ternyata aku tak mampu menghentikan perasaan kasihku padamu, Sam. Sepeninggalmu, aku merasa semakin sekarat!

Jujur, kadangkala aku ingin memaksamu untuk tak meninggalkanku. Aku bahkan ingin membuatmu menderita seumur hidup dan berada dalam kendaliku. Namun, bila aku seperti itu, apa bedanya aku dengan mereka, yang hidup, bahkan berpesta-pora di atas penderitaan orang lain. Tentunya aku ingin tidak seperti itu. Maafkan aku, aku terlalu egois.

Namun, berbicara soal egois, kamulah yang aku pikir terlalu egois dengan tujuan-tujuanmu itu. Persetan dengan semua tujuanmu! Kamu telah berubah, meski aku belum tahu apakah dirimu malah menggunakan tujuan yang luhur itu untuk menjadi ‘serigala’ buas nantinya. Aku juga belum tahu, apakah kamu masih berteguh pada idealismemu apabila kamu dihadapkan pada kekuasaan, uang, ataupun diteror lawan-lawan yang siap menghabisimu.

Aku juga tidak habis pikir, kenapa kamu tidak pergi dan kembali untukku. Apakah dalam benakmu tidak pernah terpikir lagi untuk hidup bahagia bersamaku nantinya. Setidaknya bebas dari orang-orang yang tidak menghargai kebenaran, yang di negeri ini, tidak lebih berharga dari sampah yang bertebaran. Kenapa kamu pergi untuk tujuanmu itu. Aku pikir untuk menjadi politikus sejati kamu telah menandatangani surat kematianmu sendiri!

Maaf, sekali lagi. Aku tidak berniat menghakimimu. Yang bisa menghakimi adalah Dia yang memiliki setiap nafas kehidupan manusia, termasuk aku manusia yang tak luput dari kenistaan dunia.

Oh ya, aku hampir lupa. Sebenarnya aku juga punya tujuan seperti dirimu yang mempunyai keinginan yang demikian luar biasa atas nama kemanusiaan dan keadilan. Tapi aku mengambil jalan yang berbeda, sayangku. Cara yang tidak sefrontal dirimu. Jauh di kedalaman lubuk hatiku, haruskah aku bangga dengan caramu itu atau sebaliknya aku malah menganggapmu tolol, wahai cintaku.

Saat ini, aku masih bertahan duduk di pekarangan belakang rumahku ini. Meski gersang, tempat ini adalah saksi bisu kerentananku dan mana kala tempat aku bercerita berdua denganmu dahulu, menunggu senja. Sementara itu, angin bercampur debu menerpa wajahku. Aku tak peduli dengan debu-debu itu. Sadar tidak sadar, aku adalah bagian dari sistem kosmik yang hanya menunggu waktu dimana bumi ini akan sirna juga nantinya. Waktu yang dipercaya beberapa umat sebagai akhir dari kehidupan manusia. Dari arah lain, suara gaduh burung-burung di udara mengalihkan perhatianku. Jumlah mereka yang tinggal sedikit membuat alam semakin bersedih.

Aku pun kembali teringat pada Sam dengan seribu satu kenangan bersamanya. Seharusnya aku menyadari bahwa cinta tak selamanya setia di samping kita. Biarlah dirimu pergi demi tujuan yang kamu anggap baik. Bila kepergianmu bukan untukku, biarlah semua yang kau jalani demi kemuliaan-Nya. Aku sudah rela dengan kepergianmu, sayangku. Dan sudah terlambat juga untuk menyesalinya. (Dee-Dee)

Related posts

*

*

Top