Dari Hima Menuju Presma

Media Parahyangan (MP) – Siang itu Stephen Kamas Petra Pradipta dan Bobby Irham terlihat sedang bercengkrama dengan teman-teman mahasiswa di Himpunan Teknik Arsitektur. Seorang mahasiswa menawarkan sebatang rokok buatan Amerika kepada petra. Saya menghampirinya dan mengajak mereka untuk sedikit berbincang tetang pencalonan mereka menjadi capresma dan cawapresma.

Percakapan di tengah terik matahari cukup membuat saya cukup mengenal mereka.Percakapan ini di mulai di lorong GSG tempat mahasiswa sering meluangkan waktu. Suasana saat itu ramai oleh mahasiswa yang  berceloteh, tapi tidak menghalangi perbincangan kami.

Saya mulai bertanya mengenai tanggapan mereka tentang kondisi LKM saat ini. “Saya benar-benar salut sama LKM sekarang, karena LKM sekarang sudah bisa membuat skala prioritas dan mereka dapat melakukan program kerja dan kebijakan dengan baik. Tapi disini memang saat menjalankan suatu hal kita pasti tidak lepas dari kesalahan.” Ucap Petra “Nah dari kesalahan itu yang kita pelajari, kita evaluasi untuk kedepanya kita cari benang merahnya untuk kita perbaiki lagi. Disini kami tidak ingin adanya perubahan-perubahan karena  kalau kita bicara perubahan mungkin kita tdak ada tolak ukur saat kita bikin acara A kita salah lalu kita ganti acara B dari mana kita tahu tolak ukur keberhasilan kita. Lebih baik kesalahan A kita telaah kesalahannya apa dan kita perbaiki kesalahanya.” Tambah lelaki kelahiran Jakarta 21 tahun lalu itu.

Petra yang merupakan staff himpunan HI bidang internal periode 2009-2011 ini mempunyai keinginan untuk memajukan LKM. ”Berlandaskan kepedulian dalam organisasi kemahasiswaan di lingkungan Unpar, kita ingin meningkatkan kinerja LKM. Kita tau bahwa dalam suatu organisasi pasti ada kelebihan dan kekurangan. Kita ingin menyempurnakan kelebihan tersebut dan dengan kekuranganya kita cari benang merahnya apa yang bisa kita tingkatkan” Jelasnya.

“Kita ingin dari LKMnya sendiri bisa kerja secara fokus, bisa menjunjung tinggi profesionalitas, bisa mengedepankan tujuan bersama. Dari situ kita harapkan kalau dari dalam sendiri kita solid pasti keluar juga bagus. Karena kalau kita hanya fokus keluar tapi tidak kedalam pasti berantakan” sahut Petra ketika ditanya mengenai latar belakang menjadi capres.

Karakter Petra yang tegas dan berani dalam mengambil keputusan menurutnya merupakan salah satu kelebihanya di banding calon presma yang lain. Namun tidak ada gading yang  tak retak, ia mengatakan bahwa kekurangan dirinya adalah sikap yang perfeksionis dan berfikir terlalu mendetail.  “Dari satu sisi saya terlalu berpikir secara detail tentang hal-ha tertentu sehingga hal-hal yang lain mungkn terbagi. Disini ditutup pula oleh karakter Bobby selaku wakil persiden yang logis dan realistis. Karakter Bobby ini  dharapkan mampu mengimbangi. Sehingga waktu saya berfikiran terlalu perfeksionis, Bobby dengan karakter logis dan realistisnya memberikan pendapat dan mengingatkan saya agar tidak terlalu mendetail dalam mengambil suatu keputusan atau membuat program kerja.” Jelas petra.

Bobby yang masih menjabat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMPSM) periode 2010-2011 berpendapat, keunggulan mereka di banding capres yang lain adalah fakta bahwa mereka merupakan calon pertama yang mengajukan diri sebagai capres dan cawapres. “Kita terlhat unggul karena ini adalah posisi penting dan juga merupakan titipan dari masyarakat Unpar. Persiapan yang kita lakukan tidak sebentar. Jadi usaha-usaha yang kita lakukan, dari subjektif kita, kita lebih siap. Dari segi pelaksanaan, kordinasi tim secara keseluruhan.” Ucap mahasiswa Manajemen 2008 ini.

“Mengenai konsep yang kita bawa juga kita pikir bisa menawarkan sesuatu yang bersifat rill dan konkret. Intinya aplikasi yang akan kita tuangkan dalam program kerja dan kebijakan keseharian kita benar-benar yang  menjalankan fungsi LKM sebagaimana mestinya, serta bisa memberikan dampak untuk seluruh masyarakat unpar.” Tambah pria yang juga merupakan ketua UKM Korgala angkatan ke 14.

Salah satu misi mereka adalah menciptakan budaya organisasi yang menjunjung tinggi profesionalitas, dan menciptakan sistem organisasi yang efektif dan efisien dengan mengutamakan skala prioritas. ”Disini kita benar-benar fokus kedalam, fokus ke mahasiswa kita rangkul seluruh mahasiswa supaya mau berorganisasi,kita mewadahi mereka untuk berorganisasi, dan juga kita mewadahi pendapat-pendapat mereka. Kita kumpulkan, kita salurkan semoga berguna bagi seluruh mahasiswa.” jelas Petra mengenai misi mereka.

Visi yang mereka bawa adalah PRO, yaitu Peduli Realistis Objektif. “Kita bisa menularkan nilai-nilai yang kita punya, kemampuan-kemampuan yang kita punya kepada orang lain. Imbasnya bisa kita lihat dalam diri kita sendiri. Saat kita bisa membagikan itu kepada orang lain kita bisa mendapat suatu nilai lebih untuk kita dan itu juga pengalaman untuk share sesuatu untuk orang lain” kata Petra, dimana antara lain yang menjadi fokus mereka adalah agar orang yang biasanya malas berorganisasi menjadi giat dan aktif dalam organisasi.

Realisitis yang merupakan poin kedua berarti membuat skala prioritas agar kebijakan dan program bisa tepat sasaran.”Kita buat skala prioritas supaya efektif dan efisien sehingga acara untuk satu tahun kedepan lebih lancar dan diharapkan tidak ada kendala-kendala, karena dari awal kita sudah set sedetail mungkin.” Ujar Petra

“Dari segi objektif kita tidak hanya melihat dari segi subjektif seseorang. Kita melihat dari segi kemampuan, kapabilitas, pengalaman-pengalaman. Dari sini kita bisa mengembangkan apa yang dia punya  supaya kedepanya kepentingan bersama yang kita kedepankan agar bisa sama-sama kita capai.” Tutur Petra mengakhiri wawancara.

(Kania)

Related posts

One Comment;

*

*

Top