Dendang All Creatures Sing Menggema di Pasca Sarjana

Suasana acara paduan suara mahasiswa Unpar dengan All Creatures Sing yang diadakan di Pasca Sarjana Unpar pada Minggu (1/5)/dok. Vincent Fabian Thomas Suasana acara paduan suara mahasiswa Unpar dengan All Creatures Sing yang diadakan di Pasca Sarjana Unpar pada Minggu (1/5)/dok. Vincent Fabian Thomas

STOPPRESS MP, UNPAR – Malam itu jam tepat menunjukkan pukul 7, Minggu 1 Mei, di ruangan segi enam itu, penonton segera menempati barisan kursi yang terbagi dua, menyisakan sebuah jalan di tengah. Ruangan yang semula terang, diredupkan, menyisakan cahaya lampu tersorot pada sebuah panggung bertirai hitam. Tepat di sisi atas tirai, tertulis sebuah kalimat berbunyi “All Creatures Sing.”

Tak lama kemudian, kerlipan warna hitam dan emas mulai terlihat dari arah berlawanan dengan panggung yang memberi kesan elegan bagi penonton. Perlahan chorister (tim paduan suara) melintasi kursi penonton, membentuk formasi siap di panggung. Di hadapan mereka, seorang konduktor telah bersiap membunyikan partitur di tangan.

Berbalut dengan gaun indah berwarna biru, Lucia Jesy Dewinda (Administrasi Bisnis 2012) mengawali konser dengan karya historical works. Meskipun berasal dari zaman-zaman romantik, lagu-lagu itu mengambil tema beralihnya musim salju ke musim semi.

Sesi itu dimulai dengan lagu pertama berjudul S’andasse Amore A Caccia. Kemudian sekitar 15 chorister terlihat baru memasuki panggung, bergabung untuk menyanyi di lagu-lagu berikutnya. Ternyata, lagu gubahan Claudio Monteverdi itu memang ditujukan untuk dinyanyikan dalam small choir. “Sang komposer menggubah lagu dalam small choir sebab setiap suara memiliki pola sendiri sehingga harus rapih,” ucap Jesy.

Selang 20 menit, sesi itu pun berakhir dan dilanjutkan dengan sesi contemporary works. Pada sesi ini, lagu-lagu yang dibawakan memiliki tema ketuhanan. Suasana konser yang semula tenang dan hening pun pecah ketika nada lagu Mate Saule (Peteris Vasks) dan Fecit Potentiam (Ken Steven) dibunyikan. Selain disertai dengan gerakan, kedua lagu itu dibawakan dalam suasana yang terkesan berisik dan suara yang keras.

Di balik pembawaan yang unik itu, Alfonsus Albert (Manajemen 2013) selaku konduktor sesi itu menjelaskan bahwa lagu pertama yang dibawakannya menggambarkan bencana alam dan keserakahan manusia yang akhirnya menghancurkan dunia. Tetapi Tuhan pun datang dan menunjukkan kuasa-Nya. “Karena itu, lagu pertama itu dibawakan dengan suara yang berisik,” jelasnya.

Satu jam pun berlalu di aula gedung PascaSarjana Unpar. Selang istirahat beberapa menit, seorang pria dengan model pakaian daerah naik ke panggung. Sesuai dengan tema pakaiannya, Rangga Dharmadi (Teknik Industri 2013) membawakan sesi Habaneras & Indonesian Folksongs (Lagu daerah Spanyol dan Indonesia).

Sesi ini terdiri dari dua lagu Spanyol dan tiga lagu daerah Indonesia. Dua lagu Spanyol yang berjudul El Ausente dan Tu menggambarkan suasana pantai serta seorang wanita cantik di sebuah pantai. Tiga lagu Indonesia yang berjudul Dumaleng, Benggong, dan Hela Rotane menggambarkan hal yang berbeda satu dengan yang lain. Ada yang mereplika suara gong, juga sekadar tentang berjalan, serta menggambarkan permainan tambang.

Selain bercerita tentang apa yang digambarkan oleh tiap-tiap lagu, Rangga juga menuturkan bahwa konser ini juga memuat lagu-lagu kompetisi. Dua konduktor, Rangga dan Albert dipercaya untuk membawakan lagu-lagu yang akan dipertandingkan di tingkat internasional itu. “Sebenarnya karena kami akan mengikuti kompetisi. Jadi lagi-lagu ini dipilih supaya dapat dipelajari lebih awal,” tuturnya.

Bertolak dari sesi itu, tema lagu beralih ke pembawaan yang lebih modern. Dibawakan oleh Johana Winastiti (Akuntansi 2013), sesi itu mengangkat karya Movies & Musical Works.  Lagu-lagu pada sesi itu dipilih dari lagu-lagu yang akrab di telinga penonton serta dibawakan dengan gerakan yang menambah semarak lagu. Keempat lagu itu berjudul Dream With Me, It Might As Well Be Spring, Come So Far, dan Defying Gravity.

Tepat sebelum konser berakhir, Alfonsus Albert membawakan lagu terakhir di akhir konser. Tanpa menggunakan lirik, lagu berjudul License To Scatt dibawakan hanya mengandalkan suara chorister.

Setelah lagu terakhir itu, para konduktor dipanggil ke tengah panggung dan menerima bunga disusul dengan pengumuman seorang protokoler, pertanda konser telah berakhir. Tawa dan kegembiraan menghiasi aula kampus perdana Unpar itu. Luapan kebahagiaan terlukis jelas dalam raut wajah chorister. Segera para chorister turun dari panggung disusul dengan  ucapan selamat dan tidak sedikit yang memberi bunga. Momen pun diabadikan dengan kamera HP, baik sendiri maupun bersama-sama.

Tidak hanya sesama mahasiswa, para orang tua yang turut hadir juga turut bergembira. Siauw John (50) selaku salah satu orang tua yang hadir pada konser itu mengapresiasi konser internal ke-21 ini. Ia menjelaskan sulit menilai mana yang lebih bagus di antara yang lain sebab kesemuanya sama-sama baik. “Bagus, paduan suaranya sangat menarik. Dalam rangkaian acara tadi lagu-lagu dibawakan dengan lebih dinamis dan semua punya poin-poin tersendiri,” ucapnya.

VINCENT FABIAN THOMAS

Related posts

*

*

Top