Fokus articles

Dok.Foto: pemilihanrektor.unpar.ac.id

Sosok Calon Rektor: Robertus Wahyudi Triweko

Sosok Calon Rektor: Robertus Wahyudi Triweko




“Unpar Sedang Dalam Masa Transformasi” Telah menjabat selama 4 tahun kebelakang, rupanya tidak membuat Robertus Wahyudi Triweko kapok menjadi Rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Hal ini dibuktikan dengan pencalonan dirinya kembali untuk menjadi rektor masa bakti 2015-2019. Pria kelahiran solo, 6 juli 1954 ini mengaku dirinya hanya menyediakan diri untuk melanjutkan masa kepemimpinannya. “Sebagai dosen






Mangadar Situmorang/  Sumber: pemilihanrektor.unpar.ac.id

Sosok Calon Rektor: Mangadar Situmorang




“Pendidikan Bukanlah Bisnis” Sosok seorang Mangadar Situmorang tidaklah asing lagi di kalangan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Setelah bertahun-tahun mengabdi pada Unpar, Mangadar diangkat menjadi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpar pada tahun 2011 sampai sekarang. Dekan kelahiran Samosir tahun 1964 ini awalnya tidak pernah membayangkan menjadi seorang dosen. Terlahir dari keluarga yang agamis






Dok. Foto: pemilihanrektor.unpar.ac.id

Sosok Calon Rektor: Anastasia Caroline Sutandi




 “Unpar Perlu Perencanaan Yang Lebih Baik” Anastasia Caroline Sutandi, mungkin nama tersebut sudah tidak asing ditelinga para mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung. Bagi sebagian besar civitas academica Unpar pun nama tersebut mungkin kerap dibicarakan. Bagaimana tidak, ia adalah salah satu calon dari ketiga calon lainnya yang lolos dalam seleksi bakal Rektor






Solidarity Has No Colours

‘Solidarity Has No Colours’, Sebuah Kritik Keberadaan Partai Di Fakultas Hukum




STOPPRESS MP, UNPAR – Sebuah poster kecil berukuran tak lebih besar dari A4 nampaknya menjadi sebuah permasalahan dalam Pemilihan Umum di Fakultas Hukum tahun 2014 ini. Beberapa waktu lalu, sempat beredar poster berisi ilustrasi dua orang yang tengah saling merangkul. Kedua orang ini masing-masing mengenakan kaos berwarna merah dan biru. Di sebelah kiri mereka, terlihat






Demi Sebuah Nomor Urut di Fakultas Hukum




Pagi itu, pukul 05.00 seperti pada umumnya, matahari belum tampak, dan dingin menusuk seperti biasa di Ciumbuleuit. Terlihat kerumunan mahasiswa di koridor hukum terkantuk-kantuk hanya untuk menunggu secarik kertas nomor urut. Pukul 06.00, seorang pekarya mulai tampak membagikan kertas-kertas itu kepada antrian yang mulai panjang. Pukul 09.00 raut wajah pendatang baru terlihat kecewa karena pembagian






Top