Ciri Khas Mahasiswa Unpar

Dok. MP Dok. MP

Oleh: Petrus Richard Sianturi

Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2012

Apa ciri khas mahasiswa Unpar sehingga bisa membedakan mereka dengan mahasiswa-mahasiswa lain dari kampus bukan Unpar? Seharusnya pertanyaan sesederhana itu harus ada di benak setiap mereka yang mau belajar di Unpar.Kalaupun sudah telat, mungkin setelah membaca pertanyaan di atas, mereka yang sudah satu, dua, tiga sampai tujuh tahun belajar di Unpar ini perlu duduk hening dan merefleksikannya di kamar masing-masing.

Pertanyaan itu bisa dijawab dari beragam macam pandangan. Saya dengan senior angkatan 2009 bisa jadi beda dalam mengemasnya, tapi seharusnya substansi tidak boleh ekstrim berbeda. Untuk itu, paling tidak kita bisa meluangkan sedikit waktu untuk membaca statuta Unpar tahun 2005 yang isunya ingin diperbaharui agar kita punya satu landasan yang sama untuk melihat apa sebenarnya ciri khas kita sebagai mahasiswa Unpar.

1. Pribadi yang Berketuhanan

Mahasiswa Unpar hendaknya hidup berlandaskan iman kepada Yang Maha Esa. Disebutkan dengan jelas bahwa Unpar adalah komunitas akademik yang berdasarkan iman (pasal 3 ayat 1). Meskipun didirikan berdasarkan semangat nilai Katolik, esensi berketuhanan yang dimaksud tidak sempit hanya kepada Yesus tetapi kepada Yang Maha Esa. Berketuhanan dalam arti yang universal. Tentu ini sesuai dengan Pancasila, yang mengkehendaki seluruh warga Indonesia hidup sebagai bangsa dalam pondasi kebertuhanan Yang Maha Esa.

2. Pribadi yang Berbakti

Berbakti tidak lain berarti melayani. Mahasiswa Unpar adalah mereka yang siap melayani, menjadi pelayan bagi sesama. Jika Anda baca statuta, maka penghargaan kepada keberadaan manusia yang lain mutlak harus selalu disadari dan dimiliki oleh mahasiswa-mahasiswa Unpar. Kampus ini berawal dari kepedulian untuk ikut memberikan sumbangsih bagi perkembangan masyarakat (Pembukaan baris 1). Lebih lanjut diperinci bentuk cara memberi sumbangsih itu; pengembangan nilai budaya, penelitian dan pengkajian ilmiah serta pengabdian kepada masyarakat (pasal 3 ayat 2).

Itu sederhananya. Mahasiswa Unpar adalah mereka yang berketuhanan kepada Yang Maha Esa dan mereka yang mau berbakti pada sesama.

Penekanan pada semangat mau berbakti atau mau mengabdi atau mau melayani menjadi penting, sebab dengan mau melayani sesama terutama mereka yang membutuhkan, kaum miskin dan mereka yang terpinggirkan menjadi bukti konkret atas iman kepada Tuhan yang Maha Esa sekaligus menunjukkan keinginan kita untuk menghormati martabat luhur manusia. Melayani menjadi kekuatan tersendiri kalau kita mau melihat diri sebagai manusia yang lemah.

Bagaimana caranya kita mahasiswa Unpar ini menjalankan pelayanan? Tentu pertama-tama lewat ilmu yang kita pelajari. Bagaimana ilmu yang kita pelajari di kelas bisa diimplementasikan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan konkrit di masyarakat. Sekalipun kita masih mahasiswa, bukan tidak mungkin kita bisa melakukan tindakan yang biasanya dilakukan dosen untuk berbakti kepada masyarakat lewat ilmu yang dimiliki. Malahan banyak dosen yang gelar akademiknya berbaris-baris tapi tidak bisa memberikan kontribusi apa-apa untuk masyarakat. Kita jangan sampai menjadi manusia seperti mereka yang tidak ada gunanya. Oleh karena itu, agar pelayanan kita lewat ilmu menjadi utuh, kita harus berusaha belajar sungguh-sungguh hingga lulus nanti.

Cara lainnya bisa lewat kegiatan-kegiatan kampus yang akan kita adakan. Acara-acara rutin Unpar sudah menyebar luas ke berbagai wilayah. Unpar juga terkenal karena menyelenggarakan acara yang total dan maksimal, besar-besaran dan banyak yang mewah. Itu baik tetapi belum bisa menjadi ukuran sebuah pelayanan yang sesungguhnya.

Sekali-kalinya saya melihat kegiatan mahasiswa Unpar yang benar-benar kelihatan berjiwa melayani masyarakat yang membutuhkan adalah Gerakan Amal Parahyangan yang membagikan kaki palsu gratis dan Komunitas Akar Hidup yang rutin bergembira bersama anak-anak di salah satu lingkungan sebelah Unpar. Itu contoh sangat baik yang bisa menjadi pemicu untuk membuat acara-acara yang bermutu kedepannya. Bukan berarti misalnya kita buat acara olahraga lalu menjadi tidak melayani. Pelayanannya mungkin bisa berupa ajakan untuk pemuda warga sekitar Unpar untuk mau ikut bergabung dalam acara.

Atau misalnya, saat membuat acara kerja bakti bersama warga sekitar satu bulan sekali. Atau kepanitian INAP yang membuat kebijakan bahwa biaya untuk membuat name-tag INAP yang aneh-aneh itu, menjadi biaya untuk membeli lima liter beras. Kalau satu mahasiswa baru membawa lima liter beras, bayangakan berapa ribu liter beras yang bisa Unpar bagikan untuk masyarakat kurang beruntung sekitaran Unpar? Dan banyak hal-hal kecil lainnya.

Motto “Bakuning Hyang Mrih Guna Santjaya Bhakti– Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan Kepada Masyarakat”, bisa menggambarkan ciri khas yang seharusnya dimiliki setiap pribadi mahasiswa Unpar. Motto itu sudah lama tertidur, ia harus dibangkitkan kembali dan sesegera mungkin dilaksanakan. Yang melaksanakannya adalah kita, bukan siapa-siapa. Semoga kedatangan teman-teman 2014, membawa harapan baru untuk itu semua.

Related posts

*

*

Top