[Cerpen] Memeluk Luka Selama 636 Sentimeter

Mengenang G30S Mengenang G30S

Luana lebih suka memeluk Luka erat-erat. Baginya membangun jeruji bagi Luka secara paksa dengan bantuan detakan jarum kecil pada arloji dan robekan lembaran-lembaran penanggalan, kelak hanya membuat Luka beralih bentuk menjadi infeksi. Karenanya, menahun Luana enggan menghitung hari-hari. “Rambutmu sudah terlampau panjang,” ujar Luka padanya. Luana mengangguk. “Mengingat imajimu tentang hitungan hari yang tak lagi sama, bisa dibilang kamu telah memeluk saya selama 36 sentimeter*.” Lagi-lagi Luana mengangguk.

“Tahukah kamu ada banyak manusia yang memeluk luka selama 636 sentimeter?” Mata Luana terbelalak. “Sebesar apa luka yang mereka peluk? Apa yang terjadi 636 sentimeter silam?” Kali ini Luka menghela napas, “Larutan merah tumpah ruah di tanah negeri ini.”

“Maksudmu darah? Berapa liter darah yang dibutuhkan untuk mencipta kata ‘tumpah ruah’? Bahkan jika saya bersedia mendonorkan seluruh darah yang ada pada tubuh saya, belum mampu mencipta kata itu. Saya perlu dilahirkan beratus-ratus.”

“Itulah mengapa saya berucap larutan, bukan cairan. Darah yang tumpah 636 sentimeter yang lalu di negeri ini bercampur dengan kegetiran. Pertumpahan mula-mula terjadi pada sembilan sentimeter pertama tahun itu, dan pertumpahan kedua mulai terjadi kurang dari nol koma lima sentimeter kemudian. Jumlah raga yang darahnya tertumpah sejak hari itu bukan main berlimpah. Angka beratus-ratus yang kamu sebutkan belum mampu menggambarkan kondisi kala itu.”

“Apakah setiap tetes darah pada hari itu pantas tertumpah?”

“Layaknya acap kali, pantas bagi yang menumpahkan. Tidak pantas bagi yang ditumpahkan.”

“Siapa yang salah?”

“Manusia, jelas.”

“Manusia yang mana?”

“Siapa yang tahu. Mereka semua manusia, Luana,”

 

Satu perempat sentimeter sebelum larutan merah mulai tumpah ruah

 

*dengan asumsi, rata-rata pertumbuhan rambut manusia dalam satu bulan adalah satu sentimeter.

 

Kontributor: Livia Halim, Hukum 2014