Debat Cakahim Arsitektur, Serupa Tapi Tak Sama Ide Advokasi Permasalahan Mahasiswa

Logo Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur. dok./HMPSArs Logo Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur. dok./HMPSArs

STOPPRESS, MP -Selasa (17/04) diselenggarakan debat Calon ketua himpunan (Cakahim) program studi Arsitektur di SC teknik pukul 19.00 WIB. Pada debat itu para Cakahim memaparkan gagasannya mengenai advokasi atau pengawalan permasalahan mahasiswa jurusan Arsitektur yang kerap kali muncul dengan tiba-tiba.

Pada debat Cakahim tersebut muncul sebuah pertanyaan studi kasus mengenai fenomena yang terjadi di jurusan Arsitektur pada semester ini, pertama soal absensi 100% lalu persoalan penganuliran untuk sekitar 50 orang di mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur 6 (6 SKS).

“Sebagai himpunan tentunya, kita tidak melulu membuat acara tetapi juga mengadvokasi permasalahan mahasiswa yang ada, tetapi permasalahan mahasiswa itu kerap kali tidak muncul di awal kepengurusan dan sifatnya cenderung insidentil,” jelas salah satu mahasiswa Arsitektur yang hadir.

“Apa yang akan kalian lakukan mengenai hal tersebut. dan apakah itu berpengaruh pada struktur organisasi yang kalian buat?” tanya seorang mahasiswa mengutarakan pertanyaannya kepada para calon.

Cakahim nomor urut 1 Gallus Presiden menjelaskan bahwa ia memiliki program advokasi permasalahan mahasiswa dan siap memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan mahasiswa.

Mengenai persoalan ada/tidaknya divisi khusus untuk advokasi mahasiswa, Presiden menjelaskan bahwa ia tidak akan mengubah struktur organisasi yang ada sebelumnya. Menurutnya, tidak perlu perubahan atau penambahan divisi baru pada struktur organisasi yang ada sebab akan lebih baik jika hal tersebut dapat dilakukan oleh tiap-tiap divisi.

“Pengabdian masyarakat (Pengmas) punya sendiri, akademik punya sendiri, humas punya sendiri, dan permasalahan yang ditanggapi tergantung dengan jobdesk masing-masing,” jelas Presiden.

Lalu Cakahim nomor urut 2 yaitu Gerry menjelaskan bahwa sepanjang pandangannya terhadap advokasi permasalahan mahasiswa, hal itu tidak akan berpengaruh pada struktur organisasi yang akan dibentuk karena menurutnya tugas advokasi tersebut bisa disisipkan pada jobdesk dari divisi yang sudah ada sebelumnya yaitu HUMAS.

“Mungkin penarikan aspirasi bisa dilakukan secara bersama-sama. Dengan bentukan sebuah forum misalkan diskusi atau musyawarah, sehingga dapat dilakukan insidental sesuai dengan kasus yang muncul saat itu,” ujar Gerry.

Gerry pun menjelaskan tindak-lanjut dari aspirasi itu terdiri dari dikumpulkan, diproses bersama, lalu disampaikan oleh Humas agar lebih efektif. “Seperti di awal saya katakan bahwa Humas ini akan berinteraksi dengan banyak pihak, dan itulah keuntungannya. Komunikasi akan lebih mudah dilakukan oleh Humas dengan pihak terkait untuk menindaklanjuti aspirasi yang telah ditampung sebelumnya,” jelas Gerry

JEREMY RIONA | FIQIH RIZKITA