Creative Commons Bukan Musuh Bagi Pencipta  

Workshop Creative Common di INF #2. dok. Sorgemagz Workshop Creative Common di INF #2. dok. Sorgemagz

STOPPRESS MP, BANDUNG – “Creative Commons bukanlah musuh bagi pencipta,” ujar Ivan Lanin selaku pembicara workshop Creative Commons Music saat memberikan materi tentang hak cipta dan creative commons di Institute Francis Indonesia (IFI) Bandung dalam rangkaian acara Indonesian Netaudio Festival (INF) ke-2, Sabtu (15/11).

Creative commons justru menyediakan lisensi standar untuk penggunaan karya si pencipta dengan tetap menjaga hak kekayaan intelektual mereka.” lanjut pria yang mewakili Creative Commons Indonesia dalam acara workshop tersebut. Ivan, yang saat ini merupakan penulis aktif di wikipedia, menjelaskan bahwa dengan adanya lisensi standar yang universal tersebut, pencipta bisa dengan mudah mengklaim apa saja yang berhak dilakukan oleh pengguna karyanya. “Misalnya contoh, nggak boleh menjadikan suatu karya, contohnya foto, untuk kepentingan komersial tanpa seizin pencipta dengan mencantumkan creative commons nc (noncommercial),” ucapnya.

Ivan pun menjelaskan bahwa creative commons bukanlah suatu hukum baru yang menyaingi hukum hak kekayaan intelektual. “Ketika ada pelanggaran hak cipta, para penegak hukumlah yang bergerak untuk menanganinya,” jelas Ivan. Dan ia berharap dengan adanya creative commons, jalan pertama untuk menyelesaikan sengketa pelanggaran tersebut adalah melalui mediasi.

Acara ini, oleh salah satu peserta workshop, Fanny Yudhansman(23), dinilai menarik. “Terlebih karena ternyata organisasi aku tercantum dengan creative commons.” ujarnya. Fanny tergabung dalam TedxBandung, yaitu organisasi nonprofit yang menyediakan satu tempat berbagi pengetahuan mengenai teknologi, desain, dan lain-lain. Pembicara menyampaikannya selama 18 menit penuh dan diskusi dilakukan setelah pembicara selesai, “Aku jadi tertarik untuk mengajak creative commons untuk sharing,” katanya.

Lisensi Creative Commons adalah lisensi legal yang memberikan hak dasar bagi pencipta, seperti hak untuk mendistribusikan karya berhak cipta tanpa perubahan, tanpa biaya apapun (sumber: creativecommons.org.red). Dan lisensi dasar tersebut dapat berupa:

  1. Attribution, “BY”: Mengizinkan orang lain untuk menyalin, mendistribusikan, menampilkan, serta membuat karya turunan berdasarkan suatu karya hanya jika orang tersebut memberikan penghargaan pada pencipta atau pemberi lisensi dengan cara yang disebutkan dalam lisensi.
  2. Noncommercial, “NC”: Mengizinkan orang lain menyalin, mendistribusikan, menampilkan, serta membuat karya turunan berdasarkan suatu karya hanya untuk tujuan nonkomersial.
  3. No derivative works, “ND”: Mengizinkan orang lain menyalin, mendistribusikan, dan menampilkan hanya salinan sama persis (verbatim) suatu karya, bukan karya turunan yang berdasarkan karya tersebut.
  4. Share-alike,“SA”: Mengizinkan orang lain untuk mendistribusikan suatu karya turunan hanya di bawah suatu lisensi yang identik dengan lisensi yang diberikan pada karya aslinya.

Workshop ini diselenggarakan dalam rangkaian acara dari Indonesian Netlabel Festival (INF) ke-2 yang diselenggarakan tanggal 14-16 November 2014 di Bandung. Acara INF sendiri bertujuan untuk mensosialisasikan apa itu netlabel(yang juga berkaitan dengan creative commons) dan juga ajang pertemuan bagi para netlabel di Indonesia.

Hilmy Mutiara/ Axel Gumilar

Related posts

*

*

Top