[Cerpen] Batu Berselimut Tebal

Ilustrasi selimut malam cerpen. Dok/ favim.com Ilustrasi selimut malam cerpen. Dok/ favim.com

“Jadi, Manusia.

Ada yang bilang kamu kerap memadankan rasa dengan bulan dan laut. Ada yang bilang kamu kerap berucap pada bulan selagi menanti. Manusia, biar saya beri tahu faktanya, kamu jangan tersinggung. Laut tidak mengagumi bulan. Kamu mengagumi, tapi bukan bulan. Manusia, bulan bukan telepon kaleng yang dihubungkan dengan benang. Bulan tidak menyampaikan pesanmu. Kamu yang tahu harus ke mana berucap.

Terakhir, Manusia.

Bulan dan laut ada selamanya. Kamu, siapa yang tahu.”

“Ada apa, Luana?”

“Surat. Ada di kotak pos rumah,” jawab saya sambil menyobek kertas usang di genggaman saya dan membuangnya ke tempat sampah.

“Kamu masih punya kotak pos?”

“Ada. Sejak bertahun lalu saya lupa punya kotak pos.”

“Pengirimnya?”

***

Saya duduk di tepi ranjang sambil membawa semangkuk bubur dan sebuah selimut tebal. Sosok di hadapan saya menggigil kedinginan setiap malam, jadi saya selimuti. Dulu yang menjenguknya pasti beku. Sekarang dia menua, melemah. Dia yang kedinginan jika saya sentuh, padahal hanya dengan jari telunjuk.

“Makan dulu sekarang?” itu satu-satunya basa-basi yang bisa saya pikirkan.

“Makan pesan. Kenyang sudah.”

“Muntahkan lagi saja. Suapi mereka yang nyaris tenggelam dalam penantian.”

“Kamu masih bisa mengenali rupa lama muntah, Luana?”

Saya memutuskan untuk diam. Sosok di hadapan saya terlihat menyedihkan. Ia juga enggan dihibur dengan acara televisi karena kini keberadaannya dicari di mana-mana. Mereka menyalahkannya karena laut bergeming, jua karena bentuk bintang-bintang yang menyerupai belimbing kurang diminati. Maka suatu kali saya mengeluarkan televisi dari kamar.

“Luana, mungkin rupa lama muntah masih bisa dikenali.”

“Apa?”

“Tapi pesan yang menahun lalu kamu titipkan pada saya tidak mungkin saya sampaikan, Luana. Kamu yang tahu ke mana semestinya.”

“Ke mana?”

Sosok di depan saya berhenti berucap. Dalam sekejab ia jadi seonggok batu di atas ranjang. Bubur yang saya bawa tidak akan pernah dimakan, kamu tidak akan tahu lagi ke mana harus berpesan. Anak-anak di masa depan akan enggan makan belimbing karena mereka mengira belimbing adalah satu-satunya penerang malam.

 

Saya menyesal pernah minta bulan pada ibu,

L

 

Tentang penulis :

Livia Halim

Fakultas Hukum 2014

Biasa menulis cerpen di Kompasiana

Related posts

*

*

Top