[Cerpen] Gagal Panen

Ilustrasi penguasaan lahan. Dok/ wordpress.clarku.edu Ilustrasi penguasaan lahan. Dok/ wordpress.clarku.edu

Aku berdiri di tengah ribuan bahkan jutaan hijau membentang luas disekitarku. Tiupan angin santai menerpa, dan aku mengikuti irama lembutnya secara bersamaan.terombang-ambing ke samping secara bersamaan. Saat panen tiba, tak lama alih, penerus panen juga panen dengan cepat. Di luasnya sawah aku tidak berguna tanpa yang lainnya.

Tapi kali ini aku berada di tempat yang berbeda dengan tempat dimana generasi sebelumku pernah tinggal. Aku ditempatkan jauh dari pemukiman manusia, aku dipagari, dijaga oleh manusia berseragam, dan membawa besi panjang. Entah apa yang akan mereka perbuat. Sesekali mereka menuju pagar itu dan menemui manusia guna berbincang.

Terkadang mereka melayangkan tangannya dengan keras hingga terdengar bunyi kecibak. Manusia datang sesekali untuk mengobrol, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan. Tapi, sejujurnya aku merasakan kejanggalan tentang panenku ini dan tentang manusia-manusia itu.

Namaku adalah Padi aku tinggal di pesawahan daerah Batang Jawa Tengah, aku masih tetap padi sampai saat ini. mungkin sudah berpuluh-puluh tahun lampau dari panen pertama.  Saat ini aku adalah generasi panen padi yang genap ke 30, padi yang lain sering bercerita bahwa hari panen adalah hari sukacita karena melepaskan dirinya demi keberlangsungan alam dan makhluk hidup didalamnya.

Padi sangat dibutuhkan di negaraku, apalagi di daerahku ini, Batang. Entah kenapa aku tidak menikmati hari panen yang akan berlangsung beberapa hari ini. Entah karena udara di sekitar atau kurangnya perhatian manusia terhadapku. Teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Kegersangan yang aku alami tak kunjung padam. Air deras hujan yang bersih sangat aku rindukan disaat kemelut panas membashku.

***

Setelah satu bulan sebelum panenku, manusia-manusia berteriak sembari membawa sejulur kain yang dibentang. Mereka semua gusar. Kegusaran itu tak membuat para manusia berseragam untuk gentar menghadang. “apa-apaan ini! Bubar!! Bubar!!”,dengan nada tinggi mereka memukulkan kembali besi panjangnya. Semua manusia berubah menjadi anarki.  seekor burung datang membisikan kicauannya kepadaku “cit cit cuittt!!! Cit cit cuitttt!!” .

Keadaan mulai tidak beres. Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan bahkan tahun-tahun sebelumnya manusia semakin tak terkendali. Sedikit demi sedikit tanah kami mulai dirampas. Sawah-sawah yang membentang kini mulai berangsur punah. Aku hanya berharap panenku cepat datang agar melupakan kegelisahan ini.

Terdengar suara keras dari atas, kudengar  suaranya berasal dari besi panjang itu. Manusia berseragam itu semakin banyak dan  kemarahan warga pun semakin tak terkendali, sawah kami terlantarkan. Apakah manusia tidak membutuhkan kami lagi? Ataukah kami yang menyebabkan mereka berseteru?.

Kini darah di tubuh mereka mulai mengalir keluar, teriakan, jeritan warga semakin keras, semakin membuatku putus asa. “jangan ambil lahan kami, panen kami, padi kami, hidup kam

!!!, batalkan pembangunan!!! Batalkan pembangunan!!!” teriakan warga semakin menjadi-jadi.

Lahan? Panen? Hidup?, apakah lahan panen kami membuat mereka tidak bisa hidup?. Bukankah kami sumber kehidupan mereka?. Apa yang terjadi? Semua ini membuatku bingung tak terkendali. Warga sudah tak menjamah kami lagi yang berada didalam pagar.  Pagar apa ini?. Teringat oleh ucapan manusia itu tentang pembangunan. Apakah pembangunan inti dari masalah ini?. Aku mulai mengetahui sedikit demi sedikit tentang kontra yang terjadi di daerahku ini. Warga tak hentinya menyuarakan penolakannya tentang pembangunan.

Waktunya sudah tiba, tubuhku memudar kecoklatan, silaunya sinar matahari membuatku lengah, Badanku kering, tanahku tandus, airku kotor, udara disekitar sangat gersang. Tiba saatnya pelepasanku dimulai. Kini aku lepas bebas menuju datangnya cahaya, meninggalkan duka nestapa.

Hujan tergantikan oleh air mataku. Tapi, Bimbang masih terpangku di pundakku  Satu per satu tubuhku mengering, berjatuhan. Aku  gagal, seonggok kecil padiku dipanen. Panen ini bukan panen kemanusiaan tapi panen ini panen kekuasaan dan keserakahan.

***

Tentang penulis :

Rizky Merdeka

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik 2013

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Universitas Pasundan

Related posts

*

*

Top