Kolom Parahyangan articles

Pemilu 2019

Netralitas Universitas

Netralitas Universitas

Pada tanggal 17 April 2019, merupakan tanggal politik yang sangat penting, pada tanggal tersebutlah rakyat Indonesia akan menentukan siapa yang akan menjadi presiden. Tahun politik sekarang merupakan tahun politik yang panas, banyak peristiwa terjadi yang berkaitan dengan politik atau sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan politik pun dapat dikait-kaitkan demi kepentingan politik. Praktik politik pun

Ma'ruf Amin bersama Joko Widodo

Cawapres Ma’Ruf Amin: Berpotensi Timbulkan Narasi Diskriminatif pada Politik Indonesia

Pada tanggal 9 Agustus 2018, Presiden Joko Widodo telah resmi memilih K.H Ma’ruf Amin sebagai pasangannya menjadi cawapres untuk menghadpai pilplres 2019. Hal ini sekejap membuat masyarakat sangat terkejut karena masyarakat selama ini ber-spekulasi bahwa yang akan mendampingi Jokowi di tahun 2019 adalah Mahfuf MD. Keputusan ini juga membuat banyak orang, terutama pendukung Jokowi itu

MILITER VS POLRI? INDONESIA VS PKI?

Siapa yang tidak tahu dengan peristiwa G30 S/PKI? Sebuah peristiwa yang kelam terjadi di Indonesia. Bila kita melihat kembali mengenai peristiwa tersebut, banyak sekali pandangan yang muncul akibat dari peristiwa tersebut. Ada perspektif yang mengatakan bahwa peristiwa G30 S/PKI  ini adalah mengenai adanya keikutsertaan para panglima tinggi militer yang terlibat di dalam kaum komunis di

Eksistensi Radio di Zaman Digital

Radio Republik Indonesia (RRI) yang berdiri tanggal 11 September 1945 telah memasuki usia yang ke-73 pada tahun ini. Hari lahir RRI inilah yang dirayakan sebagai hari RRI nasional. Dalam rangka memperingati hari RRI nasional, UKM Unpar Radio Station mengirimkan pendapat mereka tentang eksistensi radio di zaman digital.   Radio di masa kini itu eksistensinya mulai tergeserkan

Munir, Cahaya Yang Tak Pernah Padam

Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, kemudian mereka bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apa kita biarkan mereka untuk gagah. Mereka gagal untuk gagah. Mereka hanya ganti baju, tapi dalam tubuh mereka adalah sebuah kehinaan. Sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Sesuatu yang mereka bayar sampai titik manapun. Bagaimana seorang pahlawan mesti dikenang? Saya

14 Tahun Pembunuhan Munir

Dalam rangka memperingati 14 tahun pembunuhan Munir, Media Parahyangan menerima berbagai kontribusi dari para pembaca. Berikut ini adalah kiriman dari Nins, seorang mahasiswa Unpar yang mendiskripsikan dirinya dengan Rebel at Heart, Raise the Voice. Karya ini menekankan pada perjuangan Munir yang tetap akan kita ingat sebagai perjuangan melawan kekuasaan. Keberanian dan kegigihan Munir menjadi bahan bakar

Menanti Kedaluarsanya Janji Rezim di 14 Tahun Kematian Munir

Hari ini, 7 September 2018 menjadi pertanda bahwa suatu janji politik untuk menuntaskan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di masa lalu bakal segera menjadi sebuah isapan jempol belaka. Meskipun peristiwa yang menimpa Munir Said Thalib tidak disebut dalam daftar program unggulan yang disuguhkan sebelum rezim berkuasa pada 2014 lalu, komitmen pemerintah untuk menghormati dan

Mahasiswa Masih Melihat, Mendengarkan dan Mengingat: Kamu Mahasiswa?

Tulisan ini berawal dari kekecewaan terhadap penyelenggaraan Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa (PUPM) 2018. Terdapat fenomena yang menggelitik hingga terlahirnya tulisan dari hati seorang mahasiswa. Suatu upaya penerapan demokrasi yang malah menimbulkan tanya terhadap pengertian demokrasi itu sendiri. Dalam judul, melihat artinya sadar akan apa yang sedang terjadi. Mendengarkan artinya mau terbuka pada tingkat kepekaan yang

Teori Saja Tidak Cukup

Kampus itu lingkungan teoritis. Menjadi nyata sejauh masuk dalam lingkungan praktik. Pada titik inilah ada keseimbangan antara aspek teoritis di ruang kelas dan aspek praksis di ruang nyata bermasyarakat. Berpaling ke Marz Wera, ‘’Dunia intelektual adalah dunia yang dinamis. Ia tidak statis. Dunia intelektual tidak hanya bergerak dalam konsep belajar di ruang kelas, tetapi terus

[Kolom Parahyangan] Kala Agama dan Negara Menindas-Mendusta

Aku juga masih teringat kala itu, menemani sang Profesor hadir sebagai seorang narasumber di salah satu seminar terbuka berjudul ‘Dekadensi Sistem’. Saat itu, ada seorang mahasiswa, entah anak FISIP, atau Hukum, atau Filsafat. “Profesor, saya mau bertanya.” “Oh, silakan.” “Kenapa sih banyak sekali penyelewengan yang mengatasnamakan agama, apapun itu agama dan bentuknya?” Sang Profesor menggaruk

Top