Debat tertutup PUPM di Fakultas Hukum, Mengejar Kondusivitas atau Pembatasan Hak?

Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa  (PUPM) UNPAR 2017. Dok/ PUPM 2017 Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa (PUPM) UNPAR 2017. Dok/ PUPM 2017

STOPPRESS MP UNPAR, —Debat tertutup calon Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) dan calon Ketua Himpunan (Cakahim) Program Studi Ilmu Hukum pada hari Kamis (19/04) lalu berlangsung seca tertutup. Meskipun membatasi sosialiasi para kandidat, debat tertutup dianggap lebih kondusif dan terkontrol. Salah satu yang dipertimbangkan yaitu kehadiran mahasiswa yang merokok dan kurang kondusifnya debat periode sebelumnya.

Calon-calon yang terdiri dari dua Calon Ketua Himpunan (Cakahim) yaitu Amelia Yahuza dan Hendrik dan empat Calon Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) yaitu Carlo Andreas, Maria Kristina, Muhammad Firman Gumilar, dan Nadya Pramesti

Acara debat yang dibuka oleh Wurianalya Maria Novenanty selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan mengatakan, bahwa alasan mengapa debat PUPM tahun ini dilaksanakan secara tertutup adalah berkaca pada tahun lalu debat yang berlangsung secara terbuka di rasa kurang kondusif dan cenderung rusuh. Sehingga menurutnya dengan melangsungkan debat terbuka di luar gedung 2 mahasiswa belum dapat dipercaya sepenuhnya. “Gedung 2 ini kita jadikan sebagai rumah kita dan rumah bagi para calon untuk bekerja dan melayani kita,” ujarnya.

Diakui Hangga Radiansyah selaku ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Fakultas Hukum tahun 2017, bahwa pihak KPUF selaku penyelenggara debat juga terlebih dahulu telah berkoordinasi dengan pihak dekanat khususnya dengan Wakil Dekan II & III mengenai penyelenggaraan debat tahun ini dan keputusan untuk mengganti format menjadi debat tertutup. “Tahun lalu kan debat terbuka di SC Ekonomi, pertimbangan Bu Nalya mengganti menjadi debat tertutup itu karena tahun lalu banyak mahasiswa yang ngerokok sama kurang kondusif suasananya,” ujarnya.

Akibat dari perubahan tersebut debat tahun ini mengalami pembatasan penonton demi menunjang keseriusan di antara para penonton dan tentunya menciptakan kondisi kondusif yang diharapkan. “Kelebihannya ya jauh lebih kondusif dan terkontrol tetapi kuota kursi menjadi terbatas hanya beberapa penonton saja,” tambah Hangga. Adapun kuota yang dibatasi adalah ke dalam 100 kuota penonton yang terbagi ke dalam 20 orang pihak netral dan 80 orang dari masing-masing manajer kampanye yang berjumlah 4 orang. Sehingga masing-masing Manajer Kampanye juga mendapat 20 orang penonton.

Hendrik selaku Cakahim Nomor 2 mengatakan bahwa kelebihan dari debat tertutup adalah menghindari tindakan anarki yang tidak diperlukan selama debat berlangsung sedangkan kekurangannya adalah dengan sistem kuota akan membatasi mahasiswa yang ingin mengenal baik calon MPM maupun calon Kahim yang ingin dipilih nantinya. “Tidak terjadi sosialisasi menyeluruh kepada seluruh mahasiswa atas visi misi serta proker para kandidat,” tambahnya ketika ditanya mengenai pengaruh kuota penonton yang dibatasi terhadap para calon.

Adapun jalannya acara berlangsung dari pukul 15.30-19.00 yang terbagi dalam dua acara yaitu pemaparan visi dan misi serta program kerja, kemudian dilanjutkan dengan debat kandidat di ruang 2305 gedung 2 Fakultas Hukum.

GALING GANESWORO

Tags , , , , ,

Related posts

One Comment;

  1. civitas non-lembaga said:

    pertimbangan akan tempat pelaksanaan debat yang tadinya terbuka menjadi tertutup tidak terlepas dari animo dan minat mahasiswa terhadap perpolitikan di UNPAR. Ketidakmampuan pengurus PM unpar periode saat ini untuk menciptakan animo dan minat yang baik dengan prokernya yang biasa aja maupun menciptakan masalah, membuat mahasiswa tidak perduli dan terima-terima saja. Hal ini dimanfaatkan oleh rektorat untuk melakukan perubahan sesuai keinginannya tanpa memperdulikan hak mahasiswa.

    terlalu jelas.

*

*

Top