Opini articles

Mahasiswa Masih Melihat, Mendengarkan dan Mengingat: Kamu Mahasiswa?

Mahasiswa Masih Melihat, Mendengarkan dan Mengingat: Kamu Mahasiswa?

Tulisan ini berawal dari kekecewaan terhadap penyelenggaraan Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa (PUPM) 2018. Terdapat fenomena yang menggelitik hingga terlahirnya tulisan dari hati seorang mahasiswa. Suatu upaya penerapan demokrasi yang malah menimbulkan tanya terhadap pengertian demokrasi itu sendiri. Dalam judul, melihat artinya sadar akan apa yang sedang terjadi. Mendengarkan artinya mau terbuka pada tingkat kepekaan yang

Teori Saja Tidak Cukup

Kampus itu lingkungan teoritis. Menjadi nyata sejauh masuk dalam lingkungan praktik. Pada titik inilah ada keseimbangan antara aspek teoritis di ruang kelas dan aspek praksis di ruang nyata bermasyarakat. Berpaling ke Marz Wera, ‘’Dunia intelektual adalah dunia yang dinamis. Ia tidak statis. Dunia intelektual tidak hanya bergerak dalam konsep belajar di ruang kelas, tetapi terus

Permohonan Maaf UKM Media Parahyangan Atas Poster Diskusi “Great Unpar in Great Danger?”

Kami, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Media Parahyangan menyampaikan permohonan maaf atas pencantuman nama pihak Keuskupan Bandung, Yayasan Unpar, Rektorat Unpar, Senat Universitas, PM Unpar, dan Civitas Akademika Unpar dalam poster diskusi “Great Unpar in Great Danger?”. Adapun frasa “turut mengundang” dalam poster adalah kami selaku penyelenggara turut atau telah mengundang juga pihak terkait untuk datang

Editorial: Pelecehan Seksual, Hal Merendahkan yang Diremehkan

Insiden yang terjadi antara petugas parkir dan seorang mahasiswa di parkir valet B2 gedung 9 pada Jumat (17/11) lalu menjadi suatu hal yang menggegerkan di kalangan mahasiswa Unpar. Pasalnya, semenjak keterangan yang diberikan oleh korban, ada beberapa orang juga yang mengklaim pernah merasakan kejadian yang sama. Ini berakhir dengan XR, petugas valet B2 Gedung 9

Editorial Media Parahyangan #daruratdemokrasi

Editorial : Penyerbuan Gedung YLBHI, Suatu Ancaman Terhadap Ruang Publik

EDITORIAL, MP – Sabtu (16/9) lalu, pembubaran acara seminar sejarah dengan tema “Pengungkapan Kebenaran Sejarah” yang digelar di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menambah daftar panjang pembubaran acara-acara seputar peristiwa 1965/66. Tidak hanya dibubarkan, polisi diketahui merangsek masuk hingga hampir membawa satu unit laptop milik panitia dan menghalang-halangi para peserta seminar untuk masuk.

Keuntungan Gerakan Feminisme Bagi Pria

Gerakan feminisme sering kali hanya dinilai memberikan manfaat bagi kaum wanita. Hal ini ditunjukkan dengan aksi-aksi yang bersifat dogmatis dan agresif hingga melahirkan istilah ‘Feminazi’. Akan tetapi, apa yang tidak banyak diketahui adalah gerakan ini juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan tentu saja, kaum pria. Kaum pria sering kali dilabeli sebagai ‘pekerja’, di mana mereka

[Kolom Parahyangan] Kala Agama dan Negara Menindas-Mendusta

Aku juga masih teringat kala itu, menemani sang Profesor hadir sebagai seorang narasumber di salah satu seminar terbuka berjudul ‘Dekadensi Sistem’. Saat itu, ada seorang mahasiswa, entah anak FISIP, atau Hukum, atau Filsafat. “Profesor, saya mau bertanya.” “Oh, silakan.” “Kenapa sih banyak sekali penyelewengan yang mengatasnamakan agama, apapun itu agama dan bentuknya?” Sang Profesor menggaruk

[Kolom Parahyangan] Menyedihkannya Praktik Pemilu Berhadiah

“Kalian sekarang bukan hanya ikut berpartisipasi dalam Pemilihan Umum Persatuan Mahasiswa (PUPM) UNPAR tetapi juga berkesempatan untuk memenangkan doorprize!” Harus  saya katakan bahwa cara tersebut sangatlah menyedihkan untuk menaikkan angka penggunaan hak suara dalam PUPM Unpar. Bagaimana tidak, dengan memilih Anda bisa mendapatkan undian untuk memenangkan 2 unit tablet dan 3 unit harddisk. Melalui publikasi

[Kolom Parahyangan] LKM Dan Penyakit Slacktivism Yang Tidak Kunjung Sembuh

Sekitar setahun yang lalu, saya ingat Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) pernah mengadakan kampanye bertajuk ‘Ke Kampus Jalan Kaki’. Selama beberapa waktu, kampus dipenuhi oleh tempelan poster dengan ajakan berjalan kaki ke kampus berikut orang-orang berkaus hitam dengan tulisan serupa di kaosnya. Saya ingat juga saat itu laman LINE saya sempat dipenuhi oleh propaganda yang disebar

[Kolom Parahyangan] Budidaya Ketakutan Dan Manufakturisasi Kepatuhan Mahasiswa

Takut itu ada dua : wajar dan tidak wajar. Takut terlihat wajar jika kita berhadapan dengan bahaya. Seperti takut tertabrak, takut mati, takut digigit anjing, dan ketakutan lainnya yang hinggap di keseharian kita. Lalu, ada pula takut yang tidak wajar. Takut yang hadir beriringan dengan keberadaan otoritas. Lantaran hal-hal yang menyangkut keberlangsungan hidup kita ada

Top